Mask

Mask
Bagian 18


__ADS_3

Arsy bersama dengan duo Haidar berjalan menuju ruang penyiaran yang memiliki jarak yang lumayan jauh dari tempat pertemuan Aesy dengan Devan dan yang lainnya.


“Udah hampir setahun tapi gue baru tau kalau ruang penyiaran sekolah ini di gedung sebelah. Sialan.” Arsy terus menggerutu sepanjang jalan karena ruang Penyiaran yang jauh.


“Sy, kalau boleh tau lu mau ngapain di ruang itu?” tanya Gavin yang membuat Arsy membuang napas kasar.


“Gue mau bercocok tanam di sana. Kalian mau ikut?”


“Bukannya ruang penyiaran tempat buat ngasih pengumuman, ya. Kenapa lu cocok tanam di sana? Emang bisa?”


Golok mana golok. Arsy ingin sekali memutilasi kedua sahabat Axelle yang sama tidak memiliki otak seperti pemuda gila yang Arsy yakini saat ini tengah mengamuk mencari keberadaan Adelia.


“Udah tau ngapain nanya!”


Keduanya langsung diam setelah mendapatkan jawaban yang begitu menusuk hati dari seorang wanita cantik yang menyeramkan.


“Si Devan mana?” tanya Arsy saat tidak melihat keberadaan manusia dongo yang satunya.


“Devan nggak ikut. Bukannya lu nyuruh dia buat jagain si Axelle selama Nic sama teman lu belum dateng,” jawab Gavin yang membuat Arsy menepuk kepalanya.


“Elu! Gantiin si Devan buat jagain Axelle.” Arsy memerintah Fadhil yang sejak tadi diam seolah tidak tertarik dengan masalah yang saat ini tengah terjadi.


“Gue nggak berani sama Axelle. Cuma Devan sama Nic yang bisa atasi Axelle kalau lagi kayak sekarang,” jawab Fadhil.


Axelle yang biasa saja bisa membuat orang lain ketakutan, apalagi Axelle yang lagi mode setan seperti saat ini. Bisa-bisa bukan cuma Adelia yang akan berakhir di tangan Axelle, tapi mereka juga akan bernasib sama seperti gadis itu.


“Kalau....”


“Sy, Axelle ngamuk. Dia mau bunuh Adelia!” teriak Devan yang membuat Arsy membatalkan niatnya masuk ke dalam ruang penyiaran yang sudah ada di depan mata. Gadis itu bersama dengan duo Haidar memilih untuk berlari mengikuti Devan yang sudah berlari lebih dulu ke tempat Axelle dan Adelia berada.

__ADS_1


“Sialan. Nggak ada yang bisa diandalin buat jaga satu manusia nggak berguna kayak Axelle,” gerutu Arsy sepanjang jalan.


“Axelle!!” teriak Arsy saat mereka sudah sampai di gudang penyimpanan yang sudah tidak terpakai. Tempat Axelle bersama yang lainnya berkumpul setiap saat.


Wajah Axelle sudah memerah menahan amarah yang membuncah. Nicolas yang memegangi Axelle juga sudah mulai kuwalahan, membuat pemuda itu beberapa kali hampir lepas dari genggaman Nicolad dan menghajar Adelia yang tengah duduk di sebuah bangku yang ada di depan Axelle. Tatapan matanya seolah tengah meremehkan semua yang ada di hadapannya.


“Lepasin dia, Nic!” perintah Arsy yang langsung ditolak oleh Nicolas dan yang lainnya. Mereka tidak ingin Axelle gelap mata dan menghabisi Adelia dan bayi yang tengah gadis itu kandung. “Lepasin!”


“Tapi Sy....”


“Kalau gue bilang lepas. Artinya lu harus lepasin dia,” ucap Arsy dengan tatapan mata tajam yang siap membunuh siapa pun yang berani menolak keinginannya. Nic yang merasa terintimidasi pun akhirnya melepaskan pegangan tangannya pada Axelle.


“Lu nggak bakalan bisa bunuh gue, Xelle. Karena nyokap dan bokap lu sedang dalam perjalanan ke sekolah saat ini.” Adelia terkekeh saat melihat Axelle bersama dengan yang lainnya nampak sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Adelia.


“Apa maksud lu!” bentak Axelle yang hampir sepenuhnya kehilangan kesabaran.


“Gue udah bilang sama lu kan, Xelle. Gue bakalan ngelakuin apa pun asal lu mau tanggung jawab sama anak yang gue kandung.”


“Benarkah? Kalaupun iya, Tuan dan Nyonya Adhitama nggak akan peduli soal itu semua. Yang mereka tau kita sudah melakukan hubungan itu dan elu harus tanggung jawab,” ucap Adelia yang disambut tawa oleh Arsy yang membuat yang lain kebingungan. “Kenapa lu ketawa?”


“Nggak ada. Cuma pengen aja,” jawab Arsy enteng membuat yang lain semakin kebingungan. “Lagipula, apa lu berpikir kalau Tuan dan Nyonya Adhitama sepicik itu, sampai percaya sama semua omongan lu tanpa bukti yang nyata?”


“Ah, soal itu. Gue lupa bilang ke kalian kalau gue udah ngirim semua foto, video, hasil test dan hasil pemeriksaan kehamilan ke orang tua lu, Xelle.”


“Brengsek!” Axelle yang sudah kehabisan kesabaran langsung mencengkeram kerah seragam yang dipakai Adelia, membuat gadis itu terpaksa bangun dari posisi awal. “Kalau lu....”


“AXELLE!!”


“Kau,” Axelle langsung menundukkan kepalanya saat melihat tatapan kecewa dari Margareth.

__ADS_1


“Ma, dia....” ucapan Arsy terhenti begitu isyarat tangan Margareth memintanya untuk diam. “Tapi, Ma. Aku....”


“Mama nggak pernah ngira kamu akan membela kesalahan Axelle dengan membuat video palsu, dan mengancam akan membunuh Adelia.” Semua terkejut mendengar penuturan Margareth yang mengatakan kalau Arsy mengancam akan membunuh Adelia, sementara gadis itu tidak merasa pernah melakukannya.


“Tapi aku....”


“Mama membebaskan kalian melakukan apa pun dan menghabiskan uang berapa pun, tapi Mama nggak akan pernah mentolerir masalah seperti ini.”


Margareth berjalan ke arah Axelle yang masih setia mencengkram kerah seragam Adelia. Margareth memegang tangan Axelle sebagai isyarat bahwa pemuda itu harus melepaskan cengkeramannya pada Adelia.


“Apa pembelaan kamu, Nak?”


Axelle melepas cengkeramannya pada Adelia dan sedikit mendorong gadis itu, membuat Adelia tersungkur. “Jika ucapan Arsy saja tidak kau percaya, lalu apa gunanya penjelasan dariku. Bukankah kau dan dia akan lebih percaya pada bukti yang ada dari pada ucapan ku dan Arsy yang notabene anakmu sendiri.”


“Papa nggak mau tau. Apa pun alasan kamu, sebagai seorang laki-laki sejati kamu harus bertanggung jawab.”


Axelle hanya diam. Pemuda itu tidak ingin memandang wajah sang ayah, bukan karena ia malu karena sudah berbuat hal yang menjijikkan, tapi lebih karena dari awal pemuda itu sudah tidak menganggap keberadaan sang ayah yang datang bersama Margareth.


“Sialan, gue kecolongan.” Arsy menggerutu di sebelah Catty yang dibalas anggukan. Gadis itu terus memperhatikan sikap Adelia yang berubah sesaat setelah Margareth dan Marcel datang. Entah mengapa tapi Catty merasa ada yang aneh dengan sikap Adelia, gadis itu tidak terlihat takut atau bahkan merasa sungkan saat bertemu dengan orang tua Axelle, tapi sikap Adelia jadi lebih tenang seolah apa pun yang ia katakan salah satu dari orang yang ada di hadapannya akan membela dan meng-iyakan apa pun yang gadis itu inginkan.


***


“Kenapa dia nggak mau dengerin penjelasan gue? kenapa dia bisa bilang kalau gue udah ngelakuin kesalahan yang fatal? kan gue ngomong sesuai fakta yang ada, trus kenapa gue masih disalahin juga?” tanya Arsy pada Catty yang tengah duduk di salah satu sofa yang ada di rumahnya. “Sialan, gara-gara Adelia gue harus kena marah juga sama Margareth.”


“Sy,” panggil Catty yang hanya di balas gumaman oleh Arsy. Gadis itu masih cukup kesal dengan kejadian di sekolah tadi, ditambah lagi gara-gara kejadian tadi dirinya jadi ketahuan bolos sekolah sama Margareth. “Lu ngerasa nggak sih kalau ada yang aneh sama bokapnya Axelle.”


“Aneh gimana?”


“Aneh aja.”

__ADS_1


“Gue lagi pusing ya, Catt. Jangan sampek gue botakin rambut lu!”


Catty hanya diam saat Arsy mengancamnya. Gadis itu tahu betul jika saat ini sang sahabat tidak sedang dalam mood yang baik, dan kalau boleh jujur rasanya Catty ingin menjambak rambut Adelia sampai botak karena gadis sialan itu Catty harus menanggung amarah dari Margareth.


__ADS_2