Mask

Mask
Bagian 45


__ADS_3

Arsy bersama dengan Juan dan Xander menuju ke tempat pertemuan yang di mana Margareth berada. Dalam hati Arsy menyumpahi sang mama karena berani bertemu dengan para petinggi pulau tanpa memberitahu dirinya. Mereka tidak bisa duduk dengan tenang di dalam mobil, hingga nama seseorang terlintas di pikiran Arsy.


“Di mana Axelle?” tanya Arsy tiba-tiba saat tidak mendapati seonggok daging mentah yang akhir-akhir ini selalu mengekori Xander.


“Tadi gue minta dia buat ke tempat tujuan dulu sembari mengawasi pergerakan mereka. Dia ada dititik lokasi yang tepat dan dia aman,” ucap Xander sembari menunjukkan peta yang ada di ponselnya.


Semuanya kembali duduk dengan tenang sembari berdoa agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.


“Tuan muda, kita diikuti.”


Arsy, Xander dan juga Juan langsung menoleh bersamaan ke arah belakang di mana terdapat tiga mobil berwarna putih tengah membuntuti mereka.


“Sial!” umpat Arsy. “Pinggirin mobilnya!” perintah Arsy yang langsung diangguki oleh anak buah Juan.


“Elu mau ngapain?” tanya Juan saat melihat Arsy keluar dari mobilnya.


Dor


Satu tembakan dilayangkan salah satu penumpang di mobil berwarna putih. Arsy langsung berlari ke arah pengemudi.


“Elu nggak apa-apa?” tanya Juan yang diangguki oleh Arsy.


“Butuh berapa waktu buat sampai di sana?”


“Kurang lebih tiga puluh menit.”


Ketiga pemuda itu berpegangan erat saat Arsy mulai menginjak pedal gas. Beberapa kali mereka hampir menabrak pengendara lain tapi mereka nggak peduli, karena yang ada dipikiran mereka saat ini hanya keselamatan orang-orang bodoh yang sudah berani mengambil keputusan yang gila.


“Sy, mereka terus ngejar kita.”


“Sialan!” seru Arsy sembari memukul setir. Dua mobil mendekati mobil Arsy, dan mulai mengapit mobil hitam tersebut. Kedua mobil itu sama-sama mengeluarkan senjata dan mulai membombardir mobil yang Arsy naiki dengan tembakan.

__ADS_1


“Juan!” seru Arsy. Pemuda itu sudah paham dengan apa yang diinginkan Arsy langsung membuka bagasi belakang mobilnya yang ternyata tersimpan banyak senjata api dengan model beragam.


Juan bersama Xander dan juga anak buahnya mulai menembaki mobil di samping mobil mereka agar mereka bisa bergerak dengan lebih cepat.


“Sy, di depan ada bangunan tua. Sebaiknya kita berhenti dan menghabisi mereka semua, karena kalau terus begini kita nggak bakalan bisa sampai tujuan tepat waktu.”


Arsy melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat mobil di belakangnya ikut menambah kecepatan. Namun saat melihat mobil di belakangnya sudah dekat, gadis itu segera mengurangi kecepatan mobilnya membuat mobil yang di belakang oleng dan menabrak pembatas jalan.


Arsy beberapa kali mengumpat saat mengingat kebodohan yang ia lakukan. Harusnya hari itu dia percaya dengan apa yang dikatakan Xander dan mencari tahu soal pertemuan yang tengah dilakukan.


Arsy membelokkan mobilnya ke arah sebuah gedung tua. Keempat orang itu langsung turun dan mengambil persenjataan masing-masing untuk melindungi diri.


“Sepuluh menit, dan pastikan semuanya mati!” seru Arsy yang diangguki oleh yang lain.


“Kenapa banyak banget? Bukannya tadi cuma tiga mobil,” monolog Juan saat melihat lebih dari tiga mobil yang berhenti di tempat yang sama dengan mobil mereka.


Pertarungan dan adu tembak tidak bisa dielakkan. Arsy sudah kelelahan begitu juga dengan yang lainnya, ditambah lagi Xander sempat terkena luka tembak di bagian bahu belakang sementara Arsy mengalami luka di bagian pelipis nya. Juan tidak mengalami luka yang serius karena pada dasarnya pemuda itu memang jago dalam hal seperti ini.


Anak buah Juan kembali mengambil alih kemudi karena Arsy harus mengurus Xander yang terluka. Gadis itu mengambil beberapa obat-obatan yang ada di mobil Juan dan mulai mengeluarkan peluru yang bersarang.


“Ini bakalan sakit, jadi lu tahan.”


Xander menggigit tangan Juan sebagai pelampiasan rasa sakit saat Arsy menekan lukanya dan mengambil peluru. Setelah selesai gadis itu segera menutup luka Xander dengan kasa untuk menghentikan pendarahan.


***


Arsy bersama yang lain sampai di tujuan dan bertemu dengan Axelle yang sejak tadi sudah menunggu.


“Kalian kenapa?” tanya Axelle saat melihat Arsy bersama lainnya dalam keadaan yang tidak bisa dibilang baik.


“Nanti gue ceritain. Sekarang kita masuk,” ucap Arsy sembari berjalan masuk ke dalam ruangan yang ada di depannya.

__ADS_1


Margareth cukup terkejut karena anaknya ada di sana bersama dengan saudaranya yang lain.


“Kenapa kalian bisa sampai di tempat ini?” tanya Margareth.


“Mama berhutang penjelasan padaku.”


“Wah, kalian datang juga.” Seorang pria tua dengan perut buncit menghampiri Arsy dan yang lainnya. Pria tua itu bahkan tidak malu untuk mencolek dagu Arsy sebagai bentuk sapaan.


“Jauhkan tangan lu dari dia!” peringat Juan yang hanya dianggap angin lalu oleh pria tua itu. “Brengsek!” Juan ingin memukul pria tua itu namun seseorang menghentikan tangannya.


“Lama nggak ketemu, Tuan Samuel yang terhormat.”


“Oh, mengejutkan sekali kau masih mengenalku setelah semuanya.”


“Bagaimana aku bisa lupa dengan pria tua bodoh yang tidak bisa mendidik anak perempuannya dengan benar, dan menyebabkan anak perempuannya harus bunuh diri karena kebusukannya yang terbongkar.” Samuel mencengkeram pundak Arsy dengan sangat kuat. Pria tua itu tau kalau pundak Arsy terluka makanya pria tua itu mencengkeram pundak Arsy. Sementara Arsy mencoba sekuat tenaga menahan sakit yang mulai mengambil alih. “Aku dengar saat itu dia sedang hamil muda. Apa benar?”


“Sebaiknya kita duduk dulu, tidak enak sama petinggi yang lain kalau kita bahas masa lalu di sini. Lagi pula sebentar lagi ketua juga akan datang,” ucap Samuel yang membuat Arsy bersama yang lainnya terdiam.


“Kakek datang? Memangnya apa yang akan kalian bicarakan sampai kakek harus datang?” tanya Arsy.


“Hari ini kami akan membicarakan soal anggota khusus negara yang masuk ke pulau ini beberapa hari yang lalu,” ucap salah satu petinggi yang ada di sana.


“Bukannya itu hal biasa? Kita biasa melihat polisi dan yang lainnya di tempat ini. Kenapa kalian tiba-tiba mempermasalahkan kedatangan anggota khusus negara?” tanya Juan. Pemuda itu sudah cukup lelah karena dari tadi harus diam dan mendengarkan. “Karena mereka datang dengan tujuan menggeledah pulau ini,” ucap seorang kakek tua yang baru saja tiba.


“Kakek!” seru Arsy. Gadis itu langsung membungkukkan badan kepada pria tua yang duduk di atas kursi roda.


“Apa kabar Arsy?” tanya papa Juan yang baru saja datang bersama dengan ketua mereka. Arsy hanya menjawab dengan anggukan. Gadis itu masih cukup kecewa pada Nathan karena menyembunyikan keberadaan Juan membuat dirinya hampir gila karena mencari pemuda yang sampai saat ini masih setia mengisi hatinya.


“Apa yang terjadi pada kalian semua?” tanya laki-laki tua yang dipanggil ketua oleh semua petinggi.


“Ceritanya panjang, Kek.” Pria tua itu mengangguk dan meminta Arsy bersama yang lainnya untuk duduk.

__ADS_1


__ADS_2