Mask

Mask
Bagian 40


__ADS_3

“Bagaimana? Lu suka?” tanya Juan kecil pada seorang gadis yang tengah menatap laut yang terbentang luas. “Kalau gue lagi sedih atau pengen sendiri, gue suka lihat laut.”


“Jadi alasan lu ngulik gue dari mama cuma buat ini,” ejek Arsy tanpa mengalihkan pandangannya dari laut. Juan tidak percaya dengan apa yang ditangkap oleh Indra pendengarnya, jadi ia meminta gadis kecil itu mengulangi kalimatnya.


“Kalau nggak ada hal lain yang mau lu tunjukkin ke gue.” Arsy memilih berjalan menuju ke arah dirinya datang bersama dengan pemuda gila yang sudah membuang waktunya untuk melihat sesuatu yang tidak penting.


“Tunggu!” seru Juan.


Arsy menghentikan langkahnya. Gadis itu menoleh ke arah Juan, dan berharap apa yang akan pemuda itu katakan kali ini bisa mengembalikan moodnya.


“Gue nggak tau apa yang lu suka, tapi lu mau nggak jadi pacar gue.” Juan menatap wajah Arsy sembari menggenggam tangannya sendiri, untuk menghilangkan rasa gugup yang mendadak menyerang tubuhnya.


Gadis cantik itu hanya menghela napas kasar. Memilih untuk berjalan kembali ke arah Juan yang tengah memainkan air laut yang mengenai kakinya. Tanpa rasa bersalah Arsy langsung menggeplak kepala Juan, yang membuat pemuda itu menatap Arsy.


“Apa elu nggak punya pilihan lain sampai lu milih menyatakan cinta pada anak berusia sepuluh tahun.”


Juan hanya terdiam mendengar ucapan Arsy.


“Wah, dia gadis pertama yang mengataimu begitu.” Seseorang berjalan ke arah Juan dan Arsy dengan air mata yang mengalir deras karena terlalu banyak tertawa.


“Apa lu juga mau nyatain cinta ke gue juga?” tanya Arsy saat melihat pemuda yang baru datang.


“Sorry Adek kecil, tapi gue nggak tertarik sama anak SD.”


“Puas banget lu ngetawain gue.”


Juan mengumpati sahabat baiknya. Pemuda itu sudah cukup gondok dengan ucapan Arsy, sekarang ditambah lagi sahabatnya tiba-tiba datang.


“Gue ditelfon bokap lu. Katanya lu disuruh UUbalikin ini bocah, atau lu bakalan digorok sama emaknya.” Xander merangkul sahabatnya, dengan harapan pemuda sinting itu mau mengembalikan Arsy pada Margareth.


Juan terdiam sejenak. Arsy dan Xander memandang pemuda itu dengan tatapan aneh, karena Juan yang tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.


“Sahabat lu dah gila?” tanya Arsy pada Xander yang tengah berdiri di sampingnya.


“Dia emang gila, tapi gue nggak tau kalau udah separah ini.”


“Mending lu bawa dia ke psikiater deh, mumpung belum makin parah. Kasian tau nggak, mana masih muda lagi.”

__ADS_1


“Lu bener juga Adek kecil.”


Juan tengah sibuk tertawa, sementara Arsy dan Xander sibuk menggibahi dirinya.


“Gua nggak gila ya,” gerutu Juan saat mendengar Arsy mengatai dirinya kurang waras.


“Nggak ada orang gila yang mau disebut gila,” ketus Arsy.


“Lagian elu, tiba-tiba diem trus ketawa.” Juan tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Sahabat baiknya memihak anak kecil yang baru ia temui untuk menghina dirinya.


“Lu tu sebenarnya sahabat siapa sih!” seru Juan.


“Ya gue sahabat elu, tapi apa yang dikatakan Adek kecil ini benar. Lu kayaknya perlu ke psikiater deh, buat ngecek otak lu. Sapa tau lagi ke balik.”


Juan membuang napas kasar. Pemuda itu sudah cukup lelah menghadapi Arsy dan sekarang Xander malah ikut di pihak anak kecil tidak tau diri seperti Arsy.


Juan menarik napas dalam dan membuangnya perlahan. Pemuda itu menarik Arsy dan juga Xander untuk mendekat ke arahnya karena ia ingin menyampaikan sesuatu yang lumayan penting.


“Lu udah gila!” seru Xander. “Nggak ada ya yang kayak begitu. Kalau sampai Margareth tau, bisa habis kita.”


Juan kembali terdiam. Pemuda itu mencoba memikirkan rencana lain yang tidak akan mengganggu sekolah mereka besok.


“Bagaimana kalau begini....”


***


Arsy masuk ke dalam rumah sembari membawa dua kantong kresek berukuran besar.


“Mama,” sapa gadis kecil itu. Namun tidak ada jawaban dari Margareth, padahal wanita itu ada di depannya. “Ma,” panggil Arsy sembari memegang tangan Margareth.


“Arsy.” Margareth tidak menyangka anak yang sedari tadi ia cari ada di hadapannya. “Kamu dari mana saja? Mama bingung nyari kamu.” Wanita itu memeluk tubuh sang anak yang sangat ia rindukan, meski baru beberapa jam mereka berpisah.


“Arsy tadi makan di restoran Korea yang ada di seberang jalan,” jelas Arsy. Bahkan di bibir gadis itu masih terdapat beberapa sisa makanan yang tertinggal.


“Kenapa kau tidak pamit? Kau kan bisa menghubungi Mama kalau mau pergi ke manapun,” ucap Margareth.


“Aku udah ratusan kali minta, dan ratusan kali juga Mama selalu nolak dengan alasan masih kecil.” Margareth hanya bisa terdiam mendengar protes dari sang anak.

__ADS_1


Memang benar apa yang dikatakan oleh Arsy kalau anak itu sering meminta ponsel tapi Margareth selalu menolak, dengan alasan Arsy masih sangat kecil untuk menggunakan ponsel dan itu tidak baik untuk dirinya. Tapi setelah kejadian ini sepertinya Margareth harus berpikir lagi untuk tentang keinginan sang anak soal memiliki ponsel.


“Memangnya apa yang kau lakukan di sana tadi?” tanya Margareth. Wanita itu mencoba mengalihkan pembicaraan soal ponsel, karena kalau dilanjutkan maka pembahasan itu tidak akan pernah berakhir.


“Aku hanya mencoba beberapa makanan. Dan aku juga bungkus beberapa untuk Mama,” ucap Arsy sembari memberikan kantong kresek yang sedari tadi hinggap di kedua tangannya. Sementara yang satu lagi ia simpan untuk dirinya sendiri, katanya untuk persiapan kalau di rumah tidak ada yang bisa di makan.


“Kenapa sebanyak ini?”


“Itu tidak banyak. Aku bahkan sudah makan lebih dari itu,” gerutu Arsy.


“Kau, makan lebih banyak dari ini?” tanya Margareth yang hanya dijawab anggukan oleh Arsy.


Wanita itu menggelengkan kepalanya. Sedikit tidak percaya jika anak sekecil Arsy bisa makan dalam porsi yang sangat besar. Jujur saja, ia baru tau kalau selera makan anaknya yang satu ini emang luar biasa.


“Memangnya apa yang kau makan?”


“Banyak. Jjangmyeon, Kimchi Jjigae, Tangsuyuk, Tteokbokki, Gamjatang, Samgyeopsal, ada Fried chicken dan Naengmyon, Bibimbap dan juga Kimchi Bokkeumbap. Sama beberapa makanan lain yang aku lupa namanya,” jelas Arsy. Sementara Margareth hanya bisa diam mendengar perkataan Arsy yang susah untuk dicerna akal sehat.


***


Margareth tengah duduk di sofa ruang tamu bersama dengan Arsy. Margareth tengah fokus dengan beberapa pekerjaannya yang tertunda karena harus mengantar Arsy, sementara Arsy sendiri tengah sibuk dengan televisi yang tengah menampilkan seekor kucing berwarna biru dan juga seekor tikus kecil berwarna coklat yang menyebalkan.


“Ma, bagaimana cara membuat laki-laki sakit hati sampai tidak mau dekat dengan kita?” tanya Arsy tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya dari arah televisi.


“Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti ini?” tanya Margareth. Wanita itu cukup terkejut dengan pertanyaan sang anak yang berbanding terbalik dengan pertanyaan yang biasa diajukan oleh gadis lain. Jika gadis lain akan meminta pendapat agar para laki-laki mau dekat, Arsy malah ingin sebaliknya.


“Anak bernama Juan tadi menyatakan cinta padaku.”


“Apa!! Lalu kau jawab apa?” tanya Margareth.


“Kalau tidak salah aku bilang, apa gadis seusiamu tidak ada yang suka padamu makanya kau menyatakan cinta pada anak berusia sepuluh tahun. Kurang lebih begitu,” jelas Arsy. Terdengar helaan nafas lega dari Margareth, yang membuat Arsy memandang bingung dengan cara Margareth merespon ceritanya. “Kenapa reaksi Mama seperti itu?”


“Tidak ada. Mama cukup bangga karena kamu tidak menerima pernyataan cinta darinya,” ucap Margareth sambil mengusap kepala sang anak.


“Tapi sepertinya dia tidak akan menyerah. Jadi, aku butuh bantuan Mama agar dia tidak terus mengangguk.”


Margareth diam. Wanita itu tengah memikirkan cara yang tepat agar Juan tidak kembali mengusik anaknya. Juan bukan tipe laki-laki yang akan langsung menyerah hanya karena beberapa penolakan, karena sekalinya pemuda itu suka, maka ia akan melakukan segala hal untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

__ADS_1


__ADS_2