Mask

Mask
Bagian 48


__ADS_3

Semua orang di rumah Margareth tengah kalang kabut karena tidak ada yang bisa menemukan keberadaan Arsy. Sudah dua hari Arsy pergi dan tidak ada yang tahu di mana gadis itu berada.


Juan terus menyalahkan dirinya sendiri karena membiarkan Arsy pergi sendiri malam itu. Tidak beda jauh dengan apa yang dilakukan Juan, Margareth juga menyalahkan dirinya sendiri karena terlambat menceritakan yang sebenarnya pada gadis itu. Dalam hati kedua orang itu bersumpah akan menukar hidup mereka dengan keselamatan Arsy.


Axelle bersama dengan Xander dan juga Catty baru saja kembali. Ketiganya sudah mencari Arsy dari ujung sampai ujung tapi tidak menemukan keberadaan Arsy.


“Kita harus mencari ke mana lagi?” tanya Catty. Gadis itu benar-benar tidak tau sahabatnya ada di mana dan bagaimana keadaannya saat ini.


Di tengah keributan yang terjadi di rumah Margareth, ketua tiba-tiba datang bersama dengan beberapa orang suruhannya.


“Kakek, apa yang Kakek lakukan di sini?” tanya Juan saat melihat kakeknya berada di sana.


“Kakek tau di mana keberadaan Arsy.” Semua terdiam mendengar ucapan sang kakek, sedikit tidak percaya karena nyatanya mereka sudah mencari Arsy ke berbagai daerah tapi gadis itu tidak ditemukan.


“Di mana Arsy?” tanya Margareth.


Pria tua itu memberikan sebuah kaset kepada salah satu orang suruhannya dan memberi isyarat agar ia memutar kaset tersebut. Semua orang terperanga saat melihat gambar seorang gadis muda dengan tubuh yang penuh luka tengah berada di sebuah ruangan yang gelap dan pengap, terdapat juga beberapa orang yang tengah tertawa puas melihat apa yang terjadi pada gadis malang itu.


“Samuel,” ucap Juan tiba-tiba saat sekelebat ia melihat pria tua yang pernah bermasalah dengan Arsy.


“Samuel ingin menukar nyawa Arsy dengan nyawaku, jadi aku ingin kalian pastikan bahwa cucuku akan tetap baik-baik saja, dan pastikan juga dia tidak tau kalau aku sudah mati.”


“Tidak, Kek. Aku tidak tau Kakek siapa tapi aku yakin Arsy tidak akan setuju dengan ini, dia pasti akan menyesal seumur hidup saat tau Kakek menukar hidup Kakek untuknya.” Semua orang yang ada di sana mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Axelle. “Kek, saat ini hati dan pikiran Arsy sedang hancur karena kenyataan yang harus dia terima. Coba Kakek bayangkan apa yang akan Arsy lakukan saat tau semua ini?”


“Apa kau punya ide untuk menyelamatkan Arsy?” tanya pria tua itu yang membuat Axelle tertunduk sebentar.


“Aku tidak tau ide ini benar atau tidak? Dan apakah terlalu berisiko atau nggak. Tapi aku berencana untuk membawa Kakek ke sana bersama dengan Xander. Anggap aja sebagai tumbal sembari mengamati keadaan sekitar, kita bisa memakai earphone untuk berbagi informasi antara satu dengan yang lain. Setelah kita dapat semua informasinya, yang lain akan menentukan rencana apa yang harus kita pakai untuk menyelamatkan Arsy. Bagaimana?”

__ADS_1


Semua diam. Menimbang apakah saran yang diberikan Axelle bagus atau tidak, dan semua mengangguk setuju kecuali Juan.


“Kenapa harus elu? Kenapa nggak gue aja?” tanya Juan yang tidak terima karena yang menjemput Arsy bukan dirinya.


“Kalau elu yang ke sana, yang ada Arsy bakalan dengan suka rela masuk ke dalam lubang buaya buat menghindari elu. Lagian kan elu udah nggak ada harapan buat sama dia, jadi diem aja.”


“Lu....”


“Apa!” tantang Axelle.


“Kalau kalian tetap bertengkar seperti ini, maka rencana ini tidak akan berjalan dengan baik.” Axelle dan Juan hanya bisa saling mencibir dalam diam setelah mendengar ucapan Margareth.


“Ok, sudah diputuskan. Sekarang kita siapkan semuanya, dan siang nanti Aku bersama dengan Xander dan Kakek tua ini akan pergi ke gudang tempat Arsy berada.”


“Cukup panggil aku dengan sebutan Kakek, bocah sialan. Aku juga Kakekmu,” ucap pria tua itu sembari memukul kepala Axelle.


“Bocah sialan.”


***


Semua persiapan sudah siap. Axelle bersama dengan Xander dan Kakek ketua sudah berada di depan gedung terbengkalai yang jaraknya lumayan jauh dari kediaman mereka, ditambah lagi tempat itu sangat jauh dari kota.


“Wah, kalian sudah datang.” Samuel langsung menyapa tamunya yang sudah datang dari jauh.


“Di mana cucuku?” tanya sang ketua.


Samuel mengangguk dan membawa mereka ke ruangan di mana Arsy berada. Sepanjang jalan Axelle terus berbicara sebanyak mungkin, untuk memberi tahu keadaan pada yang lainnya.

__ADS_1


“Apa anda begitu ketakutan sampai memberi penjagaan yang cukup ektra di tempat seperti ini?” tanya Axelle.


“Ini tidak seberapa, aku sengaja meletakkan penjagaan dua kali lipat di ruangan temanmu.”


“Benarkah? Kalau dihitung jumlah penjaga di sini antara lima belas sampai dua puluh orang. Berarti anda mengerahkan hampir empat puluh orang hanya untuk menjaga Arsy?” tanya Axelle lagi, namun kali ini tidak dijawab oleh Samuel. Pria tua itu sibuk menyusuri lorong yang cukup gelap. “Tuan, apa Arsy sekuat itu sampai Tuan di depan memberikan penjagaan yang luar biasa ketat hanya untuk menjaga satu orang.” Kali ini Axelle berbicara dengan sang ketua.


“Seingatku Arsy ini pernah mengalahkan orang-orang Tuan di depan sendirian dan membuat namanya dikenal banyak orang.”


Axelle tersenyum pada Xander karena sudah membantunya berbicara, agar Samuel dan orang-orangnya tidak curiga karena sejak tadi Axelle terus berbicara.


Semuanya tertegun saat melihat keadaan Arsy yang jauh dari kata baik. Keadaan gadis itu bahkan jauh lebih parah dari sebelumnya saat mereka melihat dari tampilan video.


“Bangunkan dia!” perintah Samuel kepada anak buahnya yang berada tak jauh dari Arsy.


Pria itu mengangguk dan langsung menyiramkan air dingin tepat di wajah Arsy, membuat gadis itu terbatuk karena air yang masuk dalam saluran pernapasannya.


Axelle, Xander dan sang kakek menatap penuh amarah kepada Samuel dan anak buahnya karena sudah berani berbuat begitu kejam kepada gadis kesayangan mereka. Dalam hati mereka bersumpah akan membuat Samuel membayar semuanya puluhan kali lipat.


“Apa kau tidak bisa bersikap lembut pada Cucuku?”


“Sejak kemarin aku sudah berusaha lembut padanya, tapi dia selalu meludahiku. Jadi aku pikir tidak ada cara lain selain ini,” ucap Samuel yang membuat Axelle menatapnya remeh.


“Dengan keadaan terikat saja dia masih bisa menginjak harga diri anda, gimana kalau dia dalam keadaan bebas?” tanya Axelle.


Samuel tidak menanggapi pertanyaan Axelle, karena demi Balenciaga Seokjin pertanyaan yang Axelle ajukan sejak tadi berhasil memancing emosinya. Pemuda bangsat itu mampu membungkus hinaannya dalam sebuah pertanyaan dengan sangat rapi.


Sementara itu di tempat lain, Juan bersama dengan yang lainnya tengah menyiapkan rencana. Berbekal informasi yang di dapat dari ocehan Axelle tadi mereka semua memutuskan untuk langsung bergerak ke sana dan menghabisi orang Samuel.

__ADS_1


“Ok, semuanya sudah tau tugas masing-masing, kan?” tanya Juan. Pemuda itu mencoba memastikan kembali bahwa semuanya paham dengan tugas masing-masing agar misi penyelamatan Arsy kali ini bisa berjalan mulus dan tidak ada yang sampai terluka.


__ADS_2