Mask

Mask
Bagian 36


__ADS_3

Seorang gadis terlihat tengah menatap langit malam yang gelap dengan senyum manisnya. Sebuah senyuman yang tidak pernah diperlihatkan pada orang lain, senyuman yang mampu membuat setiap mata yang memandang akan jatuh hati kepada sang pemilik.


“Apa yang sedang lu lakuin di sini?” Tanya Juan saat melihat pujaan hatinya tengah sendirian di taman yang gelap.


“Nothing,” jawab Arsy tanpa mengalihkan pandangannya dari indahnya langit malam yang penuh dengan bintang yang bertebaran.


Juan memeluk tubuh Arsy dari belakang. Menyandarkan kepalanya di pundak gadis yang sampai saat ini masih setia menempati posisi terbaik di hatinya. “Sampai kapan lu mau diem di sini? Udara malam nggak bagus buat kesehatan.”


“Lu tau kan kalau gue paling suka sama malam dan senja. Meski nyatanya gue nggak pernah bisa sepenuhnya menikmati sesuatu yang gue sukai,” ucap Arsy. Gadis itu memegang erat tangan Juan yang masih setia mendekap erat tubuhnya.


Apa yang dilakukan Juan memang terkesan biasa saja bagi orang lain, namun berbeda dengan Arsy. Karena nyatanya gadis itu sangat suka saat pemuda itu memeluk tubuhnya dari belakang dan meletakkan kepalanya di pundak Arsy, sembari menceritakan banyak hal tentang keadaan masing-masing.


“Tuhan pasti punya takdir terbaik buat kita, Princess. Dan pasti ada alasan yang tepat kenapa Tuhan tidak mengizinkan kita buat bersama,” tutur Juan. Pemuda itu mencoba untuk menenangkan Arsy dengan kalimat yang ia ucapkan, namun secara tidak sadar kalimat yang ia ucapkan justru menyakiti hatinya sendiri.


“Takdir kejam, kan?” tanya Arsy. Juan tidak mengangguk atau menggeleng sebagai jawaban, pemuda itu hanya mengeratkan pelukannya dan hal itu cukup membuat Arsy paham. “Gue pengen banget bersumpah atas nama Tuhan dan langit malam yang indah, kalau gue bakalan nyerahin hidup gue sama lu begitu semuanya selesai. Apa boleh?” tanya Arsy.


“NGGAK BOLEH!! LU PIKIR LU SIAPA SAMPAI BISA BERSUMPAH UNTUK HAL YANG MENJIJIKKAN KAYAK GITU!”,


Arsy dan Juan menoleh bersamaan saat mendengar suara menggelegar dari arah belakang mereka.


“Elu? Ngapain lu di sini?” tanya Arsy saat melihat seonggok daging tengah berdiri di belakangnya dengan wajah yang sudah memerah menahan amarah.


“LU TU BODOH ATAU NGGAK PUNYA OTAK, HAH!” teriak Axelle sembari mendorong kepala Arsy ke belakang. “Gue tau lu suka sama dia, lu cinta mati sama dia tapi bukan berarti lu nyerahin hidup lu ke dia gitu aja. Emang kalau dia masuk ke sumur, lu juga mau masuk ke sumur juga, hah!”


“Maybe.” Singkat padat jelas dan bangsat. Jawaban Arsy kali ini memancing emosi Axelle sampai ke puncak.


“Jadi lu....”


“Maaf Tuan menyela pembicaraan anda berdua. Tapi saya tidak akan membiarkan Princess kesayangan saya melakukan hal gila seperti itu, apalagi membuat nyawa percuma untuk sesuatu yang tidak pasti.” Juan tersenyum di akhir kalimat.

__ADS_1


Pemuda itu menatap lekat kedua mata Arsy yang saat ini tengah menatapnya sendu. “Jika kita harus mati bersama, gue bakalan minta sama Tuhan buat balikin lu ke dunia nyata lagi biar lu bisa hidup bahagia dengan orang-orang yang lu sayang.”


“Tapi gue nggak mau kalau harus jauh lagi dari lu,” keluh Arsy.


“Gimana kalau kita buat anak dulu. Jadi kalau gue mati nanti, setidaknya ada anak kita yang bakalan ngingetin elu sama gue, dan gue bakalan tetap hidup dalam wujud anak kita. Setuju?”


Juan mengaduh kesakitan saat Axelle menggeplak kepalanya dengan tidak berperikemanusiaan.


“Jauhin otak kotor lu dari dia, ya. Dasar buaya bunting!”


“Buntung bodoh.”


“Kok ganti?” tanya Axelle sembari menatap Arsy yang baru saja mengatai dirinya bodoh.


“Emang dari dulu begitu. Elu aja yang seenaknya ganti!” seru Arsy. Gadis itu bingung bagaimana bisa Axelle dengan otak pas-pasan bisa ikut beberapa olimpiade dan hampir semuanya dia raih medali emas.


Juan menatap Arsy. Tanpa rasa malu dan takut akan dikuliti Axelle, pemuda itu langsung mencium bibir Arsy. Tidak sampai disitu, Juan bahkan berani ******* bibir atas dan bawah gadisnya bergantian.


“Gue permisi,” pamit Axelle namun tidak dihiraukan oleh Arsy dan Juan, karena keduanya tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing.


“Sial! Kenapa sakit sekali.” Axelle memakai dirinya sendiri sembari berjalan menjauh. Pemuda itu memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya dan menenangkan pikirannya.


***


Axelle benar-benar mengurung dirinya di dalam kamar. Ini sudah hari kedua pemuda itu berada di dalam kamarnya yang nyaman. Semua aktivitas ia lakukan di dalam kamar, mulai dari makan dan yang lain sebagainya. Pemuda itu beralasan jika dirinya tengah tidak enak badan makanya tidak bisa bergabung dengan yang lain.


“Sampai kapan lu bakalan ngurung diri di dalam kamar?” tanya Nic. Pemuda itu baru saja sampai dan melihat sahabatnya tengah meneguk wine.


“Gue lagi nggak enak badan, bukan ngurung diri.”

__ADS_1


“Orang gila mana yang bakalan minum wine saat tubuhnya sedang tidak baik-baik saja,” sindir Nic yang membuat Axelle terdiam. “Tadi gue ketemu sama Arsy. Dan dia nitipin ini buat lu,” ucap Nic sembari menyerahkan sebuah pulpen berwarna hitam. Pemuda itu juga meletakkan beberapa makanan yang ia beli bersama dengan Devan dan yang lainnya.


“Nic, apa jatuh cinta sangat sakit?” tanya Axelle tanpa mengalihkan pandangannya dari pulpen hitam pemberian Arsy.


“Gue nggak tau,” jawab Nic sembari menata makanan yang ia bawa.


“Bukannya lu suka sama Catty? Gimana kelanjutan cerita kalian?” tanya Axelle. Pemuda itu mengambil makanan yang disiapkan oleh Nic dan mulai melahapnya secara perlahan. Hati pemuda itu mungkin sakit karena melihat adegan tidak senonoh yang ditampilkan secara live oleh Arsy dan Juan beberapa hari yang lalu, tapi ia juga tetap butuh asupan makanan. Cukup hati yang sakit, fisik jangan ikutan.


“Dia marah besar sama gue sejak kejadian itu. Dia bahkan nggak mau lihat wajah gue,” gerutu Nic. “Sebenarnya gue beberapa kali ketemu dia, gue juga udah coba minta maaf sa dia tapi kayaknya dia nggak mau maafin gue.”


“Kok lu jadi pesimis gitu?”


“Bukannya gue pesimis, tapi ya mau gimana lagi. Kalau dia emang udah nggak mau ketemu gue lagi, gue nggak bisa berbuat apa-apa.”


Nic menarik napas dalam. “Sejak kejadian itu, gue terus berusaha buat nemuin Catty dan minta maaf ke dia. Gue bahkan nguras habis seluruh tabungan gue buat beli hadiah dengan harapan dia mau maafin gue, tapi gue salah. Dia balikin semua hadiah yang gue kasih, tidak sampai di situ, dia juga balikin isi tabungan gue yang sudah gue habisin. Kalau tidak sengaja bertemu, dia pasti bakalan malingin wajah. Kalau gue ajak bicara, dia pasti bakalan langsung pergi seolah gue nggak pernah ada.”


Nyesek banget jadi Nicolas, kan jadi nangis author.


“Nangis kenapa lu, Thor?” tanya Axelle.


“Bingung, mau bilang sukur atau kasihan ke anda berdua.”


“Lhah, kok gitu!” teriak Axelle dan Nic bersamaan.


“Iyalah. Sapa suruh kejam ke cewek, kena karma kan sekarang.”


“HEH DAKI BUMI! KITA NGGAK BAKALAN BEGITU KALAU LU NGGAK BIKIN ALUR YANG KAYAK BEGITU!”


“Lhah iya 🤣🤣. Maapkeun lupa saya.”

__ADS_1


Axelle meletakkan makanannya. Pemuda itu mendadak kehilangan nafsu makan saat mendengar perkataan sahabatnya.


Pikiran pemuda itu melayang jauh ke kejadian dua hari yang lalu, di mana Arsy menjawab pernyataan yang ia utarakan dengan kata ‘maybe’.


__ADS_2