
Sejak tadi Aileen dan Clarissa duduk diam di kursi belakang. Kedua gadis itu bahkan hanya menjawab pertanyaan Axelle dengan anggukan, gelengan dan beberapa kata singkat.
“Lu berdua lagi sariawan dadakan apa gimana?” tanya Axelle yang mulai geram karena kedua gadis itu hanya menjawab singkat setiap pertanyaan yang dia ajukan.
“Ng....”
“Lu jawab singkat sekali lagi, gue telanjangin lu berdua di dalam mobil!” ancam Axelle yang membuat kedua gadis malang yang duduk di belakang terdiam.
Suasana di dalam mobil kembali tenang karena semua sibuk dengan ponsel masing-masing, bahkan Fadhil sudah berpindah alam sejak beberapa menit yang lalu.
“Pak, nanti kalau ketemu minimarket berhenti sebentar.”
“Iya, Mas.”
Axelle kembali sibuk dengan ponsel miliknya sembari menunggu pak Lee berhenti di minimarket.
“Kok gue tiba-tiba kangen sama calon pacar gue, ya. Apa gue telfon dia aja,” monolog Axelle. Pemuda itu berniat menghubungi Arsy namun Aileen lebih dulu merampas ponselnya yang membuat Axelle naik darah. “Maksud lu apa, hah!”
“Mampus lu, Aileen. Sekarang lu mau nyari alasan apalagi,” batin Aileen. Gadis itu terus diam namun otaknya terus berpikir alasan yang tepat agar Axelle tidak menghubungi nomer Arsy.
“Anu kalau kamu telfon calon pacar kamu, trus denger suara aku atau Clarissa nanti dia marah. Trus nyangka kamu main sama cewek lain,” gagap Aileen. Gadis itu memberi isyarat pada Clarissa yang duduk di sebelahnya agar membantunya mencari alasan yang tepat agar Axelle tidak curiga.
Clarissa yang mengerti langsung membenarkan kalimat yang diucapkan Aileen, dan membuat Axelle mengangguk paham.
“Tinggal bilang kalo calon pacar gue cemburu aja, ribet banget. Dasar bego,” ejek Axelle yang membuat Aileen tersenyum paksa.
“Mas, kita udah sampai.” Pak Lee menginterupsi Axelle kalau mereka sudah berada di depan minimarket.
“Makasih ya, Pak. Saya turun dulu,” ucap Axelle diangguki oleh pak Lee dan yang lainnya.
“Non Arsy sama Non Catty nggak turun?” tanya pak Lee pada dua gadis yang tengah menundukkan wajahnya.
“Mereka Aileen sama Clarissa, Pak. Bukan Arsy sama Catty,” ucap Nicolas yang dijawab tawa oleh pak Lee.
“Dari kecil saya yang nganter dua Nona kecil ini bermain dan ke sekolah, jadi nggak mungkin saya salah orang, Mas. Benarkan Nona?” tanya pak Lee.
__ADS_1
Aileen dan Clarissa membuang napas kasar. “Padahal kami pikir Pak Lee nggak bakalan ngenalin kami, soalnya dari tadi Pak Lee diem aja. Nggak taunya,” gerutu Arsy sembari membuka tompel palsu di wajahnya, sementara Clarissa membenarkan beberapa riasannya dan hal tersebut sukses membuat Nic dan duo Fadhil berteriak karena terkejut.
“Kenapa teman-teman Nona terlihat begitu terkejut?” tanya pak Lee yang merasa aneh dengan sikap Nic dan duo Haidar.
“Itu karena mereka nggak tau kalau ini kami, Pak.”
Nicolas bersama dengan duo Haidar hanya terdiam dengan mulut terbuka. Ketiga pemuda itu masih mencoba mencerna apa yang baru saja mereka lihat, dan berharap kalau itu semua hanya mimpi.
“Lagian bagaimana bisa Bapak bisa bedain kami?” tanya Arsy sembari menyeruput minuman yang ia bawa.
“Di tangan kanan Nona Arsy ada tato angka 13, sementara Nona Catty punya tato dengan angka 9 di leher belakang telinga.”
“Yang paling nampak tato gambar sayap kupu-kupu yang saling terhubung di urat nadi kalian,” tambah Devan yang membuat kedua gadis itu mengangguk. Dari jawaban Devan, kedua gadis itu jadi tau alasan pemuda itu bisa dengan mudah mengetahui kalau keduanya adalah Arsy dan Catty.
“Apa Mas Axelle juga nggak tau kalau anda berdua Nona Arsy dan Nona Catty?”tanya pak Lee.
“Pemuda bodoh, dongo dan tidak punya otak kayak dia mana bisa bedain kami, Pak.” Ucapan Arsy membuat pak Lee ingin tertawa. Laki-laki tua itu tidak menyangka jika kedua Nona cantiknya tengah memainkan sebuah permainan peran yang sepertinya sangat seru.
“Tapi, bagaimana bisa?” tanya Nic yang masih terkejut dengan apa yang dilihatnya.
“Sejak kapan lu tau kalau mereka Arsy dan Catty, Dev?” tanya Fadhil yang masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
“Dia udah tau lama. Lebih tepatnya dua bulan setelah kami masuk ke sekolah kalian,” jelas Arsy yang membuat para sahabatnya ternganga.
“Tapi kenapa lu nggak ngasih tau kita? Kenapa lu biarin kita nge-bully mereka?” tanya Gavin.
“Biar seru. Udah lu pada diem, lihat Axelle udah keluar.” Suara Devan menginterupsi kedua gadis itu untuk kembali ke penampilan semula. Aileen dengan tompel di wajahnya, dan Clarissa dengan wajahnya yang kusam dan tidak terawat.
“Jangan bilang Axelle soal ini, atau gue kirimin kuntilanak beserta kuburannya ke kamar elu!” ancam Clarissa yang membuat Nic terpaksa menuruti keinginan kedua gadis yang saat ini sudah kembali ke bentuk semula.
Axelle kembali dan cukup merasa aneh karena para sahabatnya yang terlihat terkejut, seperti habis melihat hantu.
“Lu pada habis lihat apaan? Kenapa tegang begitu?” tanya Axelle sembari mengunyah keripik. Namun ketiga sahabatnya tidak ada yang menjawab pertanyaan Axelle, mungkin karena mereka masih syok dengan kenyataan yang baru saja mereka dapatkan. “Habis kalian apain mereka?” tanya Axelle pada Clarissa dan Aileen.
“Kita nggak ngapa-ngapain. Tadi kami cuma main batu, gunting, kertas terus yang kalah bakalan nanggung biaya hidup yang menang selama tour.” Aileen mengarang cerita dadakan dengan sangat mudah, dan hal itu cukup membuat Nic bersama dengan duo Haidar tersenyum kecut.
__ADS_1
“Dan hasilnya?”
“Mereka bertiga kalah. Jadi selama tour berlangsung biaya hidup kami berdua, mereka yang tanggung. Mulai dari biaya makan, belanja, dan yang lainnya.” Aileen menutup karangan dadakannya dengan senyum yang merekah indah, namun terlihat begitu mengerikan bagi ketiga sahabat Axelle.
“Trus, kok muka lu biasa aja? Lu menang?” tanya Axelle pada Devan yang terlihat biasa saja.
“Gue nggak ikutan,” jawab Devan singkat yang membuat Axelle diam dan kembali duduk di tempatnya agar mereka bisa segera berangkat.
***
Lebih dari lima jam mereka habiskan di dalam mobil dan hal itu cukup membuat mereka letih.
“Pak, lokasi tour masih jauh?” tanya Axelle yang sudah tidak tahan duduk di dalam mobil.
“Nggak kok, Mas. Sekitar sepuluh menit lagi kita sampai,” jawab pak Lee yang diangguki oleh Axelle.
Dan benar saja, tidak lama kemudian mereka sudah sampai di sebuah laut yang menjadi tujuan tour kelas mereka kali ini. Beberapa teman mereka terlihat tengah menikmati keindahan laut dan beberapa ada yang berenang dan ada juga yang bermain voli pantai.
Axelle bersama dengan yang lainnya tengah menurunkan barang yang dibantu oleh Aileen, Clarissa juga pak Lee.
“Makasih ya Pak sudah nganter kami.” Mereka berpamitan kepada pak Lee, setelah itu berjalan menuju rombongan. Namun saat mereka sudah agak jauh, pak Lee memanggil Aileen untuk kembali ke mobil karena ponselnya tertinggal.
“Non, dengerin Pak Lee baik-baik. Pulau yang mau Non tuju bersama dengan yang lainnya bukan pulau sembarangan, dan pastikan Nona menyelesaikan semuanya dan pastikan kalian semua pulang dengan selamat.”
Aileen mengerutkan keningnya. Gadis itu tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh sopir kepercayaan Margareth. Saat gadis itu ingin menanyakan maksud dari ucapannya, pria tua itu hanya diam dan berlalu pergi.
“Apa maksud dari kalimat pak Lee tadi, ya?” monolog Aileen pada dirinya sendiri. Entah kenapa perasaannya mendadak nggak enak setelah mendengar penuturan pak Lee.
“Kenapa Sy?” tanya Catty saat melihat sahabatnya terdiam di tempatnya bahkan setelah pak Lee pergi.
“Perasaan gue nggak enak banget, Catt. Ada apa ya?” tanya Arsy.
“Emang tadi pak Lee ngomong apa?”
“Dia cuma ngomong kalau pulau yang bakalan kita tuju bukan pulau sembarangan, trus kita juga di suruh hati-hati. Tapi kalimat pak Lee yang bikin gue nggak tenang tu ‘Non harus menyelesaikan semuanya dengan cepat dan pastikan semua kembali dengan selamat’. Maksudnya apa coba?” tanya Arsy yang membuat Catty ikut terdiam.
__ADS_1