
“Sy, gue pengen nanya sesuatu sama lu.” Arsy bersama dengan Catty tengah duduk di ranjang empuk yang sudah disediakan pihak penginapan, sementara Catty sibuk dengan berbagai alat make up di wajahnya.
“Nanya apaan? Gue lagi males.”
“Sebenarnya hubungan lu sama Xander sama Juan apa sih? Kenapa kalian kayaknya deket banget.”
Arsy membuang napas kasar. Gadis itu memilih kembali fokus dengan ponselnya ketimbang menjawab pertanyaan yang sahabatnya ajukan.
Merasa terabaikan Catty melempar kuas bedak yang mana langsung mengenai kepala Arsy.
“Gue nanya ya, Njing. Jangan sampai gue lelepin lu ke bak kamar mandi!” ancam Catty.
“Ceritanya panjang. Gue lagi nggak mood buat cerita,” jawab Arsy sembari kembali memainkan ponselnya.
Catty mengambil pisau berukuran kecil yang sengaja ia letakkan di laci samping tempat tidur dengan harapan suatu saat akan berguna. “Lu mau gue lempar pake ini, atau cerita?” tawar Catty.
“Iya deh iya, gue cerita.” Arsy kembali meletakkan ponselnya dan duduk dengan posisi sempurna. “Sebenarnya gue, Juan sama Xander dulu sahabatan.”
“What!! Kok bisa!” teriak Catty. Gadis itu reflek menoleh ke arah sahabat sekaligus saudaranya sembari menggenggam kuas bedak yang akan ia aplikasikan ke wajahnya.
“Lu inget nggak pas kita masih SD dulu Mama mindahin gue sekolah ke luar negeri dengan alasan biar gue bisa belajar lebih baik lagi,” tutur Arsy yang hanya diangguki oleh Catty.
Gadis itu ingin mendengar lebih banyak lagi cerita mengenai Arsy dan juga dua pemuda tampan yang saat ini tengah melakukan perang dingin demi mendapatkan Arsy.
“Jadi hari itu-”
“Eh, nanti sepulang sekolah kita minta Pak Lee buat mampir ke tempat kemarin lagi, yuk. Tempatnya enak,” ujar Catty kecil dengan seragam berwarna merah putih serta tas berwarna biru dengan gambar animasi kuda sebagai hiasannya.
“Iya. Di sana banyak makanan gratis jadi bisa makan sampai puas,” celoteh Arsy dengan segala tingkah menggemaskannya.
“Mulai hari ini Catty berangkat ke sekolah sama Pak Lee aja nggak apa-apa kan, Nak?” tanya Margareth yang baru saja keluar dari kamarnya dengan pakaian serba hitam yang dipadukan dengan kacamata berwarna senada.
__ADS_1
Catty terdiam di tempatnya. Gadis kecil yang saat ini duduk di bangku kelas lima sekolah dasar itu tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh mamanya.
“Tapi kenapa?” tanya Catty kecil dengan mata berkaca-kaca.
“Karena mulai hari ini Arsy akan sekolah di tempat lain. Bukankah kamu ingin Arsy sama kuatnya dengan kamu?” tanya Margareth. Catty hanya mengangguk sebagai jawaban, karena jujur saja gadis kecil itu belum siap jauh dari Arsy.
“Ku pikir kita akan berangkat senin depan,” ucap Arsy yang membuat Margareth menarik napas panjang. “Pantas saja tadi pagi para maid sudah mengemasi barangku.”
“Makanya lain kali kalau Mama sedang bicara dengarkan dengan baik. Kamu terlalu sibuk bermain dengan Junior sampai tidak mendengarkan ucapan Mama,” protes Margareth.
Wanita itu memang mengadopsi Arsy dan Catty secara bersamaan dan dari panti asuhan yang sama, namun keduanya sangat berbeda. Jika Catty cenderung menuruti apa yang Margareth ucapkan, berbeda dengan Arsy yang bahkan tidak pernah mau mendengarkan ucapannya dengan baik.
Catty kecil merasa sedih karena harus pergi ke sekolah sendiri, padahal ia sudah terbiasa dengan Arsy sejak mereka masih di panti asuhan dulu dan Margareth juga berjanji tidak akan pernah memisahkan mereka. Tapi kenapa wanita itu malah berniat memindahkan Arsy dari sekolah yang sekarang?
Sejak keduanya diadopsi oleh Margareth, wanita tua itu selalu mengajari mereka bela diri dengan alasan agar tidak ada orang jahat yang berani berbuat hal yang tidak diinginkan pada mereka. Tapi entah karena tidak berbakat, bodoh atau malas, Arsy selalu berada di bawah Catty. Gadis itu selalu berkata malas, ngantuk, tidak minat kalau diminta untuk latihan makanya Margareth selaku wali mereka mengirim Arsy ke salah satu sekolah yang bisa mengajari gadis itu bela diri dengan benar.
“Tapi kapan Arsy akan pulang? Nanti aku main sama siapa?” tanya Catty polos. Gadis mungil itu nampak enggan berpisah dengan sahabat sekaligus saudaranya, berbeda dengan Arsy yang nampak biasa saja atau bahkan cenderung tidak peduli.
“Lagian kan kalau aku nggak ada, masih ada Junior. Jadi selama aku pergi kamu bisa puas Masin bersama Junior, tapi janji jaga dia sampai aku kembali. Deal?”
“Baiklah kalau begitu. Arsy jaga diri baik-baik ya di sana, jangan lupa sama aku dan Junior. Dan akan aku pastikan saat kamu kembali Junior akan jauh lebih besar lagi dari sekarang,” janji Catty. Arsy hanya mengangguk, gadis itu tidak begitu peduli dengan tumbuh tinggi Junior karena jujur saja gadis itu sedikit ragu dengan ucapan Catty yang akan membuat Junior jauh lebih tinggi dan besar dari saat ini.
Junior adalah anjing jenis Syberian Husky. Arsy menemukan Junior muda di dekat tempat sampah saat pulang sekolah, dan sejak hari itu gadis kecil itu memutuskan untuk merawat Junior.
Usia Junior saat ini baru empat tahun tapi dia bahkan lebih besar dari ukuran anjing Husky pada umumnya. Junior memiliki badan yang gemuk kalau menurut sudut pandang Arsy. Bagaimana tidak, diusianya yang baru empat tahun Junior sudah memiliki berat 30kg dan tinggi badannya 65cm. Padahal menurut sumber yang gadis itu baca tinggi ideal anjing jenis Junior itu hanya 60cm untuk jantan dengan berat badan antara 20-25 kg. Kalau Catty ingin Junior bertambah besar dan tinggi lagi, sepertinya anjing itu akan masuk dalam Guinness World Records sebagai anjing jenis Syberian Husky paling besar.
“Oiya, ngomong-ngomong soal Junior, kenapa aku tidak melihatnya?” tanya Margareth saat menyadari tidak ada Junior di samping Arsy.
Cukup mengejutkan saat mengetahui Junior tidak ada di samping gadis itu, karena biasanya di mana ada Arsy maka di situ ada Junior.
“Junior ada di kamarnya. Dia sedang tidur saat aku keluar dari kamar,” jelas Arsy.
__ADS_1
“Kau tidak meracuni Junior agar tetap tidur saat kau pergi kan?” tanya Margareth. Wanita tua itu ingin memastikan jika anak keduanya tidak melakukan hal bodoh pada anjing kesayangannya.
“Aku tidak akan melakukan hal sebodoh itu pada Junior.”
“Baiklah kalau begitu. Kita harus cepat berangkat atau kita akan ketinggalan pesawat,” tutur Margareth pada Arsy yang masih sibuk dengan tas ransel miliknya. “Apa yang kau cari?” tanya Margareth saat melihat Arsy mengobrak-abrik isi tasnya.
“Earphone yang biasa aku bawa nggak ada.”
“Kok bisa! Bukannya earphone itu nggak pernah keluar dari tasmu?” tanya Margareth. Earphone berwarna ungu dengan gambar sebuah pintu yang terbuka berwarna merah dan biru yang Arsy beli beberapa minggu yang lalu dari uang hasil tabungannya sendiri.
Biasanya earphone itu tidak pernah keluar dari tas Arsy, tapi kenapa bisa tiba-tiba nggak ada. Kalaupun gadis itu ingin pakai, biasanya dia akan pakai yang satunya, earphone dengan warna senada namun dengan gambar pintu yang tertutup.
Hampir lima menit Arsy mengobrak-abrik isi tasnya namun tidak juga menemukan earphone kesayangannya, hingga gadis itu membanting tasnya dengan napas tidak beraturan.
“Jadi ini alasan kamu nggak bangun,” murka Arsy. Gadis itu langsung berjalan melewati Margareth dan Catty yang tengah memandangnya dengan wajah bingung.
“JUNIOR!!”
Mendengar teriakan Arsy yang membahana, Junior langsung turun dengan earphone milik Arsy di mulutnya. Anjing itu terlihat ketakutan saat melihat mata Arsy yang memerah, hawa kemarahan juga terpancar dengan sangat jelas dari raut wajah Arsy.
“Lain kali kalau aku nggak boleh pergi, jangan ambil earphone ku. Tapi ambil ponsel Mama dan hancurkan, dengan begitu aku akan tetap di rumah bersama mu. Mengerti,” ucap Arsy sembari mengusap kepala Junior. Anjing itu menggonggong sebagai tanda jika ia paham apa yang diucapkan oleh pemiliknya.
Arsy mungkin marah pada Junior karena anjing itu sudah mengambil earphone kesayangannya, tapi semarah apa pun Arsy tidak akan pernah melukai Junior.
“Apa yang kau ajarkan padanya?” tanya Margareth yang merasa aneh saat Arsy meliriknya sekilas begitu ia selesai berbicara dengan Junior.
“Tidak ada,” jawab Arsy sekenanya. “Nah Junior, aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik dan pastikan saat aku pulang kau sudah semakin besar dan tinggi, ok.”
Junior memeluk Arsy. Anjing itu menggonggong dengan sangat keras seolah mengatakan kalau ia akan tumbuh jadi anjing yang besar dan tinggi agar Arsy tidak meninggalkannya lagi.
“Anjing pintar. Jaga dirimu baik-baik,” ucap Arsy sembari mengusap kepala Junior yang tengah menjilati wajahnya.
__ADS_1
Arsy berjalan keluar rumah meninggalkan Junior dan juga Catty. Gadis itu tidak menoleh ke belakang karena jika ia menoleh sudah bisa dipastikan ia akan menangis dan berakhir tidak jadi pergi.