
“Axelle!”
Devan bersama dengan sahabat Axelle yang lainnya menoleh saat mendengar Arsy memanggil nama pemuda yang saat ini tengah diobati oleh Fadhil.
“Axelle, lu kenapa?” tanya Arsy. Dalam hati gadis itu bersyukur karena luka yang di dapat Axelle jauh lebih ringan dari yang ia bayangkan. Pemuda itu hanya mengalami luka memar di wajahnya, sepertinya orang-orang yang menghampiri Axelle tidak membawa senjata tajam. “Apa yang nyerang lu lebih dari sepuluh orang? Apa diantara mereka ada yang berusia senja? Apa mereka....”
“Wah, ternyata benar. Lu tau mereka bahkan lebih baik dari siapa pun, tapi gue nggak terkejut mengingat mereka orang-orang suruhan lu. Pasti lu ke sini buat mastiin apa Axelle udah mati atau belum kan? Sayang banget sahabat gue masih hidup dan cuma mengalami luka ringan.”
“Maksud lu apa? Kenapa lu tanya kayak gitu? Dan apa maksud perkataan lu yang mengatakan kalau mereka orang-orang suruhan gue?” tanya Arsy panjang lebar. Gadis itu ingin tahu alasan apa yang dimiliki Nic sampai bisa mengatakan kalau orang-orang yang menghajar Axelle adalah suruhannya.
“Maksud gue apa? Bukankah harusnya gue yang nanya maksud lu apa nyuruh mereka mukulin Axelle? Apa masih belum cukup lu nyakitin hati Axelle, makanya lu nyuruh orang buat mukulin sahabat gue!” teriak Nic. Arsy yang tidak paham dengan apa yang diucapkan Nic mencoba untuk bertanya tapi bukannya jawaban yang ia dapat, malah pukulan dari Nic yang tepat mengenai wajahnya. “Ini perintah terakhir dari gue. Menjauh dari kami semua, atau lu bakalan nerima hukuman yang bahkan nggak pernah lu bayangin selama lu hidup!” peringat Nic sembari meremas lengan Arsy yang baru saja dijahit oleh Catty.
“Tapi gue nggak pernah nyuruh siapa pun. Axelle, please dengerin gue. Gue nggak....”
“Gue bilang menjauh dari sahabat gue, bangsat!” Nic menendang Arsy tepat di dada gadis itu, membuatnya jatuh tersungkur. “Lu susah banget dikasih tau ternyata.”
Arsy mencoba untuk berdiri, menahan rasa sakit yang menyerang tubuhnya. Gadis itu masih mencoba menjelaskan pada Axelle apa yang terjadi dan dia juga mencoba mengatakan pada teman sekelasnya bahwa dirinya tidak pernah menyuruh orang untuk memukuli Axelle. Dia tidak sebejat itu.
“Jadi Bos. Enaknya kita apain orang kayak begini?” tanya Nic pada Axelle yang tengah berdiri membelakangi Nic dan juga yang lainnya.
“Terserah. Lakuin apa yang emang pengen kalian lakuin, gue nggak bakalan nyegah.”
“Ok. Kita hajar dia sampai tidak bisa bangun. Kalau perlu buang mayatnya ke laut!” perintah Nic yang langsung diangguki oleh Fadhil dan Gavin.
Mereka memukuli dan menendang Arsy tanpa belas kasih. Mereka bahkan meludahi dan menginjak wajah Arsy, yang bahkan sudah tidak mampu untuk berdiri. Sementara Axelle dan Devan hanya diam melihat kejadian yang menimpa seseorang yang mereka sayangi.
“Arsy!”
Catty yang baru datang terkejut saat melihat sahabat sekaligus saudaranya dipukuli oleh sahabat Axelle. Gadis itu langsung membantu Arsy yang sudah tidak mampu untuk berdiri menopang tubuhnya.
“Bagus. Bawa aja sahabat lu yang cuma sampah ini keluar dari kamar ini! Kalian berdua cuma bikin kapal ini kotor.”
Catty tidak percaya jika Nicolas bisa mengucapkan kata yang begitu menyakitkan. Catty hanya tertawa dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipinya. Tangan gadis itu masih mencoba menahan tubuh Arsy yang bahkan sudah tidak bisa membuka mata, sahabatnya itu beberapa kali muntah darah karena dihajar habis-habisan.
__ADS_1
“Apa karena luka sekecil itu kalian menghajar sahabat gue sampai kayak gini? Kalian benar-benar pecundang.”
“Catt, Arsy nyuruh orang buat mukulin Axelle. Dan kami cuma melakukan apa yang harus kami lakukan buat bayar luka di tubuh Axelle,” terang Devan yang membuat Catty tertawa di tengah air matanya yang masih terus mengalir.
“Ketawa aja terus. Ketawa kayak orang bodoh,” ejek Nic. Pemuda itu sibuk membersihkan bajunya yang terkena cipratan darah Arsy sewaktu mereka menghajar gadis itu hingga muntah darah. “Sampah seperti kalian bahkan tidak pantas untuk diberi kehidupan. Kalian hanya mengotori kehidupan yang suci. Orang seperti kalian berdua layak untuk mati agar tidak lagi membuat masalah,” ucap Nic yang membuat Catty menggeram.
Gadis itu menghapus air matanya secara kasar. “Tarik kata-kata lu!”
“Kata-kata yang mana? Gue rasa nggak ada yang perlu diralat dari kalimat yang gue ucapin.”
“Gue bilang tarik kata-kata lu, Nicolas!”
“Nggak akan.” Mereka semua menoleh ke arah Axelle yang sejak tadi terus diam. “Kata yang Nic ucapin benar. Gue bakalan ngadain pesta besar-besaran buat nyambut peti mati kalian pas kita balik dari pulau.” Ucapan Axelle benar-benar membuat Catty murka.
“Lagian siapa pun yang berani menyakiti sahabat kami, harus membalasnya ratusan kali lipat.” Axelle bersama dengan yang lain mengangguki kalimat yang diucapkan Fadhil.
“Benarkah?” Catty menghapus sisa air mata yang masih bertahan di pelupuk matanya. “Lalu apa yang harus gue lakuin pada mereka yang membuat sahabat gue kayak gini?” tanya Catty sembari menunjukkan wajah Arsy yang sudah babak belur. “Dan ini.” Catty merobek pakaian yang dipakai Arsy.
Semua terkejut dengan apa yang mereka lihat. Arsy bahkan menerima luka yang jauh lebih banyak dan lebih parah dibandingkan luka yang Axelle terima.
“Apa yang harus gue lakukan untuk membalas mereka yang bikin sahabat gue kayak gini. Jawab!”
“Catty, kita....”
“Jauhin tangan kotor lu dari sahabat gue!” peringat Catty saat Devan hendak memegang Arsy. “Kalian bahkan nggak tau apa yang sahabat gue terima, tapi kalian menghukumnya dengan begitu kejam.”
Semua terdiam di tempatnya begitu juga dengan Axelle. Sejujurnya ia ikut merasakan sakit melihat Arsy yang terluka hampir di sekujur tubuhnya, tapi rasa kecewanya karena dibohongi oleh gadis itu lebih besar dibanding rasa sakit melihat tubuh gadisnya yang penuh luka.
“Dia pantas mendapatkannya karena sudah membohongi kami semua,” ucap Gavin.
“Emang selama kami jadi Aileen sama Clarissa, kami pernah ngelakuin apa sama kalian? Mukul? Bully? Atau apa? Coba katakan.”
Semua kembali diam. Tidak ada yang berani berkata bahkan cuma sekedar satu kata, karena mereka tau tidak akan ada jawaban yang bisa membenarkan diri mereka.
__ADS_1
“Catty, kami minta maaf karena udah ngelakuin ini sama kalian. Tapi orang yang mukuli Axelle bilang kalau mereka disuruh sama Arsy, dan Arsy pasti bakalan senang lihat Axelle babak belur.”
“Apa kalian juga bakalan percaya kalau gue mukulin Axelle trus gue bilang kalau Nic yang nyuruh gue?”
“Catt ty.”
“Arsy lu udah sadar?” tanya Catty saat mendengar suara sahabatnya memanggil namanya. Arsy hanya mengangguk menanggapi pertanyaan bodoh sahabatnya.
“Kita balik ke kamar aja.”
“Tapi Sy, lu terluka cukup parah. Apa lu....”
“Gue bisa.”
Catty mengangguk. Gadis itu membopong tubuh sahabatnya berjalan keluar. Namun baru beberapa langkah Arsy kembali memuntahkan darah dan jatuh tepat di pintu kamar Axelle.
“Arsy!” teriak Catty saat tubuh sahabatnya terjatuh.
Axelle mencoba menolong tapi langsung ditolak mentah-mentah oleh Catty. “Setelah apa yang kalian lakuin ke dia. Jangan harap kalian semua bisa menyentuh sahabat gue!”
“Tapi Arsy bisa mati kalau terus begini,” ucap Devan sembari merebut Arsy dari tangan Catty.
“Lebih baik sahabat gue mati, dari pada tangan kotor kalian harus menyentuhnya.”
Catty langsung merogoh saku Arsy. Gadis itu segera membuka kontak untuk mencari nomor Xander, karena saat ini hanya pemuda itu yang bisa diandalkan untuk merawat Arsy.
“Xander. Arsy sekarat,” ucap Catty sembari mengirimkan lokasi terkini pada Xander agar pemuda itu lebih cepat menemukan mereka.
“Arsy, sadar. Gue mohon lu bertahan, Sy.” Air mata Catty kembali menuruni pipinya. Gadis itu beberapa kali memanggil nama sahabatnya, berharap Arsy masih bisa merespon dirinya. Namun nihil, sahabatnya tidak merespon sama sekali dan napas Arsy mulai melemah.
“No Arsy. Bertahan buat gue!”
Gadis itu memeluk tubuh sahabatnya yang terbaring lemah.
__ADS_1
“Tangisan lu nggak bakalan Arsy sadar. Biar gue bawa....”
“Nggak perlu.”