
Arsy tengah duduk di salah satu sudut di cafe yang tak jauh dari sekolahnya. Gadis itu tengah menunggu seseorang yang sudah ia tunggu sejak setengah jam yang lalu.
“Sy, gue harap lu nggak bakalan hilang kendali di sini,” ucap Xander yang sejak tadi melihat Arsy menahan amarah. “Gue tau elu marah dan kecewa sama Xean, tapi bisa aja itu Cuma kebetulan dan bukan Xean yang melakukan semuanya. Xean gadis yang baik,” imbuh Xander.
“Kita percayakan pada Juan. Tapi kalau benar dia dalangnya, gue nggak jamin kalau dia masih bisa melihat matahari terbenam sore ini.”
“Tapi, Sy....”
“Diam! Dia datang.”
Arsy dan Xander terdiam di tempatnya. Kedua orang itu mengawasi Xean yang baru saja masuk bersama dengan Juan. Arsy dan Xander mulai memakai earphone agar bisa mendengarkan obrolan Juan dan Xean dengan jelas.
Sejak datang bersama dengan Xean, pemuda itu terus diam seolah sedang memikirkan sesuatu yang membuat kepalanya pusing.
“Apa lu masih kesal sama Arsy?” tanya Xean tiba-tiba sambil meraih tangan Juan yang masih memegangi kepalanya yang sakit.
“Gue nggak nyangka Arsy dan Xander sudah sampai sejauh itu,” eluh Juan.
“Jangan salahin Xander. Dia pemuda yang baik dan juga dari keluarga yang baik, jadi nggak mungkin dia sampai melakukan hal itu dengan sadar. Entah kenapa gue ngerasa kalau Arsy yang sengaja ngejebak Xander biar mau melakukan hal menjijikkan itu dengannya.”
Mendengar ucapan Xean, Arsy menggenggam tangannya sangat erat hingga kukunya memutih. Sementara Xander hanya terdiam. Pemuda itu tidak percaya dengan apa yang dia dengar, awalnya ia tidak begitu yakin bahwa Xean bisa melakukan hal semenjijikkan itu.
Arsy berniat menghampiri Xean dan juga Juan untuk memberi pelajaran yang setimpal untuk gadis itu, namun Xander segera menghentikan langkahnya. Pemuda itu meminta Arsy untuk diam sejenak dan mempercayakan semuanya pada Juan.
“Xe, lu di sini bentar nggak apa-apa kan? Gue ke toilet sebentar.” Juan meninggalkan Xean sendiri di mejanya sementara ia pergi menemui Arsy dan Xander.
“Arsy, lu harus bisa tahan emosi lu kali ini atau kita bakalan kehilangan kesempatan untuk membalas perbuatan Xean.” Arsy hanya mengangguk mendengar ucapan Juan, walau sebenarnya Arsy ingin segera mencincang tubuh gadis bangsat yang sudah berani mengusiknya. “Xander tolong cegah Arsy sekuat yang lu bisa. Kalau dia hilang kontrol, seret dia keluar dari tempat ini.” Juan berbisik di telinga Xander, agar tidak didengar oleh Arsy. Selanjutnya pemuda itu berjalan menuju toilet dan membiarkan Xander dan Arsy kembali duduk di kursi.
Xean yang tengah duduk sendirian terlihat mengangkat telfon dari seseorang. Arsy dan Xander segera memasang earphone yang terhubung dengan ponsel Juan yang sengaja di tinggal sang pemilik agar kedua orang yang tengah duduk tak jauh dari mejanya bisa mendengar dengan jelas apa yang Xean ucapkan.
__ADS_1
“Gue tau. Jangan lupa pesanan gue, dan pastikan besok sebelum ada anak yang berangkat ke sekolah semuanya udah beres.”
“Pesanan apa?” tanya Juan yang baru saja datang.
Xean terlihat salah tingkah saat melihat Juan ada di hadapannya dan tengah memandangnya aneh. Xean tergagap menjawab pertanyaan yang Juan ajukan, membuat pemuda yang saat ini tengah menikmati minumannya menatap curiga.
“Sebenarnya gue pesan pakaian dalam, trus COD an di sekolah besok. Karena gue malu ketahuan teman-teman jadi gue minta antar pagi aja sebelum anak-anak berangkat,” bohong Xean. Juan hanya mengangguk seolah percaya dengan apa yang gadis itu ucapkan.
“Oiya, Xe. Gue mau nanya sesuatu sama lu soal foto yang lu bawa kemarin.”
“Kenapa emang sama foto kemarin?” tanya Xean sembari menikmati minuman miliknya.
“Dari mana lu dapet foto itu?”
“Gue nggak tau itu foto datang dari mana? Dan siapa pengirimnya. Yang pasti sebelum berangkat ke sekolah ada kurir paket yang nganter paket buat gue, dan pas gue buka gue kaget sekaligus kecewa sama Arsy. Dia tau gue suka sama Xander tapi dia malah ngelakuin hal yang kayak gitu sama orang yang gue suka,” tutur Xean.
“Jadi lu suka sama Xander?” tanya Juan untuk memastikan sesuatu. Xean mengangguki ucapan Juan dengan mata yang memandang lurus pemuda itu, dan hal itu sukses membuat Juan begidik ngeri.
“Dari mana lu tau kalau dia suka sama Juan?” tanya Xander. Pemuda itu hanya ingin Arsy lebih rileks agar emosinya dapat dikontrol dengan baik.
“Menurut lu masuk akal gitu kalau gue sama lu trus lu nanya siapa yang gue suka, trus jawab kalau gue suka sama Juan sambil natal elu tanpa henti?” tanya Arsy yang sukses membuat Xander terdiam. Pemuda itu tau benar apa maksud dari ucapan Arsy.
“Gue pengen banget bales dendam sama Arsy dan Xander, tapi gue nggak tau caranya.”
“Kenapa balas dendam? Bukannya lu suka sama Arsy, dan seluruh sekolah tau soal itu.”
“Gue mungkin emang suka sama Arsy, tapi setelah tau semuanya gue jadi kecewa dan ingin sedikit memberi pelajaran pada gadis bangsat itu.”
Arsy membolakan matanya. Gadis itu bersumpah dalam hati akan menghajar Juan habis-habisan karena sudah mengatai dirinya gadis bangsat. Xander yang melihat hanya bisa berdoa dalam hati agar sahabatnya masih bisa menikmati matahari terbit esok hari.
__ADS_1
“Gimana kalau kita bergabung?” tawar Xean yang membuat Juan mengerutkan keningnya bingung dengan perkataan gadis di depannya. “Kita hancurkan Arsy. Gue bisa dapat Xander, dan lu bisa balas dendam ke Arsy. Gimana?”
Arsy sudah bersiap menghajar Xean, namun dengan secepat kilat Xander memeluk gadis itu dan membawanya keluar dari pintu belakang cafe.
“Lepasin gue!” teriak Arsy yang mencoba melepaskan diri dari pelukan Xander. “Gue harus kasih pelajaran gadis sialan itu.”
“Lu jangan gegabah! Kalau elu kayak begini, kita nggak bakalan bisa balas dendam ke Xean.”
“Tapi gadis bangsat itu....”
“Gue tau lu marah sama Xean, gue tau lu pengen bunuh dia, tapi elu harus inget sama kata Juan buat percayai semua ke dia.”
Arsy hanya bisa menghentakkan kakinya melampiaskan semua amarahnya.
***
“Ngapain lu berdua masih di sini?” tanya Arsy saat melihat Juan dan Xander masih berada di rumahnya padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
“Gue khawatir elu lepas kendali trus datengin si Xean malam-malam,” ucap Juan gamblang tanpa memperhatikan wajah Arsy yang sudah memerah.
“Lu sendiri dari mana?” tanya Xander saat melihat Arsy baru pulang padahal sudah tengah malam.
“Gue habis jalanin tugas negara,” jawab Arsy sembari melepas pakaian yang menempel di tubuhnya.
“Keknya lu habis dipukuli habis-habisan,” ejek Juan yang diiringi dengan tawa yang menggelegar.
“Diem lu daki bumi,” seru Arsy sembari melempar pakaian kotornya ke wajah Juan.
“Jorok!” teriak Juan sambil membuang pakaian Arsy ke lantai.
__ADS_1
“Bodo amat.” Arsy berjalan ke arah dapur untuk mengambil sebotol minuman dingin untuk mendinginkan otak serta badannya yang panas. “Jadi apa rencana lu buat besok?” tanya Arsy sembari menegak minuman yang ia bawa hingga tandas.