
Arsy bersama dengan Juan masuk ke dalam area sekolah lebih pagi dari biasanya. Keduanya terdiam di salah satu sudut sekolah saat melihat seseorang tengah melakukan sesuatu yang sepertinya cukup menarik.
“Apa lu yakin dia orangnya?” tanya Juan yang dibalas gelengan oleh Arsy.
Kedua anak manusia itu berencana berangkat pagi agar bisa memergoki seseorang yang Xean suruh untuk mengerjai Arsy.
“Kalau lu nggak tau ngapain sembunyi, bodoh!” seru Juan. Pemuda itu berjalan santai menghampiri laki-laki bermasker yang tengah sibuk mengutak-atik sesuatu. “Bang, lagi ngapain?” tanya Juan santai.
“Eh, lu siapa?” tanya pemuda itu dengan tergagap. Padahal ia sudah sengaja berangkat lebih pagi dari biasanya untuk menyelesaikan tugasnya kali ini, tapi sialnya masih ada yang melihat.
“Tenang, Bang. Gue masih human untuk saat ini, tapi nggak tau kalau beberapa menit kedepan.”
Juan duduk di samping pemuda yang saat ini tengah memegang sebilah pisau yang cukup berbahaya.
“Si bodoh ngapain coba malah ngobrol,” gerutu Arsy.
“Lu ngapain ke sekolah jam segini?”
Mendengar pertanyaan yang diajukan orang itu Juan segera membenarkan kancing bajunya dan juga menata rambutnya yang sedikit berantakan. Arsy yang melihat hanya bisa mengumpat, gadis itu bahkan menyumpahi Juan agar mati mengenaskan suatu saat nanti.
Arsy membuka dua kancing bajunya dan mengusap rambut panjangnya agar terlihat berantakan kemudian menghampiri Juan yang tengah menatapnya dengan tatapan lapar.
“Sayang kenapa aku ditinggal,” rengek Arsy sembari menghampiri Juan yang tengah duduk bersama pemuda tadi. Tidak hanya itu, Arsy bahkan memeluk tubuh Juan dan bergelayut manja.
“Kalian habis ngapain?” tanya pemuda bermasker.
“Eh, ada orang. Maaf, Bang tadi nggak lihat kalau ada orang lain.”
“Biasa, Bang.” Juan menjawab dengan sekenanya, karena demi baju Jimin yang tidak pernah berguna saat konser, saat ini jantungnya ingin meledak. Ia tidak pernah menyangka jika Arsy yang selama ini kaku dan cukup kasar bisa berakting manja dan juga seksi. “Maaf ya, Sayang. Tadi aku buru-buru cabut soalnya ada orang, takut kalau orang itu ngintip aset berharga kita.”
Arsy mengepalkan tangannya. Gadis itu tidak menyangka Juan bisa berkata demikian, membuat pria bermasker itu memandangnya aneh.
Arsy memeluk Juan dan membisikkan kalimat yang mampu membuat pemuda itu terdiam di tempatnya. “Jangan salahin gue kalau elu nggak bisa lihat matahari terbenam sore ini.”
“Oiya, Bang. Abang ngapain di sini?” tanya Juan pada pemuda bermasker yang masih sibuk dengan kegiatannya. Pemuda itu memilih untuk mengalihkan perhatiannya pada pemuda bermasker itu, dari pada harus menatap Arsy yang tengah menatap dirinya seolah ingin menguliti dirinya hidup-hidup.
__ADS_1
“Gue lagi ada kerjaan.” Pemuda itu memilih untuk fokus dengan pekerjaan, tidak menghiraukan dua anak muda yang sepertinya habis bersenang-senang dengan cara yang salah.
“Bang, itu apa sih?” tanya Juan lagi.
“Ini proyektor yang bakalan nampilin video atau gambar,” jelas pemuda itu tanpa mengalihkan pandangannya dari kotak persegi yang tidak terlalu besar.
“Yang bakalan ditampilin apa, Bang?”
“Video Arsy, Juan dan juga Xander yang lagi threesome. Ngomong-ngomong kalian kenal sama tiga nama yang gue sebut tidak?” tanya pemuda itu sembari menatap Juan dan Arsy bersamaan.
Tangan gadis itu sudah siap menghantam pemuda bermasker itu, namun Juan lebih dulu menghentikannya. Pemuda itu menggelengkan kepalanya sebagai isyarat pada Arsy agar gadis itu bisa menahan lebih sedikit lagi amarahnya supaya mereka bisa tau dalang dari semuanya.
“Kenal, Bang. Kemarin sekolah rame gara-gara ada yang ngirim foto mama Arsy sama papa Juan lagi gandengan tangan. Trus ada juga cewek yang ngasih foto-foto Arsy sama sahabat Juan lagi ciuman sambil telanjang. Tapi gue nggak tau namanya siapa,” sesal Juan.
“Namanya Xean. Dia yang nyuruh gue buat ngelakuin ini semua, dan yang waktu itu juga.”
Arsy berjalan dengan penuh amarah menuju kelas Xean. Gadis itu langsung menjambak dan menyeret gadis cantik itu di depan para teman-temannya tanpa rasa kasihan. Amarahnya sudah memuncak dan ia sudah tidak bisa lagi menahan semuanya.
Guru-guru dan murid yang mencoba untuk menghentikannya hanya berakhir diam saat Arsy menatap mereka dengan tatapan membunuh.
Xander yang baru datang melihat kejadian itu langsung menghampiri Arsy dan meminta gadis itu untuk melepaskan Xean.
“Sy, lepasin Xean.”
Arsy langsung melempar Xean hingga gadis itu terbentur pot bunga yang cukup besar, dan mengakibatkan dahinya berdarah.
“Masalah lu apa sama gue, Bangsat!” teriak Xean. Gadis itu tidak terima karena Arsy sudah mempermalukan dirinya di depan teman-temannya dan juga para guru.
“Harusnya gue yang nanya begitu. Apa lu sebegitu merasa tersaingi sampai elu bayar orang buat ngelakuin hal menjijikkan kayak begitu,” ucap Arsy. Amarah yang sudah membumbung tinggi coba ia redam dengan sekuat tenaga. Gadis itu tidak ingin melepas kendali dan menghajar semua yang ada di sana. “Elu nggak terima kalau Juan ngejar gue, kan. Makanya elu ngelakuin semua itu?”
“Elu ngomong apaan sih,” sanggah Xean. Gadis itu langsung berlari ke arah Juan saat melihat pemuda itu masuk ke area sekolah. “Juan, Arsy mukulin gue.”
Juan langsung menghampiri Arsy yang tengah mencoba mengatur emosinya. “Udah puas?” tanya Juan yang dijawab gelengan oleh Arsy. “Kalau gitu lanjutin. Gue nonton sebelah sana,” ucap Juan sembari menunjuk sebuah kursi yang ada di pojok kelas lain.
“Juan, lu....”
__ADS_1
“Tenang, Bro. Tapi sorry sebelumnya, kali ini elu nggak diajak,” ucap Juan pada Xander saat sahabatnya itu mencoba menghentikan perbuatannya dan Arsy. Juan duduk di salah satu kursi dan membuka aplikasi telepon yang langsung menghubungkan dirinya dengan salah satu petinggi di pulau tersebut.
“Halo Juan. Ada apa?”
“Halo Pak Sam, ada yang mau saja tunjukkan pada anda.” Juan membalik kamera ponselnya, dan seseorang yang dipanggil pak Sam begitu terkejut melihat anak semata wayangnya tengah dihajar oleh seorang gadis yang tidak jelas wajahnya.
“APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA ANAKKU!” teriak Samuel yang membuat atensi semua siswa dan guru teralih pada ponsel Juan.
“Papa tolongin Xean,” rintih Xean yang sudah babak belur karena ulah Arsy.
“Juan, siapa gadis yang berani menyakiti anakku?” tanya Sam.
“Aku bisa saja memberitahumu siapa yang memukuli anakmu, tapi aku tidak tau apa kau bisa membalasnya atau tidak.”
“Apa yang kau katakan? Aku bisa membunuh siapapun yang berani menyakiti anakku.” Samuel berucap dengan napas berderu. Anaknya terus berteriak minta tolong, sementara Juan terus mengatakan sesuatu yang tidak ia pahami.
“Maaf Pak Sam, aku memilih untuk tidak memberitahumu siapa dia.”
Juan langsung mematikan ponselnya dan kembali meneruskan acaranya yang tertunda, yaitu menikmati teriakan putus asa Xean, dan jeritan kata ampun yang bahkan tidak lagi berguna untuk saat ini.
“Beberapa menit lagi bokap itu bocah sama anak buahnya bakalan dateng. Lu mau pergi atau ketemu sama mereka?” tanya Juan sembari berjalan menghampiri Arsy yang masih sibuk menyiksa Xean.
“Gue mau....”
Bruk
Arsy tersungkur saat seseorang tiba-tiba menendang bagian belakangnya. Gadis itu dan beberapa orang yang ada di sana menoleh, dan terkejut saat melihat seorang pemuda tampan dengan tubuh tegap tengah berdiri di belakang Arsy.
“Hajar dia, Kal!” teriak Samuel dari arah belakang. Pria tua itu terlihat berlari tergopoh-gopoh menuju sang anak yang hampir meregang nyawa di tangan Arsy.
“Arsy menghindar!” teriak Juan.
“Arsy lu nggak bakalan bisa ngalahin dia,” peringat Xander. Namun bukan Arsy jika mengalah dan membiarkan yang bersalah berbuat seenaknya.
“Apa salah anak majikan ku sampai kau berbuat sejauh ini?” tanya Kal pada Arsy. Awalnya pemuda itu berpikir tidak akan separah ini mengingat mereka yang bermasalah sama-sama masih duduk di bangku sekolah, namun ia salah besar. Dilihat dari luka Xean yang cukup parah, Kal berpikir kalau gadis di depannya ini bukan gadis sembarangan.
__ADS_1