
“Katakan! Apa maksud dari perkataanmu tempo hari pada putraku.”
Bulu kuduk Arsy meremang. Ini pertama kali dalam hidupnya ia harus berhadapan dengan Margareth yang tengah marah karena kesalahannya. Di satu sisi ia salah karena sudah memaki Axelle dengan begitu kasar, tapi ia tidak akan melakukan hal itu jika pemuda gila itu tidak memancing emosinya.
Suasana lebih mendebarkan dari waktu pertama dirinya membunuh orang, dan demi apa pun Arsy sangat membenci situasi seperti ini.
“Ma, aku....”
“Perhatian kalimatmu!”
“Sial sial sial sial,” runtuk Arsy dalam hatinya. Gadis cantik nan lucu itu benar-benar murka, dia bersumpah akan membuat Axelle membayar semuanya, tidak peduli jika ia akan dimarahi habis-habisan oleh Margareth yang penting semua amarahnya pada pemuda itu terbayar lunas.
“Arsy!”
“Ia Pimpinan. Saya akan minta maaf pada Axelle atas apa yang saya ucapkan tempo hari,” ucap Arsy. “tapi Pimpinan, dia yang mancing emosi saya kalau dia tidak mengatakan hal itu, saya juga akan tetap diam.”
“Jadi, apa yang kau inginkan?” tanya Margareth. Sebagai seorang ibu meski hanya ibu sambung, ia sadar jika anak tirinyalah yang menyebabkan awal dari pertengkaran mereka. Ia tidak ingin bersikap egois dan membuat anak-anak nya salah paham tentang dirinya. Meski Arsy dan Catty hanya anak angkat yang ia ambil dari panti asuhan, tapi kedua gadis itu sudah memberi warna di hidupnya terlebih dahulu.
“Saya ingin membalasnya.”
“Caranya?”
“Belum kepikiran,” ucap Arsy sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Margareth hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Arsy yang terkadang begitu polos. Anak ke dua yang ia ambil dari panti asuhan yang sama dengan anak pertamanya Catty.
“Kau boleh melakukan apa pun, dengan catatan tidak akan membuat kalian berdua terluka parah. Setuju?” tawar Margareth. Ia tahu yang ia lawan adalah Axelle anak kedua Adhitama yang memiliki kemampuan bertarung sangat baik, pemuda itu juga sudah terbiasa bertarung dengan beberapa lawan yang memiliki kemampuan lebih baik darinya. Namun ada satu hal yang membuat Margareth ragu anak laki-lakinya akan menang melawan Arsy. Gadis itu sudah memiliki insting membunuh yang sangat tinggi sejak kecil, dan gadis itu benar-benar berbahaya. Sejatinya Margareth takut anaknya akan terbunuh jika ia tidak memberi syarat seperti yang ia sebutkan.
__ADS_1
Gadis cantik yang kini tengah memakai hot pants yang dipadukan dengan kaos lengan pendek berwarna putih itu terlihat tengah berpikir.
“Aku sangat tahu kemampuanmu dan juga Axelle, jadi aku mengambil syarat itu. Kalau kau menolak maka kau secara resmi kehilangan kesempatan balas dendam yang kau inginkan. Bagaimana?”
“Baiklah aku setuju. Meski aku sedikit tidak terima, tapi karena dia anakmu jadi aku terima.”
Margareth tersenyum. Meski sering membangkang, gadis cantiknya itu tidak akan bertindak gegabah jika itu menyangkut Margareth.
“Oiya, Ma. Kalau aku boleh tanya sebenarnya apa tujuanmu memindahkan aku dan Catty ke sekolah penuh iblis neraka itu?” tanya Arsy. Sudah hampir tiga bulan ia dipindahkan ke sarang iblis, tapi baik dirinya maupun Catty belum ada yang tahu alasan kepindahannya. Wanita tua itu selalu mengatakan jika ia ingin tinggal dekat dengan anak-anaknya yang makanya ia memindahkan keduanya, tapi jarak sekolah mereka sekarang bahkan malah lebih jauh dari rumah Margareth jika dibanding dengan sekolah mereka yang dulu. Wanita tua itu sekarang sudah tidak pandai berbohong.
“Tidak ada." Singkat, padat dan bangsat itu yang ada dipikiran Arsy tentang jawaban dari mama angkatnya. "Kau anak gadis, setidaknya perhatikan penampilanmu sebelum keluar.” Margareth menggelengkan kepalanya saat menyadari anak gadisnya keluar dengan pakaian yang sangat minim.
“Apa kau lupa dengan pekerjaanku? Aku bahkan biasa memakai yang lebih pendek dari ini. Dan asal kau tau saja, aku keluar seperti ini karena kau memanggilku tiba-tiba. Dasar Nenek lampir,” gerutu Arsy yang bahkan tidak digubris oleh Margareth. Wanita tua itu sudah terbiasa dengan keluhan dan umpatan dua anak gadisnya.
***
“Xelle, sebenarnya apa yang ganggu pikiran lu? Kenapa akhir-akhir ini lu gampang banget emosi?” tanya Fadhil yang melihat perubahan sifat dari sahabat sekaligus ketuanya. Biasanya pemuda yang memiliki ketampanan setara Dewa Hermes itu hanya akan menyakiti korbannya jika korbannya melakukan kesalahan terhadap dirinya atau anggota lain, tapi kemarin pemuda itu sudah kelewatan. Ia menghajar siswa yang lewat di sampingnya, bahkan beberapa hari yang lalu ia menghajar siswa yang sedang mengerjakan tugas di papan tulis dengan alasan suara spidol yang dipakai menganggunya.
“Van, blackcard lu mana?” tanya Axelle tiba-tiba yang membuat semua kebingungan.
“Kenapa lu nanya kartu gue? Ada di dompet.” Devan mengeluarkan dompetnya dan menunjukkan kartunya yang memang ada di tangannya.
“Kemarin gue lihat Aileen pake kartu lu buat belanja.” Kalimat Axelle membuat yang lain menatap bingung ke arah Devan. Sejak kapan pemuda yang biasa menghabiskan waktu dengan buku itu berteman dengan gadis jelek yang jadi sasaran bullyan mereka.
“Oalah itu. Gue minjemin kartu gue karena dia udah bantuin gue nata ulang kamar, trus dia juga udah bikinin gue makanan yang lumayan enak jadi sebagai gantinya gue pinjemin kartu gue buat dia belanja. Kenapa emang?”
“Untung aja gue inget kalau Aileen kerja di apartemen gue, jadi kemungkinan besar mereka nggak bakalan curiga.”
__ADS_1
“Sejak kapan lu jadi baik sama orang?” tanya Nicolas yang terlihat curiga dengan apa yang dikatakan Devan.
“Memang salah kalau gue berbuat baik sama orang lain? Bisa lu tunjukin di mana salahnya?”
“Stop! Nic jangan mancing emosi.”
“Bener kata Gavin. Jangan sampai kita jadi musuh cuma gara-gara cewek, apalagi cewek kayak Aileen.” Fadhil mencoba menenangkan kedua sahabatnya yang tengah bertengkar gara-gara masalah sepele.
“Gue cuma nanya. Kenapa lu harus marah?” tanya Nicolas dengan santainya seolah pertanyaan yang ia ajukan tidak ada artinya.
“Pertanyaan lu seolah meragukan jawaban gue.”
“Udah stop kalian berdua!” bentak Axelle yang membuat semuanya terdiam.
Sebenarnya Axelle tidak peduli soal kartu Devan yang dipakai Aileen, bahkan jika wanita itu benar-benar tidur dengan sahabatnya juga ia nggak peduli sama sekali. Saat ini pikiran Axelle tengah kacau, ia sedang memikirkan hal lain. Pemuda itu menanyakan soal kartu itu hanya agar para sahabatnya tidak lagi menanyakan soal perubahan sikapnya akhir-akhir ini.
Axelle terdiam di dalam kamarnya seorang diri. Ia sudah mengusir semua sahabatnya tanpa terkecuali, pemuda itu benar-benar butuh ketenangan agar bisa berpikir dengan jernih mencari jalan keluar seperti apa yang akan ia ambil.
“Dia pasti berbohong,” monolog Axelle. Pemuda itu mencoba meyakinkan dirinya sendiri jika ia tidak ada kaitannya dengan semua itu, namun detik berikutnya pemuda itu mengusak kepalanya kasar saat ia ingat jika saat kejadian itu terjadi ia tengah berada dalam kondisi tidak sadar karena kebanyakan mengkonsumsi alkohol.
“Sial! Gue bahkan nggak bisa nenangin diri gue sendiri. Brengsek!!” Axelle melempar semua barang di dalam kamarnya. Kamar yang awalnya nampak rapi karena selalu dibersihkan kini nampak seperti kapal pecah yang semua isinya berhamburan.
“Bagaimana kalau dia benar-benar punya bukti? Apa yang harus gue lakuin?”
“Bukti bisa dibuat dan dihilangkan,” ucap Margareth yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Axelle tanpa permisi.
“Maksudnya?” tanya Axelle yang tidak paham dengan apa yang dikatakan mama tirinya.
__ADS_1