Mask

Mask
Bagian 46


__ADS_3

“Bagaimana kabar Kakek?” tanya Arsy.


Kini dirinya bersama dengan ketua tengah berdiri di pinggir danau yang ada di kediaman sang kakek.


“Kakek baik. Bagaimana kabarmu dan Catty?”


“Aku baik, Kek begitu juga dengan Catty. Sekarang dia ada di hotel bersama yang lainnya dan mungkin nanti malam akan berkunjung ke rumah kakek.” Pria tua itu mengusap tangan Arsy yang ada di pundaknya. Ketua sangat menyayangi Arsy dan Catty walau dia tau keduanya bukan anak kandung dari Margareth yang notabene adalah anak kandung ketua.


“Apa pemuda yang datang bersama kalian adalah Axelle? Anak tiri Margareth.” Arsy mengangguk sebagai jawaban. “Dia sangat tampan, dan kakek pikir dia cocok denganmu.”


“Arsy masih mencintai Juan, Kek. Dan Arsy belum ada niatan untuk menggantikan posisi Juan di hati Arsy.”


“Bukannya Margareth sudah menolaknya? Kenapa kamu tidak mau mencoba menjalin hubungan dengan orang lain?”


“Kek, bukannya Arsy nggak mau mencoba untuk mencintai orang lain selain dia. Tapi setiap kali Arsy mencoba untuk menggeser namanya dari hati Arsy, rasanya sangat menyakitkan. Tolong jangan paksa Arsy untuk melupakan Juan, apalagi meminta Arsy untuk mencari penggantinya.”


Ketua hanya tersenyum. Pria tua itu ingin sekali mengatakan yang sebenarnya pada Arsy tapi ia tidak mampu melawan rasa kecewa dari gadis itu kalau sampai ia tahu yang sebenarnya. Mereka belum siap jika Arsy harus membenci mereka jika sampai gadis itu tau alasan Margareth tidak menerima hubungannya dengan Juan.


Gadis itu duduk bersimpuh di depan sang kakek, yang membuat pria tua itu tersenyum hangat. “Apa yang kau inginkan sekarang, Anak manis?” tanya ketua sembari mencolek hidung Arsy. Pria tua itu paham betul jika cucunya sudah duduk bersimpuh di depannya, itu artinya ada sesuatu yang sedang gadis itu inginkan.


“Kek, apa Arsy boleh tanya sesuatu?”


“Apa itu?”


“Di mana anak kandung Mama?”


Pria tua itu tidak langsung menjawab. Ia menatap tajam ke arah salah satu pemuda yang tengah berdiri di belakangnya.


“Kenapa tiba-tiba kau ingin tau soal anak Margareth?”


Margareth adalah anak dari ketua petinggi di pulau yang mereka tempati saat ini. Namun karena kesalahan yang ia lakukan di waktu dulu membuat wanita itu dibuang dari keluarganya. Meski begitu pria tua itu selalu bersikap baik pada Arsy dan Catty, pria itu bahkan sudah menganggap kedua anak angkat Margareth sebagai cucunya sendiri dan memberikan segala yang terbaik untuk keduanya.

__ADS_1


Arsy tau kalau Margareth punya anak dari hasil hubungannya dengan kekasihnya dulu, tapi Margareth tidak pernah mau mengatakan siapa dan di mana anaknya saat ini. Wanita itu selalu punya seribu satu alasan untuk mengalihkan pembicaraan jika mereka sedang membicarakan soal anak kandung Margareth.


“Tidak ada. Arsy hanya ingin bertemu dan kenal dengan dia,” ucap Arsy. Pria tua itu tidak menjawab ataupun memberi reaksi atas ucapan Arsy, dan gadis itu cukup paham jika kakeknya tidak ingin membahas soal hal ini.


Arsy memutuskan untuk mengantar kakeknya pulang karena udara yang semakin dingin.


“Nanti malam pukul 21.00 pergilah ke danau ini, dan kau akan mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang kau ajukan tadi,” ucap ketua. “Sebelum itu, berjanjilah kau akan menerima semuanya dengan hati lapang.”


“Iya, Kek. Arsy janji siapa pun yang nanti Arsy temui di sini, Arsy akan terima dia sebagai anak Mama dan saudara Arsy. Terima kasih, Kek. Terima kasih karena kakek sudah mau mengabulkan keinginan Arsy.”


Arsy memeluk tubuh ringkih pria tua yang sangat ia sayangi. Gadis itu benar-benar bahagia karena akhirnya dia bisa bertemu dengan anak dari Margareth. Sosok yang sudah lama membuatnya penasaran karena tidak pernah diekspose.


***


“Pilihin baju yang bagus buat ketemu orang dong,” pinta Arsy pada Catty yang tengah sibuk mengerjakan beberapa tugas sekolah yang harus dikumpulkan besok ketika sudah kembali ke sekolah.


“Emang lu mau ke mana sih? Ribet banget perasaan.”


“Nanti malem gue mau ketemu sama anak kandungnya Mama,” ucap Arsy tanpa menghentikan kegiatannya mengobrak-abrik isi lemari untuk menemukan pakaian yang tepat.


“Demi abs tipis Jimin yang menggoda. Ntar malem gue mau ketemu sama anak Mama, dan itu berkat bantuan Kakek.”


“Jadi ntar malem lu nggak bisa nemenin gue ketemu kakek, dong?”


“Maaf ya sayang, tapi malam ini gue sibuk. Elu temui kakek sendiri aja,” ucap Arsy sembari mencolek dagu Catty. “Rencananya nanti gue mau ngajak dia makan malam, sama jalan-jalan bentar itung-itung pendekatan.”


Arsy kembali membongkar lemarinya. Pandangannya bertemu dengan sebuah mini dress berwarna putih dengan pola bunga. “Ketemu!” seru Arsy. Gadis itu segera mengambil dress tersebut dan menunjukkannya pada Catty. “Bagus nggak?” tanya Arsy.


“Bagus kok. Cocok sama elu,”


“Ok, ntar malem gue mau pakai ini.”

__ADS_1


“Terserah. Yang penting lu jaga diri aja karena malam ini gue mau nginep di rumah kakek, jadi pastikan lu menjauh dari masalah.”


***


Sejak pukul tujuh tadi Arsy sudah bersiap. Gadis itu bahkan sengaja memakai make up tipis namun tetap terlihat cantik agar tidak terlihat aneh di depan anak Margareth nanti.


Arsy melirik jam di dinding kamarnya dan terkejut saat jarum jam sudah menunjukkan pukul dua puluh lebih empat lima menit.


Gadis cantik itu mengambil tas dan kunci mobilnya yang terletak di meja dekat ranjangnya. Senyum indah terus terukir di bibir tipisnya, bahkan gadis itu terlihat bersenandung kecil untuk menutupi rasa gugup yang mendadak menyerang.


Arsy berjalan menyusuri rerumputan yang basah karena hujan tadi sore. Saat sampai di tepi danau tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat seorang pemuda berdiri di depannya dengan wajah yang menghadap danau.


Arsy lebih dulu menetralkan degup jantungnya yang menggila. Sebentar lagi, hanya tinggal beberapa langkah lagi ia akan bisa mengetahui siapa anak dari Margareth.


Langkah Arsy terhenti saat ia melihat Margareth mendatangi pemuda itu.


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Margareth pada pemuda yang saat ini masih setia menatap hamparan air danau.


“Kakek yang memintaku datang ke tempat ini karena ada seseorang yang ingin bertemu.”


“Bertemu? Siapa yang ingin bertemu denganmu?” tanya Margareth yang dijawab gelengan oleh pemuda itu.


“Mana aku tau. Lagi pula sejak kapan Mama peduli dengan apa yang aku lakukan?” tanya pemuda itu sembari menatap Margareth yang sejak tadi menanyainya dengan pertanyaan yang tidak penting.


“Kenapa kau tidak bertanya? Dan lagi, aku masih Mama kandungmu jadi aku berhak tau apa dan siapa yang kau temui.”


Air mata gadis itu mengalir dengan deras saat mendengar perkataan Margareth. Gadis cantik itu jatuh terduduk di rumput yang basah.


Mendengar suara isakan yang tertahan, Margareth dan pemuda itu menoleh bersamaan dan terkejut saat melihat Arsy tengah menangis di atas rumput.


“Arsy/Princess.”

__ADS_1


“Princess tunggu!” teriakan itu bahkan tidak dihiraukan lagi oleh Arsy. Yang ingin gadis itu lakukan saat ini hanya pergi jauh dan melupakan semuanya.


Gadis itu terus berlari menjauh. Ia tidak pernah menyangka jika anak dari Margareth adalah orang yang paling dekat dengan dirinya.


__ADS_2