
Runa menghampiri salah satu anak perempuan kecil yang terlihat kesulitan menangkapanak kepiting yang gesit.
“Susah ya nangkapnya? Mau tante bantuin?”.
Anak kecil itu mengangguk. Runa dengan cepat menangkap anak kepiting itu. Hap! Hap! Hap!
Tak terasa mangkuk kecil anak itu sudah mulai penuh. Ia senang bukan main.
“Makasih ya Tante, ini banyak banget..”. Anak itu kemudian ingin beranjak pergi.
“Tunggu...Tunggu dulu...”
Anak itu kemudian berbalik dan Runa menghampirinya sekali lagi, mencoba mendekat. Ia seperti mengenal wajah anak ini. Tapi dimana? Runa mencoba mengingat – ingat tapi ia tetap enggak tau.
“Sayang...kamu disini? Kan Mamah udah bilang, mainnya jangan jauh – jauh.."
Kemudian seorang perempuan muda menghampiri anak kecil itu.
“Iya Mah, maaf... Tadi aku nyari anak kepiting terus tante ini bantuin aku...”
Perempuan muda itu kemudian melirik ke arah Runa. Runa tersenyum ramah kepadanya. Alis perempuan itu tertaut, seperti telah mengenal Runa tapi dimana?
Runa mengulurkan tangannya,”Saya Runa...”
Perempuan itu kini ingat, dia Runa. Dia mantan kekasihnya Abay, dan juga perempuan yang sudah menyelamatkan anaknya Kia.
“Dita, saya Dita. Tapi ini bener Mba Runa?” Dita meyakinkan sekali lagi, tapi benar ini adalah Runa. Dita juga sempat menjenguknya dulu dirumah sakit tapi Runa belum sadar.
Runa jadi bingung, apa Dita sudah mengenalnya terlebih dulu? Tadi dia memanggilnya Mba. Dita seperti tau,pasti Runa menjadi heran. Kemudian ia menjelaskan kembali siapa ia dan siapa anak ini.
“Kia? Kamu Kia? Pantesan Tante udah kaya kenal kamu, tapi Tante lupa dimana. Eh..enggak taunya Kia adalah anak yang pernah Tante selamatkan waktu itu kan?.” Runa tersenyum sambil mengelus lembut rambut Kia.
“Iya Tante Runa. Maafin aku ya, gara – gara nyelamatin aku Tante jadi masuk rumah sakit deh...” kata Kia
seperti menyesali perbuatannya.
“Udah, enggak apa – apa kok sayang. Tante ikhlas, yang penting kamu enggak apa – apa...”
__ADS_1
“Mba Runa sendiri?” tanya Dita.
“Tadi sama temen, terus dia ada urusan dikit, jadinya ditinggal deh, hehehe... Kalian enggak mungkin sendiri kan?”
Dita seperti ingat sesuatu,”Oh iya, Mba Runa kan sendiri nih? Gimana ikut kita aja, ada Bapak sama Ibu juga..”
“Iya Tante, mau ya?” lucunya wajah Kia memelas. Runa mengangguk setuju. Ingin rasanya Runa bertanya, apakah Abay juga ada. Tapi ia urungkan niatnya itu.
“Pak, Bu.. Ini Mba Runa, yang tempo hari udah nyelamatin Kia waktu kecelakaan itu. Tadi ketemu disana,
katanya mau ketemu sama Ibu sama Bapak..” kata Dita.
Runa kemudian menghampiri mereka yang sedang duduk dipondok ditepi pantai dan menyalami mereka satu per satu.
“Bapak, Ibu... Apa kabar? Akhirnya baru bisa ketemu sekarang ya?”
Bapak sama Ibu tersenyum dan hampir menjawab bersamaan. “Baik kok sayang. Terima kasih ya, kamu waktu itu sudah menyelamatkan Kia. Kita enggak tau gimana jadinya kalau waktu itu kamu enggak ada disana..”
“Enggak apa – apa Bu, sama – sama. Saya ikhlas kok..”
“Waktu itu Ibu pernah jengukin kamu dirumah sakit tapi kamu belum siuman. Pas Ibu mau balik lagi keesokan harinya katanya kamu udah keluar dari rumah sakit. Mau ke rumah kamu, Ibu enggak tau dimana...”
Kemudian Ibu dan Bapak menawarkannya untuk makan bersama seadanya dipondok mereka. Runa enggak mungkin menolak, karena Ibu begitu baik padanya. Seketika ia merasa rindu dengan kedua orangtuanya. Rindu suasana keluarga yang harmonis seperti ini.
“Oh ya Bu, kalian sendirian
kesini? Tau tempat ini dari siapa? Memangngnya Abay enggak nganterin kalian ya?” tanya Runa akhirnya.
“Kita mana tau Mba jalan ke tempat ini, yang pastinya sama Mas Abay lah. Mumpung dia enggak kerja. Kalau udah kerja, enggak ingat waktu pulang.. Hehe..”
Tadinya Runa tak berharap kalau Abay juga ada disana. Tapi akhirnya ia menyadari mana mungkin kalau bukan Abay yang mengantarkan mereka kesini siapa lagi. Apalagi mereka berasal dari Jogja dan belum pernah kesini sebelumnya.
“Panjang umur....baru aja diomongin..” kata Ibu melihat Abay datang dari kejauhan dengan membawa minuman buah kelapa muda ditangannya. Disusul Mayra dibelakangnya.
“Nih Bu, minumnya..” kata Abay langsung menuju Ibu. Padahal Runa berada disebelah Ibu. Runa tak langsung ingin melihat wajahnya.
“Siapa nih? Anggota keluarga baru?” tanyanya iseng ke arah Runa sambil menahan senyumnya.
__ADS_1
“Eh, enggak boleh gitu. Masa temannya sendiri lupa....” Ibu membela Runa.
“Bukannya lupa Bu, tapi emang udah dilupain...” timpal Runa langsung mengefek ke Abay. Baik Abay apalagi Mayra yang berada dibelakangnya langsung menatap ke arah mereka.
Ibu dan Bapak yang tak tahu apa – apa tentang hubungan mereka dimasa lalu hanya bisa ikut tersenyum.
“Hey..Mayra...” Runa kemudian menghampiri Mayra. “Kamu apa kabar? Kirain udah balik ke Jogja..”
Mayra tersenyum,”Belum Runa, paling entar barengan sama Ibu sama Bapak. Oh ya, kamu udah dari tadi disini? Sama siapa? Darta?” sengaja Mayra menekan sedikit nadanya saat menyebut nama Darta, agar Abay mendengar nama itu.
Runa mengangguk,”Iya, tadi sama dia. Terus dia nerima telpon dari anak buahnya, weekend gini aja masih aja ngurusin kerjaan. Bete tau..”
“Iya deh, harap dimaklumin aja.Kan nyari uang buat modal nikah, hehehe...”
Mayra seperti sengaja berbicara ke arah situ, padahal Runa tak ingin membicarakannya disini. Terlebih didepan Abay.
“Runa, minum dulu nih es kelapanya seger..” kata Ibu ke Runa.
“Buat Runa Bu? Tapi entar enggak cukup gimana? Nanti aku bisa beli sendiri kok, buat kalian aja...”
“Udah enggak apa – apa biar nanti Abay beli lagi, kamu minum aja ini..” kata Bapak.
“Ya udah deh kalau gitu. Makasih ya Bay?” kata Runa menggoda Abay dengan mengangkat gelasnya ke arah Abay. Abay hanya manyun dari kejauhan. Runa menahan tawanya.
Untuk beberapa saat mereka bersantai menikmati pantai. Runa mengobrol santai bersama Ibu dan Mayra.Sedangkan Abay lebih memilih bermain bersama Kia yang diikuti Dita dibelakangnya sambil menyuapi Kia makan. Sedangkan Bapak asyik memotret keindahan Pantai Bekoan. Benar – benar sebuah keluarga yang hangat, Runa benar – benar merindukan suasana seperti ini.
Tiba – tiba ia dikejutkan dengan suara ponselnya sendiri yang berdering. Darta. Pasti Darta sedang mencarinya saat ini. Dan dari kejauhan ia bisa melihat Darta menghubunginya sambil celingukan kesana kemari mencari dirinya.
“Pak, Bu, aku pergi duluan ya? Soalnya udah ditunggu sama teman. Nanti kalau Ibu sama Bapak belum balik ke Jogja, aku mau ajak kalian main ke rumah. Mau ya?”
Bapak dan Ibu mengangguk tersenyum,”Iya, kita pasti mau kok. Ya kan Pak?”. Bapak mengangguk setuju.
“Makasih ya semuanya, Bye Kia..” Runa melambai sebentar ke arah Kia.
Runa pun berlari ke arah Darta.
Kemudian Darta merangkul pinggang Runa mereka pun berjalan semakin menjauh,seiring perlahan tenggelamnya mentari. Abay terus saja memperhatikan Runa dan Darta dikejauhan, Runa terlihat sangat bahagia ketika Darta mencipratkan air pantai ke arah Runa.
__ADS_1
Seketika bayangan Darta yang juga bermesraan dengan perempuan lain waktu itu membuat Abay kesal. Kesal karena ia telah mempermainkan Runa.