
Tak berapa
lama kemudian mereka sampai di sebuah tempat makan. Tepatnya tempat makan favorit
mereka, dulu. Runa terdiam sesaat memandang nama dipapan restoran itu. Benar.
Ia tak salah baca. Dan Abay tak mungkin salah memilih tempat. Tempat ini
menyimpan begitu banyak kenangannya bersama Abay.
“Runa ayo masuk..” kata Abay.
Tapi Runa tak bergeming ditempatnya berdiri.
Abay mencoba menyadarkan kembali,”Na, kamu enggak apa – apa?”
“Mm..Bay, kamu yakin kita makan
disini?”
Abay mengangguk tersenyum,”Iya.
Sangat yakin bahkan. Ya udah yuk, udah laper ini...”
Runa tak tau kenapa Abay malah memilih tempat makan ini.
Entah kebetulan atau apa, tempat
duduk yang biasa mereka tempati juga kosong. Dan Abay segera mengajak Runa
duduk disana. Runa seperti kembali ke masa lalu. Bahkan menu yang mereka pesan
sama seperti menu yang dulu mereka pesan.
Sembari menunggu pesanan mereka datang keduanya hanya diam. Mungkin sama – sama memikirkan betapa bahagia masa lalu ditempat ini. Dengan orang yang sama, tempat yang sama. Namun dalam keadaan yang jauh sangat berbeda saat ini. Masa lalu tak mungkin bisa terulang dan tak mungkin bisa sama seperti saat ini.
Pesanan yang mereka tunggu – tunggu akhirnya datang juga. Setelah beberapa saat terdiam, kini sudah ada suara. Setidaknya suara piring dan sendok yang beradu.
“Makannya pelan – pelan Pak Bayu, entar kesedak..” kata Runa tersenyum.
Abay tak bisa berbicara saat ini, karena ia sedang asyik mengunyah makanannya. Yang ia lakukan hanya menatap Runa sesekali.
“Habisnya laper banget...”
Runa tersenyum melihat tingkah Abay. “Pak Bayu itu seharusnya jaga kesehatan. Walau sesibuk apapun, makan jangan sampai telat. Kalau udah terlanjur telat makan, nanti ketika makanan masuk, lambungnya jadi kaget. Terus sakit deh. Enggak mau kan sakit?”
Abay menelan makanannya dan
tersenyum. “Ternyata gini ya rasanya punya istri perhatian..”
“Makanya kamu harus cepat –
cepat married, biar ada yang urusin kamu..” kata Runa menimpali.
__ADS_1
“Cariin makanya...” kata Abay santai.
“Kenapa nyuruh aku? Cari aja sendiri..” Runa terlihat cemburu saat mengatakan itu, itu yang Abay rasakan.
“Enggak mau married, kalau kamu enggak nyariin cewenya buat aku..” Abay tetap memaksa.
“Tau ah! Lanjutin aja makannya..”
Tak terasa waktu cepat berlalu. Setidaknya itu malam terakhir bagi Runa untuk bisa melepas rindunya terhadap Abay. Karena tak berapa lama lagi ia akan segera menikah dengan Darta.
“Makasih ya buat malam ini...” kata Runa ketika ia sudah sampai dirumahnya.
“Sama – sama. Kamu cepat istirahat aja. Aku pulang dulu..”
“Hati – hati...”.
Dan Abay hanya membalas tersenyum.
***
Runa sudah merasa baikan dan ia rasa ia harus berangkat ke kantor. Selama seminggu ini Darta menyuruhnya untuk isirahat dirumah. Dan ia sudah sangat bosan tidak melakukan apa – apa.
“Selamat pagi Bu Runa...” sapa Pak Nurdin, satpam kantor.
“Pagi Pak...”
“Bu Runa sudah baikan?”
Runa mengangguk tersenyum,”Iya Pak. Oh ya, Pak Darta sudah datang?”
“Ya udah kalau gitu saya tunggu didalam aja. Mari Pak...”
Semua orang dikantor seperti sangat merindukan Runa, karena semenjak kecelakaan itu sampai hari ini semua pekerjaan dikantor diurus oleh Darta.
“Runa?” tanya Melda tak percaya.
Runa sudah kembali bekerja.
“Iya Mel. Habisnya bosen dirumah terus, lagian aku juga sudah baikan kok..”
“Syukurlah kalau gitu..”
“Selama aku enggak ngantor, keadaan perusahaan baik – baik aja kan? Darta handle semua kan?” tanya Runa.
Agak lama Melda merespon pertanyaan Runa tentang Darta yang mengendalikan urusan kantor selama ia sakit. Jujur, kalau masalah perusahaan sih yang diliat Melda semua baik – baik saja. Tapi....kedekatan Darta dengan Selly sesekali terlihat tak pantas untuk seorang bawahan dan atasan dimata Melda. Terlebih saaat Runa tak berada dikantor.
“Hey..Mel... Kok malah ngelamun
sih? Kenapa?”
“Mm...everything it’s ok lah...Tenang aja, aman terkendali kok...” kata Melda tersenyum menutupi
ketidakjujurannya tentang Darta dan Selly.
__ADS_1
Runa ikut tersenyum. Dan merekakembali ke ruangan masing – masing.
Runa menatap jam ditangannya sudah hampir jam makan siang. Siapa tau Darta juga sudah kembali. Runa ingin mengajaknya makan siang. Runa sengaja tidak memberitahukan kehadirannya dikantor, ini akan menjadi kejutan. Pikir Runa.
Diketuknya sebentar pintu ruangan Darta dan perlahan masuk. Darta mempersilahkan masuk tanpa melihat siapa yang masuk, berjalan perlahan menghampirinya.
“Siang Pak Bos...”
Darta terkejut kemudian
menghentikan pekerjaannya sebentar. “Sayang...? Kenapa kamu udah ngantor aja
sih? Bukannya aku nyuruh kamu buat istirahat aja dulu dirumah?”
Runa tersenyum kemudian mendekat ke arah Darta. Dielusnya lembut pundak Darta. “Aku bosen tau dirumah terus, lagian aku kan udah sembuh...”
Darta tersenyum, “Iya deh kalau gitu... Ya udah sini..”
Kemudian Runa disuruh mendekat dan duduk dipangkuan Darta. Dipeluknya pinggang Runa dan bersandar dipunggung Runa.
“Kangennya....” Darta berguman
tersenyum. Runa berbalik menghadap Darta tersenyum,”Sama..”
Darta mendekatkan wajahnya ke Runa. Sepertinya sebentar lagi Darta akan menciumnya.
“Mm..Sayang, inikan jam makan siang kita makan diluar yuk? Udah lama rasanya enggak pernah pergi bareng. Ya?”
Runa sengaja mengelak dari ciuman Darta. Ia tau pasti Darta akan menciumnya, ia merasa tak enak saja karena ini berada dikantor.
Wajah Darta tertunduk sendu, karena ia tak mendapatkan ciuman Runa. “Iya deh kalau gitu... Tunggu bentar aku matiin laptop dulu..”
Runa menahan senyumnya melihat wajah Darta yang tak jadi menciumnya tadi. Mereka kemudian keluar untuk makan siang. Darta merangkul Runa mesra sambil keluar dari ruangannya.
***
Kebetulan hari ini weekend.
Kemarin Runa sudah meminta Darta untuk menemaninya pergi jalan – jalan. Walau agak lama, akhirnya Darta mengiyakan permintaan calon istrinya itu. Runa senang bukan main. Hari ini akan ia habiskan bersama Darta sepanjang hari. Membayangkannya saja sudah membuat Runa senyum – senyum sendiri.
“Makasih ya, udah mau nemanin aku. Lagian kamu itu perlu refreshing juga, kamu pasti capek kan kerja mulu?” kata Runa setelah mereka sudah didalam mobil.
“Iya sayang...enggak apa – apa kok. Apa sih yang enggak buat calon istriku ini...” kata Darta tersenyum sambil mengelus lembut rambut Runa.
Kemudian Darta melajukan mobilnya menuju ke Pantai Bekoan, Runa senang bukan main. Sesampainya di pantai Runa mengajak Darta menaiki berbagai wahana yang ada. Kemudian mengendarai jetski mengelilingi pantai. Pastinya hari itu ia habiskan hanya berdua denganDarta tanpa gangguan apapun terlebih dari ponsel Darta yang terus berbunyi.
“Ponselnya bunyi terus tuh! Kamu enggak bilang apa sama karyawan – karyawan kamu kalau kamu hari ini mau menghabiskan weekend sama aku?” Runa kini cemberut.
Darta seperti salah tingkah sesekali ia melirik ponselnya yang terus berbunyi,”Iya – iya sayang maaf. Aku
udah bilang, tapi kayaknya ini penting banget deh. Aku angkat telpon aku dulu ya? Bentar kok enggak lama, udah ya jangan cemberut gitu dong...Bentar”. Darta menerima telponnya menjauh dari Runa.
Runa agak kesal akhirnya ia memutuskan untuk menyusuri pinggiran pantai sendiri. Sambil melihat – lihat
__ADS_1
keramaian orang – orang yang ada dipantai. Terlebih melihat anak – anak yang asyik bermain pasir atau mereka yang menggali – gali pasir hanya untuk mencari anak kepiting.
Mereka bahkan melompat kegirangan karena berhasil menangkap satu anak kepiting dari balik pasir. Runa bahkan tak sadar kalau ia ikut tertawa menyaksikan polah mereka.