Masa Lalu itu...Kamu

Masa Lalu itu...Kamu
34


__ADS_3

Dengan hati yang sangat hancur Abay masih harus berhadapan dengan Runa perempuan yang dari dulu sampai saat ini masih sangat ia cintai. Tapi dengan keadaan yang sudah seperti ini ia harus menikahi Mayra dan meninggalkan Runa selamanya. Ia benar - benar tak sanggup untuk menyakiti hati Runa apalagi untuk bertemu Runa saat ini.


Tapi ini adalah hari terakhir ia bisa melihat senyum dari wajah perempuan yang pasti akan ia rindukqn nanti, Runa.


Diraihnya ponselnya menekan tombol panggilan dengan nama Runa. Ia sudah didepan rumah Runa tapi ia masih berada didalam mobilnya.


"Kamu sudah siap? Aku sudah ada didepan rumah kamu".


Tak berapa lama kemudian Runa keluar dari dalam rumahnya tersenyum dan langsung masuk ke dalam mobil Abay.


"Hai..." sapanya tersenyum membuat hati Abay semakin sakit.


Abay membalas senyuman Runa.


"Kamu sudah lama nunggu? Kenapa enggak langsung masuk aja tadi?"


Abay menggeleng,"Enggak kok, aku baru aja nyampe. Oh ya kita mau makan siang dimana?"


"Ditempat biasa, tempat favorit kita. Kamu mau kan?"

__ADS_1


Abay mengangguk tersenyum. Runa terlihat sangat bahagia. Tempat makan favorit mereka membawa kembali semua kenangan mereka dulu. Hatinya benar - benar sangat sakit karena tak tega menghancurkan kebahagiaan Runa karena setelah ini ia akan pergi dan mungkin tak akan pernah melihat Runa lagi.


Saat mereka menyantap makan siang Abay terus menatap Runa. Ia ingin menyimpan semua kenangan hari ini bersama Runa, semua gerak gerik Runa setiap detilnya. Karena nanti ia pasti sangat merindukan perempuan ini.


"Kamu kenapa sih liatin aku terus? Dandanan aku aneh ya?"


Abay menggeleng tersenyum,"Enggak. Malahan kamu sangat cantik hari ini. Aku senang aja liatin kamu..".


"Tapi jangan gitu juga dong, aneh aja tau diliatnya. Tatapan gimana gitu...Hehe.. Ya udah makan yuk..".


Abay juga terkekeh. Setiap bersama Runa hari - harinya tak pernah membosankan. Runa selalu bisa membuatnya tertawa.


"Bay...kamu kenapa? Kamu sakit?" Runa kemudian menyentuh kening Abay.


Siapa tau ia terkena demam, karena dari tadi Runa perhatikan Abay terlihat lesu.


"Kalau kamu sakit, harusnya kamu jangan paksakan buat nemanin aku. Kamu istirahat aja dirumah.." lengan Runa menyentuh lembut pipi Abay.


Abay tersenyum dan meraih lengan Runa dari pipinya. Menggenggam erat lengan perempuan itu seolah tak ingin berpisah.

__ADS_1


"Aku enggak apa - apa kok. Kamu enggak usah khawatir gitu. Kamu tau aku sangat mencintai kamu, apapun pasti akan aku lakukan asalkan kamu bahagia.."


Runa tersenyum,"Tapi beneran kamu enggak apa - apa?". Abay menggeleng tersenyum.


Mereka melanjutkan makan. Setelah makan Abay mengajak Runa berkeliling di taman wisata. Seharian ini Abay ingin menghabiskan waktunya bersama Runa.


"Terima kasih ya seharian ini sudah mau nemenin aku.." kata Runa saat ia sudah tiba didepan rumahnya.


Abay tersenyum mengangguk,"Sama - sama".


"Ya udah, kalau gitu aku mau masuk dulu. Kamu hati - hati dijalan.."


Tangan Runa ditahan. Abay menatap sekali lagi perempuan dihadapannya ini untuk terakhir kali.


"Selamat malam..".


Walaupun sangat ingin mengucapkan betapa sangat Abay mencintai Runa tapi tetap tak bisa. Hanya itu yang mampu ia keluarkan dari mulutnya. Runa tersenyum dan membalas ucapan Abay.


Saat Runa sudah benar - benar masuk ke dalam rumahnya barulah Abay menancap gas mobilnya kencang. Hatinya sangat sangat sakit menerima kenyataan ini. Mayra memang sahabatnya tapi ia tak ingin berakhir dengan menikahi Mayra. Sahabat akan tetap jadi sahabat. Dan cintanya tetap Runa. Tapi ternyata Tuhan mempunyai rencana lain untuknya.

__ADS_1


***


__ADS_2