Masa Lalu itu...Kamu

Masa Lalu itu...Kamu
38


__ADS_3

Runa tersenyum sendiri membayangkan Arsan yang tak tau alamatnya. Arsan pun tak menanyakannya sejak tadi. Jam sudah hampir jam 7 malam, tapi Runa tak bersiap sama sekali. Pasti Arsan tak akan menjemputnya juga.


Tiba - tiba terdengar suara mobil yang terparkir didepan rumahnya. Tak berapa lama kemudian pintu kamarnya diketuk oleh asistennya.


"Maaf Bu, ada yang mau ketemu sama Ibu. Namanya Pak Arsan".


"Arsan? Ya udah saya turun..".


Arsan? Dari mana dia tau alamat rumah Runa? Segera Runa turun meyakinkan kalau dia benar - benar Arsan.


"Kamu belum siap juga? Kan aku udah bilang aku jemput kamu jam 7 udah harus siap.."


Belum sempat Runa menyapa ia sudah dicecar oleh Arsan.


"Sebentar, perasaan aku enggak pernah ngasih tau alamatku deh sama kamu. Kamu tau dari mana?"


"Udah, bahas itu nanti aja. Sekarang cepat kamu siap - siap. Nanti telat gimana?"


Terpaksa Runa kembali ke kamarnya bersiap. Arsan benar - benar aneh, dia tau dari mana alamat Runa? Ini benar - benar aneh, apa jangan - jangan ia akan berbuat jahat nanti. Awas aja!


---


Mata Arsan berbinar saat melihat Runa yang terlihat cantik dengan balutan long dress berwarna peach yang terlihat sangat pas di tubuhnya.


"Arsan, kamu tau dari mana alamatku? Aku enggak pernah ngasih tau kamu. Aku enggak mau ikut sama kamu sebelum kamu ngasih tau yang sebenarnya".


Arsan tersenyum menatap Runa yang terlihat tambah cantik saat ia cemberut. "Iya, iya. Dari Melda"


Oh, Melda? Pasti ini salah satu kandidat yang ia kirim buat deketin aku. Batin Runa. Awas ya itu anak nanti. Kenapa Runa tak sadar ya? Padahal ia pertama kali ketemu Arsan saat di pesta pernikahannya Melda.


Sepanjang perjalanan di mobil Runa tak ingin berbicara. Ia hanya menjawab saat Arsan bertanya.


"Kenapa jutek banget sih? Kamu enggak ikhlas ya nemenin aku?"


Runa terpaksa tersenyum,"Enggak kok. Aku ikhlas bantuin kamu."


Runa sebenarnya kesal dengan Melda yang terus - terusan berusaha mengenalkannya dengan teman laki - lakinya. Karena ia sedang tak ingin berurusan dan berhubungan dengan pria manapun. Karena ia tak siap jikalau ia akan terluka lagi nanti.

__ADS_1


Tak berapa lama kemudian mereka sampai didepan sebuah gedung mewah dimana di adakan pesta ulang tahun teman Arsan itu.


"Kamu yakin acaranya disini?".


Arsan mengangguk. "Yakin lah. Kenapa?"


"Ini acara ulang tahun temanku juga. Teman kamu Jesslyn Wang?"


Arsan mengangguk tersenyum. "Kamu juga temannya Jesslyn?"


Runa tersenyum dan menceritakan kalau ia sudah berteman dengan Jesslyn sejak lama dan sekarang juga menjadi partner kerja di perusahaannya. Begitu juga sebaliknya dengan Arsan ia juga begitu semangat menceritakan kalau Jesslyn teman kuliahnya dulu sampai sekarang.


"Ternyata dunia itu enggak selebar yang kita kira kan? Ya sudah kalau gitu kita masuk sekarang?".


Runa mengangguk dan Arsan menyambut tangannya.


Saat mereka masuk Jesslyn sendirilah yang menyambut tamunya itu. "Arsan?".


Saat ia menoleh ke samping Arsan ternyata ada Runa juga. "Kamu datang barengan Runa?"


"Jadi sekarang kamu berhubungan sama Runa?". Saat Runa ingin menggeleng, keburu Arsan mengangguk. Arsan melirik ke arah Runa yang ternyata sedang melototinya.


"Syukurlah kalau gitu. Kamu tau Runa kamu beruntung karena Arsan memilih kamu. Karena Arsan yang aku kenal adalah sosok yang setia dan sangat penyayang. Mudah - mudahan setelah ini alu dapat undangan weddingnya ya?". Jesslyn tersenyum.


"Pasti, ditunggu ya?" Arsan malah menimpali. Lantas Jesslyn mengantarkan mereka ke dalam menjamu dan menyantap hidangan yang ada.


"Kamu apa - apaan sih? Kita kan enggak ada hubungan apa - apa". Runa setengah berbisik.


Arsan hanya tersenyum dan menggandeng tangan Runa. Runa tersentak kaget.


"Udah, mainkan aja peranmu malam ini dengan baik. Kamu enggak mau kan kita ketahuan berbohong?".


"Tapi tetap aja, bohongnya kamu itu kelewatan..".


Arsan tak menggubris perkataan Runa. Ia hanya menoleh tersenyum menatap Runa yang cemberut.


Di malam puncak ulang tahunnya Jesslyn meminta kepada semua tamu undangannya untuk ikut berdansa menemaninya dan sang kekasih di lantai dansa. Mendengar pernyataan Jesslyn, Runa akhirnya sadar itu kenapa sebabnya diharuskan membawa pasangan. Tapi itu juga artinya ia harus berdansa dengan Arsan. Diliriknya Arsan yang ada disebelahnya dan ternyata Arsan sedang menatapnya tersenyum.

__ADS_1


Runa menggeleng perlahan. Tapi Arsan tersenyum mengangguk.


Arsan bangkit menuju Runa, meminta dengan lembut untuk berdansa.


"Kalau kamu enggak mau, mereka akan curiga kalau kita bukan sepasang kekasih. Ingat? Jalani aja peran kamu dengan baik..". Arsan setengah berbisik.


Akhirnya Runa bersedia menemani Arsan menuju lantai dansa. Runa dan Arsan saling berhadapan. Entah kenapa Runa tiba - tiba merasa deg - degan. Arsan maju selangkah, Runa mundur selangkah. Begitu seterusnya sampai beberapa kali.


Arsan tersenyum,"Kalau kita seperti ini terus, orang - orang pada curiga dong?".


Akhirnya Runa berhenti.


Sambil menunggu musiknya dimainkan, Arsan meraih lengan kiri Runa dan menaruhnya dipinggangnya. Satu tangan Runa lagi digenggamnya. Arsan tersenyum membuat dada Runa semakin tak karuan berdetak. Jangan - jangan Arsan bisa mendengar detak jantungnya saat ini karena saking deg - degannya.


Musik dimainkan dengan lembut. Tapi Runa tak bisa menikmatinya, karena jantungnya yang tak berdetak normal saat matanya bertatap langsung dengan mata Arsan.


"Kamu gugup ya?".


Pertanyaan Arsan tepat. Tapi Runa tak mau mengakuinya.


"Enggak".


"Nikmatin aja musiknya, enggak usah perduliin aku..".


Benar juga yang dikatakan Arsan, lebih baik menikmati musiknya saja. Runa memejamkan matanya perlahan menikmati musik yang mengalun indah. Tanpa Runa sadari ia berdansa mengikuti alun musik. Sampai alunan musik itu terhenti dan suara gemuruh tepuk tangan Runa membuka matanya.


Ia tersadar kalau kepalanya masih didadanya Arsan. Segera ia sedikit menjauh dari Arsan.


"Maaf.."


Arsan tersenyum manis sekali, "Dansa kamu tadi lumayan juga".


Runa tersipu malu, "Terima kasih. Kamu juga."


"Arsan, aku ke toilet sebentar ya?".


Arsan mengangguk tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2