
Devan bersama dengan Aileen dan juga Clarissa memutuskan untuk berangkat tour bersama dan berkumpul di sekolah untuk mendapat bimbingan sebelum berangkat menuju tempat tujuan. Ketiganya pergi bersama menggunakan mobil Devan, agar tidak ada kecurigaan dan Axelle dan Nicolas. Sejujurnya Devan merasa kasihan melihat dua gadis cantik yang sudah ia anggap sebagai adik bekerja setiap malam hingga pagi dan harus bersiap pergi ke sekolah setelahnya.
“Udah siap semua?” tanya Margareth begitu ia melihat keduanya putrinya bersama dengan Devan sudah terlihat cantik dan tampan. Wanita itu baru saja sampai di rumah kedua putrinya karena tadi pagi ia harus menyiapkan keperluan Axelle sebelum berangkat tour.
“Udah kok, Ma. Kami berangkat duluan, Ma.” Aileen dan Clarissa mencium pipi Margareth sebagai tanda kalau mereka sangat menyayangi wanita yang sudah berbaik hati mengangkat keduanya menjadi seorang anak beberapa tahun yang lalu.
“Kalian semua hati-hati di sana, ya. Maaf Mama baru bisa datang karena harus....”
“Kami tau. Tenang aja, kami sudah cukup dewasa untuk merasa tersisihkan.”
Margareth menanggapi jawaban sang anak dengan senyum bangga. Wanita tua itu tidak pernah merasa salah karena sudah membawa Arsy dan Catty ke dalam hidupnya. Margareth menghampiri kedua putrinya saat mengingat sesuatu, “bagaimana dengan luka di punggung kalian? Apa sudah mendingan?” tanya Margareth yang dijawab anggukan oleh kedua putrinya. Wanita tua itu sering merasa gundah dengan keadaan kedua putrinya yang tidak pernah jauh dari kata bahaya. Tidak jarang juga ia merasa bersalah karena sudah membawa kedua putrinya dalam kehidupan yang seperti sekarang ini, dan jika ia bisa memutar kembali waktu, ia ingin membesarkan kedua putrinya tanpa melibatkan keduanya dalam pekerjaan yang terus mendatangkan bahaya. Tapi ia sadar jika ia tidak bisa melakukan hal tersebut, dia hanya manusia biasa yang hanya bisa mengikuti jalur yang sudah ditetapkan oleh Sang Pencipta.
Aileen bersama dengan Clarissa dan Devan masuk ke dalam mobil. Ketiganya sengaja berangkat lebih pagi untuk menghindari pertemuan dengan Axelle dan para sahabatnya, kedua gadis itu belum siap kalau harus menerima hukuman lagi. Demi apa pun punggung mereka bahkan masih sakit, luka cambukan Axelle dan Nic belum sembuh seratus persen padahal mereka sudah membeli obat yang paling bagus.
“Gue ngantuk banget gara-gara semalam begadang,” ucap Aileen sembari menutup mulutnya yang terbuka. “Mana kepala pusing banget lagi gara-gara kebanyakan mikir.”
“Bukannya lu dari semalam di dalam kamar, ya?” tanya Devan yang diangguki oleh Aileen. Gadis itu bahkan masih setia menguap sejak keluar dari rumah beberapa menit yang lalu. “Emang ada masalah apaan sampai bikin lu begadang?” tanya Devan untuk yang kedua kalinya.
“Gue tu semalam begadang Drakor terbaru itu lho, filmnya Lee Jong-suk sama Im Yoon-ah. Dan gue pusing gara-gara teori yang terus bermunculan di film itu, mulai dari siapa pemimpin para penjahat di film itu? Trus ada lagi teori soal BM yang ternyata bukan nama seseorang tapi nama sebuah perkumpulan dan masih banyak lagi. Sampek puyeng pala gue, tau nggak.” Aileen mengatakan semua hal yang menganggu pikirannya hingga membuat dirinya tidak bisa tidur, namun hal itu memicu mood Clarissa. Awalnya gadis itu berpikir sahabatnya sedang melakukan sesuatu yang besar, nggak taunya hanya sebuah teori tidak berdasar yang ada dalam drama yang sering Aileen tonton. Aileen yang terus berbicara membuat emosi yang coba di redam Clarissa memuncak dan berakhir gadis itu menggeplak kepala Aileen, membuat gadis cantik yang duduk di kursi depan mengasuh kesakitan.
“Kalau lu masih ngoceh, gue nggak bakalan segan buat ngelempar elu keluar dari dalam mobil.” Jika itu orang lain mungkin ancaman Clarissa akan berguna, namun sayangnya yang dihadapi Clarissa saat ini bukan orang lain melainkan Aileen, sahabat sedari kecilnya yang bahkan tidak pernah takut menghadapi apa pun.
“Ya kan gue cuma jawab. Elu kan tadi nanya dan sebagai seseorang yang ditanyai gue punya kewajiban dong buat jawab, gimana sih.” Aileen memalingkan wajahnya ke luar jendela berharap moodnya akan kembali membaik. Demi apa pun sejak pagi moodnya benar-benar berantakan, mungkin karena efek kurang tidur.
“Btw kapan lu berdua siap buat ngasih tau semuanya ke Axelle sama Nic?” tanya Devan dengan pandangan lurus ke depan. Pemuda itu gemas karena kedua gadis cantik berstatus jomblo itu tidak ingin mengatakan yang sejujurnya pada Nic dan Axelle, alasan lain karena pemuda itu juga tidak tega melihat kedua gadis cantik itu terus disiksa oleh dua sahabatnya.
__ADS_1
“Entahlah. Mungkin kalau gue udah puas balas semua perbuatan mereka sama gue, baru gue bakalan pikirin soal bongkar identitas gue yang asli.”
“Sama, gue juga begitu. Rasanya belum puas kalau belum bikin mereka berdua bayar semua yang udah mereka lakuin,” sahut Catty yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya. Devan hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah saat mendengar jawaban dua gadis cantik di depannya, pemuda itu tidak menyangka jika kedua gadis itu menyimpan dendam yang cukup besar pada Axelle dan Nicolas. Dalam hati pemuda itu berdoa agar kedua sahabatnya itu tetap bisa hidup dalam waktu yang lama.
“Kalau boleh tau kapan kalian mau mulai balas dendam?” tanya Devan. Arsy menjawab dengan gelengan karena gadis itu masih belum tau apa yang akan dia rencanakan untuk membalas Axelle, berbeda dengan Catty yang langsung menunjukkan ponsel miliknya sebagai tanda jika ia sudah memulai balas dendamnya pada Nic.
***
“Nic, lu kenapa?” tanya Gavin saat melihat sahabatnya meringkuk di dalam selimut tebal dengan badan bergetar. “Nic,” panggil Gavin. Pemuda itu mendatangi ranjang tempat Nic membungkus dirinya seperti kepompong.
“Jangan mendekat! Pergi kalian semua!” teriak Nic dari dalam selimut.
“Heh bangsat, gue cuma sendiri di sini.” Gavin mencoba membuka selimut Nic namun gagal. Pemuda itu memegang selimutnya dengan sangat erat.
“Hai Gu....” Kalimat Axelle dan Fadhil terhenti saat melihat Nic sedang bersembunyi di balik selimut, sementara Gavin terlihat tengah memaksa sahabatnya keluar dari dalam selimut. “Lu apain anak orang, anjir?” tanya Axelle.
“Gimana nih? Bentar lagi kita harus ngumpul di sekolah.”
Axelle mengusak rambut kepalanya. Pemuda itu bingung melihat sahabatnya yang tiba-tiba sawan, padahal seingatnya tadi malam mereka masih bercanda dan Nic masih baik-baik saja.
“Coba kita tunggu Devan, siapa tau dia punya solusi buat masalah ini.”
Axelle bersama dengan duo Haidar duduk di sofa panjang yang ada di kamar Nicolas. Ketiganya tengah menunggu kedatangan Devan sembari berharap pemuda itu akan datang membawa solusi agar masalah mereka bisa selesai dan mereka semua bisa segera berangkat.
“Si Devan ke mana, sih? Lama bener.”
__ADS_1
“Mana gue tau, Xelle. Kita tu....”
“Hallo semua, Devan datang membawa banyak kebahagiaan dan kedamaian bagi para pendosa seperti kalian semua.”
Semua mata memandang aneh pada Devan yang bersikap alay, tidak seperti biasanya. Tidak hanya itu, pandangan mereka semua fokus pada dua gadis yang ada di belakang Devan.
“Kalian! Ngapain....”
“Hantu!!”
Semua menoleh ke arah Nicolas saat pemuda itu berteriak ketakutan.
“Dev, mending lu tolongin dia dulu gih! Kita udah nggak tau lagi harus ngapain.” Ucapan Fadhil diangguki oleh Axelle dan Gavin.
“Sawan lagi anak orang?” tanya Devan sebagai basa-basi agar yang lain tidak curiga.
“Hooh. Padahal semalam masih waras, sekarang tiba-tiba begini.” Axelle menjelaskan semua yang terjadi pada Devan, berharap pemuda itu bisa menemukan solusi dari rangkaian kejadian yang mereka lalui bersama Nic sebelum pemuda itu sawan.
Devan menatap Clarissa seolah minta bantuan gadis itu, namun Clarissa justru memalingkan wajahnya seolah tidak melihat Devan.
Devan membuang napas kasar. Berharap Nic bisa sembuh dengan sendirinya, namun ada satu hal yang membuat dirinya penasaran. Pemuda itu mengambil ponsel milik Nic, dan ia seketika berteriak kencang dan melempar ponsel milik sahabatnya saat melihat sesuatu di layar ponsel Nic.
“Lu kenapa, bangsat?”
Yang lain ikut terdiam karena teriakan Devan. Berbeda dengan Clarissa yang mati-matian menahan tawanya agar tidak ada yang mencurigai dirinya.
__ADS_1
“Gimana dia nggak sawan kalau lihat beginian!” seru Devan sembari melempar ponsel milik Nic kepada sahabatnya yang lain.
Devan menatap Clarissa sembari menggelengkan kepalanya, pemuda itu tidak menyangka jika Clarissa akan mengirimkan gambar seorang wanita cantik dengan kedua bola matanya yang melompat keluar dan juga mulut besarnya yang dirobek seseorang hingga mengalirkan darah yang sangat banyak. Clarissa hanya mengangguk sebagai jawaban dari tatapan mata Devan, gadis cantik itu masih berusaha menahan tawanya agar tidak keluar.