
Axelle sudah sampai di sekolah. Teriakan histeris para gadis dan seruan pujian untuk dirinya menjadi hal yang sangat biasa bagi Axelle sejak sebulan terakhir, bahkan loker miliknya tidak pernah absen dari yang namanya surat cinta dan beberapa coklat. Tidak hanya itu, di depan loker pemuda itu selalu penuh dengan hadiah berukuran besar dengan jumlah yang tidak sedikit.
“Tumben lu telat, Xelle?” tanya Nicolas saat melihat sahabatnya baru masuk sekolah setelah bel tanda pelajaran di mulai sudah berbunyi.
“Tadi gue mampir dulu ke rumah Arsy, trus gue harus beresin beberapa hal jadi telat.”
“Muka lu kenapa suram gitu? Udah kek habis kena tsunami.” Fadhil bertanya karena wajah sahabatnya terlihat suram seperti saat Arsy dikabarkan hilang, padahal kan Arsy sudah ditemukan bahkan keadaannya sangat baik tapi kenapa wajah muram Axelle tidak berubah.
“Gue....”
“Hai guys,” sapa Devan yang baru saja sampai. “Muka lu kenapa, Xelle? Tu muka habis kena tsunami? apa longsor? Suram banget.”
“Gue ngambek,” ucap Axelle lalu berjalan pergi meninggalkan para sahabatnya yang terlibat kebingungan dengan sikap ketuanya.
“Dia kesambet setan di mana? Jadi alay gitu. “ ucapan Gavin diangguki oleh yang lainnya.
“Dia ngambek sama lu kali, Dev. Kan elu sering nginep di rumah Arsy, dan gue denger juga elu cukup deket sama mereka berdua.”
“Kayaknya iya deh, Dev. Emang sejak kapan sih lu kenal sama mereka?” tanya Gavin.
“Gue udah cukup lama sih kenal sama mereka. Masa si Axelle cemburu sama gue?” gerutu Devan. Pemuda itu tidak percaya jika Axelle akan menganggap dirinya saingan, padahal ia tidak memiliki perasaan apa pun kepada kedua gadis cantik itu. Dia sudah menganggap keduanya sebagai adik karena usia dirinya yang jauh lebih tua beberapa bulan dibanding Catty dan Arsy.
“Jangankan Axelle, manusia di sebelah itu aja cemburu karena elu lebih deket sama gadis pujaannya.” Nicolas menggeplak kepala Fadhil karena ngomong sembarangan, meski yang pemuda itu ucapkan tidak salah tapi setidaknya jangan bicara seperti itu ketika Nicolas bersama mereka.
“Lu suka sama Arsy juga?” tanya Devan kepada Nicolas yang ada di sebelahnya.
“Dasar manusia nggak peka!” seru Nicolas kemudian pergi meninggalkan Devan bersama duo Haidar.
__ADS_1
“Lhah kok ngambek semua?”
“Dari kejadian ini gue makin yakin kalau elu pantas dinobatkan sebagai manusia paling nggak peka yang pernah hidup di bumi ini, Dev.” Ucapan Fadhil membuat kepala Devan pusing, karena terlalu berbelit-belit. “Axelle suka sama Arsy dan Nicolas suka sama Catty, wahai Tuan tidak peka.”
“What! Masa? Beneran? Jinjja? Seriusly?” tanya Devan yang diangguki dengan mantap oleh duo Haidar.
“Kayaknya mereka berdua kena karna deh,” ucap Devan dalam hati. Ia sungguh tidak menyangka kalau dua sahabatnya akan jatuh cinta pada orang yang sering mereka bully. Pemuda itu jadi penasaran bagaimana reaksi kedua sahabatnya kalau sampai tahu kenyataan jika yang mereka cintai dan yang mereka bully adalah dua orang yang sama.
“Nic udah lama suka sama Catty, tapi kalau Axelle gue nggak tau. Lu jadi sahabat peka dikit napa sih? Nggak tau aja dua orang itu selalu bermuram durja lihat elu sama mereka bercanda pas hari itu,” protes Fadhil.
“Pas hari itu.” Devan mencoba mengingat momen dirinya bersama dua gadis cantik yang membuat para sahabatnya cemburu padanya.
“Itu lho, pas mereka dateng ke basecamp buat minta maaf ke Nicolas soalnya udah bikin dia sawan. Kan elu becanda tu sama Arsy sama Catty juga, nah kalian kelihatan akrab banget. Sampek nggak sadar kalau dua sahabat lu lagi bermuram durja di toilet basecamp,” terang Gavin yang diangguki oleh saudara kembarnya. “Apalagi waktu itu Axelle cerita katanya elu sama Catty udah jadian. Beh, itu si Nicolas galau setengah mampus.”
“Wah sepertinya terjadi kesalahan pahaman yang fatal di sini. Gue harus temuin mereka biar masalah cepet selesai dan nggak bikin puyeng,” tutur Devan. Pemuda itu memilih meninggalkan si kembar dan pergi ke tempat kedua sahabatnya yang tengah galau berada.
***
“Baru juga masuk, udah kena aja gue. Sialan!” seru Aileen dalam hati.
Axelle dan Nicolas menghampiri meja Aileen dan Clarissa. Tanpa permisi atau bahkan sepatah kata, keduanya langsung membalik meja yang penuh dengan makanan. Tidak sampai di situ, keduanya bahkan langsung menjambak dua gadis malang itu dan membawa mereka ke gudang tempat biasanya mereka melakukan penyiksaan.
“Xelle, ampun. Kami salah apa kali ini?” tanya Aileen sembari menahan pusing di kepalanya karena tarikan tangan Axelle pada rambutnya.
“Lu berdua cukup diem, dan nggak perlu banyak tanya.” Axelle dan Nicolas terus menjambak rambut dua gadis malang itu, dan langsung melempar keduanya ke dalam gudang begitu mereka sampai.
“Tapi kan kita nggak salah apa-apa, kenapa kita harus diginiin?” tanya Clarissa. Gadis itu sudah hampir kehilangan kesabaran karena rasa pusing yang semakin menjadi.
__ADS_1
“Lu berdua banyak omong ya sekarang.” Nicolas dan Axelle melepas ikat pinggang kulit yang mereka biasanya mereka pakai. “Cukup diem dan nikmatin aja permainan kita,” ucap Nicolas sembari berjalan ke arah Clarissa yang langsung memundurkan diri.
“Jangan, Nic. Apa pun kesalahan aku, aku minta maaf tapi tolong jangan begini.”
“Axelle kita bisa bicara baik-baik tanpa harus kayak gini. Please Xelle, kami minta maaf kalau kami nyinggung kalian.”
“Nggak ada bicara baik-baik.”
Setelah itu tidak ada yang tau apa yang terjadi dengan dua gadis malang itu, karena hanya ada suara teriakan dan rintihan yang terdengar dari lorong gudang.
***
“Pada ke mana mereka.”
Devan sudah lelah berkeliling mencari dua sahabat baiknya, namun tidak juga ketemu. Tadi dia sempat bertanya pada salah satu siswa, dan katanya Axelle dan Nicolas ke arah kantin. Tapi waktu Devan sampai di sana, sudah tidak ada siapapun, hanya ada beberapa anak dari kelas lain yang sedang menikmati sarapan.
“Aileen sama Clarissa juga nggak ada. Ke mana mereka perginya,” gerutu Devan yang sudah lelah mencari keberadaan keempat temannya. “Apa mereka double date? Kan pas, Axelle sama Aileen trus Nicolas sama Catty. Yo Wealah kalau mereka double date, gue mau balik ke kelas aja.”
Devan melanjutkan langkahnya menuju kelas. Namun, baru beberapa langkah pemuda itu berhenti dengan mata membola sempurna.
“Goblok, gue lupa!” seru Devan sembari memukul kepalanya sendiri dengan keras.
Kalau keempat manusia itu tidak ada di waktu yang bersamaan, jawabannya bukan double date tapi penyiksaan. Gudang belakang sekolah.
“Astaga, bego banget lu Devan. Kenapa lu nggak nyari ke sana dulu tadi,” runtuh Devan. Pemuda itu terus menerus menyalahkan dirinya sendiri karena lupa tentang ruang penyiksaan yang biasa mereka gunakan untuk mem-bully siswa lain.
Devan sudah sampai di gudang belakang. Mata pemuda itu membola saat melihat Aileen dan Clarissa tengah tergeletak di lantai gudang yang dingin dengan badan yang sudah penuh dengan luka.
__ADS_1
Devan memanggil ambulan, dan membawa tubuh kedua temannya ke rumah sakit melalui pintu belakang. Devan tidak ingin yang lain tahu dan menaruh curiga lebih dalam lagi padanya.