
“Brengsek!” umpat seorang pemuda saat tanpa seorang pemuda lain yang menggunakan kacamata menumpahkan air mineral ke bajunya.
Pemuda berkacamata itu terlihat gemetar saat Axelle mencengkeram kerah bajunya. Pemuda itu sudah siap melayangkan pukulan, namun ia membatalkan niatnya.
“So sorry, Xelle. Aku nggak sengaja,” ucap pemuda berkacamata bername tag Andika Pratama. Demi Tuhan dia tidak sengaja menabrak Axelle dan menyebabkan minumannya tumpah mengenai seragam anak pemilik sekolah yang saat ini tengah menatapnya tajam.
“Nicolas, urus dia!”
Andika membolakan matanya. Disiksa oleh anggota lain mungkin akan lebih baik daripada harus disiksa oleh Nicolas. Pemuda itu mungkin memang tidak banyak bicara seperti yang lainnya, tapi dia adalah anggota terkejam di Dead Dragon setelah Axelle.
“Xelle, aku minta maaf.” Andika mencoba mengejar Axelle dan memohon ampunan pemuda itu, namun Nicolas lebih dulu menarik kerah baju belakangnya dan membawanya pergi dari kantin.
“Lepaskan aku!” Andika mencoba memberontak, namun semua hal itu sia-sia. Cengkeraman tangan Nicolas sangat erat membuat Andika kesusahan.
Seluruh siswa menatap takut. Mereka tidak akan pernah mencari masalah dengan Dead Dragon, meski seluruh anggotanya memiliki ketampanan di atas rata-rata manusia, tapi mereka memilih untuk tetap menjaga jarak.
Dead Dragon akan menghukum siapapun yang berani mencari masalah dengan mereka. Tidak peduli tua atau muda, bahkan jika orang tersebut memiliki kedudukan lebih tinggi dari mereka.
Axelle berjalan bersama dengan para sahabatnya, meninggalkan Nicolas dengan si kacamata. Setiap mata memandang dirinya penuh puja, namun juga takut.
Axelle adalah sosok yang sangat sempurna. Memiliki rahang yang tegas, mata yang tajam, bentuk tubuh yang sangat indah dan juga harta yang melimpah. Setiap wanita akan dengan suka rela memberikan tubuh mereka dengan Cuma-Cuma, namun Axelle selalu menolak dengan alasan ia merasa jijik jika ada wanita yang mendekatinya.
Apa kalian berpikir Axelle gay?? Tidak, tidak. Dia masih normal kok, walaupun dia iblis berkedok manusia tapi ia masih punya aturan untuk tidak mencintai sesama. Lagi pula senjata mereka sama, bagian mananya yang enak.
“Axelle,” panggil Adelia. Seorang wanita yang beberapa kali menawarkan keperawanannya untuk Axelle tapi selalu ditolak dengan sadis.
“Hm,” jawab Axelle sembari memasukkan tangannya ke kantong celana, membuat pemuda itu terlihat berkali-kali lipat lebih tampan.
“Gue masih nungguin elu. Kapan lu mau?” tawar Adelia.
Tawar menawar soal harga diri Adelia. Gadis cantik itu benar-benar tidak punya otak. Bagaimana bisa dia menawarkan harga dirinya pada seorang laki-laki dengan begitu mudah?
__ADS_1
“Kalau lu bisa bikin duo Haidar puas. Mungkin gue bakalan pikirin lagi soal tawaran elu. Gimana?”
Gavin dan Fadhil sangat senang mendengarnya. Sahabat sekaligus Ketua itu sangat tau cara menyenangkan teman-temannya.
“Ok. Janji lu bakalan pikirin lagi soal tawaran gue,” ucap Adelia senang.
“Hm.” Axelle langsung pergi bersama Devan. Sementara duo Haidar sudah pergi bersama Adelia untuk bersenang-senang.
“Gadis bodoh.” Devan tetap fokus pada buku yang ia baca, namun meski begitu ia tetap bisa melihat dan mendengar apa saja yang terjadi dengan orang-orang sekitar.
Sementara Axelle. Pemuda itu nampak bahagia melihat teman-temannya bisa bersenang-senang.
Apa kalian berpikir kalau Axelle akan menerima tawaran Adelia?
“Kamu kenapa, Leen?”
Aileen Arsyana. Gadis cantik berkulit putih bersih yang baru saja pindah ke kandang singa beberapa menit yang lalu bersama dengan sahabat baiknya, Clarissa Citrani.
“Aku pikir akan dipindahkan ke sarang penjahat dan penjarah, ternyata aku dipindahkan ke sarang singa lapar.”
Tidak ada yang tahu dengan jelas asal usul dua gadis cantik itu, karena wali mereka Cuma mengatakan kalau mereka pindahan dari SMA Bintara, pindah sekolah karena pekerjaan orang tua. Jangankan pekerjaan orang tua, alamat keduanya saja tidak ada yang tahu.
Mereka bak anggota intel yang identitasnya di jaga oleh Negara. Tapi jika dilihat lebih jeli lagi, tidak mungkin mereka anggota intelijen atau yang lainnya. Jika anggota intelijen lainnya akan terlihat menawan, pakaian rapi, rambut tersisir rapi dan sebagainya. Berbeda sangat jauh dengan Aileen dan Clarissa. Baju lusuh, nol make up, wajah tidak terawat dan lagi, penampilan mereka tidak menujukan mereka orang berkelas.
“Ayo berkeliling! Aku ingin melihat bagian lain dari sekolah.”
Berbekal peta yang diberikan oleh Kepala sekolah, Clarissa dan Aileen mulai menjelajahi setiap koridor. Keduanya terus berjalan hingga tanpa sengaja bertemu dengan Nicolas yang tengah mengikat seorang murid berkacamata yang sudah babak belur di sebuah tiang.
“Siapa kalian?” tanya Nicolas.
“Ah, anu.. itu.. kami.. kami anak....”
__ADS_1
“Anak unta? Apa anak biawak?”
“Kami anak baru. Tadi kami sedang berkeliling setelah mendapat peta dari kepala sekolah,” ucap Clarissa sambil menunjukkan sebuah kertas dengan gambar denah sekolah.
“Dia pasti anak pelacur. Lihat penampilan mereka! Seperti sampah.” Kata-kata menusuk Axelle membuat Aileen naik darah. Untung saja Clarissa cepat menyadarinya dan menghentikan aksi sahabatnya. Mereka pindah ke sekolah ini bukan untuk mencari ribut.
“Kenapa diam? Jangan-jangan apa yang gue bilang bener lagi.”
Aileen membuang napas kasar. “Maaf sepertinya kami sudah menggangu kalian kami akan pergi.”
Clarissa dan Aileen berbalik dan hendak meninggalkan neraka sekolah. Namun belum sempat mereka berjalan menjauh, seseorang menarik rambut Aileen membuat gadis itu limbung dan terjatuh.
“Siapa yang izinin kalian pergi dari tempat ini?” ucap Axelle sambil menarik rambut panjang Aileen.
“Aileen!”
Clarissa hendak menolong sahabatnya, tapi ia lebih dulu di serang seseorang dari belakang, membuat gadis itu jatuh tersungkur.
“Sa.. sakit. Tolong lepas,” mohon Aileen namun hanya dianggap angin lalu oleh Axelle dan Nicolas.
Axelle dan Nicolas mulai menghajar Aileen dan juga Clarissa. Atas alasan apa? Tidak ada alasan tertentu. Mereka hanya ingin menghajar dua gadis kampungan itu, jadi mereka melakukanya.
Kedua gadis malang itu sudah babak belur. Napas keduanya sudah semakin menipis, karena dua laki-laki iblis itu terus menghajar mereka. Axelle dengan tidak berperikemanusiaan menginjak kepala Aileen, membuat gadis itu berteriak kesakitan. Sementara Clarissa. Nicolas terus menendang perut gadis itu, membuat gadis malang itu muntah darah. Belum sampai di situ, keduanya langsung mengambil pisau dan mulai menggores tangan dua gadis cantik itu dengan kejam.
“Kalau jelek, diem aja. Nggak usah belagu, apalagi berani jawab pertanyaan kita.”
Axelle dan Nicolas meninggalkan dua gadis malang itu tergeletak tidak berdaya di dekat gudang penyimpanan.
Mereka sungguh tidak berperikemanusiaan. Mereka tidak peduli dengan korban mereka, karena yang ada dipikiran keduanya adalah rasa puas setelah menghancurkan orang lain. Itulah yang jadi alasan kenapa mereka berdua sangat dihindari dari anggota Dead Dragon yang lain.
Axelle Adhitama, Nicolas Frey. Dua orang laki-laki yang tidak memiliki perasaan, dan akan menghancurkan siapapun yang berani mengusik kedamaian mereka.
__ADS_1