Mask

Mask
Bagian 41


__ADS_3

Seorang gadis cantik menghentakkan kakinya keras menyusuri koridor kelas. Moodnya sudah hancur berantakan sejak semalam, tugas sekolah yang menumpuk, latihan fisik yang harus ia lakukan tiap malam dan ditambah lagi gangguan dari satu makhluk Tuhan yang terus menelponnya sepanjang malam.


Gadis itu masuk ke dalam ruangan kelas. Namun langkahnya terhenti, matanya membola saat melihat sebuah kertas berukuran cukup besar yang tertempel dengan sangat rapi di papan tulis kelas. Tangan gadis itu terkepal sempurna, menahan amarah yang siap menghancurkan siapa saja.


“Arsy cantik,” panggil seseorang yang sangat ingin gadis itu hindari saat ini.


“Pergi!!” peringat Arsy dengan suara rendah. Juan merasa ada yang aneh dengan calon kekasihnya, pemuda itu memutuskan untuk melihat lebih dekat Arsy. Kedua mata Juan membola saat melihat apa yang ada di depannya.


“Sy, ada apa?” tanya Xander yang baru sampai. Pemuda itu langsung menghampiri Arsy dan Juan yang tengah berdiri mematung di kelas Arsy. Xander ikut terdiam melihat gambar yang terpampang jelas di depan matanya.


“Cari siapapun yang berani pasang foto ini di sini,” pinta Arsy sembari melepas foto berukuran besar yang ada di hadapannya. Xander berniat menghubungi salah satu anak buahnya, namun ucapan Juan membuatnya mengurungkan niat.


“Nggak perlu dicari,” ucap Juan yang membuat Arsy dan Xander kebingungan.


“Maksud lu apaan, Bangsat!” teriak Arsy sembari menggeplak kepala Juan tanpa rasa bersalah. “Nyokap gue dan Bokap lu lagi dipermalukan, dan lu dengan seenaknya bilang nggak perlu dicari. Maksud lu apaan, hah!”


Juan mengedipkan matanya sebagai isyarat kepada Arsy dan Xander agar menunggunya di taman belakang sekolah, tempat mereka biasa menghabiskan waktu bersama.


Arsy dan Xander mengangguk setuju. Kedua orang itu langsung berjalan secara terpisah. Arsy langsung menuju ke taman belakang, berbeda dengan Xander yang ingin pergi ke kantin lebih dulu.


***


Suasana kelas kembali tenang. Arsy tengah duduk di kursinya dengan kepala tertunduk, isi otak gadis itu penuh dengan pertanyaan yang entah akan terjawab atau tidak.


Semua ketenangan yang Arsy harapkan musnah saat Juan tiba-tiba datang dan menggebrak mejanya.


“Mau lu apa sih, Bangsat!” teriak Arsy.


“Kenapa lu marah gitu? Harusnya lu terbiasa dengan ini. Kan bentar lagi kita jadi saudara,” ucap Juan yang membuat Arsy bangun dari duduknya.


Gadis itu menatap nyalang Juan yang saat ini tengah menatap dirinya dengan tatapan penuh ejekan.


“Gue nggak bakalan pernah sudi punya saudara kayak elu.”

__ADS_1


“Elu nggak lihat foto tadi. Nyokap lu sama bokap gue lagi jalan bareng sambil pegangan tangan. Gue yakin mata lu masih cukup bagus, jadi nggak mungkin lu nggak lihat gambar tadi.”


Arsy mengepalkan tangannya siap menjatuhkan pukulan di wajah Juan.


“Tapi lu nggak perlu sedih, karena apa pun yang terjadi gue bakalan tetep suka sama lu kok, meski nanti kita udah jadi saudara.”


“Brengsek!” umpat Arsy. Gadis itu langsung menghadiahi Juan dengan beberapa pukulan yang membuat pemuda itu limbung. “Nyokap gue nggak bakalan pernah ngelakuin itu!”


“Apanya yang nggak mungkin? Bukannya semua hal di dunia ini bisa saja terjadi?” tanya Xander yang baru masuk ke dalam kelas.


“Elu juga nuduh nyokap gue yang goda bokap Juan?” tanya Arsy. Gadis itu tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, ia pikir kedekatannya dengan Xander beberapa tahun ini akan membuat pemuda itu membelanya, ternyata ia salah besar.


“Arsy, kita pacaran di belakang Juan karena gue pikir lu dari keluarga baik-baik karena nyokap lu emang terkenal baik. Tapi setelah lihat ini, gue nggak bisa lagi sama elu. Gue mau kita akhiri hubungan kita,” ucap Xander yang membuat Juan dan seisi kelas terkejut.


“Elu pacaran sama Arsy? Bagaimana bisa?” tanya Juan pada Xander. Pemuda itu beralasan karena Arsy terus mengganggunya, gadis itu juga rela melakukan apa saja asal Xander mau bersamanya. “Lu ternyata nggak beda jauh ya sama nyokap lu. Sama-sama Bangsat,” caci Juan pada Arsy yang hanya bisa diam sambil menundukkan kepalanya.


“Gue nggak pernah....”


“Gue nggak nyangka ternyata lu serendah itu, Sy.”


“Xean,” ucap Arsy.


Xean teman beda kelas Arsy. Gadis itu cukup baik dengan Arsy, gadis itu juga beberapa kali main ke rumah Arsy bersama dengan beberapa temannya. Apa yang dilakukan gadis itu di kelas Arsy? Apa maksud dari kata-katanya tadi? Begitu banyak pertanyaan yang muncul diotak Arsy dan juga Juan.


“Anak dari wanita murahan yang suka Gonta ganti pasangan kayak elu harus pergi dari sekolah ini,” ucap Xean sembari mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Arsy. “Gue kira selama ini gue temenan sama orang baik, nggak taunya.”


“Apa maksud lu, Xe?” tanya Arsy.


“Maksud gue apa? Lu masih nanya maksud gue apaan? tujuan gue biar anak dari wanita murahan kayak elu bisa keluar dari sekolah ini! Nggak nyokap, nggak anak sama gatelnya!” bentak Xean sembari melempar amplop yang ia bawa ke wajah Arsy.


Arsy membuka amplop tersebut. Kedua matanya membola saat ia melihat foto dirinya dan Xander yang tanpa busana tengah berciuman sebuah kamar.


“Kenapa? Lu kaget kenapa gue bisa dapet gambar itu,” ucap Xean. “Gadis dari keluarga kotor kayak gitu nggak pantas sekolah di sini, apalagi bersanding sama Juan yang notabene pangeran di sekolah.”

__ADS_1


Juan merebut kertas yang di bawa Arsy. Kedua matanya membola, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sahabatnya dengan calon kekasihnya bersama dalam sebuah kamar.


“Apa keluarga lu memang serendah ini? Apa nyokap lu yang ngajarin elu kayak gini, hah!” teriak Juan sembari meninju sebuah kaca berukuran cukup besar yang ada di ruangan tersebut.


“Udahlah Juan, sebaiknya kita tinggalin dia di sini. Gue yakin dia pasti maksa Xander buat ngelakuin hal ini,” ucap Xean.


Kalimat demi kalimat yang Xean ucapkan menancap dengan sangat dalam di hati Arsy. Xean memilih membiarkan Arsy yang terdiam di tempatnya, gadis itu memilih membawa pergi Juan untuk mengobati luka pemuda yang sudah mengisi hatinya.


Arsy meremas amplop beserta foto yang diberikan oleh Xean. Dalam hati gadis itu bersumpah akan membalas semua rasa sakitnya pada gadis gila itu, dan akan menyeret gadis itu ke hadapan Margareth agar mendapatkan hadiah yang pantas.


***


“Gue nggak nyangka si Xean bisa Sampek segila itu,” omel Xander. Pemuda itu tengah duduk bersama dengan Arsy di taman belakang sekolah di temani beberapa minuman dan juga camilan.


“Awalnya gue kira si Bella yang bakalan makan umpan yang gue kasih, mengingat selama ini dia yang paling nggak suka kalau gue gangguin Arsy.” Juan yang baru datang langsung duduk bersama Xander di sebuah kursi panjang yang terbuat dari kayu, sementara Arsy tengah duduk di bawah pohon rindang yang tak jauh dari tempat Juan dan Xander duduk.


“Apa yang bakalan lu lakuin setelah tau semuanya?” tanya Xander.


“Pertama, gue bakalan ngelakuin ini....” Arsy berjalan ke arah Juan yang ada di dekatnya. Gadis itu langsung melayangkan tinjunya kepada Juan yang tengah menikmati minuman yang dibeli oleh Xander.


Xander hanya bisa diam melihat Arsy yang tengah melampiaskan semua kekesalannya pada Juan.


“Lu mau gue mati, hah!” teriak Juan saat Arsy sudah puas memukulinya.


“Nasib baik gue cuma mukulin elu.”


“Heran gue bisa suka sama cewek kayak elu,” gerutu Juan sembari membersihkan pakaiannya yang kotor karena terkena tanah.


“Ya udah, kalau gitu lu nggak usah lagi suka sama gue.”


“Ya jangan dong. Kalau gue nggak suka sama lu, trus yang suka sama lu siapa? Elu kan titisan nenek lampir, mana ada yang suka sama elu selain gue.”


“Bangsat.”

__ADS_1


Arsy berniat kembali menghajar Juan, tapi Xander lebih dulu menghentikannya. Pemuda itu mengatakan kalau Juan akan benar-benar mati jika gadis itu kembali memukulinya.


__ADS_2