Mask

Mask
Bagian 12


__ADS_3

Aileen tengah mencuci wajahnya di dalam toilet sekolah. Mata gadis itu menghitam dan terlihat sayup, gadis cantik bertompel itu bahkan terus menguap sejak datang ke sekolah membuatnya terlihat seperti mayat hidup.


“Sial, gue ngantuk banget.”


Terdengar sayup-sayup suara beberapa orang di luar kamar mandi, tapi Aileen tidak peduli karena yang ia inginkan saat ini hanya tidur di kasurnya yang empuk bersama bantal guling kesayangannya.


“Gue kira semua bakalan mudah, nggak taunya.”


“Lu tau nggak siapa yang mukul lu di cafe?” tanya Rika yang hanya dibalas gelengan oleh Adelia.


Gadis cantik bermake-up tebal itu nampak kesal karena ia gagal membuat Axelle bertanggung jawab atas kehamilannya. Kalau saja orang bodoh itu tidak membuatnya pingsan hari itu, maka bisa dipastikan Axelle sudah berada dalam genggamannya saat ini.


“Awas aja kalau sampai gue tau siapa yang mukul gue. Pasti bakalan gue bales!” Adelia memukul telapak tangannya sendiri sebagai tanda kalau ia benar-benar marah.


Aileen ingin tertawa mendengar ocehan Adelia, namun ia harus tetap diam mengingat saat ini ia adalah Aileen. Murid pindahan yang cupu, pendiem dan sering jadi bahan bully-an. “Heh, cupu! Ngapain lu di sini?” tanya Adelia saat melihat Aileen berada di dalam toilet sekolah.


“Oh Tuhan, cobaan macam apalagi ini? Pengen tenang bentaran aja susah banget.” Aileen terus menggerutu di dalam hati. “Aku... aku sedang cuci muka,” jawab Aileen sembari menundukkan kepala.


“Berani ngejawab lu ya sekarang!”


Adelia menendang perut Aileen. Membuat gadis cantik itu tersungkur sambil terbatuk.


“Nenek sihir sialan. Kan lu nanya tadi, makanya gue jawab.”


Aileen kembali menguap. Gadis itu menggelengkan kepala untuk mengurangi rasa kantuk yang tengah melanda dirinya.


“Kenapa lu nguap?”


“Lu tu bodoh beneran apa pura-pura bodoh? Di mana-mana orang nguap karena capek, ngantuk. Masih ditanyain kenapa nguap? Bego emang. Keknya ni cewek satu beneran bego deh.” Rasa kantuk Aileen benar-benar tidak bisa ditoleransi lagi. Ia butuh kasur dan teman-temannya saat ini.


“Kalau ditanya tu jawab, bego!”


“Aku nguap karena ngantuk. Anu ... itu ... ee... kalau boleh bully-nya besok aja gimana? Aku ngantuk banget butuh kasur.” Aileen mencoba menawar. Kita tidak akan tau jika tidak mencoba, jadi dia melakukan penawaran tersebut. Kan kalau sampai dikabulin sama Adelia dia jadi bisa tidur nyenyak.


“Bisa-bisanya lu nguap padahal lagi dibully.” Adelia menjambak rambut Aileen. Membuat gadis itu mendongakkan kepala sehingga tatapan mata keduanya saling bertemu.


“Hajar dia!” perintah Adelia setelah ia menghempaskan kepala Aileen ke lantai kamar mandi yang dingin.


Pukulan, jambakan dan tendangan ia terima dengan baik. Meski hasrat buat melawan Adelia dan teman-temannya sangat besar, tapi hasrat gadis itu untuk tidur jauh lebih besar.


***


Arsy kembali ke rumah. Ia hanya mengikuti setengah pelajaran karena keadaannya yang membuatnya harus pulang cepat.


“Di-bully lagi?”

__ADS_1


Arsy terkejut saat mendengar suara seseorang. Seingat dia hanya tinggal berdua dengan Catty, sementara saat ini Catty sedang ada di sekolah. Jadi, siapa yang bicara?


“Gue nanya, Arsy.”


Arsy menoleh. Gadis itu melihat seonggok manusia tidak memakai atasan tengah selonjoran di sofa panjang yang ada di dalam rumahnya.


“Sialan.” Arsy melempar tas yang ia pakai ke arah Devan. Gadis itu pikir rumahnya kemasukan maling atau sebagainya, nggak taunya cuma seonggok manusia tidak berguna yang sayangnya tampan. Ya, meski tidak setampan Axelle tapi Devan masih masuk kategori cowok tampan edisi majalah nenek-nenek tahun 2022.


“Dari lukanya, gue yakin ini luka dari Adelia dan teman-temannya.” Devan membolak-balik wajah Arsy yang penuh luka lebam. “Gadis bodoh itu. Lihatlah! Wajahmu jadi makin jelek kalau terus di-bully.”


“Lu kalau nggak ada kepentingan mending balik. Gue mau tidur!” Arsy ingin masuk ke dalam kamarnya, tapi tangannya lebih dulu digenggaman oleh Devan. “Ada apa?”


“Gue lagi butuh temen. Temenin gue bentaran?”


“Dih, ogah. Main sama lu tu ngabisin tenaga gue doang, nggak berfaedah. Mending gue tidur!” Arsy menghempas tangan Devan dan berjalan menuju kamarnya. Gadis itu butuh tidur.


“Jadi gue boleh main sama Catty?”


“Jangan harap lu bisa nyentuh sahabat gue.”


“Kalau gitu kita main berdua aja, di kamar lu juga gpp.”


Tawar menawar terjadi antara Devan dan Arsy berjalan alot karena keduanya kekeh dengan keinginan masing-masing. Arsy dengan keinginannya untuk tidur nyenyak, sementara Devan dengan keinginan untuk main bersama Arsy.


“Di luar aja, kamar gue baru diberesin.”


“Enak aja. Emang lu nggak malu dilihat orang? Buruan lepas baju lu!”


Arsy melepas seragamnya hingga hanya tersisa kaos pendek dan celana hot pants yang menutupi tubuh indahnya.


“Tubuh lu indah, tapi sayang banyak lebam.” Devan memuji tubuh terawat Arsy, namun bukannya senyuman yang pemuda itu dapatkan tapi sebuah pukulan telak yang langsung mengenai wajah pemuda tampan yang menjadi salah satu anggota dead dragon.


“Jangan lupa kalau gue salah satu pembunuh bayaran yang ditakuti banyak orang. Jadi perhatikan fokus lu kalau lu nggak mau mati sia-sia,” peringat Arsy sambil memberikan smirk andalannya.


“Sialan, padahal fisiknya sedang terluka dan dia juga kelelahan tapi pukulannya masih terasa sangat sakit. Gadis ini benar-benar berbahaya,” batin Devan.


“Lumayan juga. Tapi jangan lupa kalau gue bagian dari dead dragon yang sudah terbiasa hidup dalam pertarungan,” ucap Devan yang hanya dibalas dengan senyum merendahkan oleh Arsy.


“Nggak usah banyak bacot. Maju lu, biar gue bisa cepet tidur.”


Devan maju lebih dulu. Pemuda itu mengarahkan tangan kanannya pada wajah Arsy, namun berhasil ditangkis dengan mudah.


“Lu bodoh kalau lu berniat menyerang langsung tanpa rencana,” ejek Arsy yang dibalas senyuman oleh Devan.


“Siapa bilang gue nggak punya rencana?” Devan menggerakkan tangan kirinya seolah ingin memukul dan hal itu membuat fokus Arsy terpecah. Di tengah fokus Arsy yang mulai terpecah, Devan menggerakkan kaki kanannya dan menendang gadis itu tepat mengenai lengan kiri Arsy, membuat gadis itu mundur beberapa langkah.

__ADS_1


“Gimana rasanya?”


“Lumayan. Gue kira dead dragon cuma berani sama orang lemah, dan bersembunyi di balik kekuasaan orang tua.”


“Tarik kata-kata lu, Sy!” peringatan Devan.


“Nggak mau, dan nggak akan pernah gue tarik omongan gue.”


“Jangan bilang gue belum peringati elu, Sy.”


***


Catty masuk ke dalam rumah. Gadis itu langsung berlari menuju kamar sangat sahabat, mengingat saat di sekolah gadis itu babak belur setelah dihajar Adelia dan teman-temannya.


“Kenapa dikunci?”


Catty mengambil kunci cadangan dan membuka pintu kamar sahabatnya. Matanya membola sempurna saat melihat kamar yang baru ia bersihkan tadi pagi kini sudah hancur seperti kapal yang baru saja meledak. Di lantai terdapat dua manusia berbeda jenis yang tengah tertidur dengan tangan berbalut sarung tangan, dan wajah keduanya sudah babak belur parah.


“KALIAN!!!”


“Cat lu berisik sumpah! Mending lu keluar!”


Gigi gadis itu bergemeletuk saat mendengar ucapan Devan. Rumah itu milik Catty dan Arsy, jadi yang harusnya diusir itu Devan bukannya Catty.


“Bener kata si Devan. Mending lu pergi deh, kita mau tidur lagi.”


“Kalian ngusir gue?”


“Hooh, tapi cuma bentaran doang.”


Catty keluar dari kamar Arsy. Membuat dua insan yang babak belur itu terlelap dalam sesaat. Namun, belum sempat mereka sampai ke dunia mimpi keduanya harus rela bangun saat Catty dengan tidak berperiketemanan mengguyur mereka dengan air dingin.


“Cat, kita tu capek.”


“Lu kira gue nggak capek. Gue tu cepet-cepet pulang karena gue khawatir sama elu, nggak taunya lu malah tanding sama ini kutu buku nggak punya otak kayak si Devan.”


“Cat, gue dari tadi diem sama tidur. Kenapa masih lu amuk juga,” gerutu Devan saat mendengar Catty menyalahkan dirinya.


“Kalau bukan karena elu yang mulai, mana mungkin gadis berotak udang ini mau repot-repot buang tenaga. Hah!”


“Kan semua salah Devan.” Arsy mencoba membela diri, namun sayangnya ia malah kena amukan juga.


Arsy dan Devan terdiam. Keduanya mengakui kalau mereka salah karena sudah menghancurkan kamar Arsy dan membuat Catty mengamuk.


“Bersihkan sendiri, jangan harap ada makanan untuk kalian berdua!”

__ADS_1


__ADS_2