
Arsy tengah menghabiskan malam tenangnya dengan sebuah cemilan dan segelas jus jeruk.
“Nikmatnya hari libur,” ucap Arsy dengan mulut yang sudah penuh dengan cookies, sedangkan kedua matanya fokus menatap sepasang sahabat sejati berbeda jenis yang tengah membicarakan sesuatu yang bodoh. Si paling bersih (Sponge), dan si paling kotor (Patt).
Ting
Arsy mengumpat dan menggerutu karena hari liburnya yang indah harus terganggu dengan datangnya seorang makhluk sialan yang terus saja menekan tombol bel rumahnya.
“Siapa sih, ah. Ganggu aja,”
Arsy membuka pintu, dan terkejut saat melihat siapa yang ada di hadapannya.
“Elu ngapain di sini? Dari mana lu tau alamat rumah gue?” tanya Arsy berturut-turut saat melihat Axelle berada di hadapannya dengan bibir yang terus tersenyum seperti psikopat.
“Lu tu kalau ada tamu suruh masuk dulu gitu. Masa iya, cowok seganteng gue dianggurin di depan pintu.”
“Nggak ada lu masuk rumah gue. Mending lu jawab pertanyaan gue trus pulang,” usir Arsy. Gadis itu terus memaksa Axelle keluar dari rumahnya, karena akan sangat berbahaya kalau sampai pemuda itu berada di tempat itu terlalu lama.
“Siapa yang dateng, Sy?” tanya Catty yang baru kembali dari dapur setelah menyiapkan cemilan lain.
“Hai, Catt.”
Mata Catty membola. Gadis itu bahkan menyemburkan minuman yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.
“Ha Hai juga, Xelle.”
Catty langsung berlari ke arah dapur. “Kenapa lu lari kek orang gila sih, Catt?” tanya seseorang yang sejak tadi berkutat dengan wajan dan teman-temannya.
“Masuk kamar. Buruan!” perintah Catty dengan napas memburu. Meski jarak antara ruang tengah dan dapur tidak terlalu jauh, tapi karena terkejut melihat kedatangan Axelle, jantung Catty jadi bekerja berkali-kali lipat lebih cepat dan hal itu membuat napasnya memburu.
“Lu kenapa, sih? Kita kan ma....”
“Axelle di sini, gila. Cepetan atau kita semua bakalan habis!”
“What! Bagaimana bisa?” Devan meletakkan alat penggorengan sembarangan. Pemuda itu mematikan kompor sebelum berlari ke arah kamar yang biasa ia tempati saat menginap di rumah Arsy dan Catty.
“Kenapa lu lari Catt?” tanya Axelle yang baru saja sampai di dapur bersama dengan Arsy.
“Enggak kok. Tadi gue cuma lupa matiin kompor, makanya gue lari lagi ke dapur.”
__ADS_1
Arsy bertanya soal Devan kepada Catty melalui isyarat mata. Gadis itu langsung bernapas lega saat Catty memberi isyarat jika Devan sudah aman dan keadaan sudah kondusif sampai pemuda sinting itu kembali ke rumah.
“Jadi, ada apa lu ke sini?”
“Pelan-pelan napa nanyanya. Lu kek punya dendam kesumat sama gue, sampek ketus begitu.”
“Manusia waras mana yang tidak akan menaruh dendam pada orang yang sudah mem-bully dirinya, dan menghukumnya atas kesalahan yang tidak dia perbuat.” Batin Arsy meronta. Gadis itu benar-benar ingin menjambak dan menghajar Axelle hingga babak belur, kalau perlu sampai masuk rumah sakit, koma trus mati.
“Buruan! Gue nggak ada wak....”
“Gue ke sini mau ngucapin makasih banyak ke elu, karena udah bantuin masalah gue sama Adelia. Kalau nggak ada elu, mungkin gue bakalan nyesel seumur hidup.”
“Enak kali ya kalau kemarin gue biarin lu nanggung kesalahan yang nggak lu perbuat,” ketus Arsy yang membuat Axelle kebingungan.
“Ya jangan dong, Sy. Nggak enak tau menanggung kesalahan yang bukan ulah kita.”
“Itu kambing. Itu yang mau gue katakan. GUE NGGAK SALAH, TAPI KENAPA TETEP LU HUKUM!!” batin Arsy.
Pernyataan Ary membuat seseorang yang tengah berada di dalam kamarnya menahan tawa. Sepertinya setelah kepergian Axelle, dirinya akan dapat pembalasan dari kedua gadis cantik namun sadis yang saat ini tengah memendam dendam padanya.
“Masa? Mending sekarang ku pergi sebelum gue seret lu keluar dari rumah gue.”
Axelle melangkahkan kakinya keluar dari rumah Arsy. Pemuda itu nampak senang saat melihat Arsy memegang lengan tangannya, tapi saat Arsy mengatakan maksudnya memegang lengan Axelle, senyum pemuda itu luntur seketika.
***
Arsy dan Catty sudah bersiap pergi ke rumah Margareth. Kedua gadis muda itu akan melakukan demo pada nenek tua sialan yang sudah memberikan alamat rumah mereka pada Axelle.
Di tengah perjalanan Arsy dan Catty melihat seseorang yang sangat mereka kenal tengah duduk sendirian di depan sebuah mini market sambil menikmati sebotol minuman dingin.
“Catt,” panggil Arsy pada sahabatnya yang tengah sibuk dengan ponselnya. “Lu nggak ada niatan buat bales perbuatan dia?”
“Caranya?”
Arsy membisikkan sesuatu yang membuat Catty tersenyum licik. Gadis itu akan mulai membalas perbuatan Nicolas padanya sampai ia puas.
Arsy dan Catty turun dari mobil. Berjalan santai seolah tidak mengenali Nicolas, namun keduanya sembari berbincang agar Nicolas bisa mendengar suara keduanya.
“Hai, Sy.” Usaha keduanya berhasil. Nicolas mengalihkan pandangannya dan memilih menyapa Arsy dan Catty.
__ADS_1
“Oh, Hai. Lu?” tanya Arsy berpura-pura lupa agar terlihat natural.
“Gue Nic. Kita ketemu di acara pernikahan bokapnya Axelle,” jelas Nic yang membuat Arsy menganggukkan kepalanya. “Lu mau belanja?” tanya Nic sebagai basa basi.
“Kagak! Gue mau buka jasa pijat di dalem.” Arsy menggerutu dalam hati akan kebodohan teman-temannya. Bukankah sudah jelas kalau kita ke mini market berarti kita ingin belanja, bukan open BO.
Catty memberi isyarat pada Arsy agar memperkenalkan dirinya pada Nicolas. Arsy yang paham dengan isyarat mata sang sahabat mulai memperkenalkan Catty kepada Nicolas.
“Nic, kebetulan gue ketemu lu di sini. Gue boleh nitip Catty bentaran? Gue ada urusan mendadak.”
“Gue sih nggak masalah. Catty nya mau nggak dititipin ke gue,” ucap Nicolas sambil menatap Catty yang tengah mengangguk sembari menatap dirinya.
Arsy meninggalkan Catty dan Nic. Gadis itu mengendarai mobilnya dengan terburu-buru. Ia ingin segera sampai di rumah Margareth dan memberi pelajaran kepada nenek tua sialan yang sudah memberitahukan alamat rumahnya pada Axelle.
“Lu tinggal di dekat sini?” tanya Catty pada Nic yang sejak tadi terlihat ingin menyapa dirinya namun urung.
“Ah, nggak. Rumah gue lumayan jauh dari sini.”
“Trus kok lu bisa sampai ke sini?”
“Tadinya gue mau ke rumah Axelle, tapi karena panas gue jadi mampir ke sini bentaran buat ngadem. Naik motor panas,” ucap Nic yang membuat Catty tersenyum manis.
“Sial, senyumnya manis bener. Bikin jantung nggak aman,” batin Nic sesaat setelah melihat senyuman Catty.
“Kalau panas kenapa nggak pake mobil aja?”
“Males. Enakan pake motor bisa nyalip sana sini tanpa takut kena macet,”
Catty hanya menjawab perkataan Nic dengan anggukan kepala. Keduanya fokus dengan ponsel masing-masing untuk beberapa saat. Nic tengah bermain permainan tujuh bujang yang tengah terdampar di suatu pulau tanpa penghuni. Sementara Catty, gadis itu tengah sibuk scroll salah satu akun media miliknya, mencari film terbaru yang akan rilis di bioskop.
“Kenapa Arsy lama banget, ya.”
“Emang kenapa? Lu mau balik?” tanya Nic saat pemuda itu mendengar Catty tengah menggerutu karena Arsy yang lama.
“Aj, nggak. Film yang mau gue tonton tayang perdana sejam lagi. Gue pengen ngajak dia nonton,” jelas Catty yang membuat Nic menawarkan diri untuk menemani gadis itu menonton film yang dia inginkan.
Keduanya sudah sampai di bioskop yang jaraknya tidak terlalu jauh dari mini market tempat Nic bertemu dengan Catty.
“Kita lihat film horor?” tanya Nic saat keduanya sampai di depan tempat pembelian tiket masuk.
__ADS_1
“Heemb. Lu takut?” tanya Catty yang langsung dibalas gelengan cepat oleh Nic.