
“Cantik,” seru Axelle dalam hati saat melihat dua orang wanita muda masuk ke dalam rumah besarnya. Pandangan Axelle tertuju pada salah satu gadis yang memakai Mini dress off-shoulder berwarna putih yang dipadukan dengan Wedges berwarna coklat muda serta make up natural yang membuat penampilan gadis itu benar-benar sempurna di mata Axelle, atau bahkan di mata setiap mata yang memandangnya.
“Kalian sudah datang. Ayo masuk!” Margareth menyabut kedatangan keduan putri kesayangannya yang terlihat sangat cantik.
“Ini suamiku, Marcel Adhitama. Dan pemuda tampan yang ada di depan kalian adalah Anakku, Axelle Adhitama dan Alex Adhitama.” Margareth mulai memperkenalkan satu persatu anggota keluarga barunya, dan melihat reaksi semuanya ia merasa ini akan berjalan dengan baik.
“Perkenalkan, saya Arsyana biasa dipanggil Arsy.” Arsy mulai menjabat tangan semuanya dengan senyum yang terkembang sempurna, namun tidak ada yang tau jika di dalam hati gadis itu menyimpan dendam yang mendalam untuk salah satu anggota keluarga Adhitama.
“Saya Citrani panggil Catty.”
“Kalian sangat sopan dan cantik. Mari masuk,” ajak Marcel sebagai kepala keluarga.
“Kalian sekolah di mana?” tanya Marcel memulai pembicaraan.
“Kami home scooling.”
“Kenapa?” tanya Axelle yang penasaran. Mengingat Arsy bukanlah anak yang pemalu atau takut bertemu dengan orang lain.
Gadis cantik itu seorang pembalap jalanan yang namanya sudah dikenal oleh banyak orang. Ia bisa mengalahkan setiap musuhnya dengan sangat mudah, dan gadis itu juga sangat gesit dalam mengendalikan mobil sport nya. Jadi sedikit aneh kalau gadis itu memilih home scooling daripada sekolah di sekolah umum seperti dirinya.
Dan Catty juga sepertinya tipe gadis yang mudah bergaul. Meski Axelle belum pernah bertemu dengan gadis itu, namun ia yakin bahwa penilaiannya tentang kedua gadis itu benar.
“Karena....”
Meoww
Mungkin bagi sebagian orang suara kucing sangat menganggu, tapi bagi Catty dan Arsy suara kucing itu adalah penyelamat kehidupan mereka.
“Kau sudah bangun, Sinnie. Kemari!” seolah tau apa yang diinginkan Axelle, kucing itu langsung berjalan menuju Axelle dan duduk di pangkuan pemuda itu dengan nyaman.
__ADS_1
“Kenapa kucing itu terlihat familiar? Mengingatkan aku pada sesuatu, atau mungkin seseorang.” Arsy mencoba mengingat sesuatu tentang seseorang atau sesuatu yang mirip dengan kucing itu, tapi ia tidak bisa mengingatnya dengan baik.
Arsy masih terus menatap Sinnie yang tengah duduk nyaman di pangkuan Axelle. Hingga suara Catty membuatnya ingat sesuatu yang dia lupakan.
“Apa dia sejenis Ashera?” tanya Catty yang langsung diangguki oleh Axelle.
Ashera salah satu kucing yang langka. Sama seperti Savannah, Ashera juga berasal dari peranakan kucing besar (Serval) dengan kucing lokal. Corak tubuhnya terlihat seperti Leopard salju, namun memiliki sifat seperti Savannah. Ashera tergolong kucing langka, karena hanya lima ekor yang lahir di setiap tahunnya, berbeda dengan kucing lain. Selebihnya karena biaya perawatannya yang cukup mahal.
“Dari mana kau tau dia jenis Ashera?” tanya Axelle tanpa mengalihkan pandangannya dari Shinnie.
“Karena dia mirip Milky,” jawab Catty.
Mata indah Arsy membulat saat ia mendengar nama yang Catty sebut. “Kau benar, dia mirip Milky. Pantas saja aku merasa tidak asing dengan kucing itu.” Arsy menepuk pelan kepalanya saat mengingat sesuatu yang mirip dengan kucing Axelle.
“Kau kan bodoh, jadi aku tidak heran kalau kau tidak bisa mengingatnya. Aku bahkan ragu kau masih mengingat kejadian dan alasan kepergiannya,” remeh Catty yang membuat Arsy memajukan bibirnya. Sedikit tidak terima dengan apa yang dikatakan sahabatnya, walaupun itu benar adanya.
“Aku ingat.”
“Siapa itu Milky?” tanya Alex sembari terus menatap Arsy yang terlihat lucu menurutnya.
“Dia kucing ku,” ucap Margareth.
“Di mana dia?” tanya Marcel yang mulai ikut bergabung dengan pembicaraan anak-anaknya bersama para gadis cantik yang sedari tadi menganggu pikirannya.
“Mati,” ucap Arsy sembari menatap Shinnie, membuat kucing itu bersembunyi dibalik kemeja yang Axelle kenakan.
“Bagaimana bisa?” tanya Alex.
“Aku tidak sengaja membunuhnya,” ucap Arsy tanpa dosa.
__ADS_1
“Bagaimana bisa? Apa kau tau harga kucing ras ini?” tanya Axelle.
“Hari itu aku sakit dan tidak bisa ikut jalan-jalan ke mall untuk membeli perlengkapan sekolah. Mama memberiku obat dan saat aku hendak meminum susu ia melarangku, katanya obat yang aku minum tidak akan memberikan efek kalau dibarengi dengan susu.”
Semua terdiam. Menunggu Arsy menyelesaikan ceritanya. Mereka ingin tahu alasan sebenarnya gadis cantik namun psikopat itu tega membunuh hewan lucu yang berharga miliaran rupiah itu.
“Saat mereka meninggalkan aku di rumah sendirian, aku melihat Milky tengah kelaparan. Jadi aku mencampur susu Milky dengan racun tikus yang aku dapat di dapur. Aku pikir Milky tidak akan mati, karena Mama bilang susu bisa menetralkan semua racun dan obat yang masuk ke dalam tubuh kita. Tapi sekarang aku tau kalau dia berbohong, karena Milky mati tetap sesaat dia menelan susu bercampur racun yang aku buat. Dan sejak itu aku putuskan untuk meminum obat dengan susu, karena obatnya tetap berefek saat kita konsumsi.” Arsy tersenyum lucu di akhir ceritanya. Gadis itu sama sekali tidak merasa bersalah sudah membunuh hewan cantik, menggemaskan dan juga lucu.
“Apa kau tau harga kucing ras ini?” tanya Axelle sambil memeluk erat Sinnie. Mulai detik itu juga Axelle bersumpah akan menjauhkan Sinnie dari psikopat gila seperti Arsy.
“Kalau aku tidak salah ingat, Mama bilang 1,5 milyar. Benarkan, Ma?” tanya Arsy sambil menatap Margareth yang sudah terduduk lesu. Wanita tua itu baru tau ternyata kematian kucing kesayangannya ada kaitannya dengan pelajaran yang ia berikan pada Arsy. Semua berawal dari kesalahannya menyampaikan informasi.
“Waktu itu Mama beli dengan harga 1,7 miliar lebih sedikit.” Jawaban Margareth membuat tiga laki-laki yang ada di ruangan tersebut ternganga. Sekaya apa wanita itu sampai bisa merelakan kucing dengan harga miliaran rupiah mati di tangan anak angkatnya begitu saja.
“Sudahlah, nggak perlu bahas sesuatu yang sudah tidak perlu. Sebaiknya kita mulai makan malam,” ajak Margareth yang diangguki oleh yang lain.
Axelle sedikit iri melihat bagaimana Arsy dan Catty begitu dekat dengan mama tirinya. Kedua gadis itu memeluk Margareth dari kedua sisi, dan saling bertukar tawa. Margareth terlihat begitu menyayangi kedua gadis itu, dan melupakan fakta jika kedua anak iblis yang saat ini ada di pelukannya hanyalah anak angkat.
***
Aileen tengah meringis kesakitan berada di dalam toilet sekolah. Pakaiannya sudah robek di semua sisinya, rambut yang ia kuncir agar terlihat rapi kini sudah tidak berbentuk, bahkan sudut bibir gadis itu mengeluarkan darah dan ada banyak memar di bagian tubuhnya yang lain.
“Sekali lagi lu gangguin Axelle, gue bakalan jamin lu bakalan beneran mati di tangan gue!”
Adelia dan teman-temannya mengguyur tubuh Aileen dengan air kotor bercampur garam yang membuat Aileen kesakitan. Kumpulan gadis tidak punya hati itu bahkan menggunting rambut panjang Aileen.
“Dasar murahan!”
Adelia menendang wajah Aileen hingga tersungkur sebelum meninggalkan gadis malang itu sendirian di dalam kamar mandi yang dingin.
__ADS_1
“Brengsek!” umpat Aileen saat merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Air kotor bercampur garam yang disiramkan ke tubuhnya mulai mengalir ke luka-luka yang Adelia ukir di tubuhnya. “Gue pastikan lu bakal bayar semuanya.”