
Axelle terdiam di tempatnya. Pemuda itu masih tidak percaya jika Aileen adalah Arsy. Ia terus bertanya, bagaimana bisa? Tapi tetap tidak ada jawaban untuk pertanyaan yang ia ajukan.
“Xelle, lu mau ke mana?” tanya Devan saat melihat Axelle berjalan keluar kamar. Pemuda itu tidak menjawab pertanyaan yang diajukan Devan, ia hanya ingin berjalan keluar mengikuti kata hatinya.
Axelle sempat terdiam di tempatnya saat melihat Arsy bersama dengan Xander. Pemuda itu cukup membuat Axelle risih, karena beberapa kali terlihat berusaha mencium bibir Arsy, meski gagal karena gadis itu terus menghindar.
“Baby, ayolah. Ini bukan kali pertama kita ciuman, kenapa lu nolak.”
Bukan pertama kalinya. Kata-kata itu cukup membuat Axelle kesal setengah mati, ingin rasanya pemuda itu menghajar Xander hingga babak belur.
“Xander, kita udah berakhir.”
Terlihat raut wajah Xander berubah saat Arsy mengatakan jika hubungan antara mereka berdua sudah berakhir. Tapi dengan cepat pemuda itu menutupi kesalahannya dengan wajah tersenyum, dan berkata, “gue nggak pernah mau hubungan kita berakhir. Dan bagi gue, elu tetep pasangan hidup gue.”
Arsy terdiam. Gadis itu cukup lelah menghadapi kegilaan Xander, dan opsesi pemuda itu untuk memiliki Arsy membuat gadis itu kewalahan.
“Padahal gue sudah susah payah menjauh, kenapa Tuhan malah bikin gue balik lagi. Bangsat!”
Axelle tetap diam di tempatnya. Pemuda itu terus mengawasi gerak-gerik Arsy dan Xander, ia bisa mendengar samar-samar suara keduanya meski tidak begitu jelas.
“Xander, tinggalin gue sendiri!” perintah Arsy. Gadis itu memilih untuk memandang keluar di mana malam yang terlihat sepi karena tidak ada bintang yang menemani bulan menyinari bumi.
Arsy yang tengah fokus memandang malam terkejut saat Xander tiba-tiba membalik tubuhnya dan langsung mencium bibirnya. Arsy berusaha menolak, namun kejadian tiba-tiba itu membuat otaknya tidak bisa bekerja dengan baik.
“Setidaknya kalau ingin berbuat mesum, tau tempat!” sindir Axelle sembari berjalan pergi meninggalkan Arsy dan Xander yang berdiri diam di tempat. Mungkin mereka terkejut karena ada orang yang melihat Xander mencium bibir Arsy.
Arsy mendorong tubuh Xander dengan sekuat tenaga. Gadis itu memilih mengejar Axelle yang sudah berjalan cukup jauh.
“Axelle, tunggu!”
Arsy mencoba mengejar Axelle, tapi pemuda itu tidak menghentikan langkahnya, bahkan menoleh ke arah gadis itu pun juga tidak. Arsy benar-benar bingung dibuatnya. Kenapa Arsy memutuskan untuk mengejar Axelle? Bukankah bagus jika Axelle menjauhi gadis itu? Setidaknya ia tidak akan dibully lagi. Tapi entahlah, naluri gadis itu yang menginginkan dia untuk mengejar Axelle dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
***
“Gue nggak ada apa-apa sama Xander. Dia cuma....”
“Apa gue terlihat peduli?” tanya Axelle sembari menatap wajah Arsy. Terlihat raut wajah kekecewaan di wajah Axelle, dan itu cukup menganggu Arsy.
“Xelle, gue....”
“Gimana sih rasanya mempermainkan hati orang? Enak nggak?” Arsy terdiam. Gadis itu tidak mengerti dengan arah pembicaraan Axelle yang ngelantur. “Lu tau, tadi gue keluar kamar berniat nyari angin buat nyegerin pikiran gue yang kacau karena ulah pasangan hidup lu. Tapi pas gue keluar, bukannya angin segar yang gue dapet, malah hati gue makin sesek. Gue mau minta maaf sama lu karena gue sering bully elu dan Catty. Lu tenang aja, mulai sekarang gue nggak bakalan ikut campur sama apa pun urusan lu. Jadi kalau lu mau hidup bahagia sama Xander, gue cuma bisa bilang selamat.”
“Xelle, lu ngomong apaan sih! Gue....”
“Gue atau lu yang pergi!”
“Nggak ada yang bakalan pergi sebelum masalah ini selesai.”
“Masalah? Masalah apa? Apa lu sama gue ada hubungan serius, sampai hal sepele kayak gini harus jadi masalah dan harus diselesaikan? Elu dan gue nggak ada hubungan apa-apa, jadi nggak usah bersikap seolah kita punya hubungan.” Arsy terdiam. Ucapan menohok Axelle membuat hatinya sakit, tapi gadis itu tidak menyerah dan mencoba menjelaskan apa yang sudah terjadi.
“Gue nggak bakalan pergi sebelum lu tau masalah yang sebenarnya.”
“Sekarang gue tanya sama lu. Sebenarnya mau lu apa?”
“Gue nggak tau. Hati gue nyuruh gue buat ngikutin elu dan ngasih penjelasan tentang apa yang lu lihat tadi,” jelas Arsy. Gadis itu berharap Axelle mau diam dan mendengarkan semua penjelasannya tentang apa yang dilihatnya tadi. Namun sepertinya itu cuma bisa terjadi di dalam khayalan gadis cantik yang saat ini tengah berdiri di hadapan Axelle.
“Basi.”
“Tapi, Xelle....”
“Pergi!”
Arsy hanya menggelengkan kepalanya. Gadis itu memilih pergi, ia tidak ingin membuat mood Axelle semakin kacau.
__ADS_1
Gadis itu memilih berjalan ke arah bow untuk menenangkan pikiran yang kacau karena ulah Xander dan juga Axelle. Ia berharap dinginnya angin malam, bisa membantunya mendinginkan otaknya yang memanas.
“Arsy,” panggil seseorang yang membuat Arsy menunda acaranya menikmati udara malam.
Arsy menoleh dan terkejut saat melihat beberapa orang pria berbadan besar berdiri di hadapannya. Beberapa diantaranya membawa pisau, balok kayu dan juga rantai yang ada di genggaman mereka.
“Ada apa?”
“Hajar dia!” perintah salah satu dari mereka yang membuat para anggotanya langsung menyerang Arsy.
Seorang pria tua berbadan pendek dengan kumis putih yang menutupi dagunya. Arsy tidak mengingat mereka siapa dan dari kelompok mana, karena pikirannya sedang kacau. Bahkan gadis itu beberapa kali terkena sabetan pisau dan kepalan tangan para pria yang sampai saat ini masih terus mengarahkan serangan padanya.
Arsy terlalu fokus ke semua orang yang ada di depannya, hingga dia terjatuh karena seseorang dari belakang menghantam bagian belakang kepalanya dengan balok kayu. Gadis itu jatuh tersungkur. Membuat para pria berbadan besar itu leluasa memukuli dirinya hingga babak belur dan memuntahkan cairan berwarna merah.
“Cukup! Ayo pergi!”
***
“Mau sampai kapan lu minum, Sy?” tanya Catty saat melihat sahabatnya menegak alkohol tanpa henti. Sudah satu jam Arsy duduk di sofa panjang yang ada di dalam kamarnya sembari menegak wine, gadis itu bilang ingin menenangkan pikiran tapi kalau dia terus meminum alkohol seperti ini bukan pikirannya yang tenang, malah dirinya yang dalam bahaya. “Sebenarnya ada apa, Sy? Siapa yang bikin lu Sampek kayak gini?”
“Gue nggak tau. Lu nggak usah khawatir, lagian gue juga udah nggak apa-apa. Semuanya baik-baik aja,” ucap Arsy.
“Orang bego mana yang percaya kalau lu baik-baik aja, setelah melihat botol wine berserakan di mana-mana kayak sekarang. Ditambah lagi wajah lu yang udah setengah hancur begini,” gerutu Catty sembari mengobati wajah Arsy yang lebam di beberapa bagian. Catty juga tidak lupa mengobati dan menjahit beberapa luka sayat yang ada di tubuh sahabatnya. “Apa lu tau mereka dari kelompok mana?” tanya Catty.
“Gue nggak tau. Mereka langsung nyerang gue pas gue lagi di bow,” ucap Arsy sembari menegak wine di tangannya. Catty hanya diam dan mengangguk sebagai Jawaban dari penjelasan Arsy. Gadis itu masih fokus dengan luka sahabatnya yang tidak bisa dibilang ringan.
“Lu ngapain ke bow tengah malam begini?” tanya Catty saat gadis itu selesai mengobati luka sahabatnya.
“Gue cuma mau nenangin pikiran doang. Gue....”
“Axelle diserang,” ucap Catty tiba-tiba yang membuat Arsy terdiam. “Devan ngasih tau gue.” Catty menunjukkan chat dari Devan.
__ADS_1
Arsy langsung berlari ke arah kamar Axelle untuk mengetahui keadaan teman satu kelasnya. Arsy terus berdoa dalam hati agar Axelle tidak mengalami luka yang serius, setidaknya tidak lebih serius dari dirinya. Gadis itu terus berlari melupakan fakta jika saat ini dirinya tidak dalam keadaan yang bisa dibilang baik.