Mask

Mask
Bagian 39


__ADS_3

Arsy dan Margareth menginjakkan kaki mereka di sebuah tempat yang sangat indah. Gadis itu membolakan matanya, tidak menyangka jika ada tempat seperti itu di dunia nyata.


“Indah bukan?” tanya Margareth. “Di tempat ini adalah satu-satunya tempat di mana penjahat dan orang baik bisa duduk bersama tanpa rasa khawatir.”


“Apa mulai sekarang aku akan tinggal di tempat ini?” tanya Arsy tanpa mengalihkan pandangannya dari pemandangan yang indah.


“Kau benar. Selama enam tahun ke depan kau akan tinggal di sini, dan aku sudah memerintahkan beberapa maid untuk membantu semua keperluanmu selama kau ada di tempat ini.”


Arsy kecil bersama dengan Margareth tengah berada di dalam pusat belanja. Keduanya ingin mencari beberapa pakaian untuk Arsy dan juga beberapa cemilan yang akan mambantu gadis itu memperpanjang sisa hidupnya.


“Apa aku boleh beli beberapa barang yang aku inginkan?” tanya Arsy. Ada beberapa barang yang ingin dia beli, dan menurutnya itu penting.


“Kau boleh ambil apa pun dan sebanyak apa pun. Mama akan mengaturnya,” ucap Margareth. Wanita itu tengah memilih beberapa pakaian yang menurutnya cocok untuk putri kecilnya.


“Anu... tapi ... itu... barang yang aku inginkan tidak ada di tempat ini. Lebih tepatnya ada di samping toko ini,” gagap Arsy.


Margareth berhenti sejenak dan menatap mata sang anak yang berubah. Jika biasanya Arsy akan menampilkan wajah tanpa ekspresi, tapi kali ini berbeda dan Margareth cukup tau apa yang diinginkan sang anak kali ini.


“Ambil ini,” pinta Margareth. “Kau bisa melakukan apa pun dan membeli apa pun, dan PINnya hari ulang tahunmu.”


Arsy tersenyum manis dan segera berlari keluar dari toko pakaian langganan Margareth. Ketika wanita tua itu sibuk memilih pakaian tiba-tiba terdengar suara keramaian yang membuat fokusnya terganggu. Wanita tua itu memilih meletakkan belanjaannya dan menghampiri keramaian yang menganggu pendengarnya.


“Ada apa ini?” tanya Margareth pada seseorang pegawai yang berdiri di depannya.


“Itu Bu. Ada anak kecil sedang dihajar oleh pegawai toko sebelah, katanya karena anak itu mencoba untuk membeli tokonya.”


“Oh Cuma itu.” Margareth berniat kembali ke dalam toko, namun langkahnya terhenti dana matanya membola sempurna setelah ia mencerna dengan baik ucapan pegawai yang ia temui tadi.


Margareth reflek berlari kembali ke arah kerumunan. Wanita tua itu membelah kerumunan dan terkejut saat melihat anaknya tengah dimaki-maki dan juga dipukuli oleh seorang pemuda tidak tau diri.

__ADS_1


“Lu pikir lu siapa sampai mau beli toko gue, hah! Dasar bocah nggak tau diri.”


“Tapi aku beneran mau beli. Aku ada uangnya,” ucap Arsy. Gadis kecil itu sudah beberapa kali kali mengatakan kalau dia ada uangnya dan akan membeli toko itu, tapi para pegawai tidak percaya.


“Berhenti bicara bodoh, atau gue bakalan....”


“Bakalan apa,” ucap Margareth penuh penekanan. Semua orang yang ada di sana seketika menundukkan kepalanya saat melihat siapa yang berbicara. “Kenapa kau diam? Aku tanya apa yang akan kau lakukan padanya?” tanya Margareth.


“Dia terus membual akan membeli toko kami, Bu. Makanya teman saya memarahinya,” ucap seorang pegawai lain dengan seragam yang mirip dengan seragam yang dipakai pemuda yang sudah memakai Arsy.


“Tapi yang aku lihat kalian sedang memaki dan memukuli anak itu. Apa kau tau dia siapa?” tanya Margareth yang dijawab gelengan oleh semua orang yang ada di sana. “Dia anakku.”


Semua orang yang mendengar penuturan Margareth terkejut, begitu juga dengan pegawai yang sudah memukuli Arsy.


“Apa aku boleh membalas?” tanya Arsy pada Margareth. Wanita tua itu mengangguk sebagai jawaban, karena Margareth memang mengajarkan kedua putrinya untuk membalas setiap kejahatan yang dilakukan orang pada mereka.


Gadis kecil itu langsung berdiri. Sorot matanya berubah drastis, dari yang begitu menggemaskan seketika berubah menjadi mengerikan membuat setiap mata yang melihatnya langsung menundukkan kepalanya.


Semua orang yang awalnya menganggap remeh Arsy, kini hanya bisa melongo. Sedikit tidak percaya jika anak sekecil itu bisa merobohkan pegawai laki-laki yang tadi memakinya.


Arsy mendekati pegawai yang terbaring di lantai karena dirinya. “Aku minta maaf karena sudah menghajarmu, tapi apa sekarang aku boleh membeli toko ini?” tanya Arsy.


“Aku akan memberikan semuanya tapi jangan tokonya, karena toko ini....”


“Kalau begitu bisa antar semua yang ada di dalam untuk anak dan kakek yang ada di sana?” tanya Arsy sembari menunjuk ke arah jalanan. “Tolong bawa kakeknya ke rumah sakit juga, karena dia terlihat tidak sehat.”


Para pegawai di toko itu mengangguk dan langsung mengemasi barang di toko mereka untuk diberikan kepada kakek dan anak kecil yang ada di luar gedung.


Margareth menggendong sang anak. Wanita tua itu semakin hari semakin takjub dan bangga dengan Arsy. Namun wanita tua itu menangkap sesuatu yang aneh pada anaknya.

__ADS_1


“Apa sangat sakit?” tanya Margareth sembari membolak-balik wajah sang anak.


“Tidak begitu.


“Kalau begitu kenapa kau diam saja dari tadi?” tanya Margareth untuk yang kedua kalinya. Sungguh melihat anaknya diam tak berdaya seperti sekarang cukup membuatnya bingung.


“Mama akan membayar belanjaanku tadi dan juga biaya rumah sakit kakek tadi kan?” tanya Arsy polos.


“Tentu saja.”


Mendengar jawaban Margareth senyum Arsy langsung kembali. Gadis kecil itu memeluk tubuh wanita yang sangat ia sayangi dan hormati.


Setelah selesai membeli keperluan Margareth dan Arsy kecil memilih untuk kembali pulang karena keduanya harus istirahat.


Langkah keduanya terhenti saat seorang pemuda kecil yang terlihat lebih tua dari Arsy menghadang jalan mereka.


“Hai Calon istri,” sapa pemuda itu pada Arsy.


“Juan pergilah!” perintah Margareth.


“Nggak mau. Lagian kenapa kau tidak pernah bilang kalau kau punya putri yang sangat cantik,” marah Juan.


“Besok kau bisa kenalan sendiri dengannya karena mulai besok dia akan bersekolah di tempat yang sama dengan kau dan juga Xander. Jadi bisakah kami pergi?” tanya Margareth. Namun bukan Juan namanya jika langsung mengiyakan omongan Margareth.


“Dengar Juan. Kalau....”


Margareth menarik napas panjang saat melihat Juan dan juga Arsy sudah tidak ada di sampingnya. Anak kurang ajar itu sudah membawa lari anak gadisnya yang lucu dan menggemaskan, meski kadang lebih menakutkan dari dirinya saat merah tapi Arsy tetap menggemaskan.


Wanita itu mengambil ponsel miliknya dan menghubungi seseorang. “Bawa kembali anak ku yang di bawa kabur oleh Juan, atau anakmu mati di tanganku!” ancam Margareth.

__ADS_1


Margareth memijat kepalanya yang pusing gara-gara tingkah Juan. Anak dari salah satu sahabatnya yang tidak pernah mau mendengarkan omongannya.


“Nggak anak, nggak bapak sama bangsatnya.”


__ADS_2