Mask

Mask
Bagian 15


__ADS_3

Margareth baru saja membeli sebuah rumah yang cukup besar. Wanita itu membeli rumah tersebut untuk di tempati oleh salah satu dari ketiga anaknya. Itupun kalau mereka mau.


“Mau singgah ke rumah baruku?” tawar Margareth kepada Marchel.


“Kau membeli rumah baru?” Margareth hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh laki-laki yang sudah hampir setengah tahun menjabat sebagai suaminya.


Keduanya baru saja melakukan perjalanan bisnis yang cukup melelahkan, dan beristirahat di rumah baru Margareth adalah pilihan yang sangat tepat, mengingat mereka masih harus menempuh kurang lebih dua jam perjalanan untuk sampai di rumah.


Setelah lima belas menit berkendara, akhirnya mereka sampai di rumah baru Margareth.


“Sayang, apa benar ini rumahnya?”


“Harusnya iya. Tapi kenapa hancur begini?”


Margareth sedikit bingung karena keadaan rumahnya saat ini berbeda sangat jauh dari awal ia membelinya. Rumah tersebut nampak gelap, pot bunga yang beberapa hari yang lalu nampak rapi kini hancur berkeing-keping. Bunga yang ia tanam dengan segenap jiwa dan raga sudah terkulai mengenaskan di tanah. Seingatnya yang ia beli sebuah istana megah, tapi ini nampak seperti rumah hantu.


Margareth melangkahkan kakinya mencoba lebih dekat dengan pintu utama.


“Sayang jangan! Sebaiknya kita hubungi polisi terdekat, jaga-jaga kalau ada orang jahat di dalam. ”


Mata Margareth memicing saat indra penglihatannya secara samar melihat sebuah mobil berwarna putih dengan merek yang sangat ia kenali.


“Jangan takut! Tidak ada orang jahat di dalam. Hanya ada gadis kecil yang tengah mengamuk,”


Margareth masuk ke dalam rumah diikuti oleh Marcel.


"Hai, Baby.” Sapa Margareth.


“Arsy? Apa ini semua ulahmu?” tanya Marcel. Namun bukannya jawaban atau bahkan senyum yang ia dapatkan, tapi tatapan mematikan yang membuat tubuh Marcel bergetar. Margareth yang paham suaminya tengah ketakutan dan gadis di depannya tengah dalam keadaan yang tidak bisa diajak bercanda, memilih untuk memeluk suaminya. Serem juga kalau tiba-tiba Arsy kalap trus Marcel dimutilasi dadakan. BIG NO! Margareth belum siap jadi janda lagi.


“Sisa?” tanya Margareth pada Arsy yang dijawab gadis itu dengan isyarat tangan angka 1, yang berarti kamar utama yang belum ia sentuh.


“Sayang, masuk ke kamar utama yang ada di lantai dua paling ujung. Jangan keluar apa pun yang terjadi, karena Arsy yang saat ini bisa membunuhmu kapanpun dia mau.” Marcel hanya mengangguk dan berlari ke arah yang sudah ditunjukkan oleh sang istri.


“Apa ini hadiah selamat datang untukku? Atau ada sesuatu yang lain sampai kau harus repot-rept menghancurkan rumahku.”

__ADS_1


“Apa tujuanmu memberitahu Axelle alamat rumahku?”


“Dia bertanya, jadi sebagai ibu yang baik aku harus menjawab pertanyaan yang dia ajukan.”


“Apa kau lupa kalau di rumah itu bukan hanya ada sosok Arsy dan Catty, tapi juga ada Aileen dan Clarissa. Apa kau lupa soal itu!"Arsy berkata dengan nada tinggi. Gadis itu mengepalkan tangannya, sudah siap menghajar wanita sialan yang hampir membuat dirinya dalam masalah besar.


“Mama Minta maaf untuk itu. Wanita tua ini benar-benar lupa soal Aileen dan Clarissa. Tapi...."


“Lain kali ingat baik-baik kalau di antara aku dan Catty ada Aileen dan Clarissa. Nasib baik rumahmu hanya ku hancurkan, lain kali ucapkan selamat tinggal pada rumah sialan ini.”


Margareth hanya menggeleng kepala melihat Arsy yang menendang pintu utamanya dengan sangat keras, membuat kayu berukuran besar itu retak. Gadis itu meluapkan segala emosinya kepada rumah dan seluruh perabot di dalamnya.


Margareth berjalan mengelilingi rumah barunya. Sungguh di luar dugaan, semuanya hancur di tangan Arsy. Bahkan kursi taman yang sengaja ia pesan khusus dari Paris juga tak luput dari tangan gadis mengerikan itu. Bahkan lampu dan furnitur lain yang ia pesan dari luar negeri juga hancur tanpa sisa.


“Sepertinya aku harus keluar uang lagi untuk menyewa orang bersih-bersih, juga beberapa tukang. Anak itu tidak pernah main-main jika moodnya sedang buruk. Marcel sampai dibuat gemetaran hanya dengan tatapannya saja.”


***


Axelle bersama dengan anggota Dead Dragon yang lain tengah kebingungan. Hari ini mereka dihubungi oleh orang tua Nicolas, mengatakan bahwa pemuda itu bersikap aneh setelah pulang dari rumah Axelle.


“Xelle, lu apain dia kemarin?”


“Ampun! Jangan mendekat!” teriak Nicolas yang membuat Axelle dan yang lainnya kebingungan.


“Ni bocah habis diperkosa om-om gang rumah gue apa gimana? Jadi serem begini.”


“Ruqyah aja gimana?”


“Matamu! Dikiranya si Nic kesetanan makanya di Ruqyah.”


“Tolongin gue, please. Setannya serem banget.” Nic memeluk tubuh Axelle dengan sangat erat. Pemuda itu meminta bantuan teman-temannya untuk mengusir setan yang ada di kamarnya.


Duo Haidar bersama yang lain langsung duduk dan mulai membaca Ayat suci agar setan yang ada di diri temannya segera pergi. Namun, bukannya tenang Nic malah semakin berteriak dan berlari keluar kamar.


“Heh anak unta. Lu tu sebenarnya ngusir setan apa malah manggil setan? Sampek si Nic kelabakan begitu.” Devan hanya menepuk jidatnya melihat kelakuan para sahabatnya. Pemuda itu bingung dengan dirinya sendiri karena bisa kenal, dekat dan bahkan bersahabat dengan para manusia tidak punya otak yang kini tengah berdiri di hadapannya.

__ADS_1


“Bukannya kemarin si Nic bagiin gambar di group DD? Ada yang udah buka?” tanya Devan. Yang lain menggeleng dan langsung membuka gambar yang dikirim Nic. Mata mereka langsung membola saat melihat gambar yang di kirim oleh teman mereka yang takut akan yang namanya setan.


“Si Nick nonton film horor?” tanya Axelle yang diangguki oleh yang lain.


“Cewek yang sama Nick. Lu kenal, Xelle?” tanya Haidar. Membuat fokus yang lain langsung beralih ke sosok wanita cantik yang berpose manis saat berfoto dengan Nic.


“Dia Catty. Salah satu anak angkat nyokap tiri gue. Bagaimana bisa dia kenal sama Catty?”


“Mana gue tau. Coba lu telfon dia! Minta dia buat temui kita di markas. Biar jelas trus si Nic bisa cepet sembuh,” saran Devan yang langsung diangguki oleh yang lain.


“Kalau nomer si Catty gue nggak ada. Gue ada nomernya si Arsy, dia tinggal satu rumah sama Catty. Biar gue telfon dia aja,” ucap Axelle sebelum melangkah pergi meninggalkan teman-temannya untuk menghubungi Arsy.


Sementara itu Arsy yang tengah bersiap tidur harus membatalkan niatnya karena ponsel miliknya berdering.


“Demi Tuhan kalau sampai ni telfon nggak penting, besok gue mutilasi ni orang!” gerutu Arsy saat melihat siapa yang menghubungi dirinya di saat yang sangat tidak tepat.


“Ada apa?”


“Lu lagi sama Catty, nggak?” tanya Axelle dari balik sambungan telepon.


“Ya lu pikir aja sendiri. Gila!”


Arsy berniat mematikan sambungan telfon tersebut sebelum Axelle berkata jika ia menunggu Arsy dan Catty di markas Dead Dragon.


“Gue tunggu di markas. Ini penting, soal Nic. Jangan lupa bawa Catty juga,” ucap Axelle yang membuat Arsy bangkit dari kasur nyamannya.


“Kalau sampai lu bohong. Habis lu sama gue!”


Arsy mematikan sambungan telfon sepihak. Gadis itu langsung berjalan ke arah kamar Catty yang ada di sebelah kamarnya.


“Catt, cepet siap-siap. Axelle nunggu kita di basecamp Dead Dragon, katanya ada yang penting.”


“Penting apaan?” tanya Catty yang hanya menyembul kan kepalanya yang membuat Arsy sedikit terkejut.


“Mana gue tau. Katanya ini soal Nic. Emang tu bocah habis lu apain sih?”

__ADS_1


“Belum gue apa-apain, anjir. Kemarin gue sama dia cuma liat film horor di bioskop trus makan di cafe,” terang Catty yang membuat Arsy mengangkat bahunya tanda ia tidak tahu atau bahkan tidak mau tau tentang apa pun yang terjadi dengan manusia bernama Nicolas Frey.


“Sawan kali dia habis lu ajak nonton film horor,” ucap Arsy sebelum melangkah kembali ke dalam kamarnya untuk bersiap.


__ADS_2