
Devan, Aileen dan Clarissa baru saja turun dari mobil milik Aileen. Sebenarnya bukan tanpa sebab Devan bisa satu mobil dengan duo cupu yang menjadi kesayangan dari wakil dan ketua Dead Dragon.
“Heh cupu!”
“Mampus!” batin ketiganya bersamaan.
“Sel sela selamat pagi, Axelle.” Aileen menyapa Axelle dengan senyum terpaksa, membuat pemuda yang sejak tadi menatapnya sembari melipat keduanya tangannya itu memajukan langkahnya.
“Pagi guys,” sapa Devan yang langsung di jawab oleh anggota Dead Dragon yang lainnya kecuali Axelle dan Nicolas.
“Kenapa lu bisa bareng sama si cupu?” tanya Nicolas tanpa mengalihkan pandangannya dari Clarissa yang tengah tertunduk.
Mereka berdua seperti dua orang gadis muda yang kepergok selingkuh oleh kekasihnya. Lucu sekali.
“Si cupu ini, _” sambil menunjuk Aileen. “Nabrak bagian belakang mobil gue sampek penyok parah.”
“Kok bisa?” tanya Gavin.
“Lu tanya aja sama yang nabrak. Orangnya ada di depan muka lu,”
Axelle menatap tajam ke arah mata Aileen. Pemuda itu tetap diam yang membuat Aileen sedikit merasa terintimidasi.
“Heh cupu dua!”
Clarissa yang merasa terpanggil pun akhirnya menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Nicolas.
“Anu, jadi....”
“Lu jawab!” seru Axelle sambil menujuk Aileen tepat di wajahnya.
“Hah, aku.” Aileen menunjuk dirinya sendiri.
“Buruan!”
“Anu, itu jadi anunya. Eh maksudnya, tadi aku sama Clarissa lagi ngobrol trus mobil Devan berhenti mendadak. Jadi, aku nabrak.”
Devan mencoba membela diri dengan mengatakan kalau Aileen berbohong. Devan sudah memberikan isyarat lampu sen sebelum belok dan berhenti, tapi mobil Aileen tetap menabrak mobilnya.
“Bocah tengik! Awas aja lu kalau sampai kita ketemu di jalan. Gue lindes sekalian pala lu,” batin Aileen. Devan hanya tersenyum mengejek. Pemuda itu tau dengan benar kalau dua gadis cantik di depannya tengah menyumpahi dirinya dengan kata-kata yang sangat indah.
Kedua gadis malang itu harus menerima hukuman karena sudah dianggap membohongi ketua dan wakil Dead Dragon, padahal apa yang keduanya katakan sudah sesuai dengan kejadian yang sebenarnya.
“Heh, cupu.” Clarissa yang tengah beristirahat setelah membersihkan seluruh ruangan Dead Dragon harus kembali berdiri karena panggilan Nicolas.
“Ada apa?”
“Ambilin remot itu dong! Tangan gue nggak nyampek.”
Clarissa terus menggerutu. Jarak antara remot dan tubuh Nicolas bahkan tidak ada satu langkah, tapi pemuda itu malah menyuruh dirinya yang memiliki jarak lebih jauh daripada Nicolas. “Kamu bisa ambil sendiri,Nic. Aku lelah.”
__ADS_1
“Gue mager. Buruan!”
Gadis itu bersumpah dalam hati akan membalas semua perlakuan Nicolas padanya. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat sampai pemuda itu bertemu dengan Catty dan bisa dipastikan kalau hidup pemuda itu tidak akan baik-baik saja.
“Kenapa malah ngelamun di situ? Buruan!”
Clarissa membuang napas kasar. Gadis itu berjalan dengan sedikit menghentakkan kakinya. Demi Tuhan dia sangat lelah, tapi pemuda sialan itu malah meminta dirinya melakukan hal yang sangat sepele.
“Sekalian minuman gue.”
“Nic, minuman kamu ada di sebelah tanganmu. Kamu bisa ambil sendiri,” keluh Clarissa.
“Inget lu lagi dihukum jadi nggak usah banyak ngomel.”
“Orang bodoh aja kalau dihukum karena nggak salah juga ogah. Apalagi gue, dasar gila.” Clarissa menggerutu dengan suara lirih, berharap tidak ada yang mendengar. Tapi karena Nicolas punya campuran darah hewan kelinci di dalam tubuhnya, jadi pendengarannya cukup tajam.
“Apa tadi lu bilang? Lu ngatain gue gila!”
Clarissa membolakan matanya. Gadis itu mencoba berpikir dengan tenang agar bisa kabur dari amukan Nicolas. Demi Tuhan ini nggak akan berakhir baik jika ia tetap ada di dekat pemuda jelmaan iblis yang menjabat sebagai wakil ketua Dead Dragon.
***
Axelle tengah pusing karena sejak beberapa saat yang lalu Adelia terus memaksa dirinya untuk tanggung jawab atas kehamilannya.
“Xelle, sampai kapan lu mau ngelak kalau gua lagi ngandung anak lu!”
“Kasih gue waktu, Del. Gue perlu mikirin semuanya!”
“Mikir apa lagi sih, Xelle? Perut gue makin hari makin gede. Kalau nunggu lu mikir, bakalan lama.”
Axelle benar-benar frustasi. Pemuda itu mengacak rambutnya kasar. “Jadi sekarang mau lu apa?”
“Gue mau lu tanggung jawab.”
“Ok, kalau itu mau lu. Gue bakalan.... Anjing!” umpat Axelle saat seseorang tanpa belas kasih langsung menggeplak kepalanya dengan keras.
“Sialan! Siapa yang....” Axelle menolehkan kepalanya dan terkejut saat melihat seorang gadis cantik yang memakai kaos berwarna putih yang dipadukan dengan sebuah hot pants serta sebuah tas kecil dan sepatu sport sebagai penunjang penampilannya. “Kenapa lu pukul kepala gue?”
“Masih untung itu kepala cuma gue pukul, nggak gue pangkas.”
“Enak aja!” Axelle memegangi kepalanya. Agak sedikit takut kalau sampai Arsy benar-benar memangkas habis kepalanya.
“Apa lu yakin gue bakalan mangkas kepala lu yang itu, makanya lu pegang?” tanya Arsy yang membuat Axelle sedikit kebingungan.
“Emangnya kalau bukan kepala yang ini, kepala yang mana lagi?” tanya Axelle dalam hati.
“Lu siapa?” tanya Adelia saat melihat seorang gadis cantik tengah berdiri di antara dirinya dan Axelle.
“Gue Arsy. Dan gue adalah satu-satunya wanita yang bakalan jadi istri Axelle,” jawab Arsy dengan penuh percaya diri yang membuat Adelia tertawa.
__ADS_1
Arsy dengan santai menarik tangan Axelle. Mata Adelia dan Axelle membola saat melihat sebuah cincin putih melingkar di jari manis pemuda tampan incaran semua wanita. Tawa Adelia yang menggelegar beberapa saat yang lalu seketika lenyap, tergantikan dengan senyum kecut.
“Lhah, kapan ni bocah masukin cincin ke jari gue?” batin Axelle saat melihat cincin di jarinya.
“Mungkin benar, elu yang tunangan sama dia. Tapi gue yang ngandung anaknya,” ucap Adelia sambil mengusap perutnya yang masih rata.
Axelle kembali tertunduk saat mengingat soal kehamilan Adelia. Sementara Arsy hanya diam memperhatikan saat Adelia berbicara soal kehamilan yang ia banggakan.
“Lu mau bukti, kan?” Adelia melempar ponsel dan juga sebuah testpack dengan dua garis serta surat dari dokter yang menyatakan bahwa Adelia benar-benar hamil. Arsy merasa mual saat melihat video Axelle dan Adelia tengah berhubungan badan. Jadi, Arsy memutuskan untuk langsung menghapus video yang sudah menodai otak dan matanya yang suci.
Arsy mengambil ponsel miliknya. Sebuah ponsel bermerek Samsung keluaran terbaru membuat Adelia ternganga. Arsy menekan angka tiga di ponselnya yang membuat dirinya langsung terhubung dengan seseorang yang sudah ia kenal. “Lima detik. Satu, dua, ok.” Setelah mengatakan itu, Arsy langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Arsy kembali menggeplak kepala Axelle, namun kali ini lebih keras dari yang pertama. Jujur Axelle ingin mengumpat dan membalas perbuatan Arsy, namun aura yang dikeluarkan gadis itu membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa selain diam.
Arsy berjalan ke arah Adelia dan membisikkan sesuatu yang membuat tubuh Adelia setia menegang. “Lu mau jujur, atau gue yang bongkar semuanya.”
“Bongkar apa? Gue nggak nyembunyiin apa-apa. Gue ke sini cuma mau pertanggung jawaban dari Axelle, kenapa lu malah ngancem gue? Xelle, kalau emang lu nggak mau tanggung jawab, nggak usah mencari alasan seolah gue yang salah.”
Axelle terdiam. Pemuda itu benar-benar ingin tanggung jawab, tapi sebelum itu ia ingin memastikan kalau yang dikandung Adelia memang benar darah dagingnya.
“Xelle, apa gue sehina itu? Apa gue sejelek itu sampai lu nggak mau tanggung jawab sama apa yang udah lu lakuin.”
“Gue suka drama. Lanjut,” ucap Arsy sembari mengunyah permen yang ada di dalam mulutnya.
“Xelle, gue nggak masalah lu nggak nerima gue. Tapi tolong, terima anak ini.”
Axelle masih setia diam. Pemuda itu tengah berperang melawan dirinya sendiri. Satu sisi ia ingin bertanggung jawab, namun sisi yang lain menolak untuk melakukan apa yang dia inginkan.
“Del, gue bakalan....”
“Dia bukan anak lu. Apa lu yakin mau tanggung jawab?”
“Maksud lu apa. Hah! Lu nuduh gue jual diri?” Adelia merasa tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Arsy. Wanita itu mengamuk dan berteriak di depan umum yang membuat Axelle semakin pusing.
“Sy, udah cukup. Gue....”
“Kalau emang lu mau jadi pahlawan kesiangan dan tanggung jawab atas apa yang nggak lu lakuin, silahkan. Tapi Axelle yang gue kenal nggak akan melakukan hal bodoh seperti itu.”
Axelle mencoba tenang. Namun teriakan Adelia, pandangan orang terhadap mereka membuat pikiran Axelle semakin kacau. Axelle terkejut saat Arsy mengatakan, “foto dan video itu memang asli, tapi elu melakukan kesalahan itu karena Adelia memasukkan obat perangsang ke dalam minuman yang lu minum.”
“Apa!” Adelia yang mendengar penuturan Arsy mencoba mengelak dengan mengatakan Arsy berbohong. Arsy mengeluarkan ponsel miliknya yang lain. Mata Adelia dan Axelle terbelalak saat melihat seorang wanita dalam video itu memasukkan sesuatu ke dalam minuman Axelle, menit berikutnya wanita itu membawa tubuh Axelle ke dalam sebuah kamar yang sudah ia siapkan. Melihat Axelle yang mulai bergairah, wanita yang ada di dalam video itu langsung melucuti pakaian Axelle dan memulai aksinya yaitu mempermainkan tubuh Axelle sesuka hatinya.
“Lu.” Axelle menunjuk ke arah Adelia, membuat gadis itu kembali berteriak. Gadis itu mengatakan bahwa Arsy berbohong, dan video itu palsu.
“Anak yang di kandungan Adelia adalah anak Tyo. Tapi Tyo menolak untuk bertanggung jawab karena gadis gila ini juga melakukan hal yang sama pada Tyo, sialnya nenek sihir sialan ini malah hamil. Intinya begitu, kalau lu tetep mau jadi pahlawan kesiangan gue nggak masalah.”
“Siapa Tyo?” tanya Axelle sembari menahan tangan Arsy yang ingin pergi meninggalkan dirinya dan Adelia.
“Dia sahabat gue.” Arsy menghempaskan tangan Axelle dan berjalan pergi meninggalkan Axelle yang tengah mengamuk. Mari kita berdoa supaya Adelia dan anaknya tidak mati karena amukan Axelle.
__ADS_1