Mask

Mask
Bagian 20


__ADS_3

Sudah seminggu sejak pengumuman pertunangan Adelia dengan Axelle, gadis itu selalu menempel pada Axelle dengan dalih bayi dalam kandungannya tidak ingin jauh dari ayahnya dan hal itu cukup membuat Axelle dan beberapa sahabatnya muak.


“Xelle, gue pengen ice cream,” pinta Adelia sembari memeluk tangan Axelle seperti anak kecil. Namun, bukannya terlihat menggemaskan, Adelia malah terlihat bodoh saat melakukannya.


“Lu bisa beli sendiri. Dan lagi, hilangin kebiasaan lu kayak begitu, jijik gue.” Sadis dan tidak berperikemanusiaan, itulah sikap yang selalu ditunjukkan Axelle pada Adelia, pemuda itu bahkan tidak peduli jika Adelia akan sakit hati dan menangis seperti anak kecil.


“Tapi Xelle yang mau anak kita,” rengek Adelia.


“Lu bisa nggak, nggak usah banggain anak hasil gotong royong lu itu? Sumpah, jijik gue. Apalagi tingkah lu, inget lu tu nggak menggemaskan sama sekali, tapi malah seperti orang bodoh dan idiot yang minta diperhatikan.” Nicolas yang sejak tadi mendengar rengekan Adelia merasa jijik dan mengutarakan semua yang ada di kepalanya, membuat Adelia terdiam. Sementara Axelle dan yang lainnya nampak senang dengan apa yang dikatakan sahabat baiknya yang terkenal memiliki mulut super pedas, bahkan lebih pedas dari sindiran tetangga yang iri dengan kehidupan kita.


“Axelle, Li....”


“Sekali lagi gue lihat lu bersikap manja menjijikkan kayak sekarang di depan mata gue, gue pastikan gue bakalan gugurin anak lu dengan paksa di tengah lapangan sekolah!” ancam Nicolas yang membuat Adelia terdiam sembari memegangi perutnya yang masih rata.


“Lu nggak bakalan berani. Nyonya dan Tuan Adhitama bakalan belain gue kalau terjadi apa-apa sama gue,” ucap Adelia dengan percaya diri, membuat Axelle mengeraskan rahangnya dengan tangan yang terkepal sempurna.


“Pergi dari hadapan gue, atau gue yang bakalan turun tangan gugurin anak sialan itu sekarang juga!”


Melihat tatapan mata Axelle yang menajam, Adelia memilih pergi dari hadapan calon suaminya dan para sahabatnya. Gadis itu ketakutan melihat Axelle yang seperti saat ini, dan lari dari hadapan Axelle menjadi pilihan terbaik untuk saat ini.


“Akhirnya itu nenek sihir pergi juga. Gue udah enek banget lihat muka dia,” gerutu Nicolas yang dibalas anggukan oleh yang lainnya. Selain tidak berperasaan dalam menghukum seseorang, Nicolas juga terkenal sadis dalam setiap ucapan tidak peduli wanita atau pria. Pemuda itu akan mengatakan apa pun yang ada di dalam otaknya tanpa mempedulikan korbannya yang sakit hati dengan kalimat sadis yang sering ia ucapkan.


“Xelle, lu nyadar atau nggak kalau udah seminggu si cupu itu selalu sendirian?” tanya Gavin sambil menunjuk ke arah Clarissa yang tengah berjalan seorang diri sembari terus menatap ponselnya di koridor sekolah. Raut wajah gadis itu terlihat pucat, dan terdengar umpatan dari bibir mungil gadis itu.


“Elu bener. Apa mungkin si cupu yang satunya mati?” tanya Nicolas yang membuat Devan menatapnya tajam.


“Bisa aja mereka lagi berantem. Mulut lu kalau ngomong bisa disaring nggak!” ucap Devan yang membuat Nicolas memandang dirinya aneh.

__ADS_1


“Gue cuma nanya. Kenapa reaksi lu berlebihan gitu?”


Devan memilih diam dan tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Nicolas. Sejujurnya baik Clarissa dan dirinya tengah bingung karena sejak keberangkatan Arsy, gadis itu tidak bisa di hubungi. Selain itu berita tentang pesawat yang jatuh tepat di hari keberangkatan Arsy membuat mereka dilanda rasa takut, khawatir dan sedih secara bersamaan. Mereka sudah cukup pusing mencari informasi tentang Arsy yang belum juga mereka dapatkan, tapi Nicolas malah mengatakan hal yang menjengkelkan seperti tadi.


“Heh cupu!” teriak Axelle yang membuat Clarissa menoleh. “Sini lu!” perintah Axelle yang membuat Clarissa berjalan ke arahnya.


“Ada apa?” tanya Clarissa tanpa menatap mata Axelle. Tatapan mata pemuda itu sangat tajam, dan mampu membuat setiap orang jatuh hati hanya dengan tatapan matanya.


“Di mana sahabat lu?” tanya Axelle lagi.


“Aileen sudah satu minggu ini pergi ke LA untuk suatu urusan, jadi dia nggak bisa sekolah untuk beberapa waktu.” Clarissa menjawab pertanyaan Axelle, namun pandangan mata gadis itu tetap tertuju pada layar ponsel yang tetap berwarna hitam sejak beberapa saat yang lalu.


“Seminggu?” tanya Nicolas yang diangguki oleh Clarissa. “Bukannya seminggu yang lalu pesawat yang menuju LA hilang? Berita itu sudah dikonfirmasi sama pihak bandara.”


“Apa!!”


“Apa itu benar, Dev?” tanya Axelle.


“Nggak, berita itu nggak benar.” Air mata mengalir deras membasahi pipi Clarissa.


“Tapi pesawatnya hilang, dan semua penumpang dinyatakan meninggal. Lu jangan gila!” bentak Nicolas yang membuat air mata Clarissa jatuh semakin deras.


“Nggak! Pesawatnya hanya hilang, tapi Aileen pasti selamat. Dia nggak bakalan ninggalin gue!” bentak Clarissa. Gadis itu berlari menjauh setelah mendorong tubuh kelar Nicolas hingga terjatuh.


“Bagi Clarissa, Aileen segalanya dan begitu juga sebaliknya. Itu alasan gue nggak pernah ungkit masalah ini sama kalian,” ucap Devan sebelum berlalu pergi meninggalkan sahabatnya yang tengah memandangnya aneh.


***

__ADS_1


“Lu di mana, Sy.” Catty duduk di ranjang sahabatnya sembari terus memanggil nama gadis yang sangat ia rindukan. Sejak ia mendapatkan kabar jika pesawat yang Arsy naiki hilang dan semua penumpang dinyatakan meninggal, Catty selalu tidur di kamar Arsy. Berharap gadis itu akan datang dan membangunkan dirinya dari mimpi yang begitu menyesakkan dada.


“Makan dulu, Catt.” Devan masuk ke dalam kamar Arsy. “Arsy bakalan marah banget kalau lu kayak gini terus, Catt. Nggak bakalan ada perubahan kalau lu cuma duduk dalam kamar sambil terus menangis memanggil nama Arsy,” tutur Devan yang sudah tidak tahan melihat kesedihan Catty.


“Gue harus apa, Dev? Kasih tau gue, apa yang harus gue lakuin biar Arsy balik lagi sama gue. Gue nyesel udah kasih izin dia buat pergi sendiri,” racau Catty dengan air mata yang kembali mengalir membasahi pipinya.


Devan hanya diam. Kalau boleh jujur pemuda itu juga sangat terpukul dengan kabar yang ia terima, tapi ia juga tidak ingin Catty semakin sedih kalau melihat dirinya yang ikutan terpuruk dengan kabar hilangnya Arsy.


Devan memilih memeluk tubuh kurus Catty yang sudah satu minggu ini tidak menyentuh makanan yang ia siapkan.


“Lu makan dulu ya. Nanti kita coba cari cara lain buat nyari Arsy, gimana? Yang penting sekarang lu makan dulu biar ada tenaga.”


Catty mengangguk dan itu cukup membuat Devan senang. Pemuda itu menggandeng tangan Catty dan membawa gadis itu ke ruang makan untuk makan bersama.


Catty makan dengan lahap. “Makanannya enak Dev, thanks ya.”


“Emang kapan masakan gue nggak enak? Elu sama Arsy selalu rebutan masakan gue.” Devan menutup mulutnya saat menyadari dirinya salah bicara hingga membuat Catty kembali terdiam.


“Arsy bakalan balik kan, Dev?”


“Nggak ada yang bisa menghentikan Arsy dari apa yang sudah ia inginkan. Gue sangat yakin dia bakalan baik-baik aja dan bakalan balik ke rumah. Kalau dia nggak mau balik, kita susulin dia trus seret dia pulang. Setuju?”


“Gue setuju.”


“Soal Mama kalian. Apa lu nggak ada rencana ngasih tau dia soal ini? Mungkin kalau mereka mau bantu nyari bakalan lebih mudah buat kita nyari Arsy.”


“Emang Arsy di mana?”

__ADS_1


Catty dan Devan terkejut saat melihat seseorang datang dan langsung menanyakan keberadaan Arsy.


__ADS_2