Mask

Mask
Bagian 28


__ADS_3

Setelah kepergian kedua putrinya bersama dengan Devan, Margareth memilih untuk mendudukkan tubuhnya di sofa panjang ruang tamu anaknya. Wanita tua itu memijit kepalanya yang terasa pusing karena banyaknya pekerjaan yang harus ia tangani sendiri.


“Aku sudah semakin tua sekarang,” monolognya seorang diri.


Margareth berniat memejamkan matanya sebentar namun suara ponselnya membuatnya mengurungkan niatnya untuk tidur.


“Hallo,” ucap Margareth begitu sambungan telepon terhubung. Margareth diam beberapa saat, mencoba mendengarkan dengan baik apa yang disampaikan orang di seberang hingga berani mengganggu acaranya istirahatnya yang berharga.


“Kalau begitu katakan padanya aku akan menemuinya nanti malam.”


“Tapi Bos, kenapa nggak nyuruh Catty atau Arsy? Tempat janjiannya sama dengan tempat mereka berdua tour.” Ucapan orang itu hanya dibalas gelengan oleh Margareth. “Bos, bagaimana kalau Aksara yang berangkat? Tyo? Atau yang lainnya. Kalau Bos sendiri kami khawatir ini jebakan yang sengaja mereka buat untuk menyakiti Bos.” Seseorang di seberang mencoba mencegah Margareth yang ingin bertemu langsung dengan seorang klien yang sangat berbahaya.


“Apa kau pikir aku sudah setia itu sampai tidak bisa menangani masalah seperti ini sendiri? Cukup katakan padanya kalau aku akan datang menemuinya sesuai dengan waktu dan tempat yang ia inginkan.”


Gagal. Semua usaha yang dilakukan orang di seberang telepon gagal karena Margareth tetap menolak semua sarannya dan tetap kekeh akan pergi sendiri dan meminta pada bawahannya untuk tidak mengatakan semuanya pada kedua putrinya.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan dan Nicolas baru sembuh dari sawan yang pemuda alami, dan saat ini pemuda malang itu tengah melakukan pemulihan di temani oleh semuanya. Axelle bersama dengan yang lain memberenggut kesal karena tidak bisa berangkat bersama dengan yang lain, namun mereka memilih diam karena sejujurnya mereka tidak bisa melakukan apa-apa karena Nic sawan juga bukan karena keinginan dia tapi karena ada orang iseng yang mengirimkan gambar mengerikan pada pemuda malang yang kini tengah tertidur pulas di ranjangnya yang nyaman.


“Sekarang kita harus gimana?” tanya Aileen. Gadis itu sudah cukup merasa risih karena terus dipandangi oleh Axelle dan yang lainnya.


“Nyokap gue udah bilang katanya ntar supir pribadi nyokap bakalan ngantar kita ke tempat tujuan tour. Tapi kita harus nunggu sampai si Nicolas bangun,” ucap Axelle sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku. “Ngomong-ngomong kenapa lu bisa bawa mereka ke sini?” tanya Axelle pada Devan yang masih sibuk dengan buku menarik yang ia temukan di meja belajar Nicolas.


“Tadi gue lihat mereka lagi nyari tumpangan buat ke sekolah, karena gue pikir mereka bisa bantuin kita bawa barang bawaan jadi gue bawa.” Aileen dan Clarissa membolakan matanya tidak percaya, jadi tujuan Devan mengajak mereka berangkat bersama agar mereka berdua bisa jadi kuli panggul dadakan.

__ADS_1


“Sialan lu, Devan bangsat. Tungguin aja waktu yang tepat, gue bales lu upil kuda Nil. Jangan harap lu bisa lolos dari pembalasan gue,” batin Aileen. Darah gadis itu mendidih, ingin sekali rasanya ia menenggelamkan pemuda yang sudah ia anggap sebagai kakak itu ke kubangan lumpur Lapindo biar nggak seenaknya kalau ngomong.


“Ide lu bagus juga, Dev. Gue kira lu udah baik sama mereka,” puji Gavin karena merasa Devan sudah melakukan hal yang benar. “Mereka emang pantas dijadiin tukang panggul,” ejek Gavin yang membuat Aileen dan Clarissa memberenggut kesal.


“Kalian masih di sini?” tanya Nic saat ia bangun dari tidurnya dan melihat semuanya masih berada di dalam kamarnya yang indah.


“Kan tadi elu yang minta, bangsat.” Nic hanya tersenyum menanggapi ucapan ketuanya yang selalu pedas seperti biasa.


“Makasih ya, kalian emang yang terbaik.” Nic memeluk tubuh Axelle sebagai tanda terima kasih karena sudah menunggui dirinya tidur hingga bangun dan sedikit bisa melupakan apa yang ia lihat tadi pagi.


“Lepas bangsat! Gue masih suka sama Arsy!” seru Axelle yang membuat Aileen tersedak snack yang ia makan. Gadis malang itu memukul dadanya yang terasa sesak, ditambah lagi hidungnya terasa sangat tidak nyaman.


“Lu kenapa?” tanya Axelle saat melihat Aileen terbatuk-batuk.


“Udah jelek, bodoh, ceroboh pula. Kenapa bisa Tuhan menciptakan manusia yang bahkan tidak ada nilai plusnya seperti elu di muka bumi ini,” heran Axelle yang membuat Aileen meremas bungkus snacknya hingga tak berbentuk. “Lu marah gue katain begitu? Inget gue cuma bicara fakta bukan lagi ngejek.”


“Nggak kok aku nggak marah.” Aileen berucap dengan senyum yang terpatri indah di bibirnya, namun apa yang gadis itu ucapkan berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan gadis itu di dalam hatinya. Dalam hati Aileen mengumpat kencang dan menyumpah serapahi pemuda yang sudah merendahkan dirinya.


“Oiya Nic, mending lu siap-siap sekarang soalnya supir pribadi nyokap gue udah di jalan.”


“Sopir? Namanya siapa kalau boleh tau?” tanya Aileen. Gadis itu hanya ingin memastikan kalau supir yang di maksud oleh Axelle bukanlah seseorang yang ia kenal dengan sangat baik.


“Namanya pak Rey. Dia yang biasa nganterin nyokap gue kalau mau keluar. Kenapa?”


“Mampus lu Arsy. Dia bakalan bisa langsung ngenalin elu meski pake pakaian kayak begini. Gue harus nyari cara biar nggak ketemu sama Pak Rey atau mereka bakalan tau semuanya,” batin Aileen dalam hati. Kegelisahan gadis itu begitu terlihat membuat Axelle memandangnya aneh.

__ADS_1


“Apa dia salah satu klien yang pernah tidur sama kalian?” tanya Axelle. Namun tidak mendapat respon yang berarti dari Aileen dan Clarissa, karena saat ini kedua gadis cantik itu tengah sibuk dengan pikiran masing-masing.


“Xelle, kami lebih baik berangkat sendiri aja. Soalnya ... anu ... itu ... apasih namanya.”


“Biar kami nggak merepotkan kalian. Itu maksud Aileen. Benarkan Leen?” tanya Clarissa pada Aileen.


“Ah iya, bener itu. Tadi aku mau ngomong itu,” gagap Aileen. Gadis itu memukul kepalanya sendiri karena tidak bisa mencari kata yang benar agar dirinya dan Clarissa bisa pergi secepatnya.


“Nggak.”


“What!” Clarissa dan Aileen terkejut saat Axelle menolak keinginan keduanya untuk berangkat sendiri.


“Tapi Xelle....”


“Nggak ada tapi tapian. Lagian supir nyokap gue udah nungguin kita di depan,” ucap Axelle sembari membawa tas miliknya turun menuju lantai bawah menemui sopir suruhan Margareth.


“Gimana ini, Catt? Bisa habis kita kalau pak Rey buka mulut soal kita.”


“Gue juga nggak tau. Kita pasrahin aja semua pada otak Author, semoga dia punya cara biar pak Rey nggak bisa ngenalin kita atau yang lainnya.”


“Lu bener. Kalau sampai nasib kita berakhir di sini, lu mau kan demo author nya bareng gue?”


“Dengan senang hati. Jangankan demo, lu ajak buat nguliti author juga gue bakalan tetep mau kok. Sumpah kesel banget gue sama dia, pas gue jadi Clarissa tu belum pernah sekalipun merasakan yang namanya bahagia. Dibully mulu," gerutu Clarissa sembari mengangkat kedua kain yang menutupi lengan indahnya seolah bersiap memutilasi author karena sudah membuat dirinya menderita di sepanjang cerita.


"Sama, gue juga. Dibanding Axelle, gue lebih pengen bunuh author cerita ini tapi sayangnya nggak bisa."

__ADS_1


__ADS_2