Mask

Mask
Bagian 4


__ADS_3

Di halaman sebuah gedung memperlihatkan seorang laki-laki yang tengah berdiri sambil menghisap rokok. Pemuda itu terlihat tidak terganggu, padahal di dalam gedung tersebut tengah berlangsung sebuah acara pernikahan mewah yang entah sudah ke berapa kali dalam tiga tahun terakhir.


“Lu nggak masuk?” tanya Alex.


Alex adalah saudara laki-laki Axelle. Pemuda itu berusia lima tahun lebih tua dibandingkan Axelle. Meski lahir dari rahim yang sama namun keduanya memiliki sikap yang berbanding 180°. Jika Axelle yang cenderung kasar dan tidak terkendali, serta melakukan semuanya tanpa pikir panjang, bisa dibilang pemuda itu sedikit ceroboh. Namun ia akan membela apa yang sudah di cap sebagai miliknya sampai mati, dan pemuda itu juga tidak pernah main-main jika menyangkut seseorang yang ia sayangi. Dan hal tersebut bukan cuma bualan semata. Beberapa tahun yang lalu Axelle menghancurkan mobil kesayangan sangat ayah, saat ia melihat ayahnya tengah bermesraan dengan seorang wanita yang menjabat sebagai sekertaris di kantor sangat ayah. Tidak sampai disitu, Axelle bahkan meneror wanita itu dengan boneka jelangkung. Wanita malang itu mendekam di rumah sakit jiwa yang berada jauh dari rumah mereka, dan kabar terbaru yang ia terima, wanita tersebut mengakhiri hidupnya dengan menggantung dirinya di kamar mandi rumah sakit. Sejak saat itu sang ayah sudah jarang bermain wanita, hingga sebuah kabar mengejutkan dirinya kemarin pagi jika ayahnya sudah melakukan ijab kabul dan hari ini ada acara resepsi pernikahan sang ayah.


Jika kalian bertanya di mana keberadaan mama Axelle. Mamanya meninggal saat mengetahui sang suami menikah diam-diam di saat dirinya tengah terbaring kritis di rumah sakit karena penyakit yang ia derita. Saat itu Axelle masih sangat kecil, hingga pemuda itu belum bisa mengerti apa yang terjadi dengan keluarganya. Yang ia tahu hanya, mamanya meninggal saat sang ayah tengah dinas keluar kota. Tapi, saat ia mulai mengerti semuanya, pemuda itu bertekad akan membalas semua rasa sakit yang mamanya rasakan kepada semua orang termasuk ayahnya sendiri dan wanita-wanita yang sudah berani mengusik keluarganya.


Alex memiliki pribadi lebih kalem. Pemuda itu terlalu banyak berpikir, jadi saat terjadi sesuatu sang adik yang akan maju terlebih dahulu. Meski begitu, sekali ia menjalankan rencananya, tidak akan ada satu korban pun yang bisa selamat dari maut.


Dan hal itu terbukti. Di hari pemakaman sang mama, Alex melihat sang ayah sedang bercumbu dengan seorang wanita muda yang masih terlihat cantik dibanding mamanya. Alex kecil berdiam lebih dari satu jam dan setelah itu ia kembali ke rumah dengan pakaian yang sudah kotor.


Tak berselang lama, kabar bahwa sang ayah mengalami kecelakaan bersama wanita simpanannya. Sang ayah mengalami koma selama sebulan dan wanita simpanan sang ayah tewas mengenaskan di tempat kejadian.


Meski terlihat tenang bukan berarti Alex tidak bisa melakukan apapun.


“Lu aja, gue ogah.”


“Gue lagi kangen sama Adek gue, jadi gue putusin buat di luar aja nemenin dia.”


“Nggak lucu,” ucap Axelle sambil berlalu pergi meninggalkan sang kakak yang sangat ia rindukan. Sebenarnya ia sangat sayang kepada sang kakak, namun mengingat bagaimana Kakaknya pergi meninggalkan dirinya dan sang papa yang tidak berperikemanusiaan membuatnya menyimpan dendam. Pemuda itu bahkan berniat ingin menghabisi kakaknya suatu saat nanti.


***


Sekolah yang biasanya terasa mencekam, kini nampak lebih lenggang. Banyak senyum dan tawa yang terlihat, tidak seperti biasanya.


“Kok kayak ada yang aneh, ya!”


“Maksudnya?” tanya Clarissa.


“Suasana sekolah jadi adem ayem tentram gitu. Masa iya kamu nggak ngerasain?” tanya Aileen. Aneh saja saat sahabatnya yang paling bisa ngerasain sesuatu yang beda dari orang lain, nggak bisa ngerasain sesuatu yang beda di sekolahnya.


“Benar juga. Kayak ada yang salah sama ini sekolah. Apa kita salah masuk sekolah?”


Keduanya berlari ke arah gerbang sekolah.

__ADS_1


“Bener kok. Ini sekolah kita, SMA TARUNA BANGSA. Tapi kenapa rasanya beda?”


“Itu karena Dead Dragon tidak ada.”


“Ah, benar. Dead Dragon nggak ada. Ternyata karena mereka nggak masuk, kirain karena ada hal lain.”


Keduanya menoleh secara bersamaan ke sumber suara yang ada di belakang mereka.


“Waaa, ada anak Tuyul!” teriak Clarissa dan Aileen bersamaan.


Andika Ramadhan. Pemuda itu langsung membekap mulut dua gadis gila yang menyebutnya anak tuyul. Sebenarnya mereka semua buta apa gimana? Setiap kali melihat Andika pasti akan berteriak anak tuyul. Apa dia semenakutkan itu?


“Gue Andika, dan gue bukan anak tuyul. Paham!”


Clarissa dan Aileen mengangguk bersamaan.


“Jadi, kenapa bisa Dead Dragon nggak masuk?” tanya Clarissa saat Andika sudah melepaskan tangannya dari bibir mereka.


“Hari ini ayah ketua Dead Dragon, atau lebih dikenal Axelle akan melangsungkan pernikahan untuk yang ke.... 5 atau 6 kali.”


“Resepi pernikahan mereka akan berlangsung sampai tengah malam nanti, di gedung Green Tower.”


“Oh, di Green Tower.”


Keduanya saling menganggukkan kepala, seolah paham dengan apa yang dikatakan Andika. Namun tak berselang lama, Clarissa menyadari sesuatu.


“What! Coba kamu ulangi di mana tempatnya!” pinta Clarissa.


“Green Tower. Lu budeg ada gimana? Kan dia udah bilang dengan jelas, kalau acara pernikahannya di Green Tower.”


Clarissa menarik tangan Aileen menjauh dari Andika.


“Eh, bodoh. Lu nggak lupa sesuatu soal Green Tower, kan?” tanya Clarissa.


“Emang ada apa dengan Green Tower? Kan itu gedung yang biasa di pake buat acara. Ada yang salah?” tanya Aileen.

__ADS_1


Terkadang Clarissa ingin sekali menenggelamkan sahabat baiknya itu ke dalam sumur yang dalam, lalu menutupnya agar gadis itu tidak bisa kembali ke permukaan.


“Coba lu inget-inget lagi. Green Tower dan tugas lu malam ini!”


Aileen terdiam. Mencoba mengingat sesuatu tentang Green Tower dan tugasnya malam ini, tapi ia tidak ingat apa pun. Sesuatu menghalangi otak pintarnya untuk berfungsi, dan itu sesuatu yang penting.


Malam tiba. Aileen sudah berdiri di depan sebuah gedung mewah yang di dalamnya terdapat seseorang yang akan menjadi teman malamnya.


Berbekal sebuah undangan berwarna emas, gadis cantik yang memakai low lace back straps berwarna mint itu mampu menyihir seluruh mata yang ada di dalam ruangan. Begitu juga dengan seorang pemuda tampan yang saat ini tengah menatapnya tanpa berkedip.


“Jaga matamu!” ucap seseorang sambil menepuk pundak Axelle.


“Apa dia salah satu tamu pengantin?” tanya Axelle tanpa mengalihkan pandangannya dari seorang gadis yang sejak awal sudah menarik perhatian dirinya dan seluruh undangan.


“Dia bukannya pembalap wanita itu. Apa yang dia lakukan di sini?” tanya Alex yang langsung mendapat tatapan remeh dari sang adik.


“Aku heran bagaimana orang bisa menyebutmu ‘si sumber informasi’,” sindir Axelle yang membuat Alex membolakan matanya.


“Lu ngeremehin gue?”


“Cari informasi tentang gadis itu. Kalau lu bisa dapet, gue bakalan lupain masalah masa lalu kita, dan percaya kalau elu si sumber informasi.”


Axelle hendak menghampiri gadis yang terlihat tengah berbincang dengan pengantin dan beberapa orang penting yang bahkan tidak dikenal oleh Axelle.


Hanya tinggal beberapa langkah maka Axelle bisa berbincang dengan gadis itu, namun seorang laki-laki tua lebih dulu menghampiri gadis itu dan mencium pipinya. Hal itu membuat Axelle tersenyum kecut. “Pantas saja ia kenal orang tua itu. Ternyata dia wanita murahan yang rela memberikan tubuhnya untuk uang.”


Axelle ingin meninggalkan ruangan yang menyesakkan itu, namun Alex lebih dulu memanggil namanya.


“Xelle, tunggu! Gue udah dapet informasi soal gadis itu, dan gue....”


“Lu simpen aja. Gue nggak tertarik sama cewek murahan,” ucap Axelle sadis.


“Apa lu yakin? Lu nggak nyesel?” Alex mencoba meyakinkan sang adik untuk mendengarkan informasi yang ia dapatkan namun pemuda bodoh itu tetap pergi dan mengatakan jika ia tidak akan pernah menyesal sudah membuang gadis seperti Arsy dan segala informasi tentang gadis itu.


“Ya udah. Kalau lu berubah pikiran informasinya aman sama gue,” ucap Alex yang hanya dijawab anggukan oleh sang adik.

__ADS_1


__ADS_2