
Ini sudah lebih dari sebulan, dan hubungan antara Axelle dengan keluarganya tidak ada perubahan sedikitpun. Meski perlahan Axelle bisa menerima mama tirinya, namun nyatanya pemuda itu tetap memberi jarak.
“Axelle, apa Mama boleh minta tolong?” tanya Margareth sembari membersihkan tangannya dengan air mengalir.
“Ada apa?”
“Tolong temani Mama belanja, bisa? Hari ini anak-anakku akan datang berkunjung.”
“Hm.”
Margareth tersenyum teduh. Ia senang Axelle mulai menerimanya. Awalnya ia pikir akan sangat sulit menaklukkan hati anak muda yang keras kepala dan pemberontak seperti Axelle, namun nyatanya ia hanya butuh waktu setengah bulan untuk mendapatkan hati anak tampan yang kini tengah duduk di sampingnya. Mata tajamnya menatap fokus ke arah jalanan yang cukup padat karena akhir pekan, sementara tangan kanannya dengan lihai memutar setir pengemudi.
Tak butuh waktu lama keduanya sudah sampai di salah satu mall yang cukup besar. Margareth mulai memilih dan membeli beberapa barang yang diperlukan.
Axelle terhenti di salah satu toko perhiasan. Mata pemuda itu tertuju pada sebuah kalung berlian yang sangat indah.
“Ingin beli sesuatu?” tanya Margareth sambil menepuk pelan pundak putranya.
“Tidak.”
“Kalung itu terlihat bagus. Liontin berbentuk bulan sabit dan matahari, melambangkan dua insan yang saling mencintai namun tidak bisa menyatu karena keadaan,” jelas Margareth yang membuat Axelle tercengang.
“Kau tau artinya?” Axelle tidak percaya jika mama tirinya tau tentang arti bulan dan matahari, karena tidak semua orang tau tentang hal itu.
Margareth hanya tersenyum. “Bagaimana kalau liontin bulan dan bumi?” tawar Margareth yang membuat Axelle memandangnya dengan pandangan bingung.
“Kenapa harus itu?” tanya Axelle.
“Alasannya sederhana. Satu, karena bulan satu-satunya planet yang dekat dengan bumi. Mungkin saat ini kamu bukan siapa-siapa baginya, tapi jika kau mau serius mengejarnya ia akan jadi satu-satunya milikmu. Kedua, adanya bulan yang mengorbit bumi terjadi secara alami. Sama seperti perasaanmu padanya yang tumbuh secara alami tanpa campur tangan siapapun kecuali Tuhan. Yang ketiga, karena bulan bukan buatan manusia. Sama seperti cintamu padanya yang tulus tanpa dibuat-buat.”
Axelle terdiam. Ia tidak menyangka jika mama tirinya bisa mengerti hal semacam itu, di samping itu ternyata wanita tua itu cerewet.
“Tapi aku tidak punya seseorang yang istimewa.”
“Belum, Axelle, bukan tidak. Kau bisa membelinya sekarang dan berikan pada gadis yang sudah berhasil mengisi hatimu suatu saat nanti. Atau, kalau kau mati sebelum dapatkan gadis itu, kau bisa anggap ini sebagai hadiah dari ku karena sudah menemaniku belanja. Bagaimana?”
“Terserah.”
***
Clarissa bersama dengan Aileen tengah berburu pakaian. Sudah tiga jam berlalu keduanya berkeliling, namun belum juga menemukan pakaian yang pas. Sebenarnya Clarissa sudah dapat apa yang ia butuhkan, dia sedang membantu sahabatnya menemukan pakaian yang cocok.
__ADS_1
Meski Aileen suka memakai baju apa pun, tapi sejujurnya selera pakaian gadis itu sangat susah dicari. Ia hanya akan membeli baju yang membuatnya nyaman, bukan hanya nyaman dipakai namun juga enak dipandang versi dia.
“Mau sampai kapan kita muter tanpa tujuan begini? Gue udah capek banget, Leen.” Clarissa sudah mengeluh capek sejak satu jam yang lalu, namun Aileen tidak menggubrisnya. Gadis itu tetap fokus pada tujuan awalnya datang ke mall, setelah ia dapat apa yang dia mau baru ia akan memikirkan hal yang lain.
Masuk ke dalam toko, mata bulatnya langsung berbinar saat melihat sebuah mini dress off-shoulder berwarna putih dengan pita di bagian dada.
“Gue mau itu,” celetuk Aileen.
Gadis itu langsung berlari menuju penjaga bahwa ia akan membeli pakaian yang ia tunjuk. Setelah selesai dengan dress nya, Aileen langsung mengajak sahabat baiknya makan di salah satu restoran yang ada di dalam mall.
Tiga jam berkeliling membuat dua gadis cantik itu kalap dan memesan banyak makanan.
“Apa yang kalian lakuin di sini?” tanya seseorang yang berdiri tepat di belakang Aileen.
“Eh, Axelle. Apa kabar?” tanya Clarissa yang membuat Aileen membolakan matanya.
“Eh kali....”
“Ah, ada Axelle. Hai Axelle, hallo Tante.” Aileen langsung berdiri memotong kalimat wanita tua yang tengah berjalan bersama dengan Axelle.
“Kau kenal mereka?” tanya Axelle pada mama tirinya saat melihat ada gelagat aneh dari ketiganya.
“Aku hanya berpikir mereka temanmu, karena kau menghampiri mereka.” Axelle terlihat sedikit curiga, namun kemudian pemuda itu mengangguk.
“Bagaimana kalau kita bergabung dengan mereka? Kita ke sini untuk makan juga, kan?” tawar Margareth yang membuat ketiga anak muda di sana ternganga.
“Tapi....”
“Stt, nggak usah banyak tapi. Mama yang traktir sebagai hadiah pertemuan pertama Mama dengan teman-teman cantikmu ini,” paksa Margareth yang akhirnya diangguki oleh ketiganya secara paksa.
“Cantik apanya. Satu bertompel, satu lagi nggak punya otak.”
Margareth hanya tersenyum maklum mendengar gerutuan Axelle. Wanita itu tersenyum teduh saat melihat bagaimana tangan kanan Aileen mematahkan sendok besi yang ia pegang setelah mendengar penuturan teman sekelasnya.
Keadaan Clarissa tidak jauh berbeda. Tangan gadis itu memegang ujung kursi dengan kuat, seolah siap melempar kursi besi itu ke arah Axelle agar pemuda itu mau menarik semua kata-kata yang keluar dari mulut busuknya.
“Menarik,” gumam Margareth.
“Kalian berdua belum menjawab pertanyaan ku. Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Axelle sembari menunggu makanan yang ia pesan bersama dengan sang mama datang.
“Hanya mengumpulkan kepingan rupiah untuk membeli Bugatti Divo,” jawab Aileen sekenanya. Gadis itu masih sangat kesal sebab Axelle yang mengatasinya jelek dan bertompel. Dalam hati Aileen bersumpah akan membuat Axelle bertekuk lutut padanya, dan mengemis cintanya.
__ADS_1
“Kalian bakalan lebih mudah mendapatkan uang kalau tidur bersama pria kaya,” celetuk Axelle yang membuat Margareth menyemburkan air mineral yang baru saja ia tenggak.
“Akan lebih mudah lagi kalau....”
“Ehm. Kalian ini masih sekolah kenapa bahas soal begituan.”
Makanan yang mereka pesan sudah datang. Hanya terdengar denting suara sendok dan garpu yang beradu, tidak ada yang berani mengeluarkan satu katapun.
“Apa rencana kalian setelah ini?” tanya Margareth setelah mereka diam cukup lama.
“Kami akan pulang, karena nanti malam kami harus bertemu dengan seseorang.”
“Apa kalian akan bertemu laki-laki tua kaya raya yang bakal ngasih kalian duit banyak?” tanya Axelle.
“Bisa nggak lu jaga ucapan lu! Kami mungkin miskin dimata lu, tapi bukan berarti lu bisa hina kami seenaknya. Paham!” Habis sudah kesabaran Aileen.
“Kalau emang lu nggak ngelakuin itu, lu bisa ngomong baik-baik. Sikap lu malah nunjukin kalau yang gue ucapin benar,” seru Axelle. Pemuda itu tidak nampak terganggu dengan ucapan Aileen, ia bahkan nampak acuh saat Aileen yang berdiri di depannya tengah menatap nyalang dirinya.
“Lu....”
“Minta maaf, Xelle! Kamu menyakiti hatinya,” perintah Margareth. Wanita itu cukup terkejut karena Axelle bisa bicara sekejam itu pada temannya.
“Buat apa? Toh yang gue bilang bener.”
Plak
Satu tamparan mendarat dengan mulus di pipi kanan Axelle.
“Lu berani nampar gue?”
“Bahkan gue bisa bunuh lu kalau gue mau,” ucap Aileen yang membuat seluruh mata tertuju padanya.
“Aileen sudah cukup. Kalian hanya akan memancing keributan jika terus begini. Kalian harus ten....”
“Inget, tanpa bantuan bokap lu yang kaya, lu bukan apa-apa di mata yang lain. Anak laki-laki manja, kasar yang bisanya Cuma ngandelin harta bokap yang nggak ada apa-apanya. Lu nggak tau kan apa yang mereka omongin soal bokap lu? Lu tau mereka nyebut bokap lu apa? ‘tua bangka haus belaian’. Cuih.”
Plak
Margareth mendaratkan satu tamparan keras di pipi Aileen. Wanita itu tau anak tirinya sudah berbuat salah dengannya, tapi apa yang dilakukan Aileen tidak bisa dibenarkan.
Rahang Axelle mengeras. Tatapan matanya menajam, tangannya terkepal sempurna menahan amarah yang meluap. Satu kalimat, hanya satu kalimat saja keluar dari mulut Aileen bisa dipastikan ia akan hilang kendali dan menghajar gadis itu di depan umum.
__ADS_1
“Axelle, ayo pulang! Mama akan panggil supir,” ajak Margareth. Ia merasa itu hal terbaik yang harus dia lakukan, atau kedua anaknya akan hilang kendali dan berakhir menghancurkan mall. “Kau,” tunjuknya pada Clarissa. “Bawa dia pulang! Tenangkan dia.”
Clarissa hanya mengangguk. Ia tidak ingin ikut campur dan membuat suasana semakin memanas, walaupun sebenarnya ia ingin sekali memaki dan memukuli Axelle.