
“Apa aku benar-benar tidak boleh membunuhnya?” tanya Arsy sambil memukul samsak yang ada di depannya. Di saat seperti ini ia sangat ingin bertemu dengan temannya yang lain, menghabiskan waktu bersama dan melupakan semua kekesalan yang terjadi selama seharian ini.
“Kalau lu langsung bunuh dia, nggak bakalan seru. Lagipula lu bisa sedikit bermain sama mereka, bagaimana?” tawar Catty yang membuat senyum Arsy terkembang. Sepertinya gadis itu punya rencana yang bagus untuk mengembalikan moodnya.
Arsy ingin merebahkan tubuh lelahnya, namun semua itu harus ia urungkan saat ponselnya berbunyi.
“Hallo.” Arsy berjalan menjauh saat mendengar suara serak seseorang diseberang sana. “Ada apa?” tanya Arsy pelan. Tamu jika Catty akan curiga dan bertanya siapa yang tengah menghubungi dirinya.
“Gue butuh lu.”
Di dengar dari suara orang itu, sepertinya ia tengah berada dalam keadaan yang tidak baik. Tapi Arsy sedang malas keluar dan dia nggak mungkin bisa keluar seenaknya tanpa terlihat mencurigakan oleh sang sahabat.
“Lu bisa panggil yang lain. Gua lagi males,” ucap Arsy. Gadis itu sedang dalam mood yang baik, kalau ia harus bertemu dengan orang itu mungkin ia akan lepas kendali dan membunuh orang tersebut.
“Lu ke sini atau gue bongkar semuanya!” ancam orang itu.
“Ok, fine. Lu dapet gue malam ini.”
Dapat dipastikan orang itu saat ini tengah tersenyum senang karena bisa mendapatkan Arsy seenaknya. Salah dia juga karena berurusan dengan laki-laki sialan yang selalu memintanya untuk bertemu di saat yang tidak tepat.
Arsy sampai di apartemen teman laki-laki nya yang berjarak cukup jauh dari tempatnya.
“Brengsek. Lihat saja apa yang bakalan gue lakuin kalau sampai dia buka mulut.”
Begitu turun dari mobil, gadis itu langsung berjalan ke kamar nomor 203.
***
“Bagaimana kalau malam ini kita ke arena balap?” tawar Gavin setelah melepas jaket yang ia pakai.
Axelle menoleh. Membuang asal ponsel miliknya yang tengah menampilkan dua insan berbeda gender tanpa busana tengah melakukan olah raga.
“Gue nggak bisa. Malam ini gue harus pulang,” ucap Axelle. Rahang tegas dan juga beberapa ototnya terlihat menggoda saat pemuda itu tidak menggunakan pakaian. Setiap wanita pasti akan mengatakan hamil anak Axelle jika melihat pemandangan seperti ini.
“Apa seorang Axelle sudah memutuskan untuk jadi anak rumahan?” tanya Devan yang baru saja keluar dari kamar mandi. Meski terlihat lebih pendiam dari yang lain, nyatanya pemuda itu tidak kalah brengsek dari yang lainnya.
Bibir kiss-able serta senyum secerah matahari yang membuat siapapun akan berpikir dia laki-laki baik. Tidak akan ada yang menyangka jika pemuda yang selelu membawa buku ke mana-mana itu seorang pecandu **** bebas.
__ADS_1
“Cih.” Axelle berdecih. “Malam ini pak tua itu akan menikah dan dia mau gue dateng sebagai bukti kalau gue merestui pernikahan mereka. Dia mengancam bakalan nyakitin nyokap lebih parah lagi kalau gue nggak dateng.”
Devan tersenyum. Mengerti dengan keadaan sahabat sekaligus ketuanya.
Jika dilihat lebih jauh lagi Devan terlihat sangat tampan saat tersenyum, tapi entah kenapa ia lebih suka menujukan muka datarnya yang membuat orang lain enggan untuk mengajaknya berbicara.
“Sebenarnya gue ngajak elu karena taruhannya cukup gede, dan lawan lu seorang cewek.”
“Cewek? Lu gila nyuruh gue balapan lawan cewek,” bentak Axelle.
“Dia bukan cewek biasa. Sampai saat ini belum ada satu pembalap cowok yang bisa mengalahkan keahliannya,” terang Gavin.
“Mungkin karena mereka melawan cewek, jadi mereka sedikit menahan diri.”
“Awalnya gue juga mikir begitu. Tapi beberapa hari yang lalu gue pergi ke arena balap itu bareng sama Fadhil, dan yang gue lihat pasti bakalan bikin kalian semua tercengang.”
Axelle mulai tertarik dengan pembicaraan Gavin soal gadis yang selalu menang dalam balapan. Sejujurnya ia penasaran, tapi ia tidak akan mungkin membiarkan ayah gilanya menyakiti ibunya lebih dalam lagi.
Fadhil memberikan ponselnya pada Axelle. Mereka semua tercengang dengan apa yang mereka lihat. Gadis itu terlihat begitu lihai mengendarai mobil, bahkan dibelokan tajam yang sering memakan korban, gadis itu tidak mengurangi kecepatan mobilnya. Benar-benar gadis yang luar biasa.
Tok tok tok
“Permisi. Layanan kamar."
Axelle membuka pintu dan terkejut saat melihat siapa yang ada di balik pintu tersebut.
“Waw, lihat ini!”
Gadis itu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Axelle Adhitama teman satu sekolahnya tengah berdiri menatap dirinya dengan tatapan yang tidak bisa ia artikan.
“Anu.. aku.. aku sedang mengantar layanan kamar.”
“Benarkah? Kalau begitu silahkan masuk.” Fadhil mempersilahkan Aileen masuk ke dalam kamar Devan.
Aileen masuk. Jantungnya berdegup kencang. Tidak pernah menyangka jika ia akan melihat kawanan singa lapar di dalam hotel mewah.
“Apa kau baru di sini? Aku baru melihatmu.”
__ADS_1
Axelle sedaritadi diam. Biasanya pemuda itu akan langsung membully Aileen, tapi sepertinya pemuda itu sedang dalam mood yang baik jadi dia membiarkan Aileen bekerja dengan tenang.
“Iya, hari ini aku baru mulai kerja. Tolong jangan bully aku di tempat kerja,” mohon Aileen.
“Jadi kalau di sekolah tidak masalah?” tanya Axelle sambil berjalan mendekat ke arah Aileen yang tengah membawa beberapa botol wine.
“Iya.. kalau bisa jangan juga. Aku janji akan bersikap baik,” ucap Aileen sambil memberikan jari kelingkingnya sebagai tanda janji yang ia buat dengan Axelle.
“Gue menolak.”
Aileen menghembuskan napas kasar. Sepertinya hidupnya tidak akan pernah baik-baik saja selama ia masih berada di kandang singa yang kelaparan.
“Ngomong-ngomong, gue kira lu anak orang miskin. Ternyata gue salah,” ucap Axelle yang membuat Aileen serta teman-temannya bingung.
Axelle menunjuk ke arah sepatu yang dipakai Aileen. Sepatu berwarna hitam yang dipakai Aileen. “Gue baru tau kalau boleh kerja pakai sepatu kayak gitu."
“Sebenarnya tadi aku ke sini pakai sepatu sekolah, trus ada seorang wanita cantik berambut panjang yang ngasih sepatu ini buat aku.”
“Di mana wanita itu?”
“Tadi aku lihat dia ceck out bareng sama temennya.”
“Kenapa, Dev?”
“Coba kalian cocokin sepatu itu sama sepatu pembalap cewek yang tadi kita lihat,” ucap Devan sambil menunjuk ke arah sepatu Aileen.
“Lu bener, Dev. Mirip banget. Ada kemungkinan kalau cewek yang ngasih sepatu ini adalah pembalap itu,” ucap Fadhil.
“Atau kemungkinan ke dua. Dia adalah pembalap itu,” ucap Nicolas sambil menunjuk ke arah Aileen, yang diikuti oleh yang lainnya.
“Jangan bercanda. Motor saja aku tidak mampu beli, apalagi sepatu semahal ini. Dan balapan? Balapan apa yang kalian maksud?”
“Sudahlah. Tidak mungkin gadis sejelek dia tau dunia malam. Tapi, karena dia sudah di sini bagaimana kalau kita ajak dia bersenang-senang?” tawar Devan yang langsung diangguki oleh yang lain.
“Kalian mau ngapain?” tanya Aileen.
“Sedikit bersenang-senang.”
__ADS_1