
“Bagaimana? Kalian sudah dapat kabar soal keberadaan Arsy?” tanya Catty kepada beberapa teman kepercayaannya yang ia mintai bantuan untuk mencari keberadaan sahabat terbaiknya.
“Belum. Tapi tadi kami dapat informasi dari pihak bandara soal Arsy. Tapi....”
“Tapi apa? Apa kata mereka? Mereka sudah menemukan Arsy?” tanya Catty saat melihat perubahan raut wajah dari dua orang pemuda yang ada di hadapannya.
“Ditemukan jasad dengan tubuh yang sudah hangus terbakar. Dari identitas yang ditemukan di dalam tas orang itu bernama Aileen Arsyana, terdapat beberapa barang seperti ponsel, kartu nama dan laptop dan beberapa barang penting lainnya. Di leher jasad tersebut terdapat sebuah kalung berlian yang bernilai cukup mahal, dengan liontin berbentuk huruf A dan C. Itu kabar yang kami terima dari pihak bandara beberapa menit yang lalu,” ucap Aideen yang membuat Catty menjatuhkan ponsel yang ia pegang. Gadis itu jatuh terduduk dengan air mata yang jatuh dengan deras membasahi pipinya.
“Nggak mungkin! Arsy nggak bakalan ninggalin gue!”
“Catt! Lu kenapa?”
Devan yang baru keluar dari dapur langsung berlari ke arah Catty saat melihat gadis itu berteriak sembari menangis keras memanggil nama sahabatnya.
“Mereka bohong sama gue, Dev. Mereka bilang kalau mereka nemuin jasadnya Arsy,” ucap Catty di tengah air matanya yang mengalir semakin deras. “Mereka pasti bohongkan, Dev? Itu pasti bukan Arsy.”
“Sorry Catt, tapi dari pakaian serta yang lainnya mirip dengan Arsy. Bahkan dia juga memakai cincin yang sama kayak yang lu pakai,” tutur Aideen.
“Nggak! Lu bohong!”
“Catt, udah. Tenangin diri lu,” pinta Devan sembari terus memeluk tubuh gadia cantik yang sudah ia anggap sebagai saudara.
“Nggak, Dev. Arsy pasti balik nemuin kita kayak yang lu bilang kemarin.” Catty terus memberontak. Gadis itu meronta sembari terus memanggil nama “Arsy” yang saat ini keberadaannya belum diketahui.
“Arsy pasti pulang dan gue yakin soal itu,” ucap Axelle yang baru saja datang bersama dengan Margareth dan beberapa orang teman Arsy.
Mereka langsung datang ke rumah Catty dan Arsy saat mendengar jika pihak bandara menemukan salah satu korban yang diduga kuat sebagai Arsy.
Margareth langsung memeluk Catty yang tengah menangis dipelukan Devan. Keduanya tidak menyangka jika Arsy akan pergi lebih dulu meninggalkan mereka dengan cara yang begitu menyakitkan.
“Ma, Arsy pasti pulang kan?” tanya Catty yang masih terus menangis dipelukan Margareth.
“Mama tau ini sulit buat kamu, tapi semua sudah takdir. Kita harus bisa merelakan kepergian Arsy, agar dia tenang di sana.”
“Tapi Ma....”
__ADS_1
Margareth memberi isyarat pada Axelle untuk diam. Wanita itu tau betul meski terlihat tegar tapi Axelle dan Catty adalah dua orang yang paling hancur saat ini, Margareth juga tau kalau Axelle diam-diam menyuruh orang untuk mencari keberadaan Arsy. Kalimat yang pemuda itu ucapkan sebenarnya untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa Arsy baik-baik saja dan akan segera kembali berkumpul bersama mereka.
Margareth berniat membawa Catty yang terus menangis ke dalam kamar bersama dengan Devan dan juga Axelle, meninggalkan para tamu bersama bawahan Margareth. Sebelum itu wanita tersebut lebih dulu meminta bantuan para bawahannya untuk mengurus semuanya termasuk soal menjemput jenazah Arsy yang masih berada di bandara.
“Ngapain sih lu nangis? Arsy bakalan balik kok sebentar lagi,” ucap Axelle sembari menatap langit biru yang nampak mendung di tengah kekeringan melanda.
“LU BISA NGGAK DIEM! MANUSIA NGGAK PUNYA HATI KEK ELU, NGGAK BAKALAN BISA NGERTIIN PERASAAN DIA YANG KEHILANGAN ORANG TERSAYANG NYA. LU TU CUMA....” Devan terdiam saat melihat mata sahabatnya yang berkaca. “Xelle, lu....”
“Gue tekanin sekali lagi kalau Arsy nggak mati, dia cuma belum ditemukan.” Axelle berjalan keluar meninggalkan kamar Catty yang terasa menyesakkan. Pemuda itu berjalan menuju berjalan menuju taman belakang rumah Arsy, dalam hati ia terus meyakinkan dirinya sendiri jika Arsy akan baik-baik saja. Namun, saat ia melihat foto jenazah yang dikirim pihak bandara, entah kenapa keyakinannya meluap. Ia ingin meyakini jika Arsy masih hidup, tapi cincin yang melingkar di jari manis gadis itu sama persis dengan cincin yang ia pakai.
“Lu bakalan balik, kan? Bantu gue buktiin kalau keyakinan gue nggak salah.” Axelle menghapuskan air matanya yang mengalir tanpa ia minta.
“Xelle, lu nangis?” tanya Devan saat melihat pipi sahabatnya basah.
“Nggak. Mending lu urus aja pacar lu,” ketus Axelle sembari berjalan pergi. Namun tangannya lebih dulu menangkap tangan Axelle.
“Gue minta maaf soal tadi. Gue nggak bermaksud ngomong kasar sama lu,” sesal Devan. Sebenarnya pemuda itu tidak bermaksud berkata kasar pada Axelle, tapi pikiran pemuda itu sedang benar-benar kacau jadi tanpa sengaja ia melontarkan kalimat yang tidak seharusnya pada Axelle.
“Gue tau. Gue cuma lagi pengen sendiri aja, kalau udah nggak ada yang mau lu sampein lagi, lu bisa balik ke dalam.”
“Jenazah Arsy bentar lagi sampek dan acaranya bakalan langsung dimulai. Lu nggak mau masuk buat do’ain Arsy?” tanya Devan.
Devan mengangguk paham. Pemuda itu memilih meninggalkan Axelle sendiri di taman belakang. Pemuda itu paham jika saat ini sahabatnya tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja seperti yang terlihat.
***
Acara penghormatan sudah dimulai sejak beberapa menit yang lalu. Seluruh teman kerja Arsy dan Catty datang untuk memberikan penghormatan terakhir pada gadis cantik yang dikenal baik hati itu, bahkan para sahabat Axelle juga datang.
Suasana duka begitu terasa di rumah Catty. Mata gadis itu terlihat membengkak karena terlalu banyak mengeluarkan air mata. Setiap detik ia selalu memanggil nama Arsy yang membuat suasana duka menjadi begitu terasa.
Axelle berdiri di dekat pintu. Pemuda itu mengikuti rangkaian acara namun tidak ingin mendekat ke arah jasad yang sudah menghitam.
Teman-teman kerja kedua gadis itu datang silih berganti. Ada beberapa yang tetap tinggal dan mengikuti acara sampai selesai, ada juga yang langsung pergi dengan alasan pekerjaan yang tidak bisa ditunda.
Seorang gadis cantik turun dari mobil dengan pakaian casual.
__ADS_1
“Kenapa rame banget?” tanya gadis berambut panjang yang masih memakai pakaian kerjanya. “Gue salah rumah kali ya?” tambah gadis itu.
Gadis itu memberanikan diri masuk ke dalam rumah itu, menemui seorang gadis yang seumuran dengan dirinya yang berdiri tidak jauh dari pintu masuk rumah besar yang saat ini tengah penuh dengan manusia yang berduka.
“Permisi, kalau boleh tau ini ada apa ya? Rame bener?” tanya gadis itu sambil memperhatikan sekeliling.
“Gadis cantik penghuni rumah ini meninggal saat perjalanan ke LA. Seluruh tubuhnya sudah hangus terbakar sampai susah dikenali,” jelas gadis bernama Bella.
“Ouh, begitu. Emang nama gadisnya yang meninggalkan siapa?”
“Namanya Aileen Arsyana. Lihat fotonya di sana, dia sangat cantik kan?” jawab Bella.
“Kau benar dia sangat cantik. Tapi kenapa rasanya aku tidak asing dengan wajah itu? Kalau begitu terima kasih, dan aku permisi pulang.”
Gadis itu berjalan kembali menuju mobil yang ia pakai.
“Lu kenapa balik, bodoh?” tanya Aksara yang sudah bersiap untuk turun dari mobil.
“Di dalem lagi berduka. Gadis cantik yang meninggal karena kecelakaan pesawat katanya pas perjalanan ke LA,” jelas gadis cantik itu namun hanya dibalas anggukan oleh Aksara. “Tapi, Sa. Gue ngerasa ada yang aneh deh,” ucap gadis itu yang membuat Aksara menghentikan langkahnya.
“Aneh kenapa?” tanya Aksara tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel miliknya.
“Saat gue denger nama sama pas gue lihat foto yang meninggal itu, gue ngerasa nggak asing sama itu orang. Kayak gue pernah ketemu tapi lupa di mana?”
“Emang namanya siapa? Trus ciri-ciri wajahnya gimana?” tanya Aksara yang masih fokus dengan ponsel miliknya yang tengah menampilkan seekor tikus dan kucing yang saling kejar-kejaran.
“Wajahnya bulet tapi nggak bulet banget, cantik, rambutnya panjang tapi di foto tadi rambutnya dikuncir ekor kuda. Tatapan matanya tajam seolah mampu mengintimidasi siapapun yang berani bermain dengan dirinya. Kalau soal nama, gue nggak begitu inget. Tapi kalau nggak salah orang tadi bilang namanya Aileen Arsyana. Kasian banget tau Sa, mana masih muda lagi, matinya mengenaskan banget.”
Aksara mematikan serial film yang ia tonton. Pemuda itu masuk ke aplikasi kamera dan mengatakan pada rekan kerjanya, “ini bukan orangnya?”
“Nah iya bener. Tapi kok lu bisa tau itu dia?”
“Itu muka lu, Arsy. Aileen Arsyana nama panjang lu, bangsat!”
“Lah iya nama gue. Berarti yang dipajang di sana tadi foto gue dong?”
__ADS_1
“Mbohlah, Sy. Puyeng gue perkara elu doang.” Aksara memilih menutup kedua telinganya menggunakan earphone berwarna putih dengan logo pintu sebagai hiasannya.
“Kan gue masih hidup? Kenapa dibikinin acara penghormatan? Wah, gila ini orang-orang.”