Mask

Mask
Bagian 16


__ADS_3

Di dalam gudang yang gelap, pengap dan bau. Terdapat dua anak manusi berbeda jenis tengah mengambil beberapa bola untuk keperluan olahraga. Namun, salah satu dari mereka tiba-tiba berteriak. “Arrgghh.” Teriak Axelle yang diikuti oleh Aileen.


“Lu kenapa teriak?” tanya Axelle saat mendengar Aileen juga berteriak seperti dirinya.


“Aku teriak karena denger kamu teriak. Emang kenapa kamu teriak?” tanya Aileen balik yang membuat Axelle mendengus kesal.


“Gue teriak karena emang pengen teriak aja,” ucap Axelle.


“Bocah sialan! Gue kira ada apaan sampek teriak. Bikin kaget orang aja,” gerutu Aileen dalam hati. Gadis itu memicingkan matanya saat melihat tatapan mata Axelle yang terus terarah ke seekor hewan kecil yang berada tepat di sampingnya.


“Kamu takut kecoak?” tebak Aileen. Gadis itu ingin tertawa keras melihat Axelle yang takut pada kecoa. Tapi ia harus menahan diri, ia saat ini tengah hidup sebagai Aileen bukan Arsy. Kalau dirinya Arsy saat ini, ia akan tertawa sampai puas kalau perlu sampai air matanya keluar.


Sungguh, gadis itu tidak pernah mengira jika ketua dan wakil Dead Dragon memiliki ketakutan yang nggak masuk akal. Yang satu takut kecoa dan satu lagi takut hantu, benar-benar pasangan yang seriasi.


“Siapa bilang gue takut kecoa? Gue cuma jijik.”


“Jijik bisa diartikan sebagai takut juga, Xelle.”


Aileen mendekat ke arah Axelle yang tengah ketakutan karena kecoa berkata, “lu mau ngapain? Mau perkosa gue ya lu? ”


“Nggak napsu gue sama orang modelan elu. Pede banget jadi manusia, heran gue.” Gerutu Aileen dalam hatinya. Seandainya dia khilaf dan berbuat hal itu juga Aileen bakalan milih manusia yang lebih baik, tampan, kaya seperti Jimin. Bukan manusia jelmaan setan yang haus darah seperti Axelle Adhitama.


“Anu, gue cuma ma....”


“Kenapa malah lu balik, bocah bodoh! Kan kasihan.” Teriak Axelle saat melihat Aileen membalik tubuh kecoa agar mati perlahan. Gadis itu mengernyitkan bingung dengan perkataan Axelle. “Lihat! Dia jadi nggak bisa gerak. Balikin lagi!” perintah Axelle.


Kan kalau kita takut sesuatu pasti dibunuh atau di hindari. Benar? Trus kenapa kecoanya nggak boleh dibalik? Aileen benar-benar pusing.


“Jadi harus aku apain? Masukin seragam kamu? Sini.” Aileen mendekat ke arah Axelle sambil membawa kecoa yang sejak tadi menarik perhatian Axelle.


“Awas aja lu sampek masukin itu kecoa ke seragam gue. Habis lu sama gue!”


Aileen memijit kepalanya. Aileen pusing dengan kelakuan Axelle, tadi ketakutan tapi waktu Aileen ingin membunuh si kecoa, pemuda itu malah mengeluh kasihan kalau kecoa tersebut mati.


“Jadi aku harus apa?”


“Terserah. Yang penting jauhkan hewan itu dari gue!”


Aileen meletakkan kecoa itu di bawah kakinya, dan langsung menginjaknya hingga mati. Setelah itu memilih pergi dari hadapan manusia yang hobi membuatnya pusing.


“Kenapa lu injak kecoa nya? Kan jadi mati.”

__ADS_1


“Masih untung bukan kepala lu yang gue injak sampai hancur!” batin Aileen.


“Kalau kasihan, kamu ambil aja kecoanya trus kuburin dengan layak. Gimana?”


“Dih, ogah. Mending gue ke kantin,”


Aileen dan Axelle keluar dari gudang tempat penyimpanan di sekolah mereka. Namun, baru beberapa langkah keduanya langsung terdiam di tempat, seolah melupakan sesuatu yang sangat penting demi kelangsungan hidup keduanya. “Oiya, bolanya!” teriak keduanya bersamaan. Aileen dan Axelle hari ini mendapatkan tugas untuk mengambil bola yang akan dipakai untuk bermain basket dan volly. Keduanya memilih untuk mengambil bola di gudang yang gelap, kotor dan pengap daripada harus melakukan pemanasan dengan berlari 20 kali mengelilingi lapangan, di tengah terik matahari yang panas.


***


Pelajaran olahraga baru saja selesai. Semua siswa kembali ke kelas dan beberapa ada yang langsung menuju kantin. Matahari sangat terik membuat beberapa anak hampir pingsan dibuatnya. Begitu juga dengan Aileen dan Clarissa, kedua gadis itu tengah mengibaskan tangannya di depan wajah untuk mengurangi rasa gerah dan panas yang menjalar di seluruh tubuh mereka. Namun hal itu sia-sia. Mereka tetap merasa kepanasan dan mereka butuh sesuatu yang dingin, segar. Intinya sesuatu yang bisa menghilangkan rasa panas di dalam tubu mereka, ice cream contohnya.


“Leen, panas banget nih. Beli Campina, kuy.” Clarissa mengajak Aileen untuk membeli Campina, namun gadis itu menolak dengan alasan lelah.


“Kasih gue waktu napas dulu 5 menit. Habis itu gue beliin lu Campina,” tawar Aileen sembari merebahkan tubuhnya di lantai kelas yang dingin. “Ini AC kelas kenapa pake mati segala, sih? Nggak tau waktu banget rusak di saat begini.”


“Hooh. Rasanya kayak lagi simulasi di neraka,” gerutu Clarissa.


“Amit-amit jabang bayi. Lu tu punya mulut kalau ngomong di filter dikit napa? Simulasi di neraka. Emang lu udah siap masuk neraka?”


“Kagaklah gila! Gue kan calon penghuni surga,” ucap Clarissa yang langsung dihadiahi geplakan oleh sang sahabat. “Lu mau ke mana?” tanya Clarissa saat melihat sahabatnya berdiri dari posisi awalnya dan hendak beranjak pergi.


“Beli Campina. Katanya lu lu mau beli Campina,” ucap Aileen yang diangguki oleh Clarissa. Sebelum gadis itu meninggalkan kelas, Clarissa lebih dulu berpesan agar gadis itu selalu hati-hati di jalan karena Clarissa sedang malas jalan.


“Lama banget lu, bangsat.”


“Lu kira jarak sini Campina kek kelas ke toilet! Dasar gila.” Aileen mengumpati Clarissa yang memarahinya karena lama.


“Trus ice creamnya mana?” tanya Clarissa saat melihat Aileen kembali tanpa membawa ice cream.


“Ice cream apaan?”


“Lu kan tadi beli Campina, Aileen. Sekarang mana Ice cream nya?” jelas Clarissa sambil mengarahkan tangannya ke pada Aileen.


“Maksudnya tadi lu minta ice cream Campina?” tanya Aileen.


“Ya iyalah, gila. Emang lu kira apaan?” Mata Clarissa membola. Gadis itu mencoba menepis pikiran gilanya yang mungkin saja dilakukan oleh Aileen. “Leen, yang lu beli apanya?”


“Perusahaannya.”


“Maju sini lu! Gelud kita sampek mati. Otak lu di mana sih Aileen!”

__ADS_1


“Ya kan lu nggak bilang kalau lu minta ice creamnya. Lu cuma bilang beli Campina, ya gue kira beli perusahaannya.” Aileen mencoba membela diri ya meski dia tetap kena omel karena salah mengartikan maksud dari kalimat Clarissa.


“Gue kan tadi bilang. Panas banget, Leen. Beli Campina, yuk. Harusnya itu otak lu yang Iq nya 150 bisa mikir, oh panas berarti Clarissa butuh ice cream. Lu kira gue mau nyemilin batu perusahaan buat ngilangin haus!”


Darah Clarissa mendidih. Ingin sekali ia mencelupkan sahabatnya itu ke lumpur panas Lapindo biar encer dan sedikit berguna. Gadis itu benar-benar tidak menyangka jika Aileen akan membeli perusahaan Campina hanya karena dirinya haus.


“Tuhan, boleh tukar sahabat nggak? Yang otaknya agak berguna dikit gitu. Ni cewek satu emang cantik, pinter, dan kemampuannya nggak usah diragukan lagi. Tapi otaknya nggak pernah di pake Tuhan, capek aku.” Gerutu Clarissa dalam hati.


"Lu pake duit siapa buat beli itu perusahaan?" tanya Clarissa yang hanya dijawab dengan cengiran oleh Aileen. "Duit siapa, jawab!"


"Pake duit Margareth." Jawaban Aileen


membuat Clarissa


menepuk kepalanya keras.


"Lu beli perusahaan itu atas nama elu sendiri atau Margareth?"


"Bukan dua-duanya," jawab Aileem yang membuat Clarissa bingung. Kalau bukan nama Aileen atau Margareth, trus nama siapa?


"Trus nama siapa? Pak Marcel? Axelle?"


"Nama lu." Clarissa


langsung menjambak rambut Aileen


begitu mendengar perusahaan yang Aileen


beli atas nama dirinya dan menggunakan uang Margareth. Teriakan kesakitan Aileen


dihiraukan begitu saja oleh Clarissa. Tanpa belas kasih gadis itu menjambak rambut sahabatnya sembari terus mengoceh.


"Lu mau gue dibunuh Margareth, hah!"


"Ampun, sorry. Lagian kan salah elu juga nggak bilang kalau minta ice cream,"


"Dasar otak lu aja yang nggak berguna."


Siswa lain yang melihat Clarissa


menjambak rambut Aileen

__ADS_1


hanya bisa diam. Mereka tidak mengira jika Clarissa


yang selama ini mereka kenal pendiam dan baik, bisa seganas itu kepada sahabatnya sendiri.


__ADS_2