Mask

Mask
Bagian 34


__ADS_3

“Gimana keadaan Arsy?” tanya Devan saat pemuda itu melihat Catty yang tengah berjalan tak jauh darinya.


Sudah hampir satu pekan berlalu, namun tidak ada satupun dari mereka yang tau dengan pasti keadaan Arsy. Catty dan Xander menutup rapat soal kondisi terakhir Arsy dari Axelle dan yang lainnya, kedua orang itu hanya mengatakan jika Arsy tidak ingin bertemu dan kenal dengan mereka lagi.


“Jangan bertanya tentang sesuatu yang bukan jadi urusan lu!”


Catty berlalu pergi meninggalkan Devan. Namun pemuda itu langsung menarik tangan Catty, agar gadis itu mau berbagi informasi tentang sahabatnya pada Devan.


“Catt, please kasih tau gue gimana keadaan Arsy. Axelle khawatir banget sama keadaan Arsy,” mohon Devan. Pemuda itu tidak berbohong sama sekali, karena nyatanya sejak kejadian itu Axelle tidak mau menyentuh makanannya, pemuda itu juga terus mengurung diri di dalam kamarnya.


“Yakin lu khawatir sama Arsy? Atau lu Cuma pengen tau keadaan sahabat gue biar ketua lu mau keluar dari kamarnya,” sindir Catty yang membuat Devan terdiam. Apa yang dikatakan Catty memang benar adanya. Devan bertanya tentang keadaan Arsy karena ia dan yang lainnya khawatir terjadi apa-apa pada Axelle. “Gue nyesel udah biarin Arsy kenal sama lu, Dev. Gue pikir lu beda dari mereka, nggak taunya lu malah lebih busuk dari sampah.”


“Catt, please kasih tau gue keadaan Arsy biar kita semua tenang.”


Devan masih terus memohon pada temannya agar memberikan informasi yang sangat ia butuhkan. Namun Catty tetap kekeh tidak ingin memberitahu keadaan sahabatnya pada seorang pemuda bangsat yang pernah membiarkan sahabatnya hampir meregang nyawa di tangan teman-temannya.


“Arsy....”


“Gue baik.”


Devan dan Catty menoleh bersamaan ke arah suara. Keduanya nampak terkejut melihat Arsy berdiri di belakang mereka dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


“Lu ngapain keluar dari kamar?” tanya Catty sembari berjalan ke arah sahabatnya yang masih terlihat lemah.


“Gue bosen di kamar. Lagian juga gue keluar Cuma buat menghirup udara segar, biar nggak gila.”


Devan berjalan ke arah Arsy. Bibir pemuda itu kelu saat melihat keadaan sahabatnya, dan tanpa sadar air mata pemuda itu mengalir dengan deras tanpa bisa dibendung.


“Arsy, lu udah sembuh?” tanya Devan. Pertanyaan bodoh dan nggak berguna keluar dari mulut Devan, pemuda yang dikenal memiliki IQ paling tinggi di antara sahabatnya. “Gue seneng lu udah sehat, Sy. Gue....”


“Nggak usah pake acara basa basi bangsat lu, Dev. Sekarang lu bisa ngasih tau ketua lu tentang keadaan Arsy, tapi gue peringatin buat jangan deketin sahabat gue. Atau gue nggak bakalan segan buat nenggelemin kalian semua di laut lepas!” ancam Catty.

__ADS_1


Arsy memeluk pemuda yang sudah ia anggap sebagai kakak. Meski Catty sempat ngamuk tapi gadis itu memilih diam dan pergi meninggalkan Devan bersama dengan Arsy.


Keduanya berjalan menuju bow. Arsy berjalan mendahului Devan, karena jujur saja gadis itu masih sedikit kesal dengan temannya itu karena kejadian kemarin.


“Gue seneng lu baik-baik aja, Sy.” Arsy menoleh ke arah Devan. Gadis itu hanya mengangguk sebagai jawaban dari ucapan Devan. “Sy, boleh gue tau....”


“Gue nggak kenal sama mereka.”


“Tapi kenapa lu bisa tau kalau orang yang nyerang Axelle punya ciri-ciri kayak yang lu sebutin?” tanya Devan.


“Mereka nyerang gue duluan.” Devan terdiam. Begitu juga dengan seseorang yang sejak tadi menguping pembicaraan Devan dan Arsy. “Pas lu chat Catty kalau Axelle diserang, dia baru aja selesai ngejahit lengan gue yang terluka karena pisau mereka.”


“Jadi luka itu....”


“Iya, itu ulah mereka semua.” Arsy menatap lurus ke arah laut lepas yang terlihat sangat indah saat malam hari. Cahaya bulan dan beberapa bintang yang memantul terlihat begitu indah, dan Arsy sangat menyukainya.


Gadis itu merasa senang karena Tuhan masih membiarkan dirinya menikmati indah ciptaan_Nya, mengingat sebusuk apa dirinya. “Arsy, gue minta maaf. Gue udah nggak percaya sama lu, dan karena gue udah....”


Devan kembali memeluk Arsy, namun kali ini gadis itu tidak membalas pelukan pemuda yang lebih tua beberapa bulan darinya.


“Dev, lepasin gue.”


Devan melepaskan pelukannya. Pemuda itu berpikir mungkin ia memeluk Arsy terlalu erat makanya gadis itu memintanya untuk melepas pelukan yang ia berikan. Namun nyatanya itu tidak benar. Gadis itu mengatakan sesuatu yang membuat hati Devan sakit hingga meneteskan air mata, begitu juga dengan seseorang yang sejak tadi menguping pembicaraan keduanya.


“Besok kita akan sampai di pulau. Hubungan kita berakhir di hari itu, jangan sapa gue, jangan temui gue, dan anggap kita nggak pernah saling kenal sebelumnya. Mulai besok kita hanya dua orang asing yang nggak saling kenal, dan sampaikan maaf gue ke sahabat-sahabat lu.”


Devan menggelengkan kepalanya. Pemuda itu tidak menyangka Arsy akan memutus hubungan antara mereka karena masalah kemarin. Awalnya pemuda itu berpikir semua akan bisa kembali seperti semula, namun ia salah besar.


“Sy, apa lu sebenci itu sama gue sampai lu mutusin buat nggak berhubungan lagi sama gue?” tanya Devan dengan air matanya yang masih setia mengalir dari kedua matanya. “Gue bakalan ngelakuin apa pun biar lu mau maafin gue, Sy. Lu mau gue bersujud? Gue bakalan lakuin. Atau lu mau habisin semua duit gue? Nggak masalah dan gue nggak bakalan marah. Tapi please jangan begini,” mohon Devan sembari memegang erat tangan Arsy.


“Dev, lu tau kan kalau gue sayang banget sama lu. Gue udah anggap elu Abang gue sendiri, makanya gue berani ceritain semuanya sama elu.” Arsy menarik napas dalam sebelum melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


Jujur saja terasa sangat berat melepaskan hubungan dengan seseorang yang sudah sangat dekat dengan dirinya. Apalagi bagi Arsy, Devan adalah sosok saudara yang baik dan penyayang, dan gadis itu selalu berharap hubungannya dengan pemuda itu tidak akan pernah berakhir. Tapi apa yang terjadi beberapa hari yang lalu, membuat gadis itu menyadari sesuatu. Tembok pembatas yang berdiri tepat di antara dirinya dan teman-temannya sangat tinggi, dan tidak mungkin bisa menghancurkan dinding tersebut. Jadi pilihan terbaik yang ia ambil sekarang adalah-


“Tinggalin gue sendiri, Dev. Hubungan kita berakhir saat ini juga,” ucap Arsy sembari kembali mengalihkan pandangannya ke arah laut lepas.


-melepaskan semua ikatan yang ia buat dan kembali hidup seperti dulu lagi, di mana hanya ada dirinya, Catty dan juga Margareth.


“Sy, apa nggak ada....”


“Nggak ada. Temboknya terlalu tinggi dan gue nggak punya kekuatan sebesar itu buat ngehancurinnya.”


Devan memilih pergi meninggalkan Arsy. Pemuda itu berpikir jika Arsy belum sepenuhnya memaafkan dirinya, makanya gadis itu memilih untuk memutuskan hubungan dengan dirinya dan teman-temannya. Dalam hati pemuda itu terus berharap esok hari akan cerah dan Arsy akan menarik semua kata-kata menyakitkan yang ia ucapkan hari ini.


***


Axelle yang menguping pembicaraan Devan dan Arsy sejak tadi merasa kesal dengan apa yang gadis itu ucapkan. Memutuskan hubungan dengan mereka adalah tindakan paling bodoh yang pernah Axelle dengar sepanjang ia mengenal Arsy.


Pemuda itu mungkin tidak mengenal Arsy dengan baik, dan bahkan pemuda itu juga tidak tau mengapa Arsy harus merubah penampilannya dan menjalani hidup sebagai Aileen. Tapi yang Axelle tau ia harus meluruskan masalah ini dengan Arsy, sekaligus meminta maaf atas kejadian yang terjadi beberapa hari yang lalu.


“Kenapa keluar? Apa lu mau mati kedinginan?” tanya Xander sembari memasangkan selimut tebal yang ia bawa ke tubuh Arsy.


Melihat itu Axelle mengurungkan diri menemui Arsy dan memilih kembali menguping.


“Gue cuma pengen nyari angin doang kok. Gue nggak bakalan mati juga,” ucap Arsy tanpa mengalihkan pandangannya dari laut lepas yang terbentang indah.


“Tadi gue ketemu Devan. Kayaknya moodnya lagi jelek, makanya dia diem aja pas gue sapa.” Xander menyandarkan kepalanya di pundak Arsy, sembari memeluk gadis itu dari belakang.


Di tengah cahaya bulan, dan di temani bintang serta pemandangan laut membuat kedua pasangan itu terlihat begitu serasi. Deburan ombak yang tenang seolah memberi isyarat jika laut memberikan restu kepada pasangan tersebut. Si cantik dengan sejuta kekerasannya bersanding dengan si tampan dengan sejuta pesona dan kelebihan yang mampu membuat setiap mata yang memandang akan jatuh dalam jurang cinta yang mematikan.


“Sumpah, gue bakalan ngebunuh author cerita ini kalau sampai mereka berakhir bersama. Lihat aja lu, Thor!” peringat Axelle dalam hati yang ditujukan langsung kepada author cerita yang tidak pernah membela dirinya sejak kemunculan Xander.


Padahal author baru balik setelah vakum cukup lama dari dunia menulis karena sakit yang ilang, dateng, ilang, dateng kek ingus bocil, tapi kok ya udah dapet ancama begini. Pensiun beneran lama-lama author kalau dapat ancaman pembunuhan mulu.

__ADS_1


__ADS_2