
“Ya, begitulah kira-kira kisah gue selama sekolah di sini. Dan karena kejadian itu juga banyak orang yang kenal dan segan sama gue karena kemampuan gue, bukan karena Mama.”
“Gue nggak nyangka ternyata hidup lu penuh lika-liku selama di sini dulu, tapi gue bangga sama elu. Setelah apa yang terjadi sama hidup lu, lu nggak pernah nyerah dan memilih menyelesaikan semua masalah.”
Arsy dan Catty saling berpelukan. Mencoba memberikan semangat untuk satu sama lain, karena mereka tau bahwa tidak ada kehidupan yang benar-benar indah.
“Trus apa yang terjadi setelahnya?” tanya Catty.
“Hubungan gue sama Juan dan Xander semakin baik. Tiga bulan lima belas hari di jam dua belas lewat sembilan menit Juan nembak gue. Dan seperti yang lu tau, gue terima cinta dia karena menurut gue dia orang yang baik.”
“Ngomong-ngomong soal Juan. Bagaimana ceritanya kalian bisa berpisah? Apa benar semua karena Mama nggak ngasih restu?” tanya Catty yang masih cukup penasaran dengan kisah cinta Juan dan Arsy.
Arsy mengangguk sebagai jawaban. Gadis itu menuturkan jika Juan selalu mencoba mengambil hati Margareth agar ia diizinkan untuk menjaga Arsy selamanya, tapi wanita itu selalu menolak dengan alasan yang tidak bisa dimengerti. “Gue inget banget kalau Juan ngelamar gue itu lebih dari dua puluh lima kali, atau lebih tepatnya dua puluh delapan kali.”
“Dan sebanyak itu juga Mama nolak dia?” tanya Catty.
Arsy hanya tersenyum sebagai jawaban. Gadis itu benar-benar tidak tau apa yang jadi alasan Margareth terus menolak permintaan Juan. Setiap kali ia mencoba untuk bertanya alasan yang mendasari penolakannya, Margareth selalu mengatakan kalau mereka masih cukup kecil untuk mengerti apa yang akan terjadi ke depannya. Memang benar apa yang dikatakan oleh Margareth dan Arsy bisa menerima itu, tapi bukankah setiap manusia harus diberi kesempatan untuk membuktikan ucapannya? Apa salahnya memberi kesempatan Juan untuk menjaga Arsy? Begitu banyak pertanyaan yang terkumpul diotak Arsy, namun tidak ada satupun jawaban yang ia dapatkan dan hal itu cukup membuat kepalanya hampir pecah.
“Kalau Xander? Apa lu juga punya hubungan sama dia?”
Arsy mengangguk. “Hari itu hari ulang tahun gue dan kebetulan hari itu juga bertepatan dengan hari kelulusan Juan dan juga Xander. Siangnya kami makan bersama dan menghabiskan waktu untuk merayakan ulang tahun gue, sekalian pesta kelulusan mereka. Semua berjalan baik awalnya, hingga malam tiba dan kami memutuskan untuk pulang. Mereka nganter gue pulang, dan ya, seperti biasa setiap Juan dan Mama bertemu, Juan bakalan memulai pertarungan dengan mama dengan mengatakan kalau dia mau ngelamar gue dan jadiin gue sepenuhnya milik dia. Biasanya Mama cuma mencibir atau mengatakan sesuatu yang tidak berguna. Begitu juga dengan Juan, biasanya dia bakalan diem dan nganggep semua omongan mama sebagai angin lalu-”
Arsy menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. Entah kenapa tapi mengingat pertengkaran antara Juan dan mamanya malam itu membuat dirinya tidak nyaman.
“- malam itu berbeda. Juan marah besar karena ucapan Mama, dan berakhir mereka ribut besar. Gue nggak tau pasti apa sejatinya yang menjadi pokok pertengkaran mereka, tapi malam itu mama meminta Juan untuk pergi. Sejak malam itu gue nggak pernah lihat Juan lagi, ponselnya nggak bisa dihubungi dan setiap kali gue ke rumahnya, papanya selalu bilang kalau Juan buatuh waktu buat sendiri dan memikirkan semuanya. Gua hancur sehancur-hancurnya, gue melampiaskan semuanya ke pekerjaan gue dan sampai akhirnya Xander mendatangi gue malam itu dan mengatakan kalau dia ingin menggantikan Juan untuk menjaga gue. Sebagai tanda jadi kami hari itu, kami membeli kapal pesiar yang kita naiki.”
“Dan ini kali pertama lu ketemu Juan lagi setelah sekian lama?” tanya Catty.
“Iya. Banyak pertanyaan yang pengen gua ajukan ke dia, tentang ke mana aja dia? Kenapa dia memutuskan buat pergi? Dan banyak lagi. Tapi sayangnya, begitu gue lihat mata dia, semua pertanyaan yang ingin gue ajukan lenyap berganti air mata yang bahkan tidak bisa gue bendung.”
Catty kembali memeluk tubuh sahabatnya. Gadis itu sedikit merasa kesal karena tidak ada di samping Arsy ketika sahabatnya berada dalam masalah yang cukup rumit dan menguras isi kepala. Yang bisa gadis itu lakukan untuk menebus semua rasa bersalahnya dulu dengan memberi pelukan dan kata-kata penyemangat yang mampu membuat Arsy kembali tersenyum.
“Hai, Princess.” Tanpa mengetuk pintu, Juan langsung masuk ke kamar Arsy yang bahkan tidak tertutup rapat. “Apa lu habis nangis?”
__ADS_1
“Nggak kok. Ada apa? Bukannya tadi lu bilang mau ketemu Xander?”
Juan menghampiri Arsy yang tengah duduk bersama dengan Catty. Pemuda itu tanpa rasa malu membubuhkan ciuman di bibir Arsy di depan temannya. “Lu bisa bohongin orang lain, tapi nggak dengan gue. Udah ketahuan nangis masih sempat-sempatnya ngelak.” Tangan Juan dengan terampil mengusap air mata yang masih tersisa di pelupuk mata kekasihnya. “Mau nemenin gue jalan?”
“Elu lagi marahan sama Xander?” tanya Arsy. Juan menggeleng sebagai jawaban, tapi Arsy tau kalau kedua sahabat itu tengah saling diam.
“Ayolah, temenin gue jalan. Sekalian nyuci otak biar elu nggak stres,” ajak Juan.
Arsy hanya menggeleng kepala. Dia cukup paham dengan sikap Juan yang memang agak beda dari yang lain. Sementara Catty sibuk mengagumi ketampanan Juan yang masih berada jauh di atas dewa Hermes.
“Lu manusia, bukan?” celetuk Catty yang membuat Arsy dan Juan menatapnya bersamaan.
“Gue punya darah campuran antara dewa, vampir sama werewolf. Jadi nggak heran gue lebih tampan dari Hermes,” gurau Juan.
“Nyokap lu selingkuh sama mereka? Ngeri banget selingkuhnya sekelas mereka.”
“Ya lu jangan tanggepin serius juga. Lagian dia cuma becanda,” ucap Arsy.
“Becanda, jangan sampek itu mulut gue tipe-ex biar nggak typo mulu.” Ancaman Arsy hanya dianggap angin lalu oleh Juan. Pemuda itu saat ini tengah memeluk dan menghujani wajah Arsy dengan kecupan yang membuat siapa saja yang melihatnya merasa iri. Nasib jomblo sedih banget baca ini🤧
“Catty memberi isyarat pada Arsy agar mengenalkan dirinya pada sosok pemuda tampan yang saat ini tengah bergelayut manja di tangan Arsy.
“Juan,” panggil Arsy.
“Paan? Gue lagi sibuk.”
“Kenalin dulu sahabat gue, namanya Catty.”
“Hai, gue Catty.”
“Hai juga, gue Juan.”
“Dia sahabat sekaligus saudara gue. Kami diangkat Margareth dari tempat dan juga waktu yang sama,” jelas Arsy.
__ADS_1
“Wah, makin banyak dong.”
“Apanya?” tanya Arsy dan Catty bersamaan.
“Nggak ada, nggak penting juga.” Juan melanjutkan kegiatannya bergelayut di tangan Arsy agar gadis itu mau menuruti keinginannya. Dan berhasil.
***
“Ada apa? Tumben lu ngajak ke sini?” tanya Arsy begitu keduanya sudah sampai di tepi laut yang menjadi tempat favorit mereka.
“Nggak ada apa-apa, gue cuma kangen aja sama hal-hal kecil yang biasa kita lakuin dulu.”
Arsy membalik tubuhnya menghadap Juan. Gadis itu menempatkan kedua tangannya di pipi Juan. Gadis itu tau kalau Juan sedang tidak baik-baik saja, tapi ia memutuskan untuk tidak bertanya karena ia tau Juan yang seperti ini tidak akan bisa mengendalikan emosinya.
“Boleh minta peluk?”
Arsy mengangguk. Keduanya saling berpelukan, mencoba untuk menyalurkan rasa sakit dan penat yang menumpuk di dalam hati masing-masing. Tidak ada yang memulai pembicaraan, hanya ada adegan saling peluk dan air mata yang tiba-tiba mengalir.
“Gue sayang sama lu, Sy. Tapi takdir yang kejam harus memisahkan kita,” ucap Juan tanpa melepaskan pelukannya. Pemuda itu memeluk tubuh kekasihnya dengan sangat erat, seolah takut kalau Arsy akan pergi meninggalkan dirinya kalau pelukannya mengendur. “Gue minta maaf karena malam itu gue pergi tanpa pamit ke elu dan Xander. Gue cuma....”
“Stttt, udah cukup.” Arsy meletakkan jari telunjuknya di bibir Juan, sebagai isyarat pemuda itu tidak perlu meneruskan kalimatnya. “Jangan sesali apa yang sudah terjadi. Gue tau elu pasti butuh waktu buat menenangkan pikiran setelah pertengkaran waktu itu. Gue nggak marah kok, dan gua yakin Xander juga nggak marah soal ini. Dia bukan tipe manusia yang bisa marah kalau sama elu,” ucap Arsy.
Arsy dan Juan tengah sibuk menikmati udara malam yang dingin sembari mengenang masa lalu. Namun tiba-tiba Xander bersama dengan seseorang yang Arsy tau sebagai tangan kanan Juan menghampiri keduanya dengan napas terengah.
“Elu kenapa?”
“Kalian berdua nggak lupa soal pertemuan yang gue maksud beberapa hari yang lalu kan? Nyokap kalian di sana.” Xander mencoba mengatur napasnya karena ia harus berlari cukup jauh untuk menemui kedua sahabatnya.
“Ngapain dia ke sini? Bukannya gue udah nyuruh elu buat mastiin dia nggak ke sini?” tanya Juan sembari menunjuk anak buahnya yang berdiri di belakang Juan.
“Saya tidak tau. Padahal kami sudah memblokir semua akses Nyonya untuk menuju ke pulau ini, dan beberapa orang kita sudah ada di dermaga dan juga bandara untuk mencegah Nyonya Margareth. Tapi....”
“Dia ada penerbangan ke Rusia beberapa hari yang lalu. Dia pasti berangkat dari sana dan memakai indentitas lain agar tidak dicurigai,” tutur Arsy yang membuat Juan, Xander serta tangan kanan pemuda itu terdiam.
__ADS_1