Mask

Mask
Bagian 11


__ADS_3

Arsy tengah duduk di salah satu cafe yang ada di dekat rumahnya. Suasana hatinya sedang gundah memikirkan cara untuk minta maaf pada manusia sombong dan haus darah seperti Axelle.


“Apa yang harus gue lakuin?” monolognya pada dirinya sendiri. Satu gelas cappuccino dingin yang ia pesan beberapa menit yang lalu nyatanya tidak bisa membuat otak yang berada di dalam tempurung kepalanya ikut mendingin. Gadis itu butuh sesuatu atau seseorang untuk membantunya mencari solusi dari masalah yang tengah ia hadapi.


“LU NGGAK BISA GINI, XELLE!”


Arsy menoleh saat mendengar seseorang berteriak. Bahkan seluruh penghuni cafe juga melihat ke arah seorang gadis bodoh dan tidak punya etika yang berteriak di tengah keramaian.


“Lu bisa pelanin suara lu atau nggak!” peringat Axelle namun tidak digubris oleh gadis bodoh yang sudah membuatnya malu. Jika tau akan berakhir seperti ini maka pemuda itu tidak akan pernah menuruti keinginan Adelia untuk bertemu di tempat ramai.


“Kenapa mereka heboh sekali, sih.” Arsy berjalan ke arah Adelia yang tengah berteriak di depan wajah Axelle sembari menangis kencang. Demi apa pun Arsy tidak pernah menyangka selain cantik ternyata gadis itu tidak punya kelebihan lain.


“XELLE, GUE CUMA MINTA....!”


Mata semua orang di dalam cafe terbelalak saat melihat seseorang memukul tengkuk gadis yang tengah berteriak dan membuatnya pingsan seketika.


“Apa yang lu lakuin?” tanya Axelle pada gadis yang sudah membuat Adelia pingsan.


“Demi Tuhan pacar lu berisik. Sebaiknya bawa dia pergi,” tutur Arsy sambil berjalan kembali ke arah mejanya. Gadis itu senang karena akhirnya suasana kembali tenang, namun pandangan orang-orang terhadapnya membuatnya risih.


“Thanks, ya. Lu udah nolongin gue dari siluman berbahaya seperti Adelia,” ucap Axelle tulus. Ia pikir akan berakhir dihakimi satu cafe kalau sampai gadis bodoh itu mengatakan kalau ia hamil anak Axelle.


“Santai aja. Lagian gue ngelakuin itu karena dia ganggu Ketenangan orang aja.” Arsy meminum Cappucino dingin miliknya yang sudah hampir habis. “Lagian kok bisa sih lu pacaran sama tarzan? Masih banyak gadis cantik yang waras kenapa lu malah milih tarzan,” ucap Arsy yang membuat Axelle tersenyum tipis.


“Dia bukan pacara gue.”


“Jelas-jelas itu pertengkaran antara dua insan yang saling mencintai. Udah nggak usah ngelak,”


“Gue nggak ngelak. Gue sama Adelia emang nggak ada hubungan apa pun, kami ada sedang ada sedikit problem.”


Arsy menyadari sesuatu saat melihat Axelle tertunduk lesu sesaat setelah mengatakan kalau dia dan Adelia tengah bermasalah.

__ADS_1


“Butuh bantuan?”


Axelle mendongakkan kepala. Pemuda itu tidak yakin dengan apa yang ia dengar, jadi ia meminta Arsy mengulang pertanyaannya dan jawaban yang ia terima sama dengan yang dia dengar di awal.


“Kenapa lu mau bantuin gue?”


“Walau gimanapun lu anak dari mama angkat gue walaupun anak tiri. Jadi, meski tidak langsung tapi lu sama gue masih bisa dianggap saudara, makanya gue nanya begitu. Tapi kalau lu nggak mau juga nggak masalah,”Arsy ingin kembali meminum Cappucino miliknya namun sialnya sudah tidak ada sisa.


“Boleh.”


Demi Tuhan, Axelle menerima tawaran Arsy karena ia sudah tidak tau lagi harus berbuat apa atau bertanya pada siapa. Otaknya buntu. Tapi di satu sisi ia takut hidupnya akan benar-benar berakhir kalau sampai masalahnya bocor ke orang lain.


“Jadi bisa lu ceritain inti masalah lu?” tanya Arsy sambil menggoyang es batu yang ada di dalam gelasnya dengan harapan es tersebut akan mencair dan ia bisa membasahi tenggorokannya yang kering.


“Lu pernah bunuh kucing seharga 1,5 milyar. Masa beli minuman 50 ribu aja nggak bisa,” sindir Axelle yang membuat Arsy terdiam sejenak. Gadis itu tengah berpikir mengenai maksud dari kalimat yang Axelle ucapkan.


“Maksudnya?”


“Oh ini,” ucap Arsy sambil menunjuk gelas yang sejak tadi ia goyang. “Bukannya nggak sanggup beli, tapi gue males jalan ke sana.” Arsy menunjuk ke arah meja pemesanan yang berjarak 4 sampai 5 langkah dari tempat duduknya.


Axelle berdiri. Pemuda itu berjalan meninggalkan Arsy yang kebingungan dengan apa yang dilakukan pemuda itu saat melihatnya berdiri di depan meja pemesanan.


“Nih!” Axelle memberikan segelas Cappucino baru pada Arsy yang membuat gadis itu tersenyum bahagia. “Sebagai gantinya lu temenin gue jalan. Gimana?”


“Sialan! Gue kira lu ikhlas ngasihnya.” Arsy merampas minuman di tangan Axelle dan berjalan mendahului pemuda yang saat ini tengah tersenyum tampan.


***


Axelle dan Arsy sudah ada di taman kota. Meski matahari tengah berada di atas kepala namun suasana di taman cukup sejuk karena banyaknya pohon besar yang menghalangi panas matahari mengenai kulit secara langsung.


“Jadi?” tanya Arsy begitu mereka sudah duduk di salah satu kursi taman. Arsy meletakkan Cappucino dingin miliknya saat melihat Axelle terus tertunduk dan diam.

__ADS_1


“Sebenarnya ini bocah gila satu kesambet setan di mana sih? Dari tadi diem trus ngomong nggak jelas. Pengen nyekek tapi kok nggak tega,” gerutu Arsy dalam hati.


“Lu tu....”


“Cewek tadi namanya Adelia._”


Arsy diam mendengarkan penjelasan Axelle, sebenarnya ia sedikit menggerutu karena tanpa harus pemuda itu kenalkan juga Arsy sudah tau sedikit tentang Adelia. Si nenek sihir jahat yang tega menyakiti snow white demi tercapai segala keinginannya. Mungkin Adelia masih memiliki darah keturunan dari nenek sihir itu, makanya sifatnya tidak beda jauh dengan nenek-nenek peot di serial TV anak yang sering Arsy tonton.


“_ dia bilang kalau dia hamil anak ku._”


Arsy menyemburkan minuman yang ada di mulutnya. Gadis itu terperajak saat mendengar penuturan pemuda yang masih duduk di bangku sekolah yang sama dengan dirinya.


“Sial, gue kira dia pemuda baik-baik. Ternyata dia sama brengseknya seperti ayahnya. Sialan, gue tertipu sama bocah ingusan.”


“_ hari itu gue berantem sama bokap dan pergi dari rumah. Gue minum sampai mabuk, dan saat gue bangun gue sama Adelia ada di sebuah kamar hotel dan sama-sama tidak memakai pakaian, dia bilang aku memaksanya melakukan hal itu. Gue nggak sendiri nggak yakin itu anak gue atau bukan, tapi dia bilang kalau dia punya hasil pemeriksaan dokter soal kandungannya, selain itu dia juga punya bukti saat kami melakukan hal menjijikkan itu.”


“Dasar buaya buntung. Mau enaknya aja, pas giliran di suruh tanggung jawab malah bilang bukan anaknya. Sepertinya Margareth harus mendisiplinkan pemuda gila satu ini,” gerutu Arsy di dalam hati.


“Dari mana lu bisa ragu kalau kalian benar-benar melakukan hubungan itu? Bukannya kalian....”


“Banyak kejanggalan. Salah satunya tidak ada bau bekas bercinta, bahkan ia tidak menangis saat melihat aku di sampingnya. Kalau aku benar-benar memaksanya melakukan itu, bukankah harusnya dia menangis dan ada bekas tanda-tanda penolakan darinya?”


Arsy menganggukkan kepalanya. Ia mulai paham dengan apa yang terjadi dengan pemuda tampan tapi bodoh yang ada di sampingnya.


“Gue bukannya mau lari dari tanggung jawab, gue cuma nggak mau menanggung sesuatu yang bukan ulah gue. Apa lu ada ide?”


“Nggak ada,” jawab Arsy enteng, seolah jawaban yang ia berikan tidak berarti apa-apa.


“Bukannya lu bilang mau bantuin gue?”


“Gue cuma nanya lu butuh bantuan apa nggak? Bukan mau bantuin elu. Udah gue mau balik,”

__ADS_1


__ADS_2