
Runa terbangun dimalam hari ketika ia merasa haus. Saat melihat teko air disamping tempat tidurnya ternyata sudah habis. Terpaksa ia pergi ke dapur. Namun saat ia ingin kembali ke kamarnya, ia mendengar suara benda terjatuh.
“Bi? Apa itu Bibi?”. Tak ada jawaban. Kini ia mulai gugup.
“Mamang?”. Sama, tak ada jawaban.
Ia memberanikan diri menuju arah sumber suara tadi. Tak ada apa – apa. Kini ia mulai ketakutan. Ia memutuskan
untuk cepat kembali kekamarnya.
Namun saat ia membalikkan badannya, Tiba – tiba saja hantaman keras benda tumpul mengenai kepala belakangnya. Seketika itu juga semuanya menjadi gelap.
---
Kepalanya masih terasa berat dan pusing. Namun kesadarannya sudah kembali. Runa menggeliat sekuat tenaganya mencoba melepaskan tali yang mengikat kedua tangannya dikursi. Begitu juga dengan kedua kakinya. Ia mencoba mengelilingi sudut ruangan ini dengan matanya. Tempat ini sangat gelap, ia kesulitan bernafas ditempat seperti ini.
“Tolong! Tolong keluarkan aku dari sini!” Runa berteriak sekuatnya. Tapi ia tak mempunyai cukup tenaga lagi. Suaranya mulai serak. Ia tersedu sambil terus berteriak minta tolong. Tapi sepertinya tak ada satu orangpun disini. Suara semakin melemah karena terus berteriak. Nafasnya pun tersengal. Ia rasa ia akan pingsan lagi.
Tiba – tiba pintu terbuka dengan cukup keras. Runa harap seseorang akan membantunya keluar dari tempat ini.
__ADS_1
“Heh! Percuma kamu teriak – teriak terus. Enggak ada yang bakal nolongin kamu!”
Suara berat seorang pria yang asing bagi Runa ini menggelegar ke seluruh ruangan. Sedangkan pria yang lainnya mencoba meraih wajah Runa yang tertunduk lemas. Namun Runa berusaha menghindar dari wajah pria yang semakin dekat dengan wajahnya.
“Sayang sekali kalau wanita cantik seperti ini di sia – siakan. Mari kita bermain sebentar. Kamu pasti akan merasa bahagia, bukan begitu?”. Pria itu tertawa senang.
“Jangan macam – macam kamu!” Runa berusaha melepaskan tali yang mengikat tangannya sambil berteriak minta tolong.
Pria itu semakin mendekatkan wajahnya ke Runa seperti ingin melahap Runa. Dielusnya lembut bahu sampai ke tangan Runa. Membuat Runa merasa jijik. “Ayolah sayang, jangan sok suci begitu. Bermainlah sebentar sama Abang...”. Pria itu terus tertawa.
“Heh! Kamu mau ngapain?” tanya pria yang lain. “Ingat, apa yang bos bilang, jangan di apa – apakan perempuan ini. Biarkan saja dia mati dengan sendirinya”. Pria itu menarik temannya ini menjauh dari Runa. Ia seperti terlihat kesal.
“Apa mau kalian sebenarnya, hah? Siapa yang menyuruh kalian melakukan ini?”.
Runa mulai terisak. Ia terus berteriak meminta tolong. Sampai suaranya serak dan ia mulai kehabisan tenaga. Tubuhnya terkulai lemas.
***
Abay mendapatkan kabar dari Melda bahwa Runa menghilang semalam. Tak berselang lama Gevan adiknya Runa juga mengabarkan hal yang sama ke Abay dan meminta pertolongan Abay agar membantunya mencari kakaknya itu.
__ADS_1
“Telpon dari siapa sih pagi – pagi gini sampai – sampai kamu terlihat panik dan cemas gitu?” tanya Mayra sambil menyiapkan sarapan didapur.
“Barusan Gevan adiknya Runa bilang kalau Runa menghilang dari rumahnya semalam...”
Wajah Mayra seketika itu juga terlihat kesal. Lagi – lagi tentang Runa. Kenapa perempuan ini tak bisa pergi jauh – jauh dari kehidupan Abay?
“Paling – paling dia juga pergi menginap ke tempat temannya. Kenapa kamu yang repot sih ngurusin dia terus?”
Abay menatap tajam ke arah Mayra. Kenapa Mayra ikut campur urusannya dengan Runa. Bahkan dari nada bicaranya menunjukkan bahwa Mayra tidak menyukai Runa. Perlahan Abay menuju Mayra yang terlihat tegang karena ditatap seperti itu. “Apa kamu tau sesuatu tentang keberadaan Runa ?”
“Mm-maksud kamu apa?”
Abay tak menjawab pertanyaan Mayra, namun masih menatap matanya.
“Aku, aku enggak tau apa – apa tentang Runa”
Abay mengambil kunci mobilnya dan pergi meninggalkan Mayra.
“Bay, tapi kamu belum sarapan!”
__ADS_1
Abay tak memperdulikan Mayra. Ia tetap pergi untuk mencari Runa.
***