Mask

Mask
Bagian 38


__ADS_3

“Perjalanan akan memakan waktu cukup lama, jadi kau bisa tidur dulu.” Margareth mengambil ponselnya yang sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu. Begitu banyak notifikasi yang masuk,dan ternyata berisi email pekerjaan yang harus ia selesaikan sebelum ia pergi.


“Apa aku boleh minta sesuatu?” tanya Arsy yang dijawab anggukan oleh Margareth. Wanita tua itu tengah sibuk dengan beberapa pekerjaan yang menumpuk. “Tapi sebelumnya Mama harus janji akan menuruti apa yang aku minta tanpa syarat dan pengecualian. Gimana?”


“Terserah padamu. Mama akan menuruti semuanya tanpa syarat dan pengecualian,” ucap Margareth. Tapi sebelum itu kita mampir dulu ke kantor, ada berkas penting yang harus Mama tanda tangani.”


Arsy hanya mengangguk. Gadis itu kembali memakai earphone kesayangannya dan mulai tenggelam dalam mimpi yang sangat indah.


***


Setelah menempuh perjalanan yang cukup menguras tenaga, emosi dan juga dompet akhirnya Margareth bersama dengan Arsy dan juga pak Lee sampai di sebuah dermaga yang akan mengantar mereka ke tempat tujuan.


“Nona Arsy baik-baik ya di sana. Jaga kesehatan, jangan lupa sama Pak Lee ya. Pak Lee pasti bakalan kangen banget sama Non Arsy,” ucap Pak Lee.


Meski hanya supir namun nyatanya Pak Lee begitu menyayangi Arsy dan juga Catty seperti anaknya sendiri. Pria tua itu sering menemani kedua anak Margareth bermain saat sedang tidak ada pekerjaan, dan dibanding dengan Margareth, Arsy dan Catty lebih dekat dengan Pak Lee.


“Iya, Pak. Bapak juga jaga diri baik-baik ya selama Arsy nggak ada. Nanti kalau Mama marahin Pak Lee, Pak Lee langsung kirim surat aja ke Arsy atau telfon Arsy. Nanti biar Arsy yang bales,” ucap Arsy dengan penuh percaya diri.


Anak perempuan cantik dengan segala tingkah liciknya itu selalu membuat Margareth gemas dan ingin membuangnya. Sementara Pak Lee, cuma bisa tersenyum maklum dengan sikap Arsy. Pria tua itu sudah cukup hafal dengan kelakuan Arsy yang kadang kelewat pintar.


“Berhenti mengajari bawahanku untuk melawan ku karena itu tidak akan berguna.”


“Siapa bilang,” ejek Arsy sembari memakan cemilan yang ia dapat dari hasil merampok uang Margareth. “Pak Lee, sebelum balik ke rumah boleh nggak Arsy minta tolong bawain kantong kresek Arsy ke dalam kamar?” tanya Arsy yang langsung diangguki Pak Lee.


Pria tua itu membawa dua kantong kresek berwarna merah yang sudah penuh dengan cemilan nona mudanya.


“Mama masih marah karena aku minta jajan?” tanya Arsy polos. Demi Park Jimin yang hari ini merayakan hari ulang tahunnya, rasanya Margareth ingin menenggelamkan anak angkatnya itu ke laut lepas.


“Apa kau tau berapa uang yang harus Mama keluarkan untuk membayar dua kantong kresek besar cemilanmu?” tanya Margareth.


“Berapa memang?” tanya Arsy. Gadis itu memang bertanya, tapi ia tidak terlihat seperti orang yang sedang bertanya tentang sesuatu.


“8.765.450,_ dan itu belum termasuk susu dan permen karet yang kau bawa di dalam tas besarmu.”


“Hanya mengeluarkan uang segitu tidak akan membuat Mama bangkrut,” gerutu Arsy. Gadis itu memilih untuk menyusul Pak Lee yang sudah berada jauh di depan, daripada mendengar ocehan Margareth tidak berguna menurutnya.

__ADS_1


“Ya Tuhan, tolong kuatkan aku. Karena kalau tidak, aku akan benar-benar menenggelamkan anak itu.”


“Terima kasih Pak Lee. Hati-hati di jalan ya, salam buat Catty sama Junior.”


***


Arsy bersama dengan Margareth tengah menikmati angin malam. Gadis itu terlihat sibuk dengan musik yang tengah diputar di ponsel pintarnya.


“Hallo Nyonya boleh kenalan?” tanya seseorang.


Pria tua yang menghampiri Margareth langsung duduk di sampingnya. Tidak sampai di situ, pria tua dengan perut buncit serta bulu di dadanya itu dengan berani merapatkan tubuhnya ke arah Margareth, membuat wanita itu tidak nyaman. Ditambah lagi bau alkohol yang menguat dari tubuh pria tua itu membuat Margareth ingin muntah.


“Maaf Pak, tapi saya tidak tertarik dengan Bapak, jadi lebih baik Bapak pergi dari sini.”


“Halah nggak usah sok jual mahal. Aku bisa membayarnya berapapun yang kau inginkan asal kau mau menghabiskan malam bersamaku. Tertarik?” tanya pria tua itu lagi.


Margareth sudah cukup bersabar menghadapi pria tua haus belaian seperti pria tua yang ada di depannya. “Sebaiknya Bapak pergi sebelum saya melakukan hal yang tidak bisa Bapak bayangkan sebelumnya!” ancam Margareth.


Plak


“Kenapa Bapak nampar Mama saya?” tanya Arsy. Namun bukannya jawaban yang ia terima, malah sebuah tamparan keras dan juga makian yang gadis kecil itu dapatkan.


“Arsy!” Margareth langsung menghampiri sang anak. Wanita itu terkejut saat melihat pipi gembul anaknya yang berwarna merah dan terdapat bekas tangan pria tua.


“Anak kecil nggak usah ikut campur!”


“Beraninya kau....”


Aarrghh. Terdengar teriakan dari pria tua itu saat Arsy menendang aset berharganya.


“Kau! Beraninya kau menendang aset berhargaku!” teriak pria tua itu sembari memegangi bagian tengahnya yang terasa ngilu.


“Arsy sudah. Kau bisa....”


“Dasar pria tua sialan!”

__ADS_1


Arsy langsung memukul pria tua itu tepat di dagunya, membuat pria itu limbung. Tidak sampai di situ, gadis kecil itu mulai melayangkan beberapa pukulan di bagian vital pria tua itu, dan menggigit telinganya hingga mengeluarkan darah.


“Sekali lagi aku lihat kamu di depan mataku, maka aku sendiri yang akan melemparmu ke laut lepas! Camkan itu baik-baik.”


Margareth dan beberapa orang yang melihat terkejut dengan apa yang dilakukan Arsy. Gadis yang tidak pernah mau belajar bela diri nyatanya mampu melumpuhkan lawan yang berukuran lebih besar darinya. Sementara pria tua itu sudah kabur setelah mendapatkan luka yang cukup parah dari seorang anak kecil berusia sebelas tahun.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Margareth sambil membalik tubuh sang anak. Wanita tua mengecek setiap inci tubuh Arsy untuk memastikan jika anaknya tidak memiliki luka lain selain luka di bibirnya karena tamparan pria tua tadi.


“Aku nggak apa-apa. Sebaiknya lain kali langsung hajar dia, jangan cuma ngomong.”


Arsy kembali ke kursi nyamannya dan mendengarkan musik kesukaannya. Gadis itu terlihat biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa padahal ia baru saja melumpuhkan lawan yang berukuran lebih besar dari ukuran dirinya.


“Apa kau benar-benar baik-baik saja?” tanya Margareth.


“Sampai kapan Mama akan terus bertanya hal tidak berguna seperti itu? Bukankah Mama sudah lihat sendiri kalau aku baik-baik saja.”


“Baiklah kalau begitu. Ngomong-ngomong terima kasih, ya, karena kamu sudah mau membela Mama dari pria tua tadi.”


“Hm.”


Arsy kembali sibuk dengan dunianya. Dalam hati Margareth bangga dengan anaknya, tapi kalau boleh jujur wanita itu cukup terkejut saat melihat Arsy menghajar pria tua tadi. Wanita itu tersenyum sembari menatap wajah sang anak.


“Jadi selama ini kau diam-diam latihan sendiri?”


“Bukan urusanmu.”


“Ok. Sepulang mengantar mu nanti Mama akan ceritakan semua yang terjadi pada Catty, dia pasti sangat bangga kalau tau kau bisa bela diri dan jauh lebih hebat darinya.”


“Jangan!” seru Arsy.


“Kenapa jangan?” tanya Margareth.


“Catty bilang ingin selalu melindungi ku,” jawab Arsy.


Margareth mengangguk paham. Jawaban singkat dari sang anak memberinya pencerahan tentang penolakan yang Arsy berikan setiap kali diajak berlatih.

__ADS_1


__ADS_2