Mask

Mask
Bagian 47


__ADS_3

Hujan datang dengan derasnya. Membasahi tubuh gadis yang saat ini tengah menangis sembari menyusuri jalanan yang gelap.


“Princess tunggu! Dengerin penjelasan gue.” Pemuda itu masih terus mengejar Arsy, mencoba menghentikan langkahnya dan memeluk gadis yang sangat ia cintai, bahkan sampai detik ini.


“Pergi! Biarin gue sendiri!” teriak Arsy.


“Tunggu, gue mohon dengerin penjelasan gue dulu.” Pemuda itu langsung memeluk Arsy begitu tangannya berhasil menangkap tubuh gadis muda yang tengah hancur hatinya karena dirinya. “Princess, gue mohon dengerin gue dulu,” mohon Juan.


“Kenapa harus elu? Kenapa dari sekian banyak cowok, harus elu yang jadi anak Mama!” teriak Arsy. Gadis itu memukul dada Juan, melampiaskan semuanya rasa sesak dan sakit yang bersarang di dadanya. “Kenapa harus elu,” lirih Arsy.


“Maafin gue. Gue nggak bermaksud buat bohongin elu,” ucap Juan sembari memeluk erat tubuh Arsy. Pemuda itu merasa marah dan kesal karena sang kakek tidak mengatakan jika Arsy yang ingin bertemu. Pria tua itu hanya mengatakan ada yang menunggunya di danau untuk bertemu dengannya. “Gue sayang sama lu. Gue cinta sama elu, itu alasan kenapa gue nggak ngasih tau elu kalau gue anak kandung Margareth.”


Arsy masih terus menangis dalam dekapan Juan. Entah mengapa rasanya sangat sakit saat mendengar pernyataan demi pernyataan yang keluar dari mulut Juan.


“Gue mau nukar apa pun yang ada di dunia ini asal kita bisa tetap bersama. Gue bakalan....”


Arsy melepas pelukan Juan. Gadis itu menatap lurus ke arah netra pemuda yang sangat ia cintai. Berusaha mencari alasan agar ia bisa tetap berada di sisi sang kekasih.


“Juan, biarin gue sendiri.”


“Nggak! Gue nggak mau elu....”


“Please, biarin gue sendiri. Ini terlalu mengejutkan buat gue, dan gue belum siap untuk semuanya.”


Arsy berjalan menjauh dari Juan. Sakit, rasanya sangat sakit saat mengetahui kenyataan bahwa orang yang sangat kita cintai ternyata adalah saudara kita sendiri.


***


“Kek, maaf ya Catty baru bisa ke sini. Selama ini kita cuma bicara lewat telfon,” ucap Catty sambil memeluk sang kakek.


“Kakek tau kalian sibuk dengan pekerjaan dan juga sekolah kalian, makanya baik kau maupun Arsy tidak pernah mengunjungi Kakek di sini.”


Brak


Seseorang mendobrak pintu kamar ketua, dan itu sukses membuat Catty dan semua yang ada di dalam kamar terlonjak kaget.

__ADS_1


“Tua Bangka, sialan! Apa mau mu, hah!” seru Margareth sembari menodongkan senjata api tepat ke arah kepala sang ayah.


“Ma, ada apa?” tanya Catty sembari berdiri di depan sang kakek, untuk menjadi tameng untuk sang kakek.


“Menjauh, Catt! Atau Mama tidak akan segan untuk membunuhmu juga!” peringat Margareth. Wanita tua itu kini tengah diselimuti kabut amarah yang mampu menghancurkan siapa saja yang berani ikut campur dalam urusannya.


“Tapi, Ma....”


“Catt, bisa Kakek minta tolong kamu keluar sebentar?” pinta sang Kakek yang langsung diangguki oleh Catty. Meski gadis itu sedikit tidak tega meninggalkan Kakeknya sendiri dengan Margareth yang tengah diselimuti amarah, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena yang bisa meluluhkan emosi kedua orang itu hanya Arsy, dan saat ini ia tidak tau di mana Arsy.


“Melihat dari amarahmu, itu artinya Juan dan Arsy sudah bertemu.”


Mendengar nama Arsy dan Juan disebut, Catty memutuskan untuk menguping pembicaraan antara ayah dan anak.


“Kenapa kau memutuskan untuk mempertemukan mereka tanpa seizin ku! Sebenarnya apa tujuanmu?” tanya Margareth masih dengan emosinya yang menggebu.


“Sampai kapan kau akan menyembunyikan fakta kalau Juan anak kandungmu dari Arsy?” tanya pria tua yang masih setia duduk di kursi kebanggaannya.


Catty menutup mulutnya rapat saat mendengar perkataan sang Kakek. Tubuh gadis itu luruh dengan air mata yang mengalir deras dari kedua netranya.


“Maksudmu kau akan memberitahu dia saat cintanya sudah semakin besar untuk Juan, begitu? Aku tanya kepadamu sebagai ibu mereka. Apa kau tau bagaimana perasaan Arsy kepada Juan? Sedalam apa gadis malang itu mencintai kakaknya sendiri.” Orang tua itu memutar roda kari kursinya ke arah Margareth. “Saat itu memang aku sendiri yang mengusirku dan membuangmu dari keluarga ku, tapi bukan berarti aku tidak menerima Juan sebagai cucuku. Dan satu hal lagi yang harus kau tau, yang tidak aku terima itu perilakumu dan kekasihmu, bukan cucu-cucu ku.”


Margareth terdiam. Ia ingin menyangkal ucapan sang Ayah, namun semua yang orang tua itu katakan ada benarnya. Wanita itu jatuh terduduk di lantai yang dingin. Melihat air mata Arsy tadi membuatnya kalap dan melampiaskan semuanya pada sang ayah. Memang benar apa yang orang tua itu katakan, harusnya Margareth memberitahu Arsy dari dulu sebelum semuanya jadi semakin sulit seperti saat ini.


“Pulanglah! Dan jelaskan semuanya pada Arsy dengan perlahan. Anakmu itu berhak tau siapa yang dia cintai,” ucap Ayah Margareth sembari mengusap kepala sang anak yang sangat ia sayangi.


***


Duduk terdiam di rumahnya. Perkataan sang ayah tadi cukup membuat hatinya sakit, namun dibalik itu kalimat yang dilontarkan oleh sang ayah ada benarnya.


Pikiran Margareth melalang jauh saat dirinya masih muda. Margareth yang naif, polos dan sedikit bodoh memilih melepas kegadisannya dengan seorang pemuda tampan berstatus kekasihnya.


Awalnya mereka hanya coba-coba, hingga suatu yang tidak diinginkan terjadi. Margareth hamil, dan hal itu cukup membuat seluruh keluarganya marah besar padanya.


Kedua orang tuanya membuangnya saat itu juga. Mereka mengatakan jika Margareth anak pembawa sial dan hanya bisa membuat malu nama keluarga.

__ADS_1


Margareth muda dengan perut yang sedikit membesar, berjalan ke rumah kekasihnya namun ia tidak menemukan adanya kehidupan di rumah itu.


Margareth tidak tahu harus ke mana. Wanita malang itu terus berjalan tak tentu arah. Hingga takdir mempertemukan dirinya dengan sahabat baiknya. Seorang pemuda dengan paras rupawan, dan hati bak malaikat.


Hari itu Nathan berkata bersedia menikahi Margareth dan mengakui anak yang ada di dalam perut Margareth sebagai anaknya sendiri. Namun Margareth menolak dengan alasan dirinya sudah kotor dan tidak layak untuk bersanding dengan Nathan yang notabene anak orang terpandang.


Margareth mengatakan kalau dia tidak ingin membebani sahabatnya dengan masalahnya. Namun Nathan terus mengatakan kalau ia tidak merasa terbebani sedikitpun, dan ia malah bahagia jika Margareth mau bersanding dengan dirinya. Namun sayangnya Margareth terus menolak permintaan Nathan.


Margareth mengatakan akan membiarkan sahabatnya itu merawat sang anak dan menganggap anak Margareth sebagai anaknya sendiri.


Tanggal 13 Oktober seorang bayi laki-laki lahir dengan selamat. Bayi yang sangat tampan dengan kulit merah itu menangis dengan keras begitu keluar dari rahim sang ibu.


Semuanya menangis bahagia saat melihat bayi yang dilahirkan Margareth sangat sehat dan juga tampan. Nathan yang setia menunggu di samping sahabatnya ikut larut dalam suasana haru.


“Catty, apa yang kau lakukan?” tanya Margareth saat melihat anak perempuannya berjalan mondar-mandir seperti setrikaan sambil memegang ponsel.


“Aku sedang mencoba menghubungi Arsy, tapi tidak ada jawaban. Aku takut terjadi apa-apa sama dia,” tutur Catty.


“Maksud mu Arsy belum pulang sejak semalam?” tanya Margareth yang hanya dijawab anggukan oleh Catty.


Wanita itu mulai menghubungi orang-orang kepercayaannya dan beberapa temannya untuk membantu mencari keberadaan Arsy. Hati Margareth tidak tenang karena tidak biasanya Arsy tidak pulang ke rumah kecuali kalau sedang tugas.


***


“Kenapa harus dia?” tanya Arsy entah pada siapa. Gadis itu berteriak sekuat tenaga, mencoba menghilangkan rasa sesak di dadanya.


“Hai gadis manis, sendirian aja. Mau kita temani?” tanya seorang pemuda yang menghampiri Arsy. Pemuda jalanan dengan pakaian yang bahkan tidak terawat itu mencoba mendekati Arsy dan membawa gadis itu ke dalam gang yang sempit saat gadis itu tidak merespon ucapan mereka.


Beberapa pemuda yang sudah dikuasai nafsu itu mulai merobek pakaian yang di kenakan Arsy, hingga gadis itu hampir naked.


“Wih, bodynya boleh juga.”


“HEI, LEPASIN DIA!”teriak seorang gadis muda yang membuat kumpulan pemuda jalanan itu mengurungkan niatnya untuk menodai Arsy.


“Wah, apa lu mau ikut berpesta juga bersama kami?”

__ADS_1


“Najis.” Gadis itu langsung melayangkan beberapa pukulan telak di bagian vital para pemuda itu, membuat mereka semua pergi meninggalkan Arsy dan seorang gadis lain.


__ADS_2