
“Selamat pagi, Sayang.” Axelle langsung memalingkan wajahnya saat seorang wanita yang masih memakai apron menyapanya dari arah dapur. Wanita tua itu terlihat sedang membuat sesuatu, karena wanita itu hanya menyapa dirinya sepintas tidak seperti hari-hari kemarin.
“Duduklah di meja makan! Sebentar lagi sarapan mu siap.”
Wanita tua itu nampak tidak terganggu sedikitpun dengan sikap Axelle. Sungguh wanita yang sangat tangguh, dan sepertinya kali ini Axelle akan sedikit kerepotan menangani mama tirinya yang satu ini.
“Di mana Pak tua itu?” tanya Axelle sambil melahap makanan yang tersedia di meja makan.
“Ayahmu sedang bersiap. Seben....”
“Anak kurang ajar. Tanpa Pak tua ini kau tidak akan terlahir ke dunia ini, dan ingat ketampanan yang kau miliki adalah warisan dari laki-laki perkasa yang kau sebut Pak tua.” Sang ayah langsung menyeletuk dengan kata-kata yang pedas, membuat selera makan Axelle hilang.
“Saya tampan karena lahir dari wanita yang cantik. Dan perlu anda garis bawahi, tanpa anda, saya dan mama saya bisa hidup jauh lebih baik. Anda hanya membuat keluarga saya berantakan,” seru Axelle sembari melempar pisau yang ia pegang ke arah sang ayah.
“Apa kau berniat membunuh ayahmu. Hah!”
“Jika saya berniat membunuh anda, itu sudah pasti saya lakukan di hari pernikahan ke dua anda dengan wanita murahan yang sudah menyakiti hati mama saya.”
“Axelle!!”
“Sudah cukup. Ayahmu sedang pusing dengan pekerjaannya, kau juga sedang dalam mood yang tidak baik. Sebaiknya....” Margareth mencoba untuk menenangkan Axelle, namun pemuda itu malah menepis tangannya dan pergi meninggalkan rumah.
“Kenapa kau membelanya. Anak tidak tau diri itu harus diberi pelajaran. Aku akan menghentikan semua fasilitas yang disediakan untuknya.” Marcel berniat memblokir semua fasilitas yang ia berikan kepada sang anak, namun ucapan sang istri membuatnya menghentikan niat awalnya.
“Sebenarnya apa yang kau pikirkan? Kenapa kau membelanya?” tanya Marcel yang tidak mengerti kenapa sang istri begitu membela anak kurang ajarnya, padahal dari awal mereka bertemu, Axelle tidak pernah bersikap baik padanya.
“Aku pernah mendidik seseorang yang bahkan lebih tidak tau diri dari pada anakmu. Gadis muda yang aku ambil dari salah satu panti asuhan membakar rumahku di hari pertama kedatangannya dan di minggu kedua kedatangannya ia menghabiskan 50 juta dalam seminggu,” tutur Margareth yang membuat mulut Marcel ternganga.
“Lalu apa yang kau lakukan pada gadis itu? Menghukumnya? Atau memukulinya?” tanya Marcel. Entah mengapa mendengar penuturan istrinya, ia jadi geram. Ingin sekali ia menemui gadis itu dan memukulinya habis-habisan karena sudah menggunakan uang sang istri.
“Untuk apa aku marah?”
“Dia membakar rumahmu, dan menghabiskan uangmu. Kau patut marah,” ucap Marcel yang dibalas gelengan oleh sang istri.
“Dia membakar rumahku saat dia ingin memasak untuk membalas kebaikan ku karena sudah mengadopsinya, dan dia menghabiskan 50 juta dalam satu minggu untuk memberi makan anak jalanan. Tidak ada alasan bagiku untuk marah padanya, kan?”
“Tapi tetap saja ia sudah membakar rumah dan menghabiskan uangmu.”
__ADS_1
“Uang bisa aku cari, dan rumah bisa aku bangun ulang. Tapi hati anak itu, jika sudah rusak tidak akan pernah bisa kembali lagi.”
“Untung aku tidak cerita soal yang satu lagi. Kalau Marcel tau dia yang menghancurkan pesawat pribadiku hanya untuk eksperimen, dan soal anak gadisnya yang pernah hampir merobohkan sebuah gedung saat ia mengira bom adalah sebuah petasan. Dan yang paling fatal di antara semuanya. Gadis cantik sedikit gila itu memberikan minuman yang sudah dia campur dengan racun tikus pada kucing jenis Ashera yang aku beli dengan harga lebih dari 1,5 miliar.”
Mengingat semua kejadian itu membuat Margareth mengelus dadanya, berharap Tuhan berbaik hati memberikan jatah sabar yang besar dan kekayaan yang tiada habisnya, mengingat yang ia rawat saat ini bukan dua bidadari cantik yang turun dari surga, melainkan iblis berwajah malaikat yang baru saja memporak-porandakan jagat.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Marcel melihat sang istri tidak menanggapi ucapannya.
“Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang rindu anak-anakku,” jujur Margareth sambel memeluk sang suami dengan harapan laki-laki tua itu akan mengabulkan permintaannya dan mengizinkan kedua putrinya berkunjung ke rumah.
***
Hatcih
“Lu kenapa?”
“Nggak tau, tiba-tiba hidung gue gatel banget.”
“Maybe ada yang lagi kangen sama elu? Atau jangan-jangan....”
***
Sebuah mobil bermerek Lamborghini Veneno berwarna silver masuk ke dalam area sekolah. Semua mata tertuju pada mobil mahal tersebut, mereka semua penasaran siapa yang membawa mobil mewah tersebut ke area sekolah.
Tak berselang lama. Sebuah mobil berwarna putih dengan merek Koenigsegg CCXR Trevita masuk ke dalam pekarangan sekolah.
Dua buah mobil terparkir berjajar membuat seluruh sekolah gempar. Seorang pemuda dengan penampilan seadanya namun tampan keluar dari mobil berwarna putih. Matanya menajam saat melihat siapa yang ada di dalam mobil mewah yang terparkir di sebelah mobilnya.
Clarissa dan Aileen turun dari mobil berwarna silver, membuat semua mata tertuju kepada keduanya.
“Kenapa semua orang ngelihat kita?” tanya Aileen yang merasa tidak nyaman dengan tatapan teman satu sekolahnya.
“Mana gue tau. Gara-gara mobil lu kali,” jawab Clarissa sekenanya. Gadis itu juga merasa tidak nyaman dengan pandangan orang-orang, padahal mereka pakai mobil yang mereka beli sendiri, tapi pandangan mereka seolah berkata lain.
Keduanya memilih berangkat menggunakan mobil pribadi milik Aileen karena mobil yang biasa mereka pakai tengah diperbaiki. Padahal Aileen memilih membawa mobilnya yang paling murah agar tidak ada yang curiga dan berakhir menanyainya soal asal usulnya, tapi sepertinya perbuatannya ini membuat teman satu sekolahnya curiga.
“Oi, cupu!”
__ADS_1
Aileen dan Clarissa menoleh bersamaan dan terkejut saat melihat Axelle tengah memandang keduanya sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
“Sa, tolongin gue.” Aileen mencoba meminta bantuan sahabatnya, namun saat ia melihat ke sebelahnya ternyata Clarissa sudah dibawa pergi oleh para sahabat Axelle.
“Lu tuli.”
“Ng... nggak, Xelle. A... ad... ada apa?”
“Lu habis di pake berapa jam sampek bisa beli mobil itu,” ucap Axelle sadis.
“Sial, gue dikira jual diri.” Batin Aileen meradang, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Anu... itu mobil bekas kok, Xelle. Aku beli pakai harta warisan dari orang tuaku, trus aku modalin biar jadi bagus.” Dalam hati Aileen terus berdoa agar Axelle bisa dengan mudah percaya dengan kata-katanya.
“Lu pikir gue peduli sama asal usul itu mobil.”
Tanpa pikir panjang Axelle langsung menarik rambut Aileen, membawa gadis itu ke gudang yang biasa Axelle gunakan bersama teman-temannya untuk bersenang-senang.
“Xelle, ampun. Sakit,” rintih Aileen.
Begitu pintu gudang terbuka Axelle langsung melempar gadis malang yang ia bawa dari parkiran itu ke dalam, membuat gadis itu jatuh tersungkur.
“Kita mau ngapain di sini?”
“Bersenang-senang. Sekarang, buka seragam lu!” perintah Axelle.
“Apa!”
“Jangan berpikir gila. Gue mau lu pel ruangan ini pake seragam yang lu pake,” ucap Axelle yang membuat Aileen sedikit bernafas lega.
“Tapi, gimana gue belajarnya kalau gue nggak pake seragam?” tanya Aileen pada dirinya sendiri.
“Lu pikir gue peduli. Buruan bersihin! Gue mau tidur.”
“Lu nggak masuk kelas? Nanti....”
“Ngoceh sekali lagi, gue telanjangin lu di sini!” ancam Axelle yang membuat Aileen sedikit takut.
__ADS_1