
Juan bersama yang lainnya berjalan perlahan memasuki gedung tempat Arsy berada. Sejauh ini mereka sudah melumpuhkan lebih dari lima belas orang, dan kalau dilihat dari GPS yang sengaja mereka pasang di kursi roda ketua, mereka akan segera sampai ke tempat tujuan.
“Kita semakin dekat dengan mereka, jadi pastikan kalian tetap fokus.” Semua mengangguk sebagai jawaban dari perintah Juan.
Semakin dekat jarak mereka, semakin banyak juga penjaga yang harus mereka lumpuhkan dan hal itu sukses memancing Samuel keluar dari ruangan tempat Arsy disekap.
“Jadi kalian membawa orang cukup banyak. Untung aku sudah mempersiapkan segalanya,” ucap Samuel yang membuat Axelle serta yang lainnya terkejut. Pasalnya beberapa orang dengan jumlah yang cukup banyak tiba-tiba keluar dari salah satu kamar dan mulai menyerang mereka semua.
Semuanya terlibat perkelahian, dan beberapa orang berhasil dilumpuhkan. Axelle terluka meski tidak terlalu parah, karena pemuda itu sibuk melindungi ketua yang tengah duduk di kursi roda.
Semua mata memandang kaget pada ketua yang saat ini tengah berdiri tegak sembari membawa sebuah tongkat kecil di tangannya.
“Kakek, kau....”
“Jadi kau selama ini menipu kami!” teriak Catty tidak terima. Ia merasa dibohongi oleh Kakeknya sendiri.
“Kalian tidak bertanya,” jawab ketua dengan tangan yang sibuk mengayunkan tongkatnya ke arah musuh yang terus berdatangan. “Lagi pula aku hanya malas berjalan, itu alasannya aku pakai kursi roda.”
Mereka hanya memandang tidak percaya. Berbeda dengan Juan dan Margareth yang memang sudah tau kalau ketua mereka tidak lumpuh.
“Berhenti!” teriak Samuel. “Berlutut atau aku tidak akan segan untuk melubangi kepala gadis ini,” ancam Samuel.
Samuel tertawa keras saat melihat anak buahnya yang tersisa mulai menghajar Juan dan yang lainnya. Pria tua itu terlihat puas dengan apa yang dilihatnya.
Semuanya sudah babak belur dan tidak sanggup lagi untuk berdiri. Luka di tubuh mereka cukup parah. Samuel berjalan ke arah ketua dan hendak menembak kepala ketua, namun sebuah suara membuatnya terhenti.
“Jauhkan dari kepala Kakekku, atau kau akan menerima akibatnya.” Arsy mendongakkan kepalanya yang sejak tadi tertunduk. Gadis itu tidak ingat apa yang terjadi sampai ia harus diikat di sini dan disiksa sejak kemarin. Sebenarnya ia tidak begitu peduli kalau sampai harus mati karena menurutnya itu lebih baik dari pada harus hidup bersama dengan Juan tapi sebagai kakak beradik. Namun saat melihat Samuel mengarahkan senjata ke kepala kakeknya hati Arsy seperti terbakar.
“Oh, kau sudah bangun ternyata.”
“Jauhkan senjatamu dari Kakekku. Atau aku....”
Dor
“Arsy!” semua orang berteriak saat melihat Samuel menembak tepat ke lengan kanan Arsy.
“Samuel, lepasin Cucuku! Kau mau nyawaku kan? Ambil sekarang!” teriak ketua.
“Aku pasti akan membunuhmu, tapi lebih dulu aku akan membunuh gadis sialan ini karena sudah menyebabkan anakku mati.”
Axelle memandang Arsy yang tengah menatapnya sembari mengedipkan sebelah matanya. Pemuda itu menggelengkan kepalanya, namun Arsy memberi isyarat jika ia akan baik-baik saja. Axelle menarik napas panjang sebelum ia tertawa lepas yang membuat semua orang bingung dengan apa yang terjadi dengan pemuda itu.
__ADS_1
“Jadi kau ingin membunuh Arsy untuk membalas dendam anakmu?” tanya Axelle yang diangguki oleh Samuel. “Memangnya apa yang dia lakukan pada anakmu?”
“Dia membuat anakku di benci oleh hampir seluruh penduduk di pulau ini. Anakku menderita tekanan batin karena dia,” ucap Samuel sembari menunjuk Arsy.
“Lalu kau ingin langsung membunuhnya? Mana seru.”
“Bocah bangsat, apa yang kau katakan!” teriak Juan yang tidak terima dengan apa yang dikatakan Axelle. Namun sayangnya Axelle memilih untuk tidak mempedulikan ocehan Juan, pemuda itu tetap melanjutkan kalimatnya yang membuat Samuel dilema.
“Harusnya kau biarkan dia hidup dan menerima hukuman yang lebih dari apa yang anakmu terima. Dengan begitu balas dendam yang kau dambakan akan terlaksana dengan baik. Kalau kau langsung membunuhnya, rasa hausmu tidak akan pernah terobati.”
“Lalu, bagaimana aku harus membalasnya?” tanya Samuel.
“Lepaskan aku, dan akan aku ajari caranya.” Samuel mengangguk dan meminta anak buahnya melepaskan ikatan Axelle.
Pemuda itu langsung menghampiri Arsy yang masih duduk di kursi dengan tangan dan kaki terikat. Tanpa ba-bi-bu Axelle langsung melayangkan pukulan ke arah wajah Arsy yang membuat sudut bibir gadis itu mengeluarkan darah.
“Axelle!” teriak Margareth saat melihat anak tirinya memukul Arsy dengan sangat keras.
“Lu bakalan bayar semuanya, Xelle.” Catty mencoba melepaskan diri dari tangan anak buah Samuel namun gagal. Beberapa kali gadis itu mengumpati Axelle karena sudah berani memukul sahabatnya. Kalau diingat lagi ini bukan kali pertama Axelle memukul Arsy, namun kali rasanya sedikit berbeda.
“Sorry kalau gue mukulnya terlalu keras,” bisik Axelle pada Arsy sembari mencoba melepas ikatan gadis yang tengah tersenyum manis padanya.
“Nggak masalah. Kan gue bisa bales elu ntar kalau kita udah selesai di sini,” ucap Arsy yang membuat bulu kuduk Axelle berdiri.
“Sekarang!” teriak Arsy dan mereka semua serempak melepaskan cengkraman anak buah Samuel. Samuel kalang kabut saat melihat anak buahnya banyak yang terluka dan beberapa sudah tidak bernyawa.
“Mau ke mana, Pak Tua? Urusan kita belum selesai.”
“Jangan mendekat! Atau aku akan menembak kepalamu,” ancam Arsy.
“Coba saja kalau kau bisa,” ejek Arsy. Gadis itu terus berjalan mendekati Samuel, sementara pria tua itu terus berjalan mundur. “Sebaiknya anda menyerahkan diri ke polisi dan menerima hukuman yang setimpal karena sudah mencoba menyakiti keluarga Ketua.” Arsy hanya menepuk pundak Samuel dan berjalan ke arah keluarganya yang sudah menunggu dirinya.
Dor
Satu tembakan mengenai tubuh Margareth membuat semuanya terkejut. Melihat Margareth tergeletak bersimbah darah, Arsy yang awalnya ingin memasukkan Samuel ke dalam jeruji besi memilih mengurungkan niatnya.
“Mama/Margareth!”
Arsy mengepalkan tangannya dan mulai memukuli Samuel dengan membabi buta. Teriakan putus asa, dan kata ampun yang keluar dari mulut pria tua itu sudah tidak bisa diterima oleh Arsy. Melihat Samuel yang sudah sekarat, Arsy mengambil pisau yang ada di dekatnya lalu menancapkan pisau tersebut tepat di leher Samuel, kemudian menarik pisau tersebut sampai ke perut dan membuat isi dari perut pria tua itu berhamburan.
***
__ADS_1
Seminggu sudah berlalu sejak kejadian penculikan Arsy yang berakhir dengan kematian Samuel di tangan Arsy.
Arsy tengah berdiri di balkon kamarnya. Ditemani oleh beberapa botol wine yang diharapkan bisa membantunya menghilangkan rasa sakit di hatinya.
“Princess,” panggil Juan. Pemuda itu berniat meluruskan semua masalahnya dengan Arsy agar tidak ada lagi kesalahpahaman yang bisa menghancurkan hubungan mereka. “Bisa kita bicara sebentar?” tanya Juan yang hanya diangguki oleh Arsy.
Gadis itu menuangkan wine miliknya ke dalam gelas dan memberikannya kepada Juan, agar pemuda itu bisa mengontrol hatinya.
“Masih marah? Kecewa? Dan lain sebagainya?” tanya Juan.
“Entahlah. Gue cuma belum siap menerima semuanya, dan mungkin nggak bakalan pernah siap untuk menerima semuanya.” Arsy menegak wine dari botolnya langsung, berharap rasa dari wine bisa menghilangkan sakit di dadanya. “Kenapa harus elu? Kenapa nggak Xander, Axelle atau yang lainnya.”
Juan memilih untuk memeluk Arsy dengan harapan pelukannya bisa sedikit mengurangi rasa sakit yang mereka rasakan. “Bantu gue bujuk Kakek, bisa?” tanya Juan.
“Maksudnya?” tanya Arsy yang tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Juan.
“Kakek bilang, dia bakalan ngizinin kita buat bersama asal cucunya yang paling cantik ini mau membujuknya.”
“Sumpah!” seru Arsy. Gadis itu tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Melihat Juan menganggukkan kepalanya, Arsy tersenyum lebar. Gadis itu berlari ke arah ruangan sang kakek yang saat ini tengah menginap di rumah mereka dengan alasan masih rindu dengan cucu-cucunya.
“Kakek!” teriak Arsy.
“Kakek anda sedang di taman belakang bersama Nyonya Margareth, Nona.”
Arsy berlari ke taman belakang. Gadis itu langsung bersimpuh di kaki sang kakek, dan hal itu sukses membuat sang kakek dan juga Margareth ikut bahagia.
“Apa Kakek serius soal aku dan Juan?” tanya Arsy.
“Mama dan Kakekmu sudah memutuskan untuk mempercayakan semua pada kalian berdua, kalau kalian memang ingin bersama maka kami tidak bisa melarang.” Margareth benar-benar senang bisa melihat senyum sang anak lagi.
Setelah kejadian kemarin Margareth terus berpikir dan akhirnya mengambil satu keputusan pasti yaitu membiarkan anak-anaknya bahagia dengan jalan mereka sendiri. Toh pada dasarnya mereka semua tidak terikat hubungan darah, jadi tidak ada salahnya kalau mereka bersama dan menjadi sebuah keluarga.
“Kakek merestui, tapi sebelum itu kau dan juga Juan harus harus meneruskan sekolah dan belajar tentang perusahaan lebih dulu. Setuju?”
“Setuju. Terima kasih Kakek, terima kasih juga Mama.” Arsy memeluk dua orang yang sangat ia sayangi dengan erat. Ia tidak menyangka akhirnya keluarganya akan merestui hubungan dengan Juan.
“Bukannya lu janji kalau endingnya gue sama Arsy. Kenapa jadi dia?” tanya Axelle pada Author cerita yang masih sibuk nge-fangirl.
“Bukannya gue udah beliin apa yang lu mau. Kenapa Arsy masih sama Juan,” gerutu Xander.
“Mohon maaf tapi saya tidak pernah berjanji endingnya Arsy akan dengan salah satu dari kalian. Dan lagi, kalau dari awal udah jomblo ya udah jomblo aja nggak usah banyak mau.”
__ADS_1
Xander dan Axelle membekap mulut Author dan membawa perempuan itu ke dalam ruangan yang pengap. Tidak hanya itu, mereka bahkan mengikat tangan dan kaki Author dan meninggalkan author yang malang sendirian. Mendengar teriakan minta tolong author, kedua pemuda itu tersenyum puas. Meski mereka tidak bisa bersama dengan Arsy setidaknya mereka bisa membalaskan dendam mereka pada author yang selalu memancing emosi mereka dari awal kemunculannya.
END