Mask

Mask
Bagian 21


__ADS_3

Catty dan Devan tengah berada di salah satu ruangan yang cukup asing bagi Devan namun tidak bagi Catty, karena gadis itu terlalu sering masuk ke ruangan tersebut dulu bersama dengan Arsy.


Keduanya tertunduk saat seorang wanita tua tengah menatap keduanya dengan tatapan kecewa yang sangat besar.


“Kenapa kau merahasiakannya dari Mama?”


Margareth sangat terkejut saat mendengar jika Arsy pergi ke LA dan pesawat yang gadis itu naiki dinyatakan hilang beberapa menit setelah lepas landas.


Mata wanita itu masih memerah karena menangis terlalu lama. “Apa rasa kecewa kalian terhadap Mama begitu besar sampai kau merahasiakan kejadian ini dari Mama?”


“Tante, kami hanya....”


“Devan, kamu salah satu sahabatnya Axelle, kan?” tanya Margareth yang dibalas anggukan oleh Devan. “Lalu apa yang kau lakukan bersama anak perempuan ku di rumahnya?”


“Dia hanya menemaniku dan mencoba menenangkan ku saat Arsy tidak ada, dan kami bertiga lebih layak disebut sebagai saudara dari pada teman. Dia juga tau kalau aku dan Arsy bekerja sebagai pembunuh bayaran. Kalau soal Arsy, aku tidak ingin memberitahu anda karena takut anda akan kepikiran dan jatuh sakit. Jujur saja aku sebenarnya tidak peduli jika anda tau tentang hilangnya Arsy dan jatuh sakit, tapi Arsy akan marah kalau dia tau anda sakit karena dia jadi aku memilih opsi untuk menyembunyikan hal ini dari anda.” Penuturan Catty yang begitu panjang membuat Margareth terdiam. Ia tidak menyangka jika keputusan sangat suami akan berakibat sejauh ini, ia pikir ia hanya harus menenangkan Axelle agar bisa menerima Adelia sebagai masa depannya namun ia salah. Keputusannya tidak hanya menyakiti hati Axelle tapi juga anak-anaknya yang lain.


“Mama Minta maaf karena keputusan itu, tapi....”


“Anda harusnya minta maaf sama Arsy dan Axelle bukan kepada saya ataupun Devan. Soal pencarian Arsy....”


“Tenang saja. Mama sudah memerintahkan yang lain untuk mencari keberadaan Arsy,” sela Margareth yang dibalas anggukan oleh Catty.


Gadis itu berpamitan untuk segera pergi meninggalkan ruangan Margareth, karena semakin lama ia di sana ia hanya akan semakin mengingat Arsy dan itu membuat Catty sedih. Ditambah lagu, berada di hadapan Margareth membuat dirinya mengingat bagaimana wanita yang sudah mereka anggap sebagai orang tua kandung itu tega mempermalukan Arsy di depan seluruh siswa di sekolah.


“Jadi, mau ke mana kita setelah ini?” tanya Devan sembari menggandeng tangan Catty. Gadis itu terlihat begitu rapuh saat keluar dari ruangan Margareth, bahkan ia kembali meneteskan air mata.


“Dev, lu mau kan nemenin gue sampai Arsy ketemu?”


“Emang ke mana calon pacar gue? Kenapa lu bisa sama Catty?” tanya Axelle tiba-tiba membuat Devan dan Catty terkejut.


“Arsy hilang saat perjalanan ke LA seminggu yang lalu. Kalau lu tanya kenapa gue bisa sama Catty, itu karena....”


“Karena dia pacar gue. Jadi wajar kalau dia ada di samping gue waktu gue sedih, dan kalau lu nggak bisa bantu apa-apa sebaiknya lu menyingkir dari hadapan gue!”

__ADS_1


Devan memberi isyarat mata pada Axelle agar pemuda itu diam untuk saat ini, karena Catty dalam keadaan yang tidak baik-baik saja dan bukan pilihan yang baik jika terus mengajaknya berbicara.


Axelle yang mengerti pun mengangguk. Pemuda itu lantas masuk ke dalam ruangan sang mama. Tadinya ia ingin menemui Margareth untuk membatalkan pertunangannya dengan Adelia, namun sekarang yang lebih penting adalah keadaan Arsy.


***


“Cell,” Panggil Margareth pada sangat suami yang masih setia di menatap layar ponselnya dengan senyum yang terkembang sempurna. Margareth mendekati sang suami ingin melihat apa yang lucu sampai laki-laki tua itu tidak menjawab panggilannya. Namun, Marcell langsung mematikan ponselnya saat Margareth mendekatinya.


“Kenapa Sayang?” tanya Marcell sembari meletakkannya ponselnya jauh dari jangkauan sang istri.


“Kenapa kau mematikan ponselmu? Sepertinya tadi kau lihat sesuatu yang lucu.”


“Sesuatu yang lucu?” tanya Marcell yang membuat Margareth sedikit curiga dengan sang suami.


“Iya, kau sejak tadi tertawa sambil melihat ponselmu jadi aku pikir kau melihat sesuatu yang lucu.”


“Ah itu. Iya aku sedang melihat beberapa story whatsapp rekan kerjaku dan itu sangat lucu.” Margareth hanya mengangguk sebagai jawaban. “Tadi kau memanggilku, ada apa?”


“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”


“Hak asuh Axelle. Aku ingin kau memberikan Axelle padaku, dan sebagai gantinya aku akan memberikan AM corporation padamu. Bagaimana?”


“Ok, aku setuju.”


“Kau langsung setuju? Apa kau tidak ingin mencari tahu soal AM corporation terlebih dahulu? Bisa saja karena perusahaan itu hampir bangkrut makanya aku memberikannya padamu. Dan apa kau benar-benar yakin akan memberikan Axelle padaku? Dia anak kandungmu.”


“Kau begitu menyayangi Axelle, jadi tidak mungkin kau menggantinya dengan perusahaan yang hampir bangkrut. Kalau soal Axelle, aku tau dia cukup paham kenapa aku lebih memilih perusahaan yang kau berikan daripada mempertahankan dia di sisiku.”


Margareth menggelengkan kepalanya. Wanita itu benar-benar tidak menyangka jika Marcell akan dengan suka rela memberikan anaknya pada Margareth hanya dengan iming-iming perusahaan yang bahkan laki-laki itu tidak tau perusahaan yang Margareth berikan berjalan di bidang apa.


“Sekarang katakan masalah ke dua,” ucap Marcell sembari merubah dirinya di atas kasur empuk miliknya.


“Batalkan pertunangan Axelle dan Adelia.”

__ADS_1


“Kalau itu aku tidak bisa. Sebanyak apa pun kau membayarku, aku tidak akan pernah membatalkan rencana menyatukan Axelle dan Adelia. Lagipula Adelia sudah hamil anak Axelle, jadi tidak mungkin aku membatalkan rencana yang sudah aku susun dengan sangat baik ini. Tapi kalau kau bisa memberikan seluruh hartamu padaku, aku akan langsung membatalkannya.”


“Se....”


“Tidak boleh!”


Marcell dan Margareth terkejut saat Axelle masuk ke dalam kamar mereka dengan napas yang terengah. Pemuda itu terlihat menahan amarahnya, tersirat kekecewaan saat matanya beradu pandang dengan Marcell.


“Xelle, sejak kapan kau....”


“Apa kau berniat menjualku padanya? Sebenarnya kau anggap aku anak atau barang yang bisa kau lempar ke sana kemari hanya untuk sebuah uang!”


Tadinya Axelle ingin membahas soal pertunangan dirinya dengan Adelia dan juga soal hilangnya Arsy yang bahkan sudah satu minggu berlalu tapi Margareth tidak terlihat sedih. Tapi karena Margareth tidak ada di dalam ruangannya jadi ia berinisiatif mencari sang mama ke kamarnya, dan hal yang ia dengar dari pembicaraan orang tuanya cukup membuatnya meradang, apalagi saat Axelle mendengarkan sang ayah yang tega menukar dirinya dengan sebuah perusahaan.


“Kau dengar semuanya? Axelle dengarkan....”


“Iya, gue denger semuanya. Sebenarnya apa tujuan mu melakukan semua ini? Jadi pahlawan kesiangan? Apa kau berpikir gue bakalan lupain semuanya? Gue udah cukup muak dengan semuanya, jadi jangan mancing gue buat makin benci sama semuanya.” Axelle berjalan menuju sang Ayah yang masih setia duduk di kasur empuknya. Pemuda itu tersenyum dan berlutut di depan sang ayah yang membuat MargaretRiri dan Marcell kebingungan. “Jika dulu gue bisa nyelakain elu bersama dengan wanita sewaan lu, maka kali ini gue nggak bakalan sungkan lagi buat ngebunuh elu.”


“Anak kurang ajar. Kau....” Marcell hendak memukul Axelle, namun tangan laki-laki tua itu lebih dulu di genggam oleh Axelle.


“Sorry, tapi gue bukan lagi anak kecil yang bakalan nangis tiap kali dipukuli. Jika anak SD itu bisa nyelakain elu, maka bocah SMA ini bisa ngebunuh elu. Gue....” Axelle ambruk sebelum ia sempat menyelesaikan ucapannya.


“Maaf Bos, kami nggak tau kalau Tuan Muda bakalan merusak acara negosiasi nya,” ucap beberapa orang berbadan besar dengan pakaian serba hitam. “Kami akan membawa Tuan Axelle ke rumah baru yang sudah Bos siapkan.” Tambahnya.


“Jangan sampai anak ku lecet. Kalau dia lecet sedikit saja, kepala kalian jadi gantinya!” ancam Margareth yang membuat Marcell membolakan matanya sembari memegang lehernya.


“Siap melaksanakan tugas dengan baik, Bos.” Para laki-laki berpakaian serba hitam itu keluar membawa Axelle yang sudah tidak sadarkan diri karena pukulan telak yang orang itu berikan di tengkuk Axelle. Beberapa dari mereka ada yang berjaga di depan kamar Margareth dan Marcell.


“Siapa mereka? Kenapa mereka memanggilmu bos? Dan kenapa di sini banyak orang asing?” tanya Marcell.


“Jangan pedulikan mereka. Malam ini kau akan dapatkan berkasnya dan pastikan kau membaca secara keseluruhan sebelum kau menandatangani berkasnya,” peringat Margareth sebelum berjalan ke arah sang suami dan memberikan pelukan serta ciuman terakhir.


Margareth berjalan keluar kamar. Wanita itu berjalan diiringi oleh beberapa orang berpakaian serba hitam yang tadi membawa Axelle.

__ADS_1


“Apa aku salah menikahi seseorang? Kenapa sekarang dia nampak begitu berbeda dari pertama aku menikahinya?” monolog Marcell.


__ADS_2