Mask

Mask
Bagian 30


__ADS_3

Aileen duduk diam di bawah pohon kelapa. Gadis itu terus memikirkan kalimat yang diucapkan oleh pak Lee, gadis itu mencoba menerka apa yang coba disampaikan oleh pria tua itu, dan apa yang membuat pria tua itu tidak mengatakannya secara langsung seperti biasa.


“Heh cupu. Ngapain lu di situ?” tanya Axelle saat melihat Aileen yang tidak bergabung bersama yang lain dan malah duduk menyendiri di bawah pohon kelapa. “Dia nggak denger gue? Berani banget dia diemin gue.”


Axelle memilih untuk mendatangi Aileen yang tengah melamun. Saat pemuda itu ingin mengageti Aileen, dirinya malah lebih dulu terkejut saat gadis itu tiba-tiba mengumpat sembari mengacak rambutnya kasar.


“Lu udah gila, ya!” bentak Axelle yang membuat Aileen terlonjak kaget.


“Axelle, ada apa?” tanya Aileen tanpa rasa bersalah. Padahal gadis itu baru saja mengumpati Axelle, meski gadis itu tidak sengaja.


“Nggak jadi.” Axelle melangkah pergi meninggalkan Aileen yang tengah kebingungan.


Axelle berjalan ke arah yang lebih sepi. Mood pemuda itu mendadak nggak baik, dan perasaannya juga nggak enak sejak tiba di pantai. Ia yang biasanya bermain dan tertawa dengan para sahabatnya tiba-tiba kehilangan mood dan lebih ingin sendiri.


“Heh cupu,” panggil Axelle tanpa menoleh ke belakang. “Temenin gue jalan!” perintah Axelle.


“Tapi Xelle, kita nggak boleh terlalu jauh dari rombongan. Kita bisa ketinggalan rombongan nanti,” tutur Aileen yang tidak digubris oleh Axelle. Pemuda itu tetap berjalan ke depan meninggalkan Aileen di belakang.


“Dasar brengsek. Awas aja lu nambahin kerjaan gue, gue lelepin lu di laut.” Batin Aileen berteriak kencang, tapi bibir gadis itu tetap tersenyum.


Akhirnya dengan segala sumpah serapah yang ia ucapkan untuk Axelle di dalam hatinya, Aileen memilih untuk mengikuti pemuda itu dari belakang. Gadis itu sendiri sedang banyak pikiran dan butuh tempat yang sepi untuk menjernihkan pikirannya yang kacau.


Lebih dari sepuluh menit keduanya berjalan. Tidak ada yang berbicara ataupun mengumpat, kedua anak Margareth itu tengah sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Aileen yang berjalan di belakang Axelle dikejutkan dengan suara teriakan Axelle. Gadis itu langsung berlari ke arah Axelle yang ternyata sudah berada lumayan jauh di depannya.


Mata gadis itu membola saat melihat seekor ular berjalan menjauh dari tempat Axelle, sementara pemuda itu tengah memegangi kakinya yang mulai membiru.


“Xelle!”


Aileen langsung menghisap racun ular yang ada di kaki Axelle, membuat pemuda itu terkejut.


“Lu udah gila, hah! Lepasin kaki gue. Lu bisa mati kalau nelen racunnya, bodoh!” peringat Axelle namun tidak digubris oleh Aileen. Axelle berusaha untuk menjauhkan kakinya dari bibir Aileen, agar gadis itu berhenti menghisap racun di kakinya namun gagal. Gadis itu tetap menghisap racun ular di kaki Axelle, dan setelah di rasa semua racun sudah keluar gadis itu merobek pakaian yang ia pakai untuk menutupi luka Axelle.


“Sebaiknya sekarang kita balik ke rombongan biar kamu cepet dapet obat, Xelle.” Aileen berencana membopong tubuh Axelle kembali ke rombongan Namum pemuda itu menolak dengan alasan ia sudah baik-baik saja. “Tapi kamu harus segera diobati, Xelle. Kalau nggak....”


“Gue bilang gue nggak apa-apa. Lu denger nggak sih!” bentak Axelle yang membuat Aileen naik darah.


“LU BISA NGGAK SIH NGGAK EGOIS! KALAU LU MATI, GUE NGGAK MASALAH DAN NGGAK PEDULI. TAPI APA LU MIKIRIN PERASAAN NYOKAP? TEMEN LU? BISA NGGAK DEWASA DIKIT!” teriak Aileen di tengah kesadarannya yang mulai berkurang.

__ADS_1


“Leen, lu kenapa?” tanya Axelle saat melihat Aileen yang hampir terjatuh.


“Balik ke rombongan, Xelle. Please,” pinta Aileen sebelum gadis itu kehilangan kesadarannya.


Axelle yang panik langsung menggendong tubuh Aileen menuju rombongan. Ia akan benar-benar merasa bersalah jika sampai terjadi apa-apa pada gadis yang sudah menolong nyawanya.


Melupakan kakinya yang sakit, Axelle berlari ke arah teman-temannya berada.


“Xelle, kalian kenapa?” tanya guru pembimbing saat melihat Axelle yang tengah menggendong Aileen dengan napas memburu.


“Bawa mereka ke rumah sakit!” perintah Pak Mike yang langsung diangguki oleh guru lain.


Begitu ambulans datang. Axelle dan juga Aileen langsung dibawa ke rumah sakit terdekat, di temani oleh Clarissa dan juga para sahabat Axelle.


***


“Gimana keadaan Aileen?” tanya Axelle begitu pemuda itu selesai ditangani.


“Xelle, lu nggak apa-apa?” tanya Clarissa saat melihat Axelle berjalan ke arahnya dengan perban yang sudah diganti.


“Gue baik. Si Alien gimana?”


“Lu yakin dia nggak apa-apa? Dia pingsan lho tadi.” Axelle mencoba untuk mengingatkan Clarissa lagi kalau sahabatnya baru saja menolong Axelle yang digigit ular berbisa.


“Aku nggak apa-apa kok,” ucap Aileen yang baru saja keluar dari kamar rawatnya. Gadis itu terlihat lebih segar dari sebelumnya, bahkan ia bisa berjalan seperti biasa.


“Tadi lu yang nolongin gue pas digigit itu ular kan?” tanya Axelle yang dijawab anggukan oleh Aileen. “Tapi kenapa lu nggak apa-apa? Trus kalau lu nggak apa-apa, kenapa tadi lu pingsan?”


“Jadi lu berharap gue mati karena racun itu, begitu? Bangsat. Dasar bedebah nggak tau diri. Udah ditolongin bukannya bilang makasih malah nanya kenapa gue baik-baik saja. Gila emang ni cowok,” gerutu Aileen dalam hati.


“Sebenarnya tadi aku pingsan karena....”


“Udah nggak usah dibahas lagi. Mending sekarang kita balik ke rombongan atau kita bakalan ketinggalan lagi,” interupsi Devan membuat yang lain setuju, begitu pula dengan Axelle dan Aileen.


Ketujuhnya langsung kembali ke rombongan, namun ternyata yang lain sudah naik ke kapal pesiar mewah yang akan membawa mereka ke pulau tempat tujuan utama.


Aileen menghentikan langkahnya. Mata gadis itu membola sempurna saat melihat kapal pesiar mewah yang ada di depan matanya.


“Lu kenapa?” tanya Devan saat melihat Aileen berdiam di tempat.

__ADS_1


“Kenapa lu nggak bilang kalau kita bakalan naik kapal pesiar ini?” tanya Aileen sembari menatap tajam Devan yang tengah berdiri di sebelahnya.


“Emang kenapa?” tanya Clarissa. Gadis itu juga penasaran kenapa Aileen tiba-tiba menghentikan langkahnya saat melihat kapal pesiar di depannya.


“Ini kapal milik....”


“Kenapa kami nggak boleh masuk? Teman-teman kami bersama guru kami sudah ada di dalam. Kenapa kami nggak bisa masuk?” tanya Axelle kepada para penjaga yang melarang mereka masuk ke dalam dengan alasan tidak ada tanda pengenal.


“Ada apa?” tanya Aileen saat mendengar keributan.


“Kita nggak boleh masuk. Mereka bilang kita nggak punya tanda pengenal,” tutur Axelle. Wajah pemuda itu sudah merah padam karena menahan emosi yang berlebihan.


“Bagaimana bisa kami tidak diizinkan masuk sementara guru dan teman kami ada di dalam?” tanya Aileen. Gadis itu berusaha sabar mengingat dirinya saat ini bukanlah Arsy yang bisa langsung masuk dengan menghajar kedua bodyguard tidak tau diri yang saat ini tengah menghadang jalan mereka.


“Maaf, tapi kami tetap tidak bisa mengizinkan kalian masuk tanpa tanda pengenal. Jadi sebaiknya kalian turun karena kami akan segera berangkat.


Aileen mencari seseorang yang menjadi dalang dari semua kekacauan yang ia dan teman-temannya dapatkan. Dan, ketemu.


“Bisa aku masuk sebentar? Aku kenal bos kalian.”


“Apa kau pikir dengan mengatakan hal itu maka kami akan membiarkanmu masuk? Jangan bodoh gadi kecil,” ejek salah satu bodyguard sembari mencolek dagu Aileen.


“Jaga sikapmu!” peringat Aileen yang membuat aura di sekitarnya tiba-tiba menjadi suram.


Gadis itu menarik napas panjang, kemudian mengeluarkan sebuah kartu berwarna emas yang membuat kedua bodyguard itu langsung menundukkan kepalanya sekaligus meminta maaf karena sudah lancang pada teman bos mereka.


“Maafkan kami, Bos. Silahkan masuk,” ucap salah satu bodyguard yang membuat teman-teman Aileen kebingungan begitu juga dengan Clarissa.


“Kalian pergi sama dia. Aku ada urusan yang harus diselesaikan sebentar,” ucap Aileen.


“Tapi, Leen. Pak Guru bisa marah kalau sampai salah satu dari kita nggak ada,” cegah Clarissa. Gadis itu mempunyai firasat yang tidak enak tentang seseorang yang menunggu sahabatnya.


“Gue ikut,” pinta Axelle namun langsung ditolak oleh Aileen. Gadis itu beralasan bahwa ia akan menemui salah satu temannya, jadi pemuda itu tidak perlu ikut campur urusannya. “Heh Cupu, kalau gue bilang ikut. Itu artinya gue bakalan tetap ikut, dengan atau tanpa persetujuan dari elu!”


“Ini cuma pertemuan antara temen biasa, jadi mending lu tidur.”


“Ap....” Aileen lebih dulu memukul tengkuk leher Axelle dengan kuat, membuat pemuda itu oleng dan kehilangan kesadarannya.


“Sy, jaga diri baik-baik, ya.”

__ADS_1


“Thank’s Dev. Gue nitip yang lain,” ucap Aileen sebelum pergi meninggalkan teman-temannya bersama dengan salah satu bodyguard.


__ADS_2