
“Sy, ayolah. Temenin gue nonton ni film.” Sudah lebih dari setengah jam Catty memohon pada Arsy untuk menemani dirinya menonton film yang baru rilis di bioskop. Namun, sejak setengah jam juga Arsy terus menolak dengan alasan lelah, letih, lesu dan lunglai. “Sy, mumpung kita udah di sini. Mau ya,” mohon Catty. Bahkan gadis itu berjanji akan membelikan apa pun yang sahabatnya inginkan kalau gadis itu mau menemani Catty menonton film.
“Besok aja. Gue mau tidur, Catty.”
“Lu bisa tidur di bioskop, trus gue nonton filmnya.” Tawaran Catty membuat Arsy berhenti berjalan. Gadis itu memikirkan sesuatu yang membuat jantung Catty berpacu dua kali lebih cepat.
“Ide bagus.”
“Jadi lu mau?” tanya Catty. Gadis itu sudah bahagia mendengar perkataan Arsy, namun jawaban gadis itu membuat Catty menjambak rambut sahabatnya.
“Aduh! Sakit. Catty!”
“Bodo amat. Gue bakalan begini sampai lu mau nemenin gue nonton film,” ucap Catty sambil terus menjambak rambut sahabatnya. Tidak peduli jika rambut Arsy akan rontok dan berujung kebotakan.
“Iya deh iya. Gue temenin nonton, tapi lepasin dulu. Sakit bangsat!” Arsy merintih kesakitan. Kepalanya pusing gara-gara jambakan Catty yang tidak manusiawi.
“Beneran! Janji dulu. Kalau nggak, gue nggak bakalan lepasin rambut lu!” Arsy pun akhirnya dengan sangat terpaksa berjanji, ralat, gadis itu bersumpah akan menemani Catty dan mengiyakan apa pun yang diinginkan sahabatnya.
“Ok, kalau gitu kita nonton.”
Catty dan Arsy berjalan keluar meninggalkan tempat yang sudah memuaskan hasrat berbelanja mereka. Kedua gadis itu memasukkan belanjaan mereka ke dalam mobil, baru ke bioskop. Namun, saat mobil keduanya hendak melaju, mereka melihat dua pemuda menghampiri mobil mereka.
“Hai,” sapa salah satu dari mereka yang dibalas senyuman oleh Catty. Berbeda dengan Arsy yang justru terlihat kesal saat melihat siapa pemuda yang ada di hadapannya.
“Hai Arsy,” sapa Axelle dengan senyum yang terkembang sempurna.
“Bodo amat!” ketus Arsy yang membuat senyum Axelle luntur seketika. “Hai, Nic. Udah sembuh lu?” tanya Arsy yang membuat Nic tersenyum malu.
“Sorry ya, gue ngerepotin kalian.”Nic merasa tidak enak karena dirinya Arsy dan Catty harus menemui teman-temannya tengah malam.
“Santai aja, Nic. Harusnya gue yang minta maaf udah ngajak lu nonton film horor waktu itu.”
“Nggak apa-apa kok. By the way kalian mau ke mana?” tanya Nic pada Arsy yang masih setia duduk di kursi pengemudi.
“Kita mau nonton film di bioskop. Mau ikut?” tawar Arsy yang Nic tersenyum kikuk. “Tenang aja. Catty ngajak nonton film romansa kok, bukan horor.”
“Boleh,” jawab Axelle.
“Gue nggak ngajak elu!”
__ADS_1
“Mau ya, Nic. Anggap aja sebagai permintaan maafan gue buat waktu itu,” mohon Catty yang diangguki oleh Nicolas.
Ke empat remaja itu berangkat dengan menggunakan mobil Arsy yang dikemudikan sendiri oleh gadis itu. Sebenarnya tadi Axelle sudah menawarkan diri untuk menyetir tapi Arsy menolak dengan alasan, "gue nggak mau mobil gue kena virus gila lu!"
“Sayang,”
“Lu manggil gitu lagi gue mutilasi pala lu. Sumpah!” ancam Arsy. Namun, bukan Axelle namanya jika takut hanya dengan ancaman dari seorang Arsy.
“Nggak boleh gitu sama calon suami. Dosa tau,” tutur Axelle.
“Calon suami kepalamu!” teriak Arsy tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan yang macet.
“Kan elu sendiri yang bilang. Masa iya lu lupa?”
“Masa?” tanya Catty yang dibalas anggukan oleh Axelle. Tidak hanya itu, pemuda itu menceritakan semuanya kepada Catty yang otomatis di dengar oleh Nic dan juga Arsy. Darah Nic mendidih saat mendengar Adelia melakukan hal menjijikan seperti yang diceritakan Axelle hanya untuk mendapatkan harta sahabatnya yang kelewat kaya itu. Berbeda dengan Catty yang tersenyum senang saat mendengar Arsy memasang cincin di jari Axelle, ya meskipun pemuda itu tidak menyadari kapan Arsy memasangkannya.
“Lu bisa diem nggak?”
“Nggak bisa, Sayang. Lu tau nggak....”
“Kita sampai. Ayo turun!”
Keempatnya turun dari mobil Arsy. Catty berjalan beriringan dengan Nicolas, kedua remaja itu terlihat saling melemparkan candaan yang membuat keduanya tersenyum bahagia. Berbeda dengan Axelle dan Arsy. Axelle sibuk mendekati Arsy, sementara gadis itu sibuk menjauhi Axelle.
“Sy, lihat deh! Mereka serasi banget kayak kita.”
“LU BISA DIEM NGGAK SIH! ENEK, MUAL GUE LIAT MUKA LU.” Teriakan Arsy membuat seluruh penonton memandangnya dengan tatapan sinis. Bahkan ada salah satu penonton yang melaporkan mereka ke petugas membuat keempatnya diusir keluar dari bioskop.
“Yah, padahal filmnya lagi seru.” Catty menggerutu karena belum selesai melihat film yang ia sukai.
“Gara-gara elu kita jadi diusir!”
“Kok gue sih, Beb. Kan yang teriak elu,”
“Berisik sekali lagi, gue pastikan kalian berdua pulang tinggal nama!” ancam Catty yang seketika membuat Axelle dan Arsy diam.
“Udah, Catt. Besok masih ada penayangan lagi. Gue traktir nonton gimana? Hanya berdua.”
Arsy meninggalkan Axelle, Catty dan juga Nic di belakang. Gadis itu tidak tahan jika harus berdekatan dengan Axelle, rasa ingin membunuh pemuda itu seketika memuncak.
__ADS_1
“Catt,” panggil Axelle.
“Hm.”
“Kenapa sih si Arsy kalau sama gue kek benci banget. Kayak punya dendam kesumat gitu. Padahal kan gue nggak pernah berbuat salah sama dia, tapi bencinya udah kayak gue pernah bully dia aja.”
“Bukan cuma dendam kesumat. Kalau soal lu salah apa sama dia, ya lu nanya aja sama dia jangan ke gue. Dan lagi, kalau jadi cowok tu peka dikit bisa nggak? Bloonnya dikurangi dikit aja.”
Axelle dan Nic terdiam mendengar penuturan Catty. Kalimat yang diucapkan gadis itu memicu otak Axelle dan Nic ke jalan yang salah.
“Arsy suka sama gue/Arsy suka sama lu!” ucap Axelle dan Nicolas bersamaan. Nah kan bener salah mengartikan.
Arsy dan yang lainnya memilih untuk makan di salah satu restoran yang ada di dekat bioskop. Pertengkaran yang terjadi antara Axelle dan Arsy mereda untuk beberapa menit ke depan karena Catty akan benar-benar ngamuk jika keduanya berani bertengkar saat makan.
Saat semuanya tengah sibuk dengan makanan masing-masing, tiba-tiba ponsel Axelle berbunyi.
“Hallo.”
“Apa!!” Semua terkejut saat Axelle membanting sendok yang ia pegang. Pemuda itu bahkan terlihat sangat marah, sepertinya sesuatu yang sedang tidak baik sedang terjadi.
“Xelle, ada apa?” tanya Nic.
“Gue balik ke sekolah,” ucap Axelle dengan rahang yang masih mengeras.
“Gue ikut. Pake mobil gue,” Arsy menyusul Axelle yang sudah berjalan lebih dulu ke arah mobil Arsy. Gadis itu sedikit bingung dengan apa yang terjadi sampai Axelle yang beberapa saat yang lalu masih baik-baik saja, kini nampak sangat marah setelah menerima telfon dari salah satu anggota Dead Dragon.
***
Sekolah sangat ramai saat Axelle dan Arsy sampai di sana. Mata pemuda itu memicinh saat melihat tembok sekolah yang sudah penuh dengan gambar dirinya dan Adelia yang tengah melakukan hubungan yang menjijikkan.
“Xelle,” panggil Devan yang tengah berlari ke arah Axelle bersama dengan duo Haidar.
“Bagaimana bisa terjadi?” tanya Arsy.
“Nggak ada yang tau. Padahal tadi pagi belum ada apa-apa, tapi pas istirahat udah full kayak gini.” Devan menjelaskan dengan sangat hati-hati, takut kalimat yang ia ucapkan akan memicu emosi Axelle dan berakhir pemuda itu membunuh murid satu sekolah.
“Dev, pinjam ponsel!”
Devan tidak paham dengan apa yang akan dilakukan Arsy, tapi pemuda itu percaya apa pun yang akan dilakukan gadis itu, itu semua untuk kebaikan Axelle.
__ADS_1
“Hallo, ini gue. Sekolah kacau! Gue kasih 5 detik,” ucap Arsy. Gadis itu langsung mengembalikan ponsel milik Devan. “Ruang Penyiaran di mana?”
“Ayo, kita antar.”