
Axelle tengah mengamuk. Pemuda itu menghancurkan seluruh kamarnya yang sudah di tata dengan baik oleh maid di rumahnya.
“Brengsek!”
Belum puas dengan perabotan kamarnya yang hancur. Axelle mengambil tongkat baseball miliknya dan mulai menghancurkan alat elektronik yang ada di dalam kamarnya. Pemuda itu melampiaskan semua emosinya pada kamar miliknya. Kekecewaan yang ia rasakan terhadap orang tuanya sangat besar, karena mereka yang lebih memilih percaya pada omongan dan bukti palsu yang Adelia berikan daripada bukti yang Axelle dan Arsy berikan.
Margareth terkejut begitu masuk ke dalam kamar sang putra yang sangat ia sayangi.
“Ax....”
“Jangan berani sebut nama gue kalau elu masih nggak percaya sama gue. Keluar!”
Axelle sangat kecewa kepada Margareth. Awalnya pemuda itu berpikir jika Margareth akan percaya padanya dan Arsy yang notabene anaknya sendiri, tapi di luar dugaan, wanita itu malah percaya dengan semua ocehan Adelia dan mendukung keinginan Marcel agar ia bertanggung jawab atas kehamilan Adelia.
Tidak hanya itu, Margareth dan Marcel bahkan mengumumkan ke seluruh siswa dan guru jika Axelle dan Adelia akan segera bertunangan. Mereka juga mengatakan kalau Arsy dan Axelle adalah saudara dan tidak akan pernah mungkin menjadi pasangan.
“Axelle, Mama....”
“Gue bilang pergi!” Axelle melempar gelas yang ada di kamarnya ke arah Margareth. “Gue kira lu lebih baik dari pada laki-laki tua bangka itu, tapi gue salah. Lu sama dia, sama aja.”
Axelle duduk di lantai yang penuh dengan barang-barang miliknya yang hancur berantakan. Pemuda itu menangis.
“Axelle, maafin Mama. Mama punya....”
“Punya alasan buat nggak percaya sama ucapan anak lu? Apa karena dia anak angkat lu dan gue anak tiri lu makanya lu nggak percaya sama kami? Apa sekarang lu puas? Setelah mengatakan kami berbohong di depan orang banyak dan maksa gue buat tanggung jawab sama anak Adelia.”
“Kenapa kamu marah sekarang? Kenapa kamu tidak mencoba membela diri saat Mama dan ayahmu memintamu tanggung jawab?” tanya Margareth yang membuat Axelle tertawa hingga keluar air mata.
“Apa lu pikir mereka bakalan nerima pembelaan gue dan Arsy? Bukankah percuma memberikan pembelaan di depan orang yang bahkan nggak percaya sama kita. Dan gue yakin lu cukup pinter buat tau semua itu, Nyonya Margareth yang terhormat.”
Axelle berjalan keluar meninggalkan Margareth yang terdiam di dalam kamar anaknya. Wanita itu menatap sendu Axelle yang kini kembali membencinya, padahal baru beberapa minggu ini Axelle mulai menerima keberadaannya tapi sekarang mereka harus kembali menjadi asing. Di sisi lain, Margareth merasa bahagia karena sekarang anak laki-laki nya yang sudah beranjak dewasa dan tumbuh menjadi anak yang hebat.
“Sepertinya aku harus bicara dengan Marcel soal ini. Dan sekali lagi aku harus mengeluarkan uang untuk membenahi kamar Axelle,” ucap Margareth sembari melangkahkan kakinya keluar dari kamar sang anak yang seperti kapal pecah.
***
Sudah sejak satu jam yang lalu Arsy bersama dengan Devan dan juga Catty duduk di sofa ruang tamu rumah Arsy. Mereka sedang menunggu seseorang yang katanya tau keberadaan Tyo saat ini.
“Sampai kapan gue harus nunggu!” teriak Arsy yang sudah mulai lelah menunggu.
__ADS_1
“Kenapa lu nggak coba datengin rumahnya?” saran Devan yang langsung dibalas dengan tatapan mata tajam oleh Arsy.
“Lu kira gue belum ke sana? Gue bahkan udah datengin rumah orang tuanya, tapi hasilnya nihil. Mereka bilang Tyo cuma pulang buat ngambil beberapa barang terus pergi,” seru Arsy yang membuat Devan diam.
“Terus lu nunggu info dari siapa?” tanya Devan. Pemuda itu sejak tadi hanya ikut diam dan menunggu informasi, tapi ia tidak tau informasi macam apa dan dari siapa.
“Dari Alex Adhitama.”
“What!! Alex abangnya Axelle?”
“Lu pikir siapa lagi yang punya nama itu di antara kita,” ketus Arsy. Gadis itu sedang dalam mood yang tidak baik karena Adelia, dan di tambah lagi Alex tidak juga menghubungi dirinya.
“Jadi yang kalian hubungi selama ini kalau ada masalah dia?” tanya Devan yang di jawab gelengan oleh Arsy dan Catty.
“Kami jarang pakai dia karena cara kerjanya yang lama, meski akurat tapi kami butuh seseorang yang bisa bekerja dengan cepat.” Arsy berucap sambil terus memutar ponselnya. Gadis itu sudah tidak sabar menunggu kabar dari Alex, andai saja ia tidak butuh pemuda itu demi apa pun Arsy tidak ingin berurusan dengan pemuda psikopat seperti Alex.
“Sy, gue mau ngomong sesuatu sama lu.” Arsy dan Devan menoleh bersamaan ke arah Catty yang terlihat aneh, biasanya saat ingin bicara gadis itu akan langsung bicara tanpa berbasa-basi, tapi ini aneh.
“Ada apa, Catt? Tumben lu nggak langsung ngomong.”
“Gue nggak tau ini benar atau cuma prasangka gue aja. Tapi saat gue perhatikan tingkah Adelia di sekolah tadi, tingkahnya berubah 180° ketika Margareth dan Marcel datang ke sekolah.”
“Sebelum Marcel dan Margareth datang, tersirat sedikit rasa takut di wajah Adelia meski gadis itu cukup lihai menutupinya tapi gue bisa melihat ada rasa takut dan juga khawatir tapi gue nggak yakin tentang apa itu. Tapi sikapnya berubah saat Margareth dan Marcel datang, rasa takut yang awalnya ia tutupi hilang entah ke mana, tergantikan rasa aman dan percaya diri jika ia akan menang.” Arsy dan Devan diam selama Catty menjelaskan apa yang mengganjal dalam pikiran gadis cantik dengan gummy smilenya yang mampu membuat setiap orang yang melihatnya akan jatuh hati padanya.
“Gue kira gue doang yang lihat.”
“Lu juga lihat, Sy?” tanya Devan sembari mengubah pandangannya ke arah Arsy yang duduk di sampingnya.
“Gue lihat tangan Adelia sempat gemetaran sesaat. Sepertinya dia bukan gadis sembarangan, dan kita harus benar-benar hati-hati saat di depannya.”
“Tunggu deh, guys. Kalau prasangka kalian benar, berarti besar kemungkinan salah satu dari orang tua Axelle melindungi gadis itu. Dan yang jadi permasalahan sekarang, siapa dia dan apa tujuannya?”
Di tengah ketegangan Arsy bersama dengan yang lainnya. Tiba-tiba ponsel gadis itu berbunyi, tidak ada nomor yang sudah ia tunggu sejak beberapa menit yang lalu.
“Bagaimana?” tanya Arsy begitu sambungan telepon terhubung.
“Dia selalu berpindah tempat setiap hari agar tidak bisa di temukan. Hari ini dia di LA, dan esok pagi pukul delapan waktu di sana dia akan terbang ke New Zealand. Kalau lu ke sana sekarang lu bakalan sampai petang, kemungkinan dia masih ada di hotel MARIA.”
“Ok, siapkan penerbangan gue ke LA sekarang juga. Dan pastikan kalau dia selalu dalam pengawasan elu. Dan ingat, sekali saja lu ketahuan bohong, gue nggak bakalan segan buat habisin Axelle.” Arsy mematikan sambungan telepon ketika Alex sudah mengiyakan semua yang dia inginkan.
__ADS_1
“Dev, atur absensi gue selama seminggu ke depan.”
“Tapi, Sy. Senin depan kita ada tour, kalau lu nggak ikut bisa-bisa lu nggak naik kelas.”
“Tour?” tanya Arsy dan Catty bersamaan. “Kenapa gue baru denger?” sambung Catty.
“Pas pengumuman lu berdua pergi ke New York untuk tugas. Gue lupa mau ngasih tau,”
“Lu atur aja. Gue usahain sebelum berangkat tour gue udah balik bareng manusia nggak punya otak yang kerjanya cuman nyusahin orang kayak Tyo.”
Arsy masuk ke dalam kamar. Menyiapkan segala sesuatu yang akan ia bawa selama ia mencari Tyo yang akan membebaskan dirinya dan Axelle dari hukuman yang nggak seharusnya mereka dapatkan.
Arsy kembali ke ruang tamu dengan membawa sebuah ransel berukuran tidak terlalu besar yang berisi ponsel, laptop dan beberapa alat penting.
“Koper lu mana?” tanya Devan saat melihat Arsy hanya keluar membawa tas ransel.
“Dia nggak pernah bawa koper. Dia biasa beli alasannya biar nggak ribet,” jawab Catty yang dibalas senyuman oleh Arsy.
Catty memberikan sekotak susu pisang untuk teman Arsy diperjalanan.
“Ok, tiket udah jadi. Gue berangkat guys! Dan Devan, gue nitip Catty seminggu, awas aja lh kalau gue balik lihat dia lecet.” Devan dan Catty hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Arsy yang menganggap Catty seperti anak kecil yang harus selalu di jaga.
“Catt, lu nemu dia di mana sih? Nggak pengen tuker tambah apa lu?”
“Sahabat baik mungkin emang banyak, tapi sahabat yang seperti Arsy langka Dev.”
“Langka gimana? Sama aja gue lihat.”
“Lihat ini!” perintah Catty sambil menunjukkan isi pesan dalam ponselnya.
“Isinya cuma tagihan, nggak ada yang spesial. Tapi jumlahnya yang nggak ngotak, Catt. Emang itu punya siapa?”
“Belanjaan atas nama Arsy dan tagihannya atas nama Catty.”
“Jadi Arsy belanja pake kartu kredit elu?” tanya Devan yang dibalas anggukan oleh Catty. “Hebat banget lu bisa hidup sama orang kayak Arsy, pasti lu cepet miskin deh kalau kayak gini.”
Catty menggeleng. Gadis itu membuka aplikasi mobil banking miliknya. Di sana tertera pemberitahuan yang memberitahukan jika Arsy baru saja mentransfer sejumlah uang dengan jumlah yang cukup fantastis ke rekeningnya.
“Dia emang pakai kartu kredit gue, tapi dia selalu balikin duit gue 3 sampai 5 kali lipat lebih banyak.”
__ADS_1