
“Gimana keadaan lu?” Tanya Clarissa begitu sampai di rumah. Hari ini gadis itu tidak masuk sekolah karena ia harus pergi ke perbatasan untuk menemui seseorang. Ia hanya pergi setengah hari, jadi ia pikir akan aman meninggalkan Aileen sendirian di sekolah. Namun ternyata keputusan yang ia ambil menyebabkan bencana pada sahabatnya.
“Gue nggak apa-apa.” Aileen masih sibuk mengobati punggungnya yang penuh luka sayat dan cambuk. Ternyata Adelia tidak tanggung-tanggung menghajar dirinya saat di sekolah tadi. Gadis itu seolah menyimpan dendam yang sangat besar pada seseorang dan melimpahkan semua dendamnya pada Aileen yang malang.
“Bagaimana bisa sampai separah ini?” Clarissa bertanya sambil membantu Aileen membersihkan lukanya. Gadis itu ngilu melihat luka di tubuh sahabatnya, tapi untung gadis itu hanya terluka di bagian luar tidak sampai mengenai bagian vitalnya.
“Gue nggak tau. Tadi gue lagi makan tiba-tiba dia nyeret gue trus hajar gue sampek kayak begini,” jelas Aileen yang membuat Clarissa bingung. Bingung kenapa bisa Adelia begitu berani pada Aileen, padahal Axelle sudah pernah mengumumkan jika tidak ada yang boleh menyentuh Aileen kecuali dia sendiri. Membully Aileen dan menyakiti gadis itu hanya boleh dilakukan oleh Axelle tidak dengan yang lain, karena barang siapa yang berani menyentuh mainan Axelle maka ia akan menerima hukuman yang tidak akan pernah mereka pikirkan dalam hidup.
“Trus kenapa lu nggak bales?”
“Kan lu bilang kalau gue harus diem aja, gila!”
“Bukan berarti lu bakalan diem aja kalau diginiin, bego. Emang lu bakalan diem aja kalau lu di bunuh, hah! Sumpah gue tu gedeg banget sama lu, lama-lama gue mutilasi juga lu.”
“Sakit! Lu mau bunuh gue!” Clarissa sengaja menekan luka gadis itu, agar sahabatnya kesakitan. Kenapa setiap wanita cantik yang pandai dalam membunuh harus bodoh dalam hal semudah ini?
Clarissa memang meminta Aileen menahan emosinya selama ia tidak ada di dekat gadis itu, dan kalau bisa ia jangan sampai tersulut emosi kalau ada yang membully nya, tapi bukan berarti gadis itu hanya diam saja ketika dipukuli sampai babak belur begini.
Terkadang Clarissa merasa takut dengan Aileen, tapi di satu sisi ia ingin sekali menenggelamkan sahabat baiknya itu ke dalam sumur belakang rumah sampai mati kalau perlu.
“Sekarang apa rencana lu?” tanya Clarissa. Gadis itu sangat yakin sahabatnya itu tidak akan pernah membiarkan Adelia hidup tenang setelah menggores bagian tubuhnya.
“Gue bakalan buat dia membayar semuanya. Kalau perlu gue bakalan bikin dia depresi dan bunuh diri,” terang Aileen yang hanya diangguki oleh Clarissa. Gadis itu akan mendukung apapun yang jadi keputusan Aileen, karena ia tahu dengan pasti saat gadia itu menginginkan sesuatu, maka ia harus mendapatkannya.
***
Aileen melangkahkan kakinya menuju salah satu rak yang dipenuhi dengan makanan ringan. Keranjang besarnya sudah penuh dengan coklat, susu, dan beberapa buah segar namun gadis itu belum puas hingga mengambil beberapa makanan ringan dan juga mie instan.
“Apa lu mau hibernasi?”
“Diam lu! Atau gue sendiri yang bakalan mutilasi tubuh lu trus gue jadiin makanan semut sama serangga lain.”
Mood gadis itu sedang buruk dan malah diperburuk dengan ocehan pemuda gila yang selama hidupnya cuma dipenuhi dengan buku. Pemuda yang baru ia kenal selama dua bulan terakhir menjadi sasaran terakhirnya melampiaskan segala emosi yang bergejolak.
“Lu kalau mau jadi beruang nggak gitu caranya,” ucapnya lagi yang membuat mood Aileen makin berantakan.
“Lu tau nggak?....”
__ADS_1
“Enggak.”
“Gue belum selesai, Devan. Gue tu sebel banget tau nggak, masa iya perkara begitu doang dia marah sampek segitunya sama gue, kan gue ngomong bener.”
Devan Daris, salah satu member Dead Dragon dan salah satu sahabat baik Axelle tengah pergi bersama dengan Aileen. Membantu gadis cantik itu mengembalikan moodnya yang hilang gara-gara Axelle.
Sebenarnya Devan tidak ingin menemani Aileen, pemuda itu hanya menawarkan ATM miliknya agar dihabiskan oleh Aileen namun gadis cantik itu malah menyeretnya keluar dari rumah dan memaksanya ikut.
Sudah seharian keduanya berjalan-jalan, dan tidak sedikit juga uang yang Devan keluarkan untuk kesenangan teman barunya.
“Leen, gue capek.”
“Lu tu cowok, jangan dikit-dikit ngeluh.”
“Gue manusia biasa yang bisa lelah, letih, capek dan butuh istirahat.”
“Sabar. Bentar lagi selesai, cuma tinggal ice cream doang.”
“Ini!” Aileen menatap bingung pada pemuda yang saat ini tengah memberikannya sebuah kartu berwarna hitam. “Ambil itu, dan gue tunggu di mobil. Gue capek!”
Devan berjalan keluar menuju mobil Arsy yang terparkir di luar mall. Mobil sport berwarna biru dengan merk Bugatti Divo, salah satu mobil yang memiliki mesin yang sangat mengagumkan membuat siapa saja akan menatap iri pada pemilik mobil tersebut.
“Elu bisa antri nggak sih!”
“Nggak bisa! Gue buru-buru.”
“Lu kenapa sih? Gangguin gue mulu,” Aileen sudah kehabisan kata-kata menghadapi manusia sumber masalah dihidupnya.
“Dih, pede gila lu. Gue emang buru-buru mau ke rumah Devan, ngapain juga gue gangguin elu.”
Mata elang Axelle tertuju pada kartu hitam yang ada di tangan gadis jelek bertompel yang ada di depannya.
“Itu kartu Devan. Gimana lu bisa dapetin itu?” tanya nya sambil merampas kartu hitam itu dari tangan Aileen secara paksa.
“Lu kira cuma elu sama anggota lu yang punya. Itu punya gue,” seru Aileen sambil merampas balik kartu yang berada di tangan Axelle.
“Mana mungkin gadis jelek dan miskin kayak elu bisa punya blackcard. Lu pasti nyolong punya Devan,” tuduh Axelle yang membuat emosi Aileen semakin meradang.
__ADS_1
“Totalnya 4.237.850. Jadi siapa yang akan membayar?” tanya pegawai kasir bernama Tania.
Aileen langsung memasukkan kode pin untuk membayar semua belanjaannya. Gadis itu ingin buru-buru keluar dari neraka yang ada di hadapannya. Namun sebelum meninggalkan tempat tersebut, Aileen lebih dulu mengatakan sesuatu yang membuat Axelle naik darah.
“Denger, ya. Kalau emang ini punya Devan, kenapa? Kalau dia ngasih ini buat bayaran setelah bermalam sama gue, emang apa urusannya sama lu apa? Nggak ada kan? Jadi selagi gue masih bisa sabar sebaiknya lu jauh-jauh dari pandangan gue. Enek gue liat muka lu!”
“Devan nggak mungkin mau sama cewek bekas banyak orang kek elu,” ucap Axelle sadis. Pemuda itu benar-benar berniat mempermalukan Aileen di depan umum. Di tengah ramainya orang berbelanja, Axelle berkata dengan sangat keras dan lantang membuat semua orang menoleh ke arahnya, dan memandang rendah Aileen.
“Lu tu cuma temen se-gang bukan keluarganya. Lu nggak tau apa-apa soal dia dan yang lainnya, jadi jangan berpikir lu tau segalanya tentang mereka hanya karena elu ketua Dead Dragon.”
“Lu....”
“Apa!!”
Aileen meninggalkan tempatnya berbelanja. Gadis itu menghentakkan kakinya kasar. Mood gadis itu semakin hancur, padahal ia berbelanja berniat untuk mengembalikan mood tapi semua sia-sia karena satu orang gila yang terus menganggu hidupnya dengan kata-kata pedas dan menyakitkan. Aileen menghentikan angkutan umum yang lewat dan segera menghubungi Devan.
“Pergi dari sana. Gue ketemu Axelle dan dia ngenalin kartu ATM lu,” peringat Aileen.
“Bagaimana bisa?” tanya Devan.
“Ceritanya panjang. Besok gue tunggu di tempat biasa,” ucap Aileen sebelum mematikan ponselnya sepihak.
Devan bergegas pergi meninggalkan parkiran menuju rumahnya. Setelah ini ia harus berpikir alasan apa yang harus dipakai agar teman-temannya tidak curiga saat mendapati dirinya tidak ada di rumah, dan bagaimana ia mengatasi pertanyaan Axelle soal black cardnya yang ada di tangan Aileen.
“Sial, kenapa mereka harus bertemu di saat begini. Pertama gue harus beresin ini mobil rongsokan biar yang lain nggak curiga, setelah itu baru urus yang lain.”
***
“Xelle, gue hamil!” Bentak Adelia yang mulai lelah karena Axelle terus menolak saat ia minta pertanggung jawaban pemuda itu pasal kehamilannya.
“Trus, apa hubungannya sama gue?” pemuda yang tengah duduk di salah satu kursi itu tengah sibuk dengan rokok ditangannya. Ia tidak peduli sama sekali dengan Adelia yang terus menangis mengharapkan belas kasihan dari pemuda yang kini tengah sibuk dengan rokok ilegal di tangan kanannya.
“Dia anak lu, Xelle. Harusnya lu bertanggung jawab sama dia.”
“Lu pikir gue mau tanggung jawab buat hal yang nggak gue lakuin? Jangan bodoh, Adelia.”
“Lu mau apa? Bukti? Gua ada. Lu mau hasil test USG kalau gue beneran hamil? Gue juga ada, Xelle. Sampai kapan lu mau ngelak kalau gue hamil anak lu!”
__ADS_1
“Dengar keparat! Sekali gue bilang nggak itu artinya nggak.”
Axelle mendorong tubuh Adelia. Membuat gadis malang itu jatuh tersungkur dengan wajah yang sudah penuh dengan air mata.