
BRAKK!!
“Tenanglah! Kita yakin kok kalau dia nggak ada niatan apa pun sama elu.” Haidar mengusap bahu Axelle yang berhasil membuat siswa satu kelas berhamburan keluar, padahal jam pelajaran masih berlangsung.
“Jijik banget gue sama dia. Sok-sokan pengen dekat, bilang aja kalau dia mau harta bokap gue dan nyuruh gue nggak minta bagian. Matre, sama aja kayak yang lain.”
Axelle benar-benar muak dengan mama tirinya.
“Sudahlah, Xelle. Lagian mama baru lu terlihat baik, dan cukup mampu buat jinakin elu.” Kalimat penenang yang Nico ucapkan membuat dirinya mendapat tatapan mematikan dari Axelle.
Saat ini mereka berlima tengah berada di kelas. Awalnya kelas itu penuh dengan murid-murid yang tengah belajar mata pelajaran matematika, tapi semua berhamburan keliar termasuk wali kelas mereka saat anak dari pemilik sekolah menggebrak meja dan mengumpat sembari melempar ponsel miliknya hingga hancur setelah mendapat pesan dari mama barunya yang berisi, “Mama akan menunggumu pulang dan makan bersama.”
Axelle yang memang pada dasarnya mudah terpancing emosi, langsung marah dan menghancurkan apa pun yang ada di hadapannya.
Sebenarnya Axelle belum pernah menyapa wanita itu setelah acara pernikahannya dengan ayah Axelle, dan dia juga tidak ingat memberikan nomornya pada wanita tua itu. Jadi ada dua kemungkinan manusia yang berani memberikan nomornya pada wanita itu, pertama ayahnya, dan yang kedua Alex.
“Benar-benar wanita yang menjijikkan,” gumam Axelle penuh penekanan. Siapapun yang mendengarnya akan merinding ketakutan saat Axelle sudah berbicara dengan penuh penekanan.
“Lagian sampai kapan lu mau bersikap seperti itu? Istri baru ayah lu kali ini berbeda dengan yang sebelumnya.”
“Devan benar. Ia terlihat lembut namun kuat. Di sampingnya gue merasa seperti sedang diintimidasi,” ucap Gavin yang diangguki oleh yang lain.
“Bagaimana kalau lu ikutin aja alur yang dibuat nyokap tiri lu? Kalau menguntungkan lu bisa terima dia, tapi kalau sebaliknya kita bisa bongkar semua rahasia dia. Setuju?” usul Fadhil.
Axelle melirik sekilas ke arah Fadhil dan kembali memalingkan mukanya. Mood pemuda itu benar-benar sedang buruk dan dia butuh pelampiasan.
“Tidak selamanya nyokap tiri itu buruk, Xelle.”
Axelle berdecih. Jijik sekali rasanya ia mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari mulut busuk para sahabatnya. Ia sudah terbiasa hidup sendirian.
__ADS_1
Ayahnya selalu sibuk dengan pekerjaan dan bisnis, mengumpulkan pundi-pundi harta dengan alasan untuk kebahagiaan dirinya padahal semua itu hanya modus agar laki-laki tua itu bisa terus berhubungan dengan wanita muda lain. Soal mama tirinya, Axelle tidak peduli dan tidak ingin peduli. Melihat wajahnya lama-lama bisa membuat pemuda yang duduk di kelas XI mendadak darah tinggi.
Axelle meninggalkan para sahabatnya. Ia butuh sesuatu yang bisa mendinginkan otaknya yang mendidih saat ini. Ia butuh sesuatu atau mungkin seseorang untuk jadi sasaran amukannya. Axelle tidak bisa terus berdiam diri, atau dia akan benar-benar bunuh diri.
Axelle tersenyum licik saat melihat dua orang gadis cantik tengah berjalan ke arahnya sambil bersenda gurau.
“Gadis bodoh!”
***
“Sy, lu baik-baik aja kan? Jangan mati dulu dong, Sy. Ntar gue sama siapa kalau lu mati duluan,” cerca Catty saat melihat sahabat baiknya tengah terdiam. Gadis malang itu terus mencoba mengajak sahabatnya berbicara. Sejak kepulangannya dari acara pernikahan kemarin, Arsy jadi sangat pendiam dan tidak bisa diajak untuk berbicara. Gadis itu bahkan mogok makan dan tidak mau pergi sekolah, ia juga melarang Catty buat pergi ke sekolah. Kalau tau akan berakhir didiamkan seperti sekarang, maka Catty akan memilih sekolah dari pada harus menunggui Arsy yang mendadak jadi bisu.
“Arsy, lu kemarin lihat setan? Apa lu lihat sesuatu yang bikin lu jadi begini? Atau jangan-jangan ada yang ngenalin elu. Arsy!” Catty mengguncang tubuh sahabatnya, tapi gadis itu tetap diam.
Melamunkan sesuatu yang Catty sendiri tidak tau apa yang tengah di pikirkan sahabatnya. Coba saja ia punya kekuatan super untuk membaca pikiran orang, pasti itu akan sangat berguna saat ini.“Sy, lu kesambet setan mana sih? Ngomong dong.”
“Eh goblok, gue nyuruh lu ngomong bukan teriak!” seru Catty setelah menggeplak kepala Arsy yang tiba-tiba berteriak di dekat telinganya.
“Apa lu tau siapa mempelai laki-laki di acara kemarin?” tanya Arsy tiba-tiba.
“Marcel Adhitama. Gue tau karena tertera di undangan yang lu terima kan,” ucap Catty yang masih jengkel karena tidak bisa menemani sahabatnya datang ke acara kemarin. Padahal ia sudah punya banyak rencana untuk memeriahkan acara itu, tapi dirinya malah tidak bisa datang. Sial.
“Apa lu tau siapa itu Marcel Adhitama?” tanya Arsy lagi.
“Ya suaminya nyonya Adhitama lah gila. Maksud lu apa sih, ah. Gue tenggelemin juga lu lama-lama!”
“Apa lu tau soal Marcel Adhitama sama....”
“Oh, itu. Kalau yang lu maksud soal hubungan Marcel Adhitama dan Axelle Adhitama, gue udah tau. Kan kemarin gue udah bilang, dasar elu nya aja yang bego. Udah dikodein nggak ngerti juga,” ucap Catty yang membuat kepala Arsy makin tertunduk. “Lagian kan kemarin siang gue udah bilang, coba lu inget-inget soal Green Tower sama tugas lu.”
__ADS_1
“Gue benar-benar nggak habis pikir, kenapa dunia gue bisa sesempit ini. Dosa apa gue sampek ke mana-mana selalu ketemu dia,” gerutu Arsy.
“Jodoh kali. Emang lu ketemu sama dia?”
“Ih, mulut. Emang lu tega apa sahabat lu yang cantik, baik hati, berbudi baik, rajin menabung dan tidak sombong ini berjodoh sama manusia jelmaan iblis kek dia.”
“Ya kalau emang udah jodoh, mau diapain lagi.”
“Bener-bener lu ye.”
“Lu belum jawab pertanyaan gue, Arsy. Emang lu ketemu sama dia?” tanya Catty untuk yang kedua kalinya.
“Gue nggak tau dia lihat gue di sana atau nggak, tapi yang pasti dia ada di sana barengan sama Alex.”
“Alex yang di kenal sebagai si ‘sumber informasi’ itu? Kenapa dia bisa ada di sana?” tanya Catty. Gadis itu mulai sedikit penasaran dengan keluarga Adhitama, meski pemimpin mereka sudah melarang mereka untuk mencari tau soal keluarga itu, tapi Catty benar-benar penasaran.
“Dari yang gue denger dari tamu yang datang, Alex anak pertama dari tuan dan nyonya Adhitama.”
“Tapi kenapa dia nggak pernah kelihatan? Apa hubungannya dengan keluarganya tidak baik?”
“Dari yang gue denger, Alex pergi ninggalin Axelle dan tinggal bersama nenek kakeknya sehari setelah pemakanan nyonya Adhitama. Dan sejak saat itu hubungannya dengan Marcel dan Axelle merenggang,” jelas Arsy yang diangguki oleh Catty.
“Udah ah, gue mau siap-siap dulu.”
Arsy kembali ke kamarnya. Gadis itu menghabiskan waktu setengah jam untuk mandi dan berpakaian. Rambut kuncir dua, tas samping warna hitam, seragam panjang dan tak lupa tompel hitam yang menghiasi pipinya.
“Lu mau sekolah?” tanya Catty. “Ini udah jam berapa, Arsy. Yang ada lu dihukum suruh keliling lapangan kalau baru berangkat,” tambah Catty namun tidak digubris oleh sahabatnya.
“Tungguin gue!” teriak Catty saat melihat Arsy tengah memakai sepatu.
__ADS_1