Mask

Mask
Bagian 2


__ADS_3

“Kenapa lu? udah kek psikopat aja.” Tyo berucap sambil terus mengikuti langkah teman seprofesinya yang saat ini sedang tidak terlihat baik-baik saja.


Temannya itu menghajar semua orang yang ada di sana. Amarahnya memuncak dan tidak ada yang bisa menghentikannya selain Catty, tapi saat ini gadis itu tengah bertugas di tempat lain dan akan memakan waktu untuk menghubungi gadis itu.


Sejujurnya Tyo senang karena pekerjaan mereka selesai lebih cepat dari biasanya. Tapi melihat keadaan temannya yang mengerikan membuatnya sedikit takut. Pimpinannya memang memerintahkan keduanya untuk menghabisi siapa saja yang menghalangi misi kali ini, tapi tidak dengan memutilasi dan membakar semua tubuh korbannya.


“Gue baik.”


“Apa lu yakin? Lu nggak ter....”


“Sekali lagi lu ngoceh nggak jelas, gue nggak bakalan segan buat jadi lu salah satu dari tumpukan mayat nggak berguna itu!” ancam Arsy yang membuat Tyo menghentikan ucapannya. Dia masih punya misi untuk mendapatkan hati Arsy, kan nggak lucu kalau dia belum bisa mendapatkan hati Arsy tapi dia udah mati duluan, ditangan pujaan hatinya. Ngenes banget.


Tangan kanan Arsy merogoh saku. Mengeluarkan kunci mobil sport hitam miliknya, dengan segera ia masuk ke dalam mobil dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Tyo dengan mobil miliknya.


“Menyebalkan!” teriak Arsy sambil memukul stir mobilnya. Melampiaskan semua amarahnya yang sudah ia pendam sejak seharian sebelum kembali ke rumah.


Gadis itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju suatu tempat yang mungkin akan bisa mengembalikan moodnya, karena jika terus begini maka ia sendiri yang akan rugi.


Arsy memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah sederhana.


“Aku datang.”


“Oh, Hai Baby. Kau datang sendiri? Kenapa dengan wajahmu?”


“Gue baik. Sedikit butuh pelampiasan,”


Arsy langsung berjalan ke belakang rumah tersebut sambil melepas satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya. Laki-laki yang ia temui juga melakukan hal yang sama.


“Apa lu udah siap? Gue nggak bakalan kasih ampun kayak biasanya, dan gue juga nggak berniat main lembut."


“Bacot.”


***


“BERSIHIN SEPATU GUE!” perintah Axelle yang berarti mutlak. Tidak ada yang boleh menolak apapun perintah Axelle, atau mereka akan menerima hukuman. Hukuman yang diberikan Axelle tergantung dari mood pemuda itu sendiri, jika sedang beruntung mungkin Axelle hanya akan menelanjangi korbannya. Tapi kalau sedang sial, akan bernasib sama seperti Clarissa dan Aileen.


Rahma mengambil tisu. Berniat membersihkan sepatu Axelle menggunakan tisu basah, mengingat sepatu pemuda itu cukup kotor. Sepertinya pemuda itu baru saja terjun ke dalam kubangan lumpur. Sepatunya sangat kotor dan bau, sama seperti hati pemiliknya.


Axelle menendang Rahma.


“Siapa yang nyuruh lu bersihin pake tisu? Jilat sampek bersih!”

__ADS_1


“Tapi, Xelle.”


“Lu udah bosan hidup, hah! Buruan!”


Gadis malang itu mulai mendekatkan wajahnya ke sepatu Axelle. Dengan air mata yang mengalir deras ia mulai menjilati sepatu Axelle. Harga diri gadis itu sudah diinjak dengan sangat sadis oleh Axelle Adhitama. Sebenarnya ia tidak ingin melakukannya tapi ia takut Axelle akan lebih menggila dan berakhir membunuhnya.


Banyak mata yang menyaksikan kejadian itu, namun tidak ada satupun yang berani menolong gadis malang itu.


Aileen terlihat kesusahan membawa ember berisi air kotor. Gadis itu baru saja membersihkan kelas karena hari ini ia mendapat bagian piket bersama dengan beberapa temannya. Clarissa sudah pulang terlebih dahulu karena ada keperluan mendadak yang membuat gadis itu tidak bisa tinggal di sekolah sampai pelajaran selesai.


“Minggir!” peringat Aileen kepada kumpulan siswa yang tengah berkumpul di Koridor dekat kamar mandi.


“Aw....”


Belum sempat Aileen menyelesaikan kalimatnya, gadis sial itu malah tersandung kaki seseorang membuatnya oleng dan ember berisi air kotor tumpah mengenai Axelle.


“Sialan!” umpat Axelle.


“Mati gue,” batin Aileen.


“S.. sorry. Aku nggak sengaja,” ucap Aileen. Gadis itu berniat melarikan diri namun sialnya Axelle langsung memegang tangannya.


“Clarissa tolongin gua,” ucap Aileen dalam hati. Di saat seperti ini cuma sahabatnya yang ia butuhkan sebagai penyelamat.


Tidak cukup sampai di situ. Axelle bahkan kembali menghajar Aileen, menambah luka pada tubuh gadis cantik dengan tompel di pipinya.


“Sepertinya lu hobi banget nyari masalah sama gue.”


“Am.. ampun, Xelle. Aku beneran nggak sengaja,”


“Dia bohong, Xelle. Dia sengaja ngelakuin itu buat nolongin si Rahma,” ucap Adelia yang baru saja masuk ke dalam kamar mandi bersama dengan beberapa temannya.


“Ini nenek lampir sialan kenapa muncul segala sih. Demen banget ikut campur urusan orang,” batin Aileen.


“Jadi lu beneran sengaja,” ucap Axelle sambil menarik rambut bagian belakang Aileen.


“Nggak, Xelle. Aku beneran nggak sengaja. Tadi kakiku tersandung, jadi embernya jatuh kena kamu.”


Sial. Aileen tidak bisa menahan tawa saat mengingat ekspresi Axelle saat ember yang ia bawa jatuh mengenai pakaian pemuda itu.


“Lu pikir itu lucu.”

__ADS_1


Dengan isyarat dari Axelle, duo Haidar langsung memegangi kedua tangan Aileen. Sepertinya gadis itu akan benar-benar berakhir kalau sampai Clarissa tidak datang.


“Xelle,” panggil Adelia.


“Hm.”


“Gue udah ngelakuin apa yang lu mau. Apa sekarang lu mau sama gue?” tanya Adelia.


Axelle yang tidak mengerti dengan pembahasan Adelia, menoleh ke arah Nicolas, namun pemuda itu menjawab dengan gelengan kepala.


“Lu minta dia tidur sama duo Haidar,” ucap Devan tanpa mengalihkan pandangannya dari buku tercintanya.


“Ah soal itu. Gue....”


Aileen tertawa terbahak-bahak hingga mengeluarkan air mata.


“Kenapa lu ketawa?” tanya Adelia.


“Aku pikir cinta itu buta hanya sebuah istilah, nggak taunya ada orang yang buta beneran karena cinta.”


“Maksudnya?” tanya Adelia yang tidak mengerti dengan pembicaraan Aileen.


“Jika desas-desus tentang Axelle yang tidak mau menerima wanita manapun di hidupnya itu benar, maka kamu salah besar sudah percaya sama dia.”


“Maksud lu apa, Brengsek.” Adelia mengambil alat pel dan memukul dada Aileen menggunakan batang pel, membuat gadis itu terbatuk.


“Jika yang masih perawan aja dia tolak, apalagi kamu yang udah bekas. Lagi pula sepertinya, Axelle bakalan nolak dan bilang dia nggak suka barang bekas.”


“Sok tau lu.” Adelia menampar pipi Aileen dengan sangat keras, membuat gadis malang itu meringis.


“Xelle,” panggil Adelia sambil menatap Axelle, seolah berkata kalau semua yang diomongin Aileen tidak benar.


“Gue cuma bilang bakalan mikirin, bukan ngasih keputusan.”


Axelle pergi bersama teman-temannya. Meninggalkan Aileen bersama dengan Adelia dan beberapa teman wanita itu.


Aileen hendak keluar dari kamar mandi namun tangannya kembali di cengkeram oleh teman-teman Adelia.


“Apa-apaan ini?” tanya Aileen.


“Robek seragamnya, dan buat dia tidak sadarkan diri!”

__ADS_1


Tanpa diperintah dua kali, para gadis gila itu langsung menghajar Aileen dan merobek baju gadis itu hingga tak berbentuk.


__ADS_2