Mask

Mask
Bagian 35


__ADS_3

Pagi menjelang dan semua penumpang bersiap untuk turun dari kapal karena beberapa menit lagi mereka akan sampai di tempat tujuan. Sebuah pulau yang berukuran tidak terlalu besar, namun memiliki semua hal yang tidak dimiliki oleh pulau-pulau besar.


Pulau itu dikenal sebagai sarang kejahatan karena di pulau tersebut para mafia, pembunuh bayaran, dan para penjahat lain berkumpul. Satu-satunya pulau yang bisa menyatukan penjahat dan orang biasa bisa berbicara dengan bebas tanpa rasa takut dan khawatir akan tersakiti.


Arsy bersama dengan Catty dan juga Xander sudah bersiap dengan barang bawaan mereka. Arsy terlihat lebih segar dari sebelumnya, Sebelum turun guru memberi himbauan kepada para murid agar selalu hati-hati dan tidak berkeliling terlalu jauh. Para guru juga meminta para murid untuk mengikuti mereka ke hotel yang akan menjadi tempat beristirahat semuanya selama seminggu ke depan.


Semua murid mengikuti guru pembimbing, namun tidak dengan Arsy dan Catty karena keduanya akan tidur di hotel yang sama dengan Xander dengan alasan demi keselamatan Arsy, mengingat gadis itu baru saja hampir meregang nyawa gara-gara ulah beberapa murid.


Devan menatap lekat Arsy yang tidak menatap balik ke arahnya. Sejak tadi pagi Devan mencoba menyapa Arsy, namun gadis itu selalu menolaknya dengan alasan yang tidak bisa diterima oleh Devan.


Devan berdiri di belakang Arsy yang tengah diapit oleh Catty dan Xander. Pemuda itu beberapa kali mencoba untuk berbicara dengan Arsy, namun gadis itu tidak menganggapnya. Pemuda itu sedikit merasa takut jika gadis itu serius tentang ucapannya semalam.


Semua mata memandang takjub pada sebuah pulau yang ada di depan mereka.


“Benar-benar pulau yang indah,” puji Catty. Mata gadis itu berbinar ketika melihat pemandangan yang sangat luar biasa indah.


“Saat malam akan terasa jauh lebih indah. Benarkan, Sayang.” Xander menatap Arsy yang hanya diam sejak mereka turun dari kapal. Gadis itu terlihat murung dan nggak seperti biasa, dan hal itu cukup membuat Xander khawatir. “Arsy, are you ok?”


“Gue baik kok. Xander, kayaknya gue sama Catty lebih baik nginep sama yang lain aja. Nggak enak sama yang lain kalau gue harus ikut elu,”


“Tapi kenapa? Elu kan juga salah satu dari orang penting di sini? Jadi nggak ada salahnya dong kalau elu dapet perlakuan istimewa juga kayak biasanya.” Xander sedikit gondok saat mendengar perkataan Arsy, karena jujur saja pemuda itu sudah menyiapkan segala hal yang terbaik saat mendengar Arsy akan menginap di hotel yang sama dengan dirinya. Tapi sekarang, nggak ada hujan nggak ada angin tiba-tiba gadis itu ingin menginap di hotel yang sama dengan yang lainnya.


“Gue masih murid sekolah kalau lu nggak lupa,” ketus Arsy. Gadis itu tidak akan menolak jika ia datang sendiri dan diperlakukan seperti biasanya, tapi kali ini berbeda. Ia datang bersama banyak orang, dan teman-teman satu sekolahnya, bisa bahaya kalau sampai mereka curiga dengan Arsy.


Axelle yang mendengar perkataan Arsy terkekeh geli. “Pasti ini ulah author yang pengen Arsy menghabiskan waktu bareng gue. Makanya dia bikin Arsy nolak ajakan Xander. Mampus,” gerutu Axelle yang masih bisa di dengar oleh Xander dan yang lainnya.

__ADS_1


Xander yang mendengar gerutuan Axelle, jadi agak kesal. Pemuda itu mencoba untuk berunding dengan author cerita agar bisa tetap bersama dengan Arsy, karena jujur saja ia masih takut kalau Axelle dan teman-temannya akan kembali menyakiti Arsy.


“Maaf tapi permintaan anda tidak bisa saya kabulkan.” Ucapan author membuat wajah Xander tertekuk. Pemuda itu bahkan mengumpati author cerita karena tidak mau mengabulkan keinginannya. “Saya tidak bisa membuat Arsy tinggal di hotel yang sama dengan anda, tapi saya bisa buat anda tinggal di hotel yang sama dengan Arsy. Bagaimana? Apa anda tertarik?” tanya author cerita.


Wajah Xander yang semula mendung langsung berbinar mendengar penuturan author cerita. Pemuda itu berjanji akan selalu berpihak pada author sebagai balasan atas kebaikan author yang mau membuat dirinya dekat dengan pujaan hatinya.


***


Dua orang pemuda terlihat tengah sibuk mengumpat dan mengepalkan tangan menahan amarah.


“Author sialan!”


“Author bangsat!”


Ya kira-kira seperti itulah umpatan yang dikeluarkan oleh Axelle dan juga Xander. Kedua pemuda itu merasa tertipu dengan ucapan author cerita.


Arsy menoleh. Air mata gadis itu mengalir tanpa bisa dibendung saat melihat seseorang yang sangat ia rindukan. Arsy langsung berlari ke arah sosok pemuda tampan dengan senyum secerah matahari yang mampu menghangatkan setiap inci hati Arsy yang beku.


“Juan,” lirih Arsy. Pemuda yang dipanggil hanya mengangguk dan tersenyum manis ke arah Arsy yang masih membeku di tempatnya.


Pemuda itu merentangkan kedua tangannya seolah memberi isyarat pada gadis yang ada di depannya agar masuk ke dalam pelukannya. Dan tanpa perintah dua kali, Arsy langsung berlari ke arah pemuda itu dan memeluknya dengan sangat erat.


“Dia siapa?” tanya Axelle dengan suara lirih.


Xander menghela napas kasar. “Dia Juan Immanuel, pemuda yang sangat mencintai Arsy dan rela mempertaruhkan seluruh hidupnya demi Arsy.”

__ADS_1


“Apa Arsy juga mencintai Juan?” tanya Axelle lagi.


“Sangat. Tapi sayangnya cinta keduanya terhalang oleh restu dari orang tua masing-masing,” jelas Xander yang membuat Axelle terdiam. Bukan karena kisah cinta Arsy dan Juan yang bisa dibilang tragis karena tidak mendapat restu, tapi lebih ke alasan Margareth tidak merestui hubungan Arsy dengan pemuda bernama Juan. Mengingat selama ini Margareth begitu menyayangi Arsy dan selalu menuruti apa pun yang jadi keinginan gadis cantik itu. Ditambah lagi menurut penglihatan Axelle, pemuda bernama Juan itu cukup baik dan juga tampan. Dan selama pengamatan yang dia lakukan bersama Xander, Juan terlihat sangat menyayangi Arsy begitu juga sebaliknya. Jadi apa kira-kira alasan Margareth tidak menerima Juan sebagai pendamping hidup Arsy?


Kedua pemuda itu tenggelam dalam lamunan masing-masing tentang alasan Margareth tidak menerima Juan.


***


Arsy dan Juan saling berpelukan. Keduanya mencoba melepas rindu yang menumpuk karena tidak bisa saling bertemu lewat pelukan.


“Apa kabar, Princess?” tanya Juan tanpa melepas pelukannya dari Arsy. Gadis itu tidak menjawab pertanyaan Juan, ia hanya memeluk pemuda itu dengan air mata yang terus mengalir deras. “Apa Princess begitu merindukan rajanya? Sampai ia masih terus menangis tersedu dan tidak mau berhenti.”


“Gue kangen tau,” gerutu Arsy.


“Gue kan udah ada di sini, di depan lu, bahkan sekarang lu lagi meluk gue dengan sangat erat sampai gue nggak bisa napas.”


Arsy memajukan bibirnya lucu. Axelle terkejut melihat Arsy bisa bertingkah sangat lucu dan menggemaskan. Ia pikir gadis itu hanya bisa memakai dan berbicara seenaknya, ternyata ia salah besar.


“Apa Arsy juga pernah bertingkah lucu pas sama elu?” tanya Axelle pada Xander yang dijawab gelengan olehnya.


“Cuma Juan yang bisa bikin Arsy bertingkah lucu dan menggemaskan,” jelas Xander.


Keduanya terus memantau kelanjutan kisah cinta diam-diam antara Juan dan Arsy.


“Xan, apa si Juan juga kaya kayak elu?” tanya Axelle. Entah kenapa kali ini pemuda itu nampak lebih cerewet dari biasanya, dan hal itu cukup membuat Xander gerah.

__ADS_1


“Lu bisa diem nggak! Bawel banget. Nggak capek apa tu bibir ngoceh mulu dari tadi,” sembur Xander.


__ADS_2